Make up: Gaya Hidup dan Identitas Remaja Zaman Now

SAVANA- Ingin tampil cantik atau terlihat cantik adalah sebuah kewajaran bagi setiap wanita. Setiap wanita menginginkan dirinya dipandang sebagai seseorang yang memikat. Attractiveness atau ketertarikan bagi seorang wanita salah satunya diukur dari penampilan fisik. Konstruksi “tampil cantik” ini dapat diukur dari dua hal, yakni cantik dari luar (outer beauty) dan cantik dari dalam (inner beauty).

Pada aspek pertama, konstruksi ‘cantik luar’ mayoritas berpijak pada kecantikan fisik yang biasanya diukur dari tinggi badan, ramping badan, warna kulit, rambut, dan lain-lain; sesuatu yang dipandang memiliki daya pikat pesona secara fisik. Konstruksi “cantik luar” ini semakin diamini ketika beragam media komunikasi masa mengguratkan makna cantik sebagai sesuatu yang physicly.

Sementara pada aspek kedua, ‘cantik dalam’ seringkali dimaknai sebagai cantik kepribadian. Kecantikan jenis ini diukur dari sikap, perilaku, sisi spiritualitas, atau apapun yang tidak hanya dilihat dari aspek jasadi-duniawi-materialistis saja, melainkan juga pada sesuatu yang lebih kekal dan abadi. Namun, secara mendasar, keinginan untuk tampil cantik adalah fitrah bagi seorang wanita.

Salah satu upaya untuk memperhias diri agar terlihat cantik dan menarik adalah dengan make up. Make up sendiri adalah seni merias wajah  atau mengubah  bentuk  asli dengan  bantuan  alat  dan  bahan  kosmetik  yang  bertujuan  untuk  memperindah serta   menutupi   kekurangan   sehingga   wajah   terlihat   ideal. Make up sendiri sering disamakan dengan istilah “dandan” atau berdandan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dandan atau berdandan diartikan sebagai kegiatan berhias atau mempercantik diri dengan menggunakan pakaian, hiasan, kosmetik dan lain sebagainya baik yang ditempelkan pada badan, kulit, wajah, atau di tempat-tempat tertentu yang biasa digunakan sebagai media bersolek. Sehingga dengan kegiatan berdandan ini, seseorang terlihat lebih menarik dan tampak cantik.

Sementara itu, kosmetik sebagai salah satu alat atau bahan yang digunakan untuk berdandan (make up) dapat diartikan sebagai obat (bahan) untuk mempercantik wajah, kulit, rambut, dan sebagainya (seperti bedak, pemerah bibir). Dengan demikian, kegiatan ber-make up dengan menggunakan kosmetik adalah salah satu upaya bagi seorang wanita agar terlihat cantik dan dipandang mampu menutupi kekurangan yang ada padanya, sehingga ia terlihat lebih percaya diri dan menampilkan pesona fisik tertentu.

Penggunaan make up sebagai salah satu aspek hiasan penting bagi seorang wanita berkembang dengan pesat. Make up mewujud menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupan seorang wanita. Asumsi ini setidaknya dapat kita lihat dari perkembangan ragam jenis make up dan cara pemakaiannya (tutorial). Apalagi di zaman postmodern sekarang, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi turut mendukung perkembangan make up di kalangan wanita. Bahkan mungkin saja, make up dipandang tidak hanya sebagai sesuatu yang identik dengan wanita, melainkan juga kaum adam pun boleh jadi memandang penting terhadap kegiatan ber-make up ini.

Massifnya iklan tentang beragam produk kosmetik, penyebaran video-video tutorial make up di berbagai lini media massa, serta kebutuhan psikologis wanita untuk tampil cantik dan menarik, semakin mendorong variasi penggunaan make up. Pada titik ini, make up tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk mempercantik diri saja, tetapi juga dipandang sebagai sebuah gaya hidup yang pengaruhnya dapat kita tinjau baik dari sisi psikologis, sosiologis, budaya maupun dalam konteks agama.

