LDS: #6 Aku dan Yulia

legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Menjadi jagoan adalah dorongan ketika kau ingin melindungi orang-orang yang kau cintai.

Semenjak aku masuk kelas delapan, di sekolah tidak ada yang berani malak lagi. Sesekali aku pun bisa berangkat dan pulang naik delman.  Topan beserta teman-temannya hanya berani malak penjaga warung; ngambil bala-bala lima, bayarnya dua. Selebihnya mereka petantang sana petenteng sini. Bisa dibilang, di sekolah mereka berkuasa, tapi di lapangan pergulatan yang sesungguhnya, mereka masih di bawah ketiak Maman.

Aku, Rendi, Ijonk, Yulia, Iyam dan Dewi mendeklarasikan sebagai golongan putih yang taat kepada guru, cinta kepada orang tua, hormat kepada sesama. Sedang mereka adalah golongan hitam, golongan para pembangkang.

Agenda golongan putih kegiatan perminggunya adalah belajar bersama di rumah Yulia, masak-masak di rumah Dewi, nyanyi-nyanyi di rumah Ijonk, dan menari-nari di rumah Rendi. Oh, satu lagi, ngerujak di rumah Iyam.

Hampir satu semester ini kami tak pernah alfa untuk melaksanakan kegiatan tersebut, hingga terdengarlah kabar ke telingaku bahwa Yulia mempunyai rasa kepadaku. Aku gembira setengah gila mendengar kabar itu.

Saat pulang sekolah, Rendi, Ijonk, Dewi dan Iyam membiarkan kami jalan berdua, mereka langsung menghilang entah ke mana.

“Yul, kedepannya boleh kan aku panggil Lia aja?”

“Emang apa bedanya?”

“Gak ada sih, pingin aja.” jawabku sambil garuk-garuk kepala.

“Yuli aja. Lia kan guru IPS kelas sembilan, nanti disangkanya kamu manggil dia lagi.”

“Oh, iya yah!” jawabku sambil garuk-garuk kepala lagi.

“Laki-laki kalau mandi tidak suka keramas yah?”

“Ya suka, cuma tiga hari sekali.”

“Oohhh.”

Perdebatan itu pun berlangsung hingga sampai di gang rumah Yulia. Intinya, aku gagal menyatakan cinta.

***

Hari ini dari jalan gang rumahku, aku naik delman istimewa lalu kududuk di muka. Delman ini hanya mengantarkanku sampai pasar Banjaran, dan itu artinya hanya sampai di dekat rumah Yulia. Dari pasar Banjaran sebenarnya bisa naik angkot untuk sampai ke gang sekolah, tapi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ya, itu semua hanya karena Yulia.

Yulia sudah menungguku di tempat biasa. Hari ini ia memakai pita berwarna biru langit di kepalanya, nampak sangat indah dengan rambutnya yang lurus dan panjang.

Kami pun berjalan menyusuri bekas rel kereta yang kini sudah dibeton. Para orang tua yang sedang duduk-duduk di beranda rumahnya, memandangi kami dengan tatapan pesona. Sepertinya para orang tua itu baru melihat pasangan terserasi di muka bumi ini. Siswa dan siswi Pasundan Banjaran pun tak kalah antusiasnya memandangi kami, hanya ada satu kemungkinan untuk mereka, yakni iri.

Dalam perjalanan itu, aku seakan tak punya celah untuk menyatakan cinta. Maka aku urungkan saja, lalu bertekad akan menyatakan ketika kami pulang, bagaimana pun keadaannya.

Setibanya di sekolah, anak-anak kelas sembilan mencoba menggoda Yulia. Yulia biasa saja, sedang aku yang tak biasa. Tadinya mau kubela, tapi aku sadar aku masih belum siapa-siapanya. Saat di kelas, Iyam dan Dewi tak henti-hentinya menjodohkan kami. Aku gembira bukan main, tapi Yulia, biasa saja.

Tak jarang anak-anak kelas sembilan masuk ke kelas kami saat guru tak ada, hanya untuk menggoda Yulia. Atau mereka teriak-teriak di jendela kelas dengan teriakkan ‘I Love You Yulia’ dengan sangat menjijikannya. Yulia, diam saja, seperti tak mengira kalau bahaya sedang mengintainya.

Saat istirahat tiba, aku, Rendi, dan Ijonk membentuk Aliansi Pembela Yulia. Yulia adalah satu-satunya aset berharga kelas kami. Ia selalu juara kelas, siswi yang paling disayang guru karena pernah memenangi beberapa perlombaan, juga siswi tercantik se-Bandung Selatan. Aliansi kami didukung penuh oleh seluruh kelas kami, dan aku ditetapkan sebagai ketuanya. Tugas pertama Aliansi ini adalah mengawal Yulia ke mana pun ia pergi, kecuali saat ia hendak pergi ke toilet.

Saat pulang sekolah, Rendi dan Ijonk merelakan dirinya untuk mengantar Yulia terlebih dulu. Tapi aku sarankan agar mereka mengawasi agak jauh, agar aku punya kesempatan untuk bercakap-cakap berdua saja dengannya.

