Lebaran dan Budaya Mudik

sumber gambar: isolapos.com

SAVANA- Momen lebaran adalah momen keluarga, begitu kata orang-orang. Ia menjadi satu moment yang berhasil mendekatkan yang jauh, merekatkan yang retak, membahasakan rindu dan mengumpulkan yang terserak.

Berjuta umat berduyun-duyun menghampiri satu sama lain untuk melaksanakan ajang silaturahim dan merekatkan ukhuwah. Syahdu: kata yang cukup untuk menggambarkan keindahan di hari Idulfitri.

Tak terlewat, lebaran ini menjadi moment yang dirindukan oleh para perantau. Setelah sekian masa dilalui tanpa visualisasi keluarga di sisinya, anak rantau akan lebih merasakan betapa berharganya ‘pulang’, sebab waktu bersama keluarga menjadi barang yang langka di hidupnya. Persis, seperti kata pepatah: merantaulah agar kita tahu kenapa kita harus pulang; merantaulah agar kita tahu bagaimana rasanya rindu dan ke mana kau harus pulang. Maka lebaran adalah kesempatan untuk bersua dengan keluarga tercinta.

Lagi-lagi menyoal rindu, tak mudik maka tak rindu, sebab temu menjadi satu-satunya obat bagi  rindu. Tentu, mudik tak hanya membawa rindu, tapi juga diri. Beberapa dari para perindu itu ingin kehadirannya membawa kesan tersendiri. Oleh-oleh saat mudik itulah yang menjadi ‘barang wajib’ yang dibawa selama perjalanan. Ada yang membawa pakaian baru untuk dihadiahkan, bingkisan lebaran, kue lebaran hingga uang yang diselip di dalam amplop bertuliskan selamat hari raya menjadi bumbu pelengkap mudik.

Pun perjalanan selama mudik, menjadi kesan tersendiri yang hanya dirasakan saat lebaran akan tiba. Suara klakson mobil yang memecah kemacetan, penumpang yang berdesak-desakan, suara pedagang asongan yang saling bersahutan dengan ritme yang unik, petikan gitar tukang ngamen, suara teriakan kondektur hingga ketukan koin di jendela bus menjadi musik pengiring mudik. Tak jarang tangisan anak kecil di dalam bus memecah kebisingan, bau bahan bakar bus, keringat hingga asap rokok terkadang menimbulkan rasa mual bagi sebagian penumpang.

Berbeda dengan pemudik yang pulang dengan kendaraan pribadi. Jalan tol menjadi alternatif rute tercepat untuk segera sampai ke kampung halaman. Atau kendaraan beroda dua yang handal menyelip di tengah lautan kendaraan dan terik matahari; atau pemudik antar pulau dengan kapal lautnya yang terombang ambing lepas di lautan luas berminggu-minggu; atau pemudik eksklusif yang pulang dengan menaiki pesawat terbang. Tentu mereka memiliki versi cerita mudik yang berbeda.

Pemudik adalah mereka yang pernah pergi, sesuatu yang pergi pasti akan kembali pulang, dan sesuatu yang pulang pasti akan mengalami perjalanan pulang. Pada hakikatnya, bagi ia yang kembali pulang, selalu ada satu pertanyaan: apa yang ia bawa untuk kampung halamannya?

Mudik lebaran hanya sebuah model kecil, satu bentuk tafakur bagi umat. Sebab manusia akan mengalami mudik masal yang dialami satu kali sepanjang hidupnya: mudik dari dunia menuju kampung akhirat. Ia adalah keberpulangan yang sesungguhnya.

Kita semua adalah para perantau yang sedang meniti waktu menuju pulang, maka sejatinya perantau adalah  ia yang mempersiapkan perbekalan untuk kepulangannya dan mempersiapkan alternatif perjalanan tercepat untuk sampai ke kampung halaman. Dan pastinya, hanya perantau dengan ‘ongkos mahal’ yang mendapatkan mudik terbaik menuju Allah, Sang Pemilik Makhluk.

 

Tuliskan Komentarmu !