LDS: #9 Tentang Keberanian

legenda dari selatan
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Keberanian tidak muncul dengan sendirinya, tapi ia ada karena kita merasa mampu menghadapinya.

Menginjak kelas sembilan, Agung cs mulai so jadi jagoan. Ia palak anak kelas tujuh dan delapan, tentu dibarengi ancaman agar tak melapor kepada siapa pun. Yang jadi sasaran palak adalah siswa yang sangat pendiam, yang pakai kaca mata tebal, atau si kutu buku. Tiap hari mereka menyerahkan uang sebesar 500 kepada Agung cs. Baru-baru ini aku baru tau kalau uang hasil palak itu sebagian disetorkan kepada Maman. Konon, Agung cs kini menjadi muridnya Maman. Yang berurusan dengan Agung, berarti berurusan juga dengan Maman. Agung jadi tampil banyak gaya sekarang, seolah dia adalah penguasa di sekolah.

Aku mengajak Rendi dan Ijonk untuk belajar gulat. Rendi menolak, sedang Ijonk siap jika Rendi siap. Aku terangkan bahwa kita butuh perlindungan, minimalnya untuk diri sendiri. Akhirnya Rendi mengerti, walau seperti masih setengah hati.

Sepulang sekolah, aku mengajak Rendi dan Ijonk ke sungai yang rimbun oleh pohon bambu. Erwin dan Fajar sudah menunggu di sana. Kami pun mulai berlatih.

Erwin dan Fajar membawa buku-buku silat yang dicurinya dari perpus sekolah. Seorang demi seorang, kami menirukan jurus yang ada dalam buku itu. Aku, Erwin dan Fajar mulai bisa menirukan gaya-gaya yang ada dalam buku itu, walau masih belum hafal betul. Pergerakan Ijonk masih kaku, tapi sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Sedangkan Rendi? entahlah, ia sepertinya lebih cocok jadi penulis buku, atau paling tidak komentator kami.

Tiap pulang sekolah kami selalu berlatih di tempat itu. Paling tidak dalam seminggu 4 kali, dari senin sampai kamis.

“Dri, buat apa kita terus latihan seperti ini? Kita tidak sedang menyiapkan untuk tawuran, kan?” tanya Rendi yang masih kebingungan satu jurus pun. Kalau pun bisa, tinjuannya loyo, tendangannya lebih lemah ketimbang angin tendangan Erwin.

“Ren, kau suka nonton Wiro Sableng, kan? Bagaimana ia bisa menumpas kejahatan jika ia tidak punya kekuatan?”

“Tapi itu kan cuma film, Dri.”

“Begini, bagaimana jika Agung malak kamu?”

“Iya kan ada kamu, ada Ijonk, ada Erwin, ada Fajar.”

“Kalau kami sedang tidak ada?”

“Ya tinggal laporkan saja kepada Pak Polisi.”

Aku diam sejenak. “Oke, sekarang kamu nonton saja di sana.” Jawabku sambil menunjuk ke arah pinggir. Rendi pun loncat-loncat sambil digoyang-goyangkan langkahnya. Percuma memang mengajak orang yang tidak punya kemauan.

Sekarang Ijonk dan Fajar siap bertarung satu lawan satu. Di lapangan yang lembab ini karena tak tersinari matahari, Ijonk dan Fajar mulai adu ketangkasan. Awalnya Ijonk yang menyerang, tapi ditahan baik oleh Fajar. Sekarang Fajar menyerang balik dengan tendangan halilintar, Ijonk berkelit dengan menunduk, dan… Bummm!. Tendangan Fajar yang asalya mengarah ke atas, langsung menukik setelah berada di tengah-tengah tubuh Ijonk. Ijonk pun tersungkur setelah mendapat tendangan di punggungnya.

Ijonk tak menyerah begitu saja. Ia bangkit lagi, lalu langsung menyerang Fajar dengan pukulan dan tendangan yang bertubi-tubi. Sesekali Fajar menahan serangan Ijonk dengan tangan dan kakinya, sesekali berkelit dengan meleokkan tubuhnya. Fajar siap menyerang balik, dan Ijonk pun langsung mundur tiga langkah. Serangan Fajar berhenti. Mereka mulai terengah-engah, menarik dan mengeluarkan napas dengan begitu cepatnya.

