LDS: #7 Sebuah Jawaban

sebuah jawaban
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Saat istirahat tiba dan hampir semua siswa sudah ke luar, kumasukkan suratku itu ke dalam tas Yulia. Kusimpan di bagian depannya agar mudah memberi petunjuk nanti saat pulang sekolah.

Aku membuka buku gambar lagi, lalu menggambarkan aku dan Yulia sedang duduk di taman yang sangat indah. Kami bercerita banyak hal; dari mulai kucing tetangga yang suka berisik malam-malam, hingga sendal jepitku yang dibawa lari anjing nakal. Di taman itu ada kolam ikan, dan angsa sedang berenang di atasnya; berdua, mungkin sedang kencan juga. Di pinggir-pinggir kolam itu ada berbagai macam bunga, dengan berbagai macam warna; putih, merah, ungu, dan biru. Taman ini dibatasi oleh pagar, dan di atas pagar ada pelangi, entah dari mana datangnya.

Berselang lima belas menit, Rendi dan Ijonk datang, lalu mereka melapor kalau Yulia digoda oleh Topan, preman bajingan itu. Aku tak terima, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku keluar saat jam istirahat.

“Yakin Dri mau menghadapi Topan?” tanya Ijonk dengan nada meremehkan.

“Siapa yang mau menghadapi Topan? Aku mau ke toilet.” jawabku sekencang-kencangnya.

Pokoknya aku harus keluar, melihat gelagat bajingan itu dengan kepalaku sendiri.

Yulia, Iyam dan Dewi sedang jajan cuangki. Memang Topan dan teman-temannya ada di sekitaran situ, tapi tak ada tanda-tanda kalau Yulia dalam bahaya; Yulia tak akan tergoda oleh orang semacam Topan. Aku pun langsung pergi ke toilet, hanya sebentuk pembuktian kepada Rendi dan Ijonk bahwa aku tidak suka berbohong.

Setelah bel pulang berbunyi, aku mengajak Yulia untuk pulang naik angkot. Aku takut bertemu dengan Maman lagi. Yulia pun mengiyakan. Kalau pun bertemu Maman di jalan, ia tak akan nekad dengan mencari keributan di dalam angkot, atau di tempat umum lainnya.

Setelah sampai di pertigaan gang rumah Yulia, sebelum aku berpisah dengannya, aku mengisyaratkan untuk membuka tas bagian depannya saat sudah tiba di rumah. Tentu aku berharap ia membuka surat itu nanti. Namun Yulia langsung penasaran bukan main, hingga ia membuka tas bagian depannya saat itu juga. Aku pun langsung berlari ketakutan.

Setibanya di rumah, aku langsung resah. Aku tak main dengan Erwin dan Fajar, tapi berdiam diri saja di dalam kamar. Bagaimana jadinya bila Yulia menolak? Bagaimana jadinya bila Yulia menjauh? Bagaimana jadinya bila Yulia tidak mau lagi belajar bersama di rumahnya? Bagaimana jadinya bila… Ah, kenapa kemarin tak kepikiran kemungkinan-kemungkinan semacam itu?

Aku terkapar di kamar. Mata terpejam tapi hati dan pikiran sepenuhnya sadar. Dan aku masih terus membayangkan bagaimana kemungkinan-kemungkinan itu jadi kenyataan. Tapi kata Iyam dan Dewi, katanya Yulia suka juga padaku. Tapi bagaimana jika mereka bohong, atau Yulia suka hanya karena aku terlihat sangat pendiam saat di kelas ketimbang siswa lain?

Ibu meneriaki kalau Erwin dan Fajar sudah ada di luar, mengajak bermain. Aku pura-pura tidur dan tak mendengar ucapan ibu. Ibu masuk ke kamar, melihat keadaanku yang masih terkapar. Ibu pun keluar dan entah mengucapkan apa kepada kedua sahabatku itu. Aku pun memutuskan untuk pura-pura tak tau dengan surat yang kutulis dan kusimpan sendiri. Untuk pura-pura amnesia soal surat cinta.

