Lelaki Murung, Kenapa Lagi?

ilustrasi by: juproni.com

SAVANA- Seharusnya, orang yang sudah mengalami berbagai macam penderitaan, tak akan lagi merasai kesakitan oleh hal yang sama. Begitu teorinya. Orang yang terbiasa sarapan dua gelas air putih, akan sangat bahagia jika diajak sarapan bubur, dan harusnya tak akan kecewa jika esonya harus sarapan air putih lagi, toh ia sudah terlatih.

Tapi tak akan seru sepertinya bila di dunia ini semuanya sudah bisa dituntaskan oleh sebuah teori. Mari kita berkenalan lagi dengan lelaki murung yang merenung di sudut kosan yang belum ia bayar selama tiga bulan karena kiriman dari orang tuanya tersendat akibat pandemi. Zaman memang sedang susah-susahnya, dan ibu kosan itu mengerti, makanya lelaki murung itu tidak ditendang dari kosan yang sebenarnya lebih cocok dikatakan kandang ayam itu.

Dalam renungannya, lelaki murung itu memikirkan sebuah asbak yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Ia berpikir, bagaimana asbak itu diciptakan. Sejak kapan manusia berpikir untuk menciptakan asbak? Dan, bagaimana desainnya agak asbak yang fungsinya tak lebih dari tempat sampah itu tetap cocok dipajang di ruang tamu rumah-rumah mewah?

Tentu asbak yang tergeletak dekat lelaki murung itu jauh berbeda dengan asbak yang ada dalam bayangan kita. Lazimnya kita membayangkan, asbak itu terbuat dari keramik, atau paling tidak dari kayu atau bambu, yang disetiap tepinya ada cengkungan untuk menyelipkan sebatang rokok. Sedang asbak yang ada di pinggir si lelaki murung itu adalah cup bekas minuman mineral yang airnya ia sisakan seperempatnya, supaya jika kuntung rokok ia jatuhkan, tidak langsung mambakar cupnya yang terbuat dari plastik, tapi jatuh ke air dan baranya akan langsung padam.

Kembali lagi dalam persoalan asbak yang berada dalam renungan lelaki murung itu. Kenapa manusia terpikirkan untuk menciptakan asbak?

Renungan yang konyol memang, karena itu sama saja dengan pertanyaan, kepada manusia terpikirkan untuk membuat piring, gelas, pakaian, dan lain sebagainya. Kita tidak usah ikut campur dalam renungan konyolnya, apalagi dengan ikut-ikutan memikirkanya. Kita hanya tinggal bertanya saja, kenapa ada orang yang merenung konyol seperti itu? Apakah ada sesuatu yang tidak beres dengan hidupnya? Atau ia sudah gila? Atau dunia ini yang sebenarnya sudah gila seperti pepatah petitih pesohor: ia tidak gila, dunia yang dihadapinya yang gila?

Biar lebih dramatis, kita ambil saja kesimpulan yang terakhir: ia tidak gila, dunia yang dihadapinya yang gila. Ini artinya, kita mesti berbesar hati karena menjadi bagian dari kegilaan kawan kita yang satu ini. Mungkin, ada tingkah kita juga yang membuat dunia ini tidak waras.

Konon kabarnya, menurut penuturan ibu kosan, lelaki murung itu jadi sering merenung setelah putus dari pacarnya. Ah sial, sepertinya kita dikibuli oleh si ibu kosan itu. Mana ada yang mau jadi pacar lelaki murung itu, iya kan? Akhirnya saya cari informasi lagi, dan akhirnya dapat dari Anwar, sahabat lelaki murung itu.

Lelaki murung jadi sering merenung karena ia tak punya uang lagi untuk beli kuota. Hal yang biasa ia lakukan jika sendirian di kosan adalah main hape, entah itu untuk lihat-lihat instragram, twitter, facebook, youtube, tiktok, bigo live, atau bermain game online. Dan jika kuotanya sudah habis, nyaris hapenya jadi tidak berguna, tergeletak begitu saja seperti bangkai yang enggan segera dikuburkan. Hingga akhirnya ia merenungkan bagaimana manusia terpikir untuk menciptakan asbak.

Kita mungkin sering tertimpa barang dari atas, tapi hanya Isaac Newton lah yang terilhami tentang teori gravitasi. Kita juga mungkin sering kehabisan kuota dan merasa sebal dengan keadaan itu, tapi sepertinya hanya lelaki murung itu yang terpikirkan untuk merenungkan asbak beserta pertanyaan-pertanyaan konyolnya.  Walau konyol dan sia-sia, tapi ia sudah membuat sebuah jeda, satu permenungan yang nyaris tak punya ruang lagi setelah dunia bergerak begitu cepat.

Dunia sudah gila, begitu kata pesohor. Tapi definisi gila bukan lagi gangguan kejiwaan seperti dalam kamus psikologi. Ia adalah akumulasi. Kalau kita bersepakat untuk gila, maka kita tidak bisa lagi dikatakan gila. Yang gila itu adalah yang ganjil, yang aneh, yang berbeda dengan kehendak dunia.

Dunia tidak gila, dan kita sudah bersepakat untuk mengatakan itu.

Tuliskan Komentarmu !