LDS: #5 Rimba Sekolah

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Di pertengahan semester dua, aku terkena musibah, yaitu uang jajanku ketinggalan di rumah. Begini ceritanya: waktu itu ibu sedang sibuk memasak, ayah sedang buru-buru mau berangkat kerja; uang jajan ibu taruh di meja ruang tamu, dan aku sedang sibuk di kamar mandi karena bangun kesiangan. Aku baru tersadar setelah jam istirahat, saat aku mengecek semua saku seragamku, lalu mengingat-ingat lagi.

Rendi dengan baik hati mau mentraktirku, dengan syarat: di ujian nanti jangan susah memberikan contekan. Aku pun iya kan saja, karena tak kuat menahan lapar. Namun masalah lain muncul, alasan macam apa yang akan meluluhkan hati Maman?

Aku buka kembali buku gambarku, lalu menggambar entah apa. Setiap garis yang aku coretkan tak bertalian dengan garis lain. Setiap coretan yang keluar, tak ada tujuan apa-apa. Halaman itu hanya penuh dengan coretan yang tak tentu arah, seperti ingin melepaskan sesuatu, tapi entah apa.

Tak berselang lama Rendi datang kembali, lalu duduk di sebelahku.

“Ren, boleh minjem uang seribu, gak?”

“Ada sih, tapi buat ongkos pulang. Untuk apa, Dri?”

“Oh. Tidak untuk apa-apa.”

“Maman masih suka malak kamu?”

“Kapan tidaknya, Ren!”

“Yang sabar yah, sebentar lagi dia juga keluar.”

Aku mengangguk. Tinggal tiga bulan lagi Maman bersekolah di sini, setelah itu ia lulus. Semoga saja. Tapi bagaimana dengan hari ini?

Saat pulang, seperti biasa, Maman berserta kawan-kawannya sudah menunggu di gang depan jalan raya. Aku menyuruh Yulia untuk pulang duluan saja. Dari belakang, Rendi mengawasiku.

“Mana setorannya?”

“Ketinggalan, Kak!”

“Jangan bohong!”

“Beneran, Kak.”

Maman memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk menggeledah semua saku dan tasku. Aku pun digeledah, dan mereka tak menemukan apa yang mereka cari. Namun salah seorang dari mereka yang membuka tasku, ada yang membuka-buka buku gambarku. Ia ambil buku itu, lalu tertawa-tawa melihat isinya.

“Pawer Rangger, datanglah! Hahaha” ejeknya.

“Apa-apaan ini?” terdengar suara bentakkan dari luar, dan saat kami semua menengoknya, ternyata itu adalah Pak Mukhlis.

Sontak semua pun lari tunggang-langgang, kecuali yang memegang buku gambarku itu karena jalannya untuk lari terhalang.

“Kamu ngapain?” tanya Pak Mukhlis kepada Ucok sambil memegang erat seragamnya.

“Ti, ti, tidak Pak. Cuma bercanda.” jawabnya terbata-bata.

“Bercanda gimana? Kamu mau jadi jagoan di sekolah ini, heh!”

“Ti, ti, tidak Pak. Saya cuma disuruh Maman.”

“Oh, jadi Maman ketuanya? Kenapa kamu nurut?”

Ucok terdiam.

Plakkk… Tangan Pak Mukhlis bersarang di pipi Ucok.

“Beritahu Maman dan yang lainnya, besok ditunggu di kantor. Kalau tidak sekolah, jangan harap bisa lulus! Mengerti?”

Ucok mengangguk sambil memegang pipinya yang merah karena tamparan.

Kali ini aku malah ingin menggamprat Rendi, karena ia telah menyulut masalah yang lebih besar.

***

Inginnya, hari ini aku tidak berangkat sekolah. Tapi alasan macam apa yang dapat dimengerti oleh ibu? Ibu pasti akan terus memandangiku dari pintu kamar, sampai aku benar-benar berangkat. Siapa yang bakal kuat dengan tatapan ibu yang tajam? Walau ia tak berkata sepatah kata pun. Ia rela masakannya gosong, hanya karena ingin memandangiku yang sedang malas.

Di jalan bekas rel, Yulia menungguku. Kulihat rona wajahnya berbeda, atau mungkin aku saja yang melihatnya dengan tatapan berbeda? Ah, peduli amat.

Aku berjalan dengan diam. Entah kenapa, Yulia pun enggan memulai pembicaraan. Kami hanya berjalan bergandengan, tanpa mengucap sepatah kata pun.