Tulisan ini mencoba menggali bagaimana kegiatan “make up” dipandang sebagai sebuah aspek penting yang turut mengkonstruksi identitas diri seseorang, terutama wanita. Termasuk penggunaan make up di kalangan generasi milenial (remaja) yang kesehariannya dekat dengan gadget. Sebab bagaimana pun, gadget dengan beragam fitur canggihnya dijadikan sebagai salah satu saluran untuk menyebarkan pesan-pesan yang bertujuan untuk mengedukasi, mempersuasi bahkan memprovokasi penggunaan make up.

Make up dalam Lintasan Sejarah

Trend perkembangan penggunaan tata rias senantiasa mengikuti arus zamannya. Make up atau tata rias dipandang sudah berkembang bahkan sejak 5000 tahun yang lalu. Lisa Eldridge, seorang make up artis menyampaikan, trend perkembangan make up ini dalam tutotial make up di media daringnya yang ditonton lebih dari 50.000 orang. Menurutnya, make up sebagai sebuah kebutuhan tidak bisa dilepaskan dari wanita dan akan terus berkembang sesuai dengan kegunaan dan manfaat yang dikehendaki oleh wanita pada zamannya.

Dalam artikel yang bertajuk sejarah make up dari masa ke masa yang tayang pada laman Vemela dijelaskan dengan singkat bagaimana trend perkembangan make up dalam lintasan sejarah manusia.  Pada masa Mesir kuno misalnya, adalah penggunaan make up pada masa awal. Wanita-wanita Mesir kuno menggunakan make up berupa eyeliner, yang mana berguna untuk mengurangi silau, mencegah infeksi mata, serta membuat mata terlihat cantik.

Selanjutnya pada masa Yunani kuno, penggunaan make up sangat erat kaitannya dengan status sosial wanita. Make up pada masa ini digunakan oleh wanita kelas atas. Cirinya, make up wanita Yunani lebih ke arah natural, bedak yang tipis dan polesan di bibir dengan bahan alami.

Pada abad pertengahan, trend perkembangan make up terkenal dengan tren kulit putih mulus bebas bercak. Pada masa ini, hampir sebagian besar wanita mendefinisikan makna “cantik” dengan warna kulit yang putih pucat bahkan untuk bagian alis dan kelopak mata.

Perkembangan make up sebagai media hias bagi wanita semakin menjadi saat memasuki gerbang abad ke-19. Sejak 1901-1919, trend make up mengalami pergeseran definitif pada kata “cantik”. Pada masa ini, trend make up putih mulus mengalami perubahan, kebanyakan wanita berusaha menggelapkan kulitnya. Selain itu, masa ini ditandai dengan kemunculan salon-salon atau pusat kecantikan di kota-kota besar.

Selang pada tahun selanjutnya, 1920-an, penggunaan make up pada masa ini bukan hanya sebagai alat untuk mempercantik diri, melainkan juga digunakan sebagai salah satu alat terapi bagi wanita dalam mengalihkan rasa traumatik pasca Perang Dunia. Dengan begitu, dekade ini menandai fungsi make up sebagai cara untuk mengembalikan rasa percaya diri wanita.

Tahun 1930-an, ditandai dengan upaya mengalihkan kejenuhan wanita untuk tampil sempurna pada tahun sebelumnya. Pada masa ini make up manjadi lebih “halus”. Penggunaan maskara dan lipstik dengan warna merah maroon menjadi berkembang agar terlihat lebih natural. Teknik tata rias dilakukan dengan mengikuti bentuk dan pola wajah wanita.

Pada masa 1940-1950 an adalah era di mana make up dipandang sebagai sebuah kemewahan. Penggunaan make up secara glamour dan kemunculan tata rias rambut menjadi trend di kalangan wanita kelas atas pada saat itu. Dekade 1960-1970-an adalah era kebebasan berekspresi. Revolusi kaum muda yang anti kemapanan berimplikasi terhadap mode tata rias wanita. Dengan begitu, make up menjadi ekspresi kebebasan bagi wanita. Selain itu, era ini juga disebut sebagai era kembalinya ke alam.

Kejenuhan pada konflik atau perang antar beberapa negara, membuat jenuh dan pada akhirnya membutuhkan wahana reflektif dengan lingkungan alam yang bebas. Kejenuhan ini diekspresikan melalui trend penggunaan make up. Masa 1980-2000-an ditandai dengan manifestasi kesadaran emansipatif wanita pada ruang-ruang publik. Pada saat itu, wanita mulai menduduki jabtan-jabatan penting pada ruang-rung publik. Make up pada masa ini dinilai sebagai justifikasi kecerdasan dan ketangkasan wanita untuk menunjukkan wanita bisa berperan pada skala sosial yang lebih luas bukan hanya di ruang domestik rumah.

