LDS: #8 Tentang Kehormatan

legenda dari selatan
Ilutrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Malam ini aku dan Fajar menginap di rumah Erwin. PS sudah disewa, namun masalahnya televisi punya Erwin sedang rusak. Jarak dari rumah Erwin ke rumahku hanya terhalang 5 rumah saja, sedang ke rumah Fajar harus melewati belokan dulu, makam dulu, tukan mie ayam dulu, pohon beringin dulu; pokoknya mikir-mikir jika mau mengambil televisi di rumahnya. Kami pun bersepakat untuk mengambil televisi punyaku saja.

Malam-malam kami memindahkan televisi dari rumahku ke rumah Erwin, tanpa diketahui oleh orang tuaku karena mereka sudah nyenyak tidur. Kami pun memindahkan televisi dengan sangat hati-hati, agar tak menimbulkan suara yang bising dan membangunkan orang tuaku.

Selama pertandingan PS, aku terhitung cuma kalah 10 kali, selebihnya, seri. Walau pun begitu, hatiku tetap senang, alasanya, karena Yulia. Ya, ia yang mampu mengubah kekalahan dengan senyuman.

Sekitar jam 4 pagi, terdengar di rumahku ribut-ribut. Awalnya kami abaikan. Namun makin lama makin riuh saja. Bahkan terdengar oleh kami teriakkan “Malingggg… Malingggg…” kami pun terkejut, lalu kami berlari ke arah rumahku.

Di sana para tetangga sudah banyak berkumpul, melihat-lihat rumahku. Ibuku terisak menangis sambil dipeluk Ceu Kartimah, ayahku terdiam mematung saja di kursi sambil ditemani Pak RT dan warga lain. Hatiku dag dig dug, apa yang sudah terjadi?

Setibanya di pintu rumah, Bi Iis mencoba menguatkanku. “Yang sabar ya Drii. Yang sabarrr. Ini cobaan!”

Aku mematung masih tak mengerti. “Memangnya ada apa, Bi?”

“Televisi kamu ada yang nyuri. Kamu tak akan bisa menonton televisi lagi.”

Aku terkejut tak kepalang. Kulihat lemari, televisi itu memang sudah tidak ada. Aku berlari ke arah ibu, lalu memeluknya erak. Ibu mengusap-usap punggungku. “Yang sabaarrr ya, Dri! Yang sabarrr.”

Saat aku masih berada dipelukkan ibu, Erwin datang, lalu mengajakku ke dapur. Di dapur, Erwin membisikkan, “Bukannya televisi kamu ada di rumahku, Dri? Kan kau sendiri pun ikut mengangkut.” Aku baru ingat.

Ibu Erwin datang, lalu menanyakan ada apa.

“Televisinya Bi Eem ada di rumah saya. Tuh anak-anak yang mindahinya tadi malem. Kirain saya teh Bi Eem sudah tau.”

Lewat pintu dapur, aku dan Erwin keluar, lalu berlari ke tengah sawah.

“Andriiii.” teriak ibu.

***

Sekarang hari senin, dan itu artinya, aku akan bertemu Yulia. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun, mengalahkan kokokan ayam jantan punya tetangga. Ibu terheran saat aku mandi dengan penuh semangatnya, bahkan air satu bak hampir habis yang biasanya aku mandi pagi tak lebih dari satu ember. Ibu ngomel-ngomel tak karuan karena harus menimba air lagi.

Setibanya di depan gang rumah Yulia, Yulia masih belum ada. Kulirik jam, masih menunjukkan pukul 6 pagi. Aku pun duduk di tempat Yulia biasa duduk menungguku. Sebentar-sebentar kulirik lagi jam, jam menunjukkan pukul 6 lebih 5 menit. Kulirik lagi jam, jam menunjukkan pukul 6 lewat 10 menit. Kulirik lagi jam, jam menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit. Saat hendak kulirik lagi jam, Yulia muncul dengan pita warna biru langit di kepalanya.

“Pagi, Yulia.”

“Iya, pagi juga.”

Kami pun berjalan menyusuri jalan bekas rel kereta. Sebentar-sebentar kulirik wajahnya, ia pun melirik wajahku, lalu kami tersenyum. Perjalanan dari gang rumah Yulia sampai sekolah, hanya begitu saja.

Sekarang aku sudah memiliki legalitas formal untuk bersamaan terus dengan Yulia, atau mengawasi terus ke mana pun ia pergi. Mulai hari ini, Topan atau siapa pun, tak bisa lagi merayu dan mendekati Yulia. Jika masih ada yang berani, aku akan langsung menghadap, lalu berucap, “perkenalkan, aku pacarnya Yulia.”