Sekarang giliran Fajar yang memulai menyerang. Dua pukulan langsung ditangkis oleh Ijonk. Fajar menendang menyusur tanah, Ijonk mengelak dengan melompat ke belakang, takut tiba-tiba tendangan yang menyusur itu berpindah haluan menjadi melayang. Mereka pun berhenti sejenak; terengah-engah.

“Ayo Jonk! Sasar pahanya! Di sana letak kelemahannya.” komentar Rendi yang menonton dari pinggir lapang.

Ijonk pun langsung melirik ke arah Rendi, dan saat itulah Fajar dengan cepat menyerang. Dua pukulan berhasil ditangkis, namun Ijonk tak bisa mengelak dari tendangan halilintar dari Fajar. Walau pun tendangan Fajar mengenai bahu -bagian yang bukan fital, tapi itu membuat Ijonk tersungkur ke tanah. Ijonk pun meringis kesakitan sambil memegang bahu kirinya.

“Gila lo Ren, teriak-teriak saat gue sedang konsentrasi,” ucap Ijonk. Ijonk pun menyerah.

Sekarang giliran aku dengan Erwin. Sebelum dimulai, aku memejamkan mata. Aku teringat pada film-film silat atau pun kungfu, bahwa keheningan alam menyalurkan aura kebaikan, juga kekuatan. Aku resapi hembusan angin yang menerpa wajahku, sehingga seolah sedang mentransfer kekuatan. Aku resapi, terus dan terus. Setelah dirasa cukup, sekarang giliran telingaku menghayati suara air dari arah sungai, seolah iramanya dapat membentuk watak arah gerakku. Aku dengarkan baik-baik, hingga dapat dibayangkan nanti aku harus bergerak seperti ini dan ini, mengelak seperti ini dan ini. Terus aku dengarkan, terus dan terus. Setelah aku sudah benar-benar siap, mataku pun dibuka perlahan. Dan… di hadapanku sudah tidak ada siapa-siapa.

Aku segera memerhatikan sekitar. Kulihat Erwin dan Fajar sedang berjalan di pematang sawah, di seberang sungai sana. “Wooyyy….! Mau ke manaaa…?” Teriakku sekuat tenaga.

“Pulaangg… bentar lagi magriiib…! Lo sih pemanasannya kelamaan.”

“Bilang saja gak berani lawah gue. Dasar pengecut!” umpatku. Dan percayalah, umpatan semacam itu dapat menipiskan kekecewaan.

Aku langsung ambil tas dan topiku, lalu berlari mengejar Erwin dan Fajar. Rendi dan Ijonk pun sepertinya sudah pulang, namun mereka pulangnya ke arah perkotaan yang banyak pepohonan dan rumah penduduk, jadi wujudnya sudah tak kelihatan lagi.

***

Yulia sudah agak berbeda sekarang, kataku, dan kata Yulia, aku yang sudah berbeda sekarang. Aku tak tau awalnya dari mana, yang jelas, kini Yulia sering menghindar.

Aku bertanya kepada Dewi dan Iyam, namun entah mengapa sekarang mereka pun ikut bungkam. Aku bercerita kepada Rendi dan Ijonk, namun mereka hanya bilang: ‘sabaar. Kata Pak Guru, orang sabar disayang Tuhan’. Nampaknya aku bercerita kepada orang yang salah, karena mereka berdua belum pernah sekali pun punya pacar.

Sekarang aku mengingat-ingat kembali apa yang sudah aku lakukan kepada Yulia. Tidak, aku tidak pernah melakukan hal yang macam-macam. Dulu hanya sering berangkat dan pulang bareng, walau sekarang itu sudah amat jarang terjadi. Dalam obrolan pun, kami tak lepas dari pembicaraan soal pelajaran, tidak yang ngeyel-ngeyel atau romantis.

Aku terus mengingat-ingat. Hal yang teromantis yang pernah aku lakukan mungkin saat kenaikkan kelas sembilan, 3 bulan lalu. Saat itu aku memberikan bunga dari sedotan yang langsung dibuatkan oleh ibuku, dan Yulia nampak senang. Selebihnya, mungkin saat jajan batagor atau makan bakso.

Aku terus mengingat-ingat kembali, apakah ada yang salah dengan itu semua?