Setibanya di kelas, aku langsung mengintrogasi Rendi.

“Sumpah Dri, bukan aku yang melapor. Aku juga kaget saat Pak Mukhlis datang. Kalau tidak percaya, tanya sama Ijonk.”

Aku menatap Ijonk, dan Ijonk memberi isyarat kalau Rendi dan Ijonk hanya mengawasiku dari belakang, tak berbuat apa-apa lagi. Aku duduk kebingungan.

Pelajaran terakhir hari ini adalah Penjas, pelajaran yang paling aku sukai, semestinya, tapi sekarang aku sedang kehilangan gairah. Kami disuruh lari mengelilingi lapang, dan setelah itu bebas sesukanya. Kami pun main bola, sedang para perempuan hanya teriak-teriak saja.

Saat sedang main bola, kulihat Maman beserta kawan-kawannya baru keluar dari kantor, dengan mata dan pipi berwarna agak kemerahan. Mereka pun langsug memandangi kami yang sedang main bola, seperti sedang mencari-cari seseorang. Aku seakan punya dosa besar, maka aku pun langsung pergi ke toilet, bersembunyi.

Setelah berada di dalam toilet, aku baru sadar, bahwa tak mungkin Maman dan kawan-kawannya mengeroyokku di tengah lapang; disaksikan oleh banyak orang. Kemungkinan itu terjadi hanya di toilet ini, ketika tidak ada siapa-siapa yang bakal mengganggu mereka.

Aku pun keluar lagi, dengan niat mau menghampiri kawan-kawan sekelasku. Tapi, terlambat. Di depan ruangan toilet, sudah ada Maman beserta kawan-kawannya. Aku punya kenangan buruk saat bersembunyi di toilet, dan sepertinya sekarang akan terjadi lagi.

Tanpa basa-basi, yang kemarin ditampar di warung oleh Pak Mukhlis, langsung menyekap mulutku, lalu meninju perutku. Ia terus pegang mulutku agar tak mengeluarkan suara, lalu secara bergiliran yang lain ikut meninju. Aku hanya merasakan satu titik perih, yaitu tepat di ulu hatiku.

Setelah beberapa pukulan, aku tak bisa lagi menahan kakiku untuk terus berdiri. Seluruh badanku benar-benar lemas. Mataku pun sudah sulit untuk menatap lagi.

Sekapan di mulutku, dilepaskan setelah aku tersimpuh dan mataku terpejam tak kuat menahan nyeri. Aku hanya bisa mendengar suara, “Bilang yang memukulimu adalah Topan dan teman-temannya. Kalau kau melaporkan kami, kau akan benar-benar habis!”

***

Saat pembagian rapor semester dua,  aku jadi juara dua. Ibu dan ayahku sepertinya tambah bangga, lalu ayah berbisik kepada Ibu, “Tuh kan bener, ganti dukun tambah mujur.”

Aku ingin berterimakasih kepada Yulia, berkat bantuannya lah aku bisa seperti sekarang ini. Untuk kesempatan kali ini, aku tak hanya ingin mengucapkan terimakasih, tapi ada sesuatu yang lain, yang lebih berkesan, mungkin.

Pembagian rapor semester dua memang selalu lebih meriah, karena bertepatan juga dengan kenaikkan kelas bagi anak kelas satu dan kelas dua, dan acara kelulusan bagi anak-anak kelas tiga. Sekarang Maman dan kawan-kawannya sudah lulus, dan setelah itu, Topan beserta teman-temannya lah yang akan menguasai sekolah.

Sore itu, setelah para orang tua pulang, aku mengajak Yulia ke belakang sekolah. Awalnya dia menolak karena takut diapa-apakan. Aku pun memberi kebebasan untuk mengajak kedua sahabatnya: Dewi dan Iyam. Yulia pun tak punya lagi alasan untuk mengelak.  Sebelumnya aku sudah bersekongkol dengan Rendi dan Ijonk untuk memberi Yulia kejutan, dan mereka sudah menunggu di belakang sekolah.

Setibanya di belakang sekolah, Rendi dan Ijonk tidak ada. Aku kebingungan setengah gila, karena kalau mereka benar-benar tidak muncul, bisa-bisa Yulia tidak akan mempercayaiku lagi. Aku pun membujuk Yulia beserta sahahat-sahabatnya untuk bersabar menunggu.

Setelah sekian lama, akhirnya Rendi dan Ijonk muncul juga, namun sambil marah-marah tak karuan.