Sedang Tahun 2000-2010 an adalah era di mana penggunaan make up banyak disokong oleh trend budaya populer. Globalisasi menjadi perwujudan kampung global yang mana menjadi tempat menginfiltrasikan berbagai kepentingan ideologis, politik, budaya dan ekonomi. Berkembangnya budaya populer mengarahkan pada wujud komersialisasi make up, sehingga make up tidak hanya dipandang dari sisi utilitasnya saja, melainkan juga dijadikan sebagai gaya hidup yang mesti masuk pada ruang-raung psikis setiap wanita. Sehingga, wanita memandang make up sebagai bagian dari identitas dirinya.

Dekade 2010 – sekarang, adalah era istimewa bagi wanita yang mencintai trend make up. Era ini disebut era milenium, perubahan mode dan trend make up berkembang dalam waktu yang relatif cepat. Kecepatan arus infomasi menguasai berbagai sektor yang sedikit atau banyak berpengaruh terhadap peradigma make up di kalangan wanita.

Dengan demikian, dalam lintasan sejarah, make up berkembang seiring dengan momentum, peristiwa, fungsi, manfaat dan kesadaran wanita dalam menyikapi konteks sosial-budaya-politik yang dilingkungannya. Pada akhirnya, sejarah mencatat bagaimana make up dipandang tidak hanya sebagai alat untuk mempercantik diri saja, melainkan sebagai wujud emansipasi dan identitas diri wanita pada ruang-ruang publik dengan skala yang lebih luas. Faktanya, trend penggunaan make up sekarang tidak hanya digunakan oleh wanita-wanita pada kelas sosial atas saja, tetapi telah menjadi kebutuhan yang digunakan oleh semua kalangan wanita tanpa membedakan latar pendidikan, sosial, ekonomi, umur, dan aspek-aspek lainnya.

Make up : antara Gaya Hidup dan Identitas Diri

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa make up ternyata digunakan hampir oleh semua kalangan wanita, termasuk remaja. Kalau pada masa awal perkembangannya, tradisi berdandan (make up) terbatas digunakan hanya oleh wanita dari kalangan bangsawan. Make up ini pun dijadikan sebagai salah satu tanda yang menunjukkan tingkat kedewasaan wanita. Maka hari ini, make up dipandang sebagai alat menghias diri bagi setiap kalangan wanita, termasuk remaja.

Fase remaja adalah satu tahap perkembangan yang secara psikologis, ditandai dengan adanya upaya untuk menemukan kesejatian diri. Keinginan untuk tampil cantik, modis, trendi dan menarik adalah sisi psikologis yang dimiliki oleh setiap wanita, termasuk remaja. Pada titik ini, wanita yang pada fase remaja berusaha menemukan identitas dirinya melalui beragam saluran, termasuk dengan trend penggunaan make up, fase dimana wanita remaja berusaha ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain adalah fase pembentukan konsep identitas diri.

Menurut Erikson (1989) pembentukan identitas diri adalah salah satu upaya dari remaja untuk melepaskan diri dari belenggu dan ikatan psikis orang tuanya serta berusaha mengekspresikan dirinya melalui beragam tindakan yang mereka sukai. Erikson mengenalkan konsep “Ego Psychology” yakni bahwa identitas diri (self) diatur oleh ego bawah sadar (unconcious ego) serta pengaruh yang besar dari kekuatan sosial dan budaya di sekitar individu.

Dengan begitu, identitas diri adalah kesadaran individu dalam menempatkan dan memberikan arti sebagai gambaran umum akan peran dan fungsinya dalam konteks kehidupan sosialnya. Peran dan fungsi inilah yang menjadi patokan dirinya merasa diakui oleh lingkungan di luar dirinya.

Upaya menemukan kesadaran dalam proses pembentukan diri ini dilakukan oleh para remaja melalui beragam saluran. Misalnya, melalui minat, bakat dan kesukaan remaja. Pemilihan terhadap genre musik, mode berpakaian, gaya rambut, termasuk penggunaan make up adalah salah satu saluran sekaligus ekspresi identitas diri remaja. Bagi seorang remaja, pada fase perkembangan psikologisnya, berusaha menemukan madah yang sesuai dengan minat dan kesukaannya. Minat tersebut terkadang mereka manisfestasikan dalam wujud tindakan.