***

Aku berhasil berpura-pura amnesia soal surat cinta itu. Sudah seminggu ini, Yulia pun tak pernah mengungkit-ungkitnya. Kami menjalani hari seperti biasa; berangkat bareng dan pulang bareng, tanpa ada percakapan yang macam-macam selain pelajaran sekolah. Atau… sebenarnya Yulia hanya sedang menungguku saja menanyakan jawabannya, dan ketika itu aku membayangkan Yulia menjawab, “Maaf, kita temenan aja, yah!” Lalu setelah itu ia menjauh karena khawatir aku berpikir yang enggak-enggak jika ia masih mau dekat-dekat denganku.

Baiklah, lupakan.

Setelah mencoba melupakan, aku pun mencoba untuk bersemangat lagi. Kami, anak-anak kelas delapan, akan berenang di Cimenteng. Dan yang membikin aku senang, aku diberi uang jajan lebih oleh ibu, dan itu artinya, malam nanti aku bisa main PS sampai pagi bersama Erwin dan Fajar.

Setibanya di kolam renang Cimenteng, aku langsung ganti pakaian, lalu berenang. Aku sudah sangat lihai berenang. Dahulu kala, aku diajarkan oleh kakek berenang di kali dekat sawah. Kakek terus memegangiku sampai aku benar-benar bisa berenang sendiri. Setelah bisa, aku mengajak Fajar dan Erwin untuk berenang di kali itu. Mereka hampir tenggelam dua kali, lalu setelah itu mereka kapok aku ajak lagi.

Aku dan Ijonk yang pertama kali masuk kolam. Aku dan Ijonk berlagak sebagai dua-duanya manusia yang mampu bertahan di kedalaman air. Intinya, aku dan Ijonk sedang pamer.

Setibanya Pak Miftah, guru olahraga kami, aku dan Ijonk langsung dimarahi. Katanya, cara berenang kami serampangan, tidak baik dan benar, tidak patuh peraturan. Aku dan Ijonk disuruh untuk naik ke atas lagi. Yang syirik kepada kami, langsung saja menertawai kami. Syukurlah, Yulia tidak termasuk di dalamnya.

Kami pun diarahkan untuk melakukan peregangan terlebih dulu. Kami disuruh untuk mengikuti gaya-gaya yang dicontohkan oleh Pak Miftah. Gaya-gaya Pak Miftah disewengkan oleh Andi cs, preman baru kelas kami yang masih amatiran.

Ketika Pak Miftah menyadari kalau gayanya diselewengkan dengan penuh amoral oleh Andi cs, Pak Miftah pun menyuruh Andi cs untuk mencontohkan berenang yang baik dan benar. Andi cs tak mau, tapi Pak Miftah terus memaksa sampai membentak-bentak. Andi cs pun menangis dan mengakui kalau komplotannya tak bisa berenang. Sontak, itu menjadi bahan cemoohan kami di mana pun kami berada. Preman baru yang hendak muncul pun redup lagi.

Selanjutnya, Pak Miftah menerangkan tentang cara berenang yang baik dan benar, beserta nama gaya-gayanya. Ada gaya kupu-kupu, katak, bebek, ular, domba, elang, macan, kera, kancil, gajah, jerapah, eh kebanyakan . Selanjutnya Pak Miftah mencontohkan gaya-gaya yang diterangkannya, lalu menyuruh kami untuk mengikutinya.

Aku bersiap, lalu mengingat-ingat dan membayangkan teori dari Pak Miftah tadi. Kenapa dulu kakek tak menerangkan gaya-gaya itu? Mungkin bagi kakek dan manusia sebelumnya, beranggapan bahwa berenang yang baik dan benar itu ketika kami tak tenggelam sedalam apa pun air. Percuma paham teori-teori itu jika akhirnya kau tenggelam juga. Aku pun meloncat, meluncur dari hulu ke hilir dengan gaya yang diajarkan kakek dulu.

“Nilainya enam.” teriak Pak Miftah.

Aku pun langsung duduk di pinggir kolam dengan kaki diselonjorkan ke air.

Satu persatu siswa-siswi yang lain pun meluncur. Yang belum bisa berenang disuruh belajar di kolam yang dangkal, walau pada akhirnya mereka hanya main air saja.

Selanjutnya giliran Yulia. Aku berharap Yulia pura-pura bisa berenang karena gengsi, dan setelah meloncat, ia mangap-mangap sambil minta tolong. Dan setelah itu, aku datang menyelamatkannya.

