LDS: #12 Penyergapan Pembawa Petaka

lds 12

Mei, 2004

SAVANA- Di angkasa raya, awan menggumpal gelap. Beberapa kali kilat menyambar. Kami berdiri berjajar di depan markas, menunggu intruksi dari Sandi Abah.

“Kawan, kemarin teman-teman kita sudah bertarung habis-habisan untuk merebut kembali Alun-alun Banjaran. Tapi dasar si kacangan itu sukanya main keroyokkan, teman-teman kita dipaksa mundur. Teman-teman kita banyak yang terluka parah, karena konon satu dari kita harus melawan 10 orang dari mereka. Apakah kalian takut?”

“Tidak!”

“Kalau kita biarkan anak-anak kacangan itu menguasai Alun-alun Banjaran, kita akan kesulitan untuk pulang ke markas besar. Apakah kalian mau memutar 10 kilometer?”

“Tidak!”

“Kita akan mengandalkan kualitas dan strategi. Kita akan dibantu oleh teman-teman kita dari Cangkuang dan Soreang. Kita harus bahu-membahu untuk menguasai kembali Alun-alun Banjaran. Siaaap?”

“Siaap!”

Guntur kembali menggelegar. Kilatan cahaya dari langit memotret perjalanan kami, semakin meneguhkan dan menguatkan tekad. Rintik-rintik hujan pun mulai menyebar ke segala penjuru. Semakin lama, semakin membesar. Hingga hujan mengguyur dengan sangat deras.

Di persimpangan Kamasan, kami menunggu teman-teman dari Cangkuang dan Soreang. Kami membiarkan tubuh kami terguyur hujan. Hujan ini yang akan menguatkan tekad.

“Siapa panglima Gerdut Banjaran?” tanya Ijay.

“Maman.” jawab Isep Martin.

Aku terhenyak. Apakah Maman yang dimaksud Isep sama dengan Maman yang ada dalam pikiranku? Kalau iya, mungkin aku akan reunian karena bertemu dengan teman lama. Dan dalam reuni ini, tentu aku ingin bersenang-senang, sepuasnya. Aku akan membalaskan derita Ijonk kemarin.

Teman-teman dari Cangkuang dan Soreang pun datang. Para ketua berbincang-bincang sebentar, menentukan langkah demi langkahnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, kami langsung meluncur ke Alun-alun Banjaran. Jumlah dari Cangkuang ada 6 motor, dari Soreang ada 7 motor, sedang kami, dari Tanjung Sari, hanya 4 motor.

Yang berjalan di depan ada 10 motor, dari Tanjung Sari dan dari Cangkuang. Teman-teman dari Soreang berjalan di belakang dengan jarak sekitar 50 meter. Setibanya di terminal, 6 motor dari Cangkuang berbelok ke kiri, menuju sekolah Pasundan yang lalu dapat terhubung lagi dengan jalan raya di depan. Ini mungkin yang dikatakan Sandi Abah dengan strategi.

Tempat ini memang penuh kejutan. Di sini, dahulu aku dicegat Maman, yang lalu aku kabur dengan Yulia ke tengah pasar. Di sini, dahulu aku makan bakso Goyang Lidah berdua saja dengan Yulia. Di sebelah sana, aku sempat dikeroyok oleh anak-anak Gerdut semasa aku SMP, hanya karena aku disangka anak Pertim. Sekarang, giliran aku yang menjadi pemeran utamanya.

Kami sudah melewati mesjid agung, dan kini kami berhenti sesaat di seberang lapang.

“Di sana mereka berkeliaran. Motor kita biarkan saja di sini. Semua harus ikut. Semua harus bertarung. Kita akan berperang sampai titik darah penghabisan.” ucap Sandi Abah.

“Kekuatan kita bukan pada jumlah, tapi pada kualitas. Tunjukkan pada dunia kalau kita benar-benar PENGUASA JALANAN!” teriak Isep Martin. Semangat kami pun menggebu-gebu.

“Iki, kau harus selalu ada di sampingku. Tunjukkan pada mereka kalau kau pun seorang pemberani.” tambah Sandi Abah.

“Siap!” jawab Iki singkat.