Di kelas, aku lebih percaya diri. Semua pelajaran kulewati dengan kerutan di dahi; tanda aku sedang fokus dan sugguh-sungguh belajar. Sesekali aku ingin yang mengajari Yulia, bukan cuma Yulia yang terus-menerus mengajariku. Mulai sekarang, aku pun tak pilih-pilih lagi mata pelajaran dan guru, semua kulewati dengan serius.

Setelah bel istirahat berbunyi, aku ikut berdiri, lalu pergi ke mana pun Yulia pergi. Yulia mainnya pasti sama Dewi dan Iyam, sedang aku punya anak buah namanya Rendi dan Ijonk, jadi kami selalu pergi berenam saat istirahat tiba.

Sekali waktu Topan bersama kawan-kawannya datang mendekati Yulia, lalu ia mencoba menggoda.

“Yul, nanti pulangnya bareng yah? Aku punya kejutan untuk kamu.”

“Maaf, gak bisa.” jawab Yulia singkat.

“Kenapa? Kamu mau pulangnya sama si pengecut itu?” tanya Topan sambil melirikku.

Yulia diam sambil menatap Topan dengan tajam. Ijonk mendorong-dorongku sambil membisikkan, “Dri, sikat Dri. Masa pacar kamu digituin kamu diam saja? Ayo, sikat Dri.”

Setelah mengumpulkan semua kakuatan dan keberanian, aku datang menghadap Topan. “Sory Pan, kita sudah tidak punya masalah, kan? Lebih baik kamu tak usah mencari masalah dengan kami.”

Saat Topan hendak menjawab, Yulia dengan cepat menarik tanganku, lalu mengajak kami pergi. Dari kejauhan, Topan berteriak, “Pengecut!”

Setelah itu hatiku gusar, namun aku tak mau dicap sebagai pengecut.

***

Di akhir semester 2, terjadi pertandingan cerdas cermat antara kelasku dan kelas Topan. Aku, Yulia dan Santi yang mewakili kelasku. Gina, Maesaroh dan Gilang yang mewakili kelas sembilan, sedang Topan beserta teman-temannya ribut-ribut di bangku penonton, seperti hendak meneror. Di atas kertas, kelas kami akan kalah.

Cerdas cermat kali ini terdiri dari 15 pertanyaan. 5 soal untuk kelompok kami masing-masing, namun apabila tidak bisa terjawab akan dilempar, sedang 5 soal lagi jadi rebutan. Yang pertama giliran menjawab adalah kelompok kelas sembilan, dan kelas kami hanya berharap cemas.

“Apa nama ibukota Inggris?”

“London” jawab Gina cepat.

“Ikan bernapas dengan apa?”

“Insan.” jawab Maesaroh.

“Siapa penemu lampu?”

“Thomas Alfa Edison.” jawab Gilang.

“Apa sila ke lima dari Pancasila?”

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” jawab Gina.

“Apa saja unsur intrinsik dari sastra?”

“Latar, tokoh, tema.”

Semua yang hadir tepuk tangan. Mereka mendapatkan poin sempurna. Sekarang giliran kelompok kami.

“Apa nama ibukota Italia?”

“Roma.” jawab Yulia cepat.

“Burung bernapas dengan apa?”

“Paru-paru.” jawab Yulia.

“Siapa penemu kereta api?”

Kami semua diam. Juri menghitung sampai tiga, lalu pertanyaan itu dilempar ke kelompok sebelah.

“George Stephenson” jawab Gilang.

“Betul.”

Topan dan kawan-kawannya teriak sambil memukul-mukul meja, seperti orang-orang gila.

“Apa sila ke pertama dari pancasila?”

“Ketuhanan Yang Maha Esa.” jawab Santi.

“Apa saja unsur ekstrinsik dari karya sastra?”

“Biografi penulis, keadaan politik dan sosial saat karya itu dituliskan.” jawab Santi.

Kelas kami yang hadir pun tepuk tangan. Dengan begitu, kelompok sembilan mendapat nilai 60, sedang kelas kami mendapat nilai 40. Tapi pertandingan belum selesai.

Selajutnya adalah sesi soal rebutan; siapa yang pertama mengangkat tangan, dialah yang berhak menjawab. Namun apabila jawabannya salah, nilai akan dikurangi 5, dan tidak akan dilempar; namun jika benar, nilainya adalah 15. Kami pun bersiap-siap.

“Kapan Soekarno jatuh?”

Gina mengangkat tangan lebih cepat, setelah dipersilakan, Gina menjawab, “Tahun 1965.”

“Salah” kata panitian. “Jawaban yang benar adalah…. Setelah ia terpeleset.”

Penonton ramai menyoraki, entah kepada kelas sembilan atau malah ke panitia.