“Dri! Ayo istirahat.” Ajak Ijonk, sekaligus membuyarkan lamunanku.

“Jonk, apa aku salah memberikan bunga sedotan kepada Yulia? Apa aku salah mentraktir dia batagor atau bakso?”

“Emmh… gak terlalu salah, sih. Tapi ada salahnya juga.”

“Apa?”

“Harusnya kamu memberi dia bunga beneran. Harusnya kamu sering ngajakin dia jalan, maen, dan sering-seringlah mentraktir, sesekali beri dia kejutan. Kalau ngobrol juga harus yang agak romantis, jangan hanya ngomongin matematika dan bahasa indonesia. Terus kalau lagi jalan dan ngobrol, sering-sering tatap wajahnya, jangan hanya menunduk. Begitu Dri kata film-film di tv.”

Aku pun menunduk lagi.

“Gak akan istirahat, Dri?”

“Nitip saja, nih! Biasa, batagor.”

“Oke!”

Aku membuka buku kosong, lalu memulai menggambar.

Kali ini aku menggambar sebuah pohon yang sudah tidak berdaun; hanya tinggal batang dan ranting karing yang masih menghadap langit. Sekitaran pohon itu pun tanahnya gersang, tak ada rerumputan yang tumbuh, hanya ada batu-batu dan kertas yang melayang tertiup angin. Di dalam kertas yang melayang itu aku tuliskan: kematian sedang mengintaimu.

Bel pulang sudah berdering. Aku tak terburu-buru untuk pulang. Aku tunggu hingga suasana kelas sepi, baru aku melangkah keluar. Di luar Ijonk dan Rendi sedang menungguku, katanya mereka mau latihan gulat lagi. Di gerbang sana, kulihat Dewi, Iyam dan Yulia masih asyik berbincang-bincang.

Saat kami hendak berpapasan, aku memberanikan diri untuk mengajak Yulia pulang bareng lagi.

Yulia nampak kebingungan. Kedua sahabatnya pun tak memberikan solusi, bahkan mereka seperti pura-pura tak mendengar saat dilirik Yulia. Akhirnya Yulia pun mengangguk, walau nampak sangat keberatan.

“Terus, kita gimana?” bisik Ijonk.

“Tunggu aja di tempat biasa.”

Mereka pun mengangguk.

Saat berjalan berdua dengan Yulia, aku hanya menunduk saja. Aku ingat kata Ijonk tadi, bahwa aku harus sedikit romantis, tapi bagaimana memulainya?

Setelah sampai di jalan raya, Yulia berucap. “Kita naik angkot, yah?”

“Oke!”

Kami pun menyeberang jalan.

Saat sedang menunggu angkot, sesekali aku melirik Yulia. Yulia pun sesekali membalas lirikkanku, tapi dengan wajah juteknya. Aku lupa bertanya kepada Ijonk, bagaimana memulai obrolan yang romantis, atau, perkataan apa yang kedengarannya romatis.

Tak berselang lama, angkot yang ditunggu pun muncul. Aku baru kepikiran untuk memperlakukannya bak Tuan Putri; membukakan pintu untuknya, mempersilakan masuk duluan, dan menjaganya dari pandangan-pandangan jahat.

Setelah angkot menepi ke pinggir jalan, Yulia belum juga mengubah berdirinya.

“Say, ayo!”

Yulia masih saja terpaku di tempat berdirinya, dan untuk pertama kalinya aku memanggil dia dengan sebutan Say.

“Dri, kita putus, yah!”

“Lho, kok?”

Yulia diam, aku meregang.

Tiittt… Tiittt… Tiittt..Hayu atuh.” Teriak supir angkot.

“Bentar, Mang!” teriakku.

“Maaf, bila selama ini Yuli banyak salah ke Andri.”

“Iya. Andri maafin kok!” Setelah itu aku berlari menuju angkot. Aku naik dengan melompat, hingga membuat para ibu elus-elus dada dan membuat sopir geleng-geleng kepala. “Ke Rancabuaya Mang!”

“Angkot ini mah cuma nepi Banjaran atuh Sep!”

“Ah tidak mau tau! Pokoknya harus sampai ke Rancabuaya!”

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Baca Juga: LDS: #8 Tentang Kehormatan

Tuliskan Komentarmu !