“Gila lo Dri, pohon mangga yang itu banyak ulat bulunya. Nih lihat tanganku jadi bentol-bentol.” gerutu Ijonk.

“Dri, lain kali kalau mau nyuruh beli sesuatu, cek dulu, di pasar sedang ada atau tidak. Aku muter-muter tujuh keliling tadi cari cabai, dan dapetnya dari tetangga.” gerutu Rendi.

Ijonk pun mengeluarkan isi tasnya, dan isinya mangga mentah semua. Sedang di dalam tas Rendi bermacam-macam rupa; ada ulek, cabai, garam, asam dan lain sebagainya. Yulia dan sahabat-sahabatnya hanya melongo saja.

Dari penelitianku selama tiga bulan, Yulia sangat suka sekali dengan rujak. Dari wawancaraku kepada teman-temannya, paling tidak dalam seminggu, Yulia membeli rujak tidak kurang dari tiga kali. Itu belum ditambah data dari intel yang aku suruh untuk memeriksa keadaannya rumahnya, yang melaporkan kalau di halaman rumahnya ada tiga pohon mangga. Bagiku itu cukup untuk menarik kesimpulan kalau Yulia sangat suka sekali dengan rujak.

“Apa-apaan ini? Kenapa kalian mau-maunya disuruh-suruh sama Andri?” tanya Yulia.

“Ini itung-itung selametan karena Maman akan segera keluar.” jawab Rendi.

Aku hanya terdiam saja. Yang ada dalam bayanganku, Yulia akan senang sekali, dan tanpa ia sadar ia akan memelukku. Tapi aku salah.

“Maman keluar, lalu ada Topan yang menggantikannya.” timpal Ijonk.

Ucapan Rendi dan Ijonk langsung mengingatkanku pada kejadian-kejadian yang sudah lalu. Maman dan Topan adalah dua nama yang tak mungkin aku lupakan.

Yulia langsung duduk di sebelahku. “Maaf, Dri. Gara-gara aku, semuanya jadi begini.”

Aku kebingungan, entah apa maksud Yulia.

“Kalian, selesaikan dulu lah urusan kalian. Biar aku, Iyam, Rendi dan Ijonk yang ngulek sambelnya. Kalau sudah selesai, ke sini lagi. Nanti juga pasti disisain kok.” ucap Dewi, sekaligus membuat kebingunganku bertambah.

Yulia mengajakku ke ujung gang. Tidak terlalu jauh dari mereka, tapi yang pasti ucapan kami tak akan terdengar oleh mereka, karena di sekolah sedang bising.

Dengan nada menyesal, Yulia bercerita bahwa dirinya lah yang melaporkan ke Pak Mukhlis tempo dulu. Ia tak menyangka kalau akibatnya akan semakin rumit seperti sekarang. Yang ia bayangkan hanya Maman tidak akan malak lagi. Walau agak kesal, aku memaafkan Yulia. Ya, hanya karena ia seorang Yulia.

Pasca pelaporan itu, banyak sekali yang sudah menimpaku. Setelah kejadian di toilet itu, aku melaporkan bahwa yang memukuliku adalah Topan dan teman-temannya. Topan dan teman-temannya dipanggil ke kantor, lalu digampar oleh Pak Mukhlis. Saat pulang aku dikeroyok oleh Topan dan teman-temannya, lebih sadis, hingga hidungku berdarah. Kukira saat itu Maman akan membelaku, tapi malah menertawaiku. Aku pun minta maaf kepada Topan, dan menceritakan yang sesungguhnya. Aku digiring ke kantor oleh Topan, untuk meralat laporanku tempo dulu, sekaligus untuk membersihkan namanya.

Di kantor, Pak Mukhlis memarahiku habis-habisan karena keterangan palsu itu, karena itu menjatuhkan wibawanya karena menghukum salah sasaran. Sebagai imbalannya, pipi kananku merah. Saat itu aku bersimpuh di depan Pak Mukhlis agar tak memanggil dan menghukum Maman lagi, karena kalau tidak begitu aku harus bersiap dengan ancaman Maman saat di toilet. Urusan dengan kantor dan kepala sekolah selesai, sedang diluar itu semakin memanas. Semua ini karena karena hukum rimba belantara sekolah sampai di meja kantor, kalau tidak, sepertinya tak akan serunyam ini.

Saat Maman keluar dan Topan berkuasa, ini adalah awal untukku.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Baca Juga: LDS: #4 Terjajah

Tuliskan Komentarmu !