LDS: #4 Terjajah

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Pagi ini langit mendung. Hujan di pagi hari merupakan sebuah anugrah bagi anak-anak, tapi kutukan bagi para orang tua. Aku girang bukan main, karena punya alasan untuk tidak berangkat sekolah.

Ibu masih ngomel-ngomel di dapur, dikiranya mungkin dengan omelan dapat mengubah keadaan. Bapak masih menikmati kopinya di ruang tamu, sambil sesekali menengok ke luar rumah lewat pintu yang terbuka. Aku kembali lagi ke kamar, lalu kuganti baju seragam sekolah dengan baju sepakbola.

“Andriii… kenapa masih belum berangkat sekolah? Mau jadi apa nanti kalau sudah tua?” teriak Ibu dari dapur.

‘Mau jadi Robinhud’ bisikku dalam hati.

“Bayar SPP, sudah. Tas baru, sudah. Uang jajan, sudah. Mau alasan apa lagi?”

“Hujan, Bu!” jawabku sekenanya.

“Masa kamu mau kalah sama hujan? Itu, payung ibu pakai!”

“Tapi warnanya kuning, Bu. Masa anak laki-laki memakai payung berwarna kuning?”

“Apanya yang salah kalau laki-laki pakai payung kuning?”

“Malu, Bu!”

“Kamu ini banyak malunya. Tapi apa kamu tidak malu, kalau kamu tidak sekolah, heh?”

Aku mengerti, menjawab orang yang sedang marah malah akan menyulut kemarahan yang lebih besar. Aku memilih untuk tidak menjawab lagi, sambil memandang hujan dari jendela kamar.

Berselang beberapa lama, ibu datang ke kamarku. Di tangannya masih ada serok alat untuk memasak. Aku terkulai lemas, sedang jantungku berdetak tak karuan.

Lama ibu menatapku. Aku hanya menunduk saja. Semakin lama semakin membuatku tak betah duduk. Semakin lama semakin membuatku ingin menangis.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku, menuju seragam sekolah dan memakaikannya lagi. Lamat-lamat air mataku pun keluar. Benar-benar tak bisa kutahan. Setelah selesai memakai seragam, aku mengambil tas yang baru dibelikan ibu. Masih sambil menunduk, aku perlahan berjalan keluar kamar, dan di pintu ibu masih memerhatikanku.

Saat hendak berpapasan, ibu berbisik. “Dri, ibu begini karena ibu sayang Andri.”

Sejenak aku berhenti untuk menyimak. Rasanya aku sudah hafal semua alasan orang tua saat memarahi anaknya. Aku pun berjalan kembali.

Di luar rumah, aku memakai sepatu. Setelah selesai, langsung aku pun berlari. Tanpa payung atau alat pelindung lain.

Air hujan awalnya membasahi rambutku. Lalu baju seragamku. Lalu tasku. Lalu celanaku. Akhirnya aku basah kuyup.

Setibanya di sekolah, gerbang sudah ditutup. Aku berdiri melongo saja di depan gerbang, entah harus melakukan apa. Pak Satpam yang baru sadar keberadaanku, langsung mendekati gerbang dengan payung di tangan kirinya dan kunci di tangan kanannya.

“Andri ke mana dulu atuh, jam segini baru datang.” ujar Pak Satpam itu sambil hendak membuka kunci gerbang.

“Nunggu hujan reda, Pak. Tapi tak reda-reda.” jawabku sekenanya.

“Emang Andri gak punya payung atau jas hujan, gituh?”

“Engga, Pak.”

Setelah gerbang dibuka, aku pun melangkah perlahan.

“Andri mau sekolah dengan baju basah begitu?”

Aku berhenti berjalan. Ucapan Pak Satpam ada benarnya juga. Kenapa aku harus sekolah? Untuk apa? Aku pun berlari lagi ke luar gerbang, mencari tempat untuk bisa sendirian.

***

Keesokan harinya, dengan langkah gontai, kupaksakan untuk pergi lagi ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah cukup jauh, ditempuh satu jam perjalanan dengan berjalan kaki. Awalnya aku melewati pekampungan, lalu pesawahan, lalu jalan bekas rel kereta, lalu perkotaan. Dari perkampungan dan pesawahan, aku berjalan sendiri. Saat melitasi jalan di bekas rel, baru ada yang menemani, yaitu Yulia.

Dari kampungku, memang hanya aku seorang yang bersekolah di SMP Handayani 1. Yang lainnya kebanyakan ke SMP Pasundan Banjaran. Kedua sahabatku, Erwin dan Fajar, ke SMP Yupi yang arah berangkatnya berlawanan. Kalau aku ke arah timur, kalau mereka ke arah barat. SMP Pasundan Banjaran memang jaraknya yang paling dekat, dan aku selalu melewatinya jika berjalan kaki.

“Tadi pagi mandi dulu, kan?” tanya Yulia.

“Iya dong, nih rambutku masih basah.”

“Kalau rambutnya masih basah, berarti kamu mandinya di sawah barusan.”

Yulia adalah satu-satunya teman sekelas yang selalu memperhatikanku.

“PR fisika sudah belum?” tanyaku.

“Sudah, tapi gak tau benar gak tau enggak.”