“Kapan reformasi terjadi?”

Beberapa saat terdiam, lalu Gilang mengangkat tangan.

“Iya, apa jabawannya?”

“Setelah Seoharto jatuh.”

“Salah. Jawabannya adalah… setelah perbaikan tata negara secara drastis di bidang ekonomi, sosial, atau pun politik.”

“Ya kan setelah Soeharto jatuh pun banyak perbaikan di bidang ekonomi, sosial dan politik.” sanggah Gina tak terima keputusan panitia.

“Reformasi pasca kepemimpinan Soeharto hanya satu kejadian reformasi, sedang yang ditanyakan di sini adalah reformasi secara definitif, bukan menyangkut peristiwa.”

Mereka pun terdiam, tak bisa menyanggah lagi. Aku sangat gembira, walau sebenarnya tak mengerti duduk persoalannya. Panitia pun melanjutkan pertanyaannya

“Apa alasan burung terbang?”

“Tanya saja kepada burung” teriak Topan dengan nada kesal.

“Pertanyaan gugur, karena dijawab oleh penonton.” ujar Panitia.

“Huuuuuu.” Sorak-sorai anak kelas delapan. Topan pun coba ditenang-tenangkan oleh temannya.

“Pertanyaan selanjutya. Kenapa matahari terbit dari arah barat?”

Kami semua terdiam, takut pertanyaan itu mengecoh kembali. Aku baru menyadari ada sesuatu yang janggal dengan pertanyaan itu; sejak kapan matahari terbit dari arah barat? Bukankah selama ini matahari terbit dari arah timur? Di sini, hanya panitialah sang maha benar.

“Satu! Dua! Tiigaaa. Pertanyaan hangus.” ujar Panitia itu. “Oke, sekarang pertanyaan terakhir. Di mana kah Pak Haji Kosim dimakamkan?”

Aku langsung mengangkat tangan sambil berdiri. Semua mata pun tertuju padaku, termasuk Yulia.

Ini sebenarnya hanya strategi saja. Begini yah, kalau kelompok kelas sembilan yang mengangkat tangan duluan, itu berarti kami kalah, mau benar atau salah jawaban mereka. Selisih poin kami beda 10. Jika mereka mengangkat tangan duluan dan jawabannya salah, maka mereka akan menang dengan selisih 5 poin, dan jika benar, mereka akan menang dengan selisih 25 poin. Tapi jika kelompok aku yang mengangkat tangan duluan, maka akan dua kemungkinan: kalau benar kami akan menang dengan selisih 5 poin di atas mereka, kalau salah kami akan kalah dengan selisih 15 poin di bawah mereka. Gimana, mengerti belum?

Duh, begini: sekarang poin kelompok kami kan masih 40, sedang poin mereka 50 karena tadi dua kali menjawab salah. Nah, jika mereka mengangkat tangan duluan dan jawabannya salah, berarti poin mereka menjadi 45, dan mereka akan tetap menang. Tapi jika…

“Iya, jawabannya apa Dri?”

“Emmh, tadi gimana pertanyaannya?”

“Huuuu” teriak anak kelas sembilan.

“Di mana kah Pak Haji Kosim dimakamkan?”

Aku melirik Yulia dan Santi, mereka menggeleng. Aku menunduk. Aku tau aku tak tau jawabannya, tapi, bukankah dengan begini masih ada kemungkinan untuk jadi juara? Bukankah dengan cara ini, aku sudah mencoba dan berusaha?

“Satu! Dua! Tii..”

“Pak Haji Kosim mana? Di kampungku Pak Kosim masih hidup.”

“Huuuu” teriak anak-anak kelas sembilan lagi.

“Okee, jawabannyaaaaaaa: salaaah!”

Anak-anak kelas sembilan bersorak ramai; ada yang memukul-mukul meja, ada yang naik ke atas meja, bahkan ada juga sebagian dari mereka yang keluar dari barisan penonton, lalu menari-nari di hadapanku. Ya, mereka adalah Topan beserta teman-temannya. Aku, Yulia dan Santi hanya menunduk saja.

Betapa kekalahan terasa begitu menyakitkan. Aku tak bisa jadi pahlawan untuk kelas kami, untuk Yulia, untuk Rendi dan Ijonk, disaat aku satu-satunya yang mereka harapkan. Hatiku semakin terpukul saat melihat kawan-kawanku, Yulia tercintaku, dipermalukan di hadapan mataku sendiri, dan itu semua gara-gara ulahku. Aku terus saja menunduk pada meja.

