Lelaki Cengeng, Menangislah!

arti tangisan lelaki
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Mari kita tertawakan lelaki yang sedang merenung di sudut ruangan itu. Andai kita tak memerhatikannya, mungkin ia sudah menangis terseguk-seguk. Tapi ia cukup punya rasa malu untuk melakukan itu.

Ya, karena ia seorang lelaki, dan seorang lelaki tak pantas untuk menangis kecuali saat masih kecil dan ketika orang tuanya meninggal. Seorang lelaki dewasa harusnya punya cara agar ia tak menangis saat menghadapi kecewa dan putus asa. Itu juga kalau mau disebut seorang lelaki. Begitulah masyarakat kita mengajarkan.

Sebenarnya rasa kecewa ia biasa saja, andai ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, bukan orang-orang yang ada dalam khayalannya. Ia merasa bekerja keras saja cukup -karena itu yang kerap ia dengar dari pesohor-pesohornya, tanpa mau memperhitungkan seberapa persen ia punya kesempatan. Ia kepalang yakin, roda hidup akan berputar, tanpa sadar bahwa ada segelintir orang yang mau menghentikan pergerakkan roda tersebut. Yang sudah berada di atas, tentu melakukan berbagai hal agar tetap berdiri di atas.

Mari kita tertawakan bersama, lelaki yang sedang murung di sudut ruangan itu. Yang merasa hanya dengan membaca buku kiat-kiat sukses, persoalan-persoalan hidup akan mudah teratasi. Nyatanya ia sendiri kini murung, meratapi kerja kerasnya yang terabaikan, menyadari jika kesempatannya yang semakin menyempit.

Andai ia menyadari dari dulu, jika kesempatan juga bisa dijegal. Tentu dengan cara yang legal, atau yang sedang berusaha dilegalkan lewat undang-undang. Jika negara sudah semakin memfasilitasi orang-orang rakus, maka akan semakin banyak lelaki yang kita anggap “cengeng” merenung di sudut ruangan itu. Kabar baiknya, lelaki itu akan punya banyak teman.

Tapi tak akan berhenti di sini. Cerita-cerita yang merangkak dari bawah akan semakin epik kita dengar. Seolah menandakan bahwa mereka masih punya kesempatan yang sama. Jika yang lain bisa, mengapa ia tidak? Jika yang lain ada yang berhasil, mengapa ia gagal? Dan masih ada satu jawaban: karena ia kurang bekerja keras, dan itu kesalahannya sendiri.

Lelaki murung yang merenung di sudut ruangan itu tak hanya kita maki sebagai lelaki cengeng, tapi juga sebenarnya pemalas yang mengemis-ngemis kesempatan kerja pada negara. Mereka seolah tak mempunyai hak apa pun untuk menuntut negara, walau negara tetap ambil pajaknya.

Lelaki cengeng, menangislah! Walau akan ada banyak orang menertawakannya, dan dengan sedikit makian: dasar pemalas! Lain kali, kau harus menertawakan dan memaki dirimu sendiri.

Dan ini adalah caraku untuk menertawakan dan memaki diriku sendiri.  Karena aku memang seorang pemalas.

Tuliskan Komentarmu !