“Makin hari kamu makin cantik, Yulia.” Aku sebenarnya ingin mengatakan itu, tapi entah kenapa tertahan di tenggorokanku. Aku pun hanya mengucapkan itu di dalam hati saja. Setelah beberapa lama berjalan tanpa suara, kuberanikan diri untuk berkata.

“Yul,”

“Iya”

“Akuuu….”

“Aku kenapa?”

“Akuuuu….”

“Iya, kenapa?”

“Di depan ada Maman Yul. Apa ada jalan lain Yul?”

Yulia menarik napas dan mengeluarkannya dalam-dalam. “Paling muter lewat terminal.”

“Iya tidak apa-apa.”

Di perempatan, kami langsung belok ke kiri. Sialnya, saat kami belok, Maman melihat kami. Aku pura-pura santai saja. Kulirik ke belakang, Rendi dan Ijonk masih membuntuti kami. Aku pun berjalan seolah tanpa beban.

Kami melewati sekolah yang siswinya memakai kerudung kuning, sedang siswanya memakai kupiah. Ya, katanya ini pesantren Pajagalan Banjaran.

Saat hendak lewat terminal, hal menakjubkan terjadi. Di sana sudah berdiri Maman dan kawan-kawannya, seolah sudah menanti kedatangan kami. Aku dan Yulia pun berhenti, lalu aku melirik ke belakang. Rendi dan Ijonk sudah tidak ada. Aku gemetar.

“Kamu punya masalah lagi dengan mereka?” tanya Yulia.

“Tidak. Waktu itu aku tak sengaja saja meneriaki mereka maling saat melintasi kampungku.”

“Yah, itu artinya kamu cari gara-gara sama mereka.”

“Tapi aku kan tidak sengaja!”

“Sengaja atau tidak sengaja, tetap saja kamu sudah cari gara-gara sama mereka.”

“Terus, aku harus bagaimana?”

“Sini, ikuti aku.”

Yulia pun menyeberang jalan sambil memegang tanganku. Aku tak tau saat-saat seperti ini aku harus gembira atau waspada. Yang pasti, hatiku senang, pikiranku waspada. Aku tak tau harus mempercayai yang mana.

Setelah menyeberang, Yulia mengajakku ke tengah pasar. Di sana banyak ibu-ibu yang sedang belanja. Yulia berkelok-kelok melewati ibu-ibu itu, aku terus membuntutinya dari belakang. Hingga akhirnya kami sampai di jalan yang tak kukenal sebelumnya, Yulia terus saja menggiringku.

Saat hendak menyeberang lagi, Yulia lirik kanak lirik kiri, setelah dipastikan aman, kami pun menyebarang lagi. Entah bagaimana ceritanya, aku sudah sampai di tempat biasa Yulia menungguku. Aku lihat-lihat sekeliling, kok bisa sampai sini?

“Yang akan menyelamatkanmu selanjutnya, hanya dirimu sendiri.” ujar Yulia.

Aku masih kebingungan, kenapa bisa sampai di tempat ini?

“Aku pulang dulu, yah. Dahhh!”

“Yulia….”

“Iya?”

“Ak, akuuu… Makasih”

“Iya. Sama-sama.” jawab Yulia, lalu ia pun berlalu.

Aku pun langsung pulang. Dan saat di jalan, aku baru ingat kalau aku belum menyatakan cinta kepada Yulia.

***

Saat malam tiba, aku menyimpulkan, bahwa aku tak bisa menyatakan cinta lewat lisan. Di kamar ini aku merenung, bagaimana jadinya bila Yulia jadian dengan orang lain? Tentu aku tak bisa menerimanya. Lalu aku membuka buku tulis, di halaman pertengahan aku menulis, biar gampang disobek.

Dear Yulia

Bagaimana jadinya bila bumi ini datar? Atau bagaimana caranya air bisa turun dari langit yang lalu kita sebut hujan? Masalah kah itu, Yulia?

Kita lupakan sejenak permasalahan-permasalahan Matematika, IPA, Fisika, atau pun Bahasa Indonesia. Adakah permasalahan yang lebih rumit dari itu, Yulia? Bila bumi ini datar atau bulat, pengaruhkah kepada kita sebagai pengisinya, Yulia? Bila air hujan yang turun ini karena ada burung-burung yang mengangkutnya, atau karena sebab lain, pengaruhkan kepada kita yang memohonnya dari bawah, Yulia?

Maksudnya, Yulia, percuma kita hafal semua rumus Matematika atau pun Fisika, yang lalu kau dinobatkan sebagai juara satu dan aku juara dua, jika tidak ada cinta di dalamnya. Cinta adalah arti kehidupan ini menjadi ada. Cinta yang menjadikan bumi ini indah, bagaimana pun bentuk rupanya. Hanya oleh cinta, Yulia.

Mau kah kau menjadi kekasihku?

Aku termenung sejenak. Dari mana munculnya kata-kata itu?

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Baca Juga: LDS: #5 Rimba Sekolah

Tuliskan Komentarmu !