Pada garis lain, tindakan ini menjadi cara mereka dalam melakukan pemberontakan terhadap lingkungan sekitarnya. Karena fase remaja adalah fase transisi psikologis dan fisiologis, maka tindakan-tindakan remaja terkadang di luar kendali nilai dan norma. Semata-mata dilakukan untuk mempertegas diri dan mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Bagi wanita remaja, make up menjadi salah satu saluran pembentukan identitas diri. Kebutuhan mendasar yang menjadi fitrah wanita untuk selalu tampil cantik dan menarik seolah menemukan madahnya tatkala trend tata rias berkembang dan terus-terusan diproduksi. Tak dapat dipungkiri, kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi turut membantu mempersuasi dan memprovokasi para remaja untuk menggunakan apa yang mereka saksikan di media massa. Misalnya, komersialisasi kosmetik dan tutorial make up mengkonstruksi makna di kalangan remaja, bahwa salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan agar terlihat cantik adalah dengan menghias diri menggunakan kosmetik. Pada titik ini, make up menjadi alat justifikasi remaja tentang kepuasan dan ketidakpuasan dirinya berdasarkan pandangan orang lain dan sesuai dengan apa yang dia mau.

Pada kutub lain, perkembangan budaya populer mengambil madah yang variatif. Komersialisasi dan komodifikasi nilai guna menjadi nilai tanda menjadi gerbang dimulainya era budaya pop. Budaya populer berkaitan dengan budaya massa (mass culture), masyarakat massa (mass society) dan media massa (mass media). Budaya populer adalah budaya konsumsi. Didalamnya terdapat sesuatu yang berorientasi kesenangan dan hiburan. Kesenangan-kesenangan tersebut dikemas melalui teknologi layar dengan semakin banyaknya citra (fantasmagoria budaya).

Dalam pandangan John Fiske (1996) budaya populer diproduksi oleh manusia bukan oleh industri budaya. Setiap industri budaya memproduksi teks atau wacana budaya sesuai dengan kehendak manusia dan diproses menjadi sebuah budaya populer. Dalam hal ini, make up sebagai salah satu ekspresi kesenangan, kebutuhan dan proses pembentukan diri di kalangan banyak terpengaruh oleh budaya populer. sehingga, make up berkembang menjadi sebuah komoditas yang dikomersialisasi menjadi nilai tanda yang mesti melekat dalam identitas diri remaja.

Penggunaan make up secara massif di kalangan remaja seolah mendapat madahnya tatkala disebarkan melalui media komunikasi massa (cetak, elektronik maupun internet). Kemunculan video-video tutorial make up di social media menjadi bukti bagaimana make up ditampilkan melalui bingkai budaya populer. Dan hal ini tentunya berimplikasi pada cara pandang remaja tentang make up.

Pada sebagian besar remaja, make up mewujud sebagai sebuah ruang komersialisasi kosmetik dan mendorong perilaku konsumtif. Mereka (remaja zaman now) memandang make up sebagai sebuah gaya hidup yang berupaya untuk membentuk persona dan identitas diri. Apalagi remaja zaman now adalah mereka yang hari ini masuk kategori generasi milenial yang sangat akrab dengan gadget.  Dan gadget adalah salah satu media saluran dalam menyebarkan pesan-pesan budaya populer.

Pada titik inilah, make up dipandang sebagai upaya membentuk identitas diri remaja yang berkembang sesuai dengan trend yang berkembang. Semoga, penggunaan make up di kalangan generasi milenial tidak menjadi ‘banal’, sehingga melupakan aspek nilai dan norma yang berlaku. Make up sebagai gaya hidup mesti dibatasi dengan pagar-pagar nilai dan norma tersebut, agar kesejatian remaja untuk menemukan kesadaran dan membentuk identitas dirinya berjalan tidak hanya sesuai dengan trend zaman, melainkan juga sesuai dengan batasan etika dan moral yang berlaku dan senantiasa dijunjung tinggi. Semoga!

Tuliskan Komentarmu !