“Nanti aku periksa, yah!”

“Bilang aja mau nyontek, pake gaya-gayaan mau meriksa segala.”

“He.”

Jalan rel pun sudah hampir habis, dan di depan sana kami melihat banyak siswa-siswi SMP Pasundan. Kami pun melewati sekolah itu dengan diam.

Setelah itu, kami melewati sekolah yang agak lain. Sekolah aneh yang siswanya memakai kupiah hitam dan siswinya memakai kerudung kuning tua beserta rok merah marun yang panjang. Kata Yulia, itu namanya Pesantren Pajagalan.

Sekarang kami melewati jalan bekas kereta lagi. Ada jembatan yang sempit, sehingga aku dan Yulia berjalan beruyunan. Di sini, kami mulai banyak menemukan siswa yang  satu sekolah denganku.

Setelah habis jalan bekas rel kereta ini, kami berjalan di pinggir jalan raya, setelah beberapa puluh meter lalu masuk gang lagi, dan berjumpalah dengan gerbang sekolahku.

Setibanya di sekolah, aku langsung masuk kelas. Berdiam diri di bangku yang berada di jajaran ke dua dekat bangku guru. Yulia duduk di depanku, maka dengan begitu aku leluasa untuk menyontek kepadanya.

Pelajaran pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Indri menerangkan tentang mengarang. Aku menyimak setengah bosan. Bagiku, para pengarang adalah orang yang kerjanya mengkhayal.

Pelajaran ke dua adalah pelajaran Fisika. Sebelum pelajaran dimulai, kami disuruh untuk mengumpulkan buku PR kami ke depan. Bagiku, fisikawan adalah orang yang ingin memperumit keadaan. Kalau buah jatuh, jatuh saja, tak usah diukur mau lari ke sebelah mana.

Setelah itu kami istirahat. Siswa-siswi berhamburan keluar. Cuma aku masih betah duduk di kursi. Aku pun membuka buku kosong, lalu aku gambar sesuka hati.

Aku suka sekali menggambar Pawer Rangger. Mereka adalah pejuang sejati; sang penyelamat bumi dari monster-monster jahat. Aku ingin sekali seperti mereka; menumpas siapa pun yang jahat. Setelah satu halaman penuh menggambar Pawer Rangger yang sedang bertarung dengan monster jahat, aku membuka halaman berikutnya.

Selanjutnya aku menggambar suasana desa yang berada di kaki gunung. Aku menggambar suasana pagi, saat matahari mulai terbit. Saat itu para petani mulai keluar rumah untuk pergi ke sawah. Di sawah ada saung kecil untuk istirahat si petani, atau untuk menyimpan hasil panen. Di sebelah kirinya ada sungai kecil dan mengalirkan air yang sangat jernih. Petani itu membawa cangkul di pundaknya, dan kepalanya ditutupi oleh caping.

“Kenapa tidak jajan, Dri?” tanya Rendi teman sebangkuku, yang baru masuk lagi setelah jajan cireng.

“Takut ketemu Maman.” jawabku ketus.

“Laporkan saja ke Pak Mukhlis, biar dihukum dia.”

“Gak berani, Ren.”

“Ah, cemen lo.”

Setelah itu aku diam, tak menjawab lagi. Tangan aku selonjorkan di bangku, lalu ditindih oleh kepalaku. Aku betah berdiam diri di kelas. Sendirian.

“Nih, mau?” tawar Rendi.

Aku menggeleng, tanpa melihatnya.

“Begini saja, kamu mau beli apa? Biar aku yang belikan.”

Aku langsung bangkit. Ini adalah ide cemerlang yang baru aku temui dari teman sebangkuku.

“Nih, belikan batagor yah!.” Kataku sambil menyodorka uang 500 rupiah.

“Oke! Tunggu di sini.”

Tak berselang lama, Rendi kembali lagi sambil membawa batagor. Dan saat hendak kumakan, bel masuk berbunyi.

Aku pun memakan batagor itu dengan lahap. Paling tidak ada waktu 10 menit dari bel berbunyi untuk siswa-siswi masuk kembali ke dalam kelas.

Pelajaran selanjutnya adalah Matematika. Ini adalah pelajaran kedua yang saya sukai setelah Penjas. Aku suka menghitung, menalar, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan angka murni. Kadang Fisika mengacaukannya, mengaitkan angka-angka dengan benda.

Pelajaran penutup untuk hari ini adalah PAI. Untuk pelajaran yang satu ini aku selalu berada dalam posisi dilema. Kadang suka, kadang juga tidak. Di satu sisi ingin teriak ke seantero sekolah, “Dengerin tuh, banci!” saat ada pelajaran moralnya, tapi di sisi lain aku pusing seribu keliling jika saat berhadapan dengan kata-kata arab.

Bel penutup pelajaran pun berdering kencang. Siswa-siswi berhamburan keluar dengan begitu girang. Sewajarnya aku pun begitu, tapi untuk kali ini, aku was-was. Inginnya tetap berdiam diri saja di bangku, tapi Yulia seperti menunggu dengan terus memandangiku. Aku pun keluar dengan dada bergetar.

Setibanya di jalan raya, benar saja, Maman beserta kawan-kawannya sudah menungguku. Tak ada jalan