“Hei! Ayo kembali ke kelas.” ajak Yulia yang sudah berdiri sambil tangannya memegang pundakku. Setelah mengangkatkan kepala, kulihat Santi, Rendi, Ijonk, Dewi dan Iyam sudah ada di depan mejaku. Mereka menatapku heran. Aku pun segera berdiri.

“Maaf yah, gara-gara aku salah, kita jadi kalah.” ucapku sambil menatap Yulia.

“Ya bagus dong. Kalau kita kalah, berarti kita harus banyak belajar lagi.”

Aku menatap Yulia nanar, dan mendapat kesimpulan: perenunganku selama menunduk tadi, salah besar!

Saat hendak kembali ke kelas, Topan dan teman-temannya berdiri di ambang pintu. Saat kami hendak melintasi mereka, mereka cekikikan seperti yang mengejek habis-habisan. Aku tak mau dipermalukan lebih dalam lagi.

“Pan, tadi bukan pertarungan antara kita, jadi kau percuma berbangga diri. Tadi yang menang adalah Gina, Maesaroh dan Gilang, bukan kau! Aku tunggu pertarungan kita. Satu lawan satu.”

Aku pun meneruskan langkahku. Topan terdiam. Yulia, Dewi, Iyam, Santi, Rendi dan Ijonk sepertinya kaget tak terkira, karena mereka baru berjalan lagi setelah beberapa langkah aku berjalan.

Sebelum kami sampai di kelas, Ijonk dan Rendi berlari mendekatiku. “Dri, kau tak salah menantang Topan?” tanya Ijonk.

“Salah sih! Tapi ya mau bagaimana lagi, mereka sudah keterlaluan.”

“Dibiarin juga mereka akan sadar sendiri.” timpal Dewi.

Aku terdiam, tapi terus melangkah di depan.

Di kelas kami seperti masih menangisi kekalahan kami. Bahkan Agung cs pun tak membuat kebisingan yang dapat mengundang kepala sekolah atau Pak Miftah. Kami masih menangis, dengan cara kami sendiri.

Setelah bel pulang berdering, Yulia berdiri lalu menatapku. “Untuk saat ini, aku hanya ingin pulang sama Dewi dan Iyam. Aku duluan, yah.” ucap Yulia sambil berlalu. Aku melongo saja di bangku.

Saat hendak dikejar, Dewi mencegahku. “Dri, itu tandanya Yuli sedang marah padamu. Ia tak suka sikapmu kepada Topan. Sok jagoan, padahal kau mencelakai dirimu sendiri. Meminta maaf sekarang, percuma. Yuli marahnya suka lama. Besok-besok sajalah kalau mau meminta maaf.”

Aku pun duduk lagi di bangku paling depan. Rendi dan Ijonk menemaniku.

“Pulang sekarang yu! Kau mau nginep pun tak akan membuat Yuli kembali lagi.” ajak Rendi. Kami pun pulang saat sekolah sudah mulai sepi.

Saat hendak sampai di jalan raya, Topan dan teman-temannya sedang nongkrong. Mereka pun melihat kami, lalu matanya seolah terus mengawasi kami.

“Dri, gimana ini?” bisik Ijonk.

“Kita hadapi saja.”

Rendi dan Ijonk memelankan jalannya, lalu berjalan di belakangku.

“Agung cs kemana, yah? Biasanya jam segini mereka masih berada di sekitaran sini.” bisik Ijonk lagi.

Aku pun terus berjalan, seolah-olah di depan tidak ada ancaman.

“Mau ke mana, jagoan?” ejek Topan.

“Pulang.” jawabku singkat.

“Masih siang kali. Apa kau suka dicari-cari orang tuamu jika pulang telat? Hahahaa”

Aku meneruskan langkahku.

“Heh, katanya mau bertarung satu lawan satu? Sekarang berani gak? Atau hanya di depan Yulia saja kau jadi pemberani?” tatang Topan.

“Ayo. Di mana?”

“Di kebun dekat jalan rel.”

Aku mengangguk. Topan dan teman-temannya yang lima orang itu berjalan di depan, sedang aku, Rendi dan Ijonk membuntutinya.

“Gila lo, Dri.” bisik Ijonk.

“Daripada dikatain pecundang.”

***

Sudah dua hari ini aku tak masuk sekolah. Wajah bengap, tubuh terasa ringsek. Tapi aku juga tak berdiam diri di rumah; aku, Erwin dan Fajar berangkat ke sungai yang pinggir-piggirnya banyak pohon bambu. Di sana kami belajar gulat. Aku tak mau dipermalukan lagi. Aku tak mau disangka lemah lagi. Aku harus menjadi jagoan, yang sesungguh-sungguhnnya.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Baca Juga: LDS: #7 Sebuah Jawaban

Tuliskan Komentarmu !