Yulia pun meloncat, dan setelah itu… yah dia bisa beranang beneran. Bagus lagi, seperti yang dicontohkan.

“Sembilan.” ujar Pak Miftah.

Aku menjadi canggung untuk mendekati Yulia, bahkan untuk menjahilinya sekalipun. Yulia yang sekarang seakan berbeda dengan Yulia-Yulia sebelumnya.

Aku bangkit, lalu mencari Rendi dan Ijonk. Berada di dekat Yulia adalah keindahan yang menyakitkan. Aku menemukan Rendi dan Ijonk sedang main ayun-ayunan sambil makan cemilan. Aku pun menghamiri mereka, lalu meminta cemilannya.

“Beli dong!”

“Masa mau gitu sama teman.”

“Ya udah, jangan banyak-banyak.”

Dari kejauhan, mataku ingin terus mengawasi Yulia. Aku sudah ingin pura-pura acuh, tapi setelah beberapa saat, mataku mencarinya lagi, memerhatikannya lagi. Hingga aku melihat Khaerul mendekatinya, mengajaknya bermain dengan membanjur-banjurkan air ke mukanya. Dan yang membuat ubun-ubunku mendidih, Yulia tampak senang dipermainkan seperti itu.

“Bro, masih ingat dengan Aliansi Pembela Yulia?”

“Memangnya kenapa?”

“Lihat Yulia diganggu. Bukankah kita harus membelanya sebelum lelaki itu bertindak yang macam-macam?”

“Terus, kita harus gimana?”

“Kita hampiri mereka, lalu membuat perhitugan dengan lelaki itu.”

“Oke, siapa takut.”

Kami pun bergegas dari tempat duduk kami masing-masing, lalu berjalan ke arah Yulia. Setelah kami dekat dengan Yulia, Yulia pun memandang kedatangan kami. Aku langsung berbelok ke arah toilet.

“Dri, mau ke mana?”

“Kan sudah kubilang, aku mau ke toilet dulu tadi.”

Yulia dan Khaerul menatap kami heran.

***

Aliansi Pembela Yulia dibubarkan di toilet ini. Rendi dan Ijonk mencium ketidak-beresan dengan Aliansi ini, katanya berbau politis pribadi. Traumaku pada toilet tak pernah ada habisnya.

Saat acara makan-makan, aku duduk sendirian. Rendi dan Ijonk menjauh. Aku telah sampai pada alienasi hidup; terasing; sendirian. Cinta tak dapat, persahabatan terpecah. Sambal pemberian ibu aku tumpahkan semuanya, lalu makan seperti anak yang baru ketemu nasi setelah tiga hari.

Aku kepedesan. Mukaku memerah, air mataku keluar, mulutku terbuka lebar. Hampir semua siswa memperhatikanku, namun aku berlagak seperti tak ada siapa pun selain aku sendiri. Aku terus makan dengan sambal terasi pedas dan telor dadar, hingga sampai benar-benar habis.

Lalu aku mencari-cari air ke dalam tasku, namun saat itu aku baru sadar kalau air minumku sudah habis. Aku tak mau membeli, karena itu artinya, jam main PS nanti akan berkurang.

Saat aku akan menyerah dengan pendirianku, dan hendak membeli air minum, tiba-tiba seseorang menyodorkan botol yang masih terisi penuh. Saat kupandang orangnya, ia adalah Yulia. Ia pun langsung duduk di sebelahku, lalu melanjutkan makannya yang tinggal seperempat.

Air botol itu aku habiskan setengahnya, lalu disimpan di pinggir Yulia. Yulia menatapku, lalu tersenyum. Aku tak tau apa itu artinya, yang jelas, aku senang, sekaligus bingung mau berbuat apa. Aku mainkan saja bekas makanku, untuk mengisi waktu luang saat berada di sampingnya.

Yulia pun selesai makannya, dan menghabiskan air yang setengahnya.

“Oh iya, a Andri soal surat itu… jawabannya… iya.”

“Iya, apa?”

“Ya, iya. Iya, Yuli mau jadi pacarnya a Andri.”

Aku menatap Yulia heran. Aku pun tak merasa kepedasan lagi.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Baca Juga: LDS: #6 Aku dan Yulia

Tuliskan Komentarmu !