“Be, Win, Jar, kalian di sebalah kanan. Fokus pada orang-orang yang membahayakan. Jay, Ke, Sep, kalian di sebelah kiri. Dahulukan orang-orang yang paling dekat. Ingat! Jangan sampai lengah. Lengah sedetik saja, kita bisa celaka. Mengerti?”

“Mengerti!”

“Kita jangan sampai berpencar. Pastikan musuh kita hanya ada di depan. Kalau musuh mengepung, kita membuat lingkaran. Jika kita harus mati, biar kita mati bersama. Mengerti?”

“Mengerti!”

Sandi Abah dan Iki berjalan paling depan. Aku, Erwin, dan Fajar berjalan di belakang sebelah kanan. Ijay, Toke dan Isep Martin berjalan di belakang sebelah kiri.

Hujan mulai menipis. Jalanan Alun-alun Banjaran sudah lenggang karena menuju tengah malam.

***

“Bangun bangun bangun.”

Aku sedikit membukakan mata, lalu, kupejamkan lagi. Aku masih asyik dengan lamunan-lamunan.

“Bangun Cungur! Nih, lihat koran!”

Aku, Erwin, Fajar, Ijay dan Toke pun terhenyak, lalu duduk. Isep Martin menyodorkan koran kepada Erwin. Erwin mengamati sebentar, lalu koran itu disodorkan kepada Ijay. Ijay mengamati sebentar, lalu diberikan kepada Fajar. Fajar membaca sejenak, lalu disodorkan kepadaku. Aku membaca-baca, lalu kutemukan sebuah judul “Geng Motor LDS membantai Gerdut di Alun-alun Banjaran kemarin malam.” Aku mengangguk, lalu koran itu aku berikan kepada Toke. Toke mengangguk, lalu koran itu diberikan lagi kepada Isep.

“Kalian tau apa ini artinya?” tanya Isep Martin.

“Ya dasar koran sialan. Masa kita yang sedikit dituduh membantai, sedang mereka yang ratusan jumlahnya disangka jadi korban. Bela saja mereka terus.” jawab Erwin sambil merebahkan kembali tubuhnya.

“Bukan itu Cungur!” bentak Isep sambil memukulkan korap pada muka Erwin. “Ini artinya kita sekarang sedang diuber-uber polisi. Kalau kalian masih betah tinggal di sini, maka kalain akan ditangkap, lalu dipenjara. Mau?”

Kami pun saling pandang. Rasa kantuk pun langsung hilang.

“Lho kok, bisa sampai di tangan polisi sih?” tanya Toke.

“Itu urusan mereka. Urusan kita sekarang, cabut dari kampung ini.”

“Kita akan ke mana?”

“Ada yang punya saudara jauh di sini?” tanya balik Isep Martin.

“Aku ada, di daerah Kalimantan.” jawab Fajar.

“Terlalu jauh.”

“Aku punya, di daerah Banten. Tapi udah meninggal.”

Isep Martin garuk-garuk kepala.

“Aku juga punya, di daerah Ciamis. Tapi aku belum pernah ke sana, jadi gak tau jalannya.”

“L.o.l semua! Lain kali jangan minum terlalu banyak, jadi pada blo’on kan!”

“Sudah sudah. Sekarang kalian pulang. Bawa baju, bawa makanan, bawa uang yang banyak. Kita akan sembunyi di Gunung Malabar. Kalau jam 11 masih juga belum ke sini lagi, maka kalian akan ditinggal. Mengerti?”

Dengan pening di kepala, aku dengan yang lain memaksakan untuk berdiri, lalu berjalan dengan agak gontai.

“Jawab dulu sebelum pergi! Mengerti tidak?”

“Iya, bos.”

***

Kini yang terlihat hanya hamparan hijau kebun teh dan hutan belantara. Aku tak tau mau dibawa ke mana, yang penting, katanya bebas dari kejaran polisi. Isep Martin berjalan paling depan, disusul oleh Toke dan Fajar, aku dan Erwin di barisan ke tiga, sedang Ijay berjalan paling belakang.

“Sep, kita mau ke mana? Di depan sana kan tidak ada lagi kampung.” Teriak Ijay.

“Mau ke surga. Ya mau ke hutan lah, Cungur! Satu lagi, panggil saya bos. Ingat, BOS!”

“Sandi Abah kan belum meninggal.” sanggah Toke.

“Tapi sekarang yang memimpin kalian adalah saya, bukan Sandi Abah. Kepemimpinan akan dialihkan kembali jika Sandi Abah sudah sembuh.”

Tak ada lagi yang berkomentar, semua pasrah. Kabut tipis mulai turun. Hawa dingin mulai memasuki tubuh. Segala macam burung, berceloteh menurut bahasa mereka masing-masing.

Sudah hampir satu jam kami berjalan. Motor kami titipkan di depan mesjid, karena menurut kami, disitulah tempat yang paling aman. Dan kalau pun harus hilang, kata si BOS, kehilangan motor lebih baik ketimbang harus dipenjara; motor bisa dicari lagi, bisa maling lagi, sedang kalau sudah masuk kurungan penjara, kita bisa berbuat apa?

Ijay ketinggalan cukup jauh di belakang. Ia berjalan sambil memegang perutnya, seperti mau kehabisan napas, padahal di sekeliling kita banyak pohon-pohon yang memasok oksigen.

Hujan tipis mulai turun. Perlahan tapi pasti, hujan itu mulai membasahi wajah kami. Sesekali Erwin menyeka wajahnya. Isep Martin tetap berjalan dengan wajah tegap, wajah penuh ambisi, penuh keberanian. Sepertinya rasa takut sudah dicabut dalam dirinya. Toke dan Fajar sudah nampak kelelahan, begitu pun denganku dan Erwin, apalagi Ijay.

“Bos, serius mau masuk hutan? Kalau ada macan, gimana? Kalau ada ular, gimana?”

“Iya bos. Kami sanggup bergulat dengan sepuluh manusia, tapi kalau melawan hewan buas, aku tak sanggup, bos!”

“Lagian di sini pun polisi tak akan sanggup tangkap kita. Kalau kita benar-benar masuk ke hutan, bukannya selamat bos, malah tambah celaka.”

Isep Martin terdiam sesaat, memerhatikan sekeliling, lalu memandangi Ijay yang ketinggalan cukup jauh.

“Di sekitaran sini saja bos. Kasihan Ijay sudah tak kuat.” usul Erwin.

“Oke, kita akan bermalam di sekitaran sini.”

Setelah beberapa lama mencari tempat bermalam, kami pun menemukan sebuah saung yang biasa dipakai pemetik teh untuk mengumpulkan dan menimbang teh, atau yang sering disebut dengan los. Dari los menuju hutan belantara ada sekitar 50 meter lagi, itu artinya udara di sini sangat dingin, apalagi dengan pakaian basah habis terkena hujan. Kami pun menggigil kedinginan.

“Be lihat, indah betul di sini.”

Aku pun memandang apa yang ditunjuk Erwin. Kelap-kelip lampu yang berada di sekitaran Pangalengan mulai terlihat. Ini tandanya sebentar lagi akan gelap, dan hari ini akan selesai. Aku sedikit sunggingkan senyum. Di atas semua kejadian, di atas semua rasa kesal, ada saja yang bisa membuat gembira.

“Kita akan berapa lama di sini?” tanya Fajar.

“Setahun mungkin, sampai polisi amnesia.”

“Cungur! Ada yang lupa lagi.” cibir Isep Martin sepulangnya mengumpulkan kayu bakar bersama Toke.

“Lupa apa, bos?”

“Kita lupa beli minum.”

“Nih, aku ada.” timpal Ijay.

“Bukan yang itu Cungur! Minuman yang bisa bikin hangat dan tenang, yang bisa bikin serasa di pantai walau kita berada di gunung.”

“Bos sih tadi buru-buru.”

“Iya bos, kata guru agama akau waktu SD, buru-buru itu perbuatan setan.”

“Jadi kamu ingin bilang kalau saya setan?”

“Bukan bosnya, tapi perbuatan bosnya yang gak sabaran. Jadi lupa beli minam, kan?”

“Oke oke”

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

 

Tuliskan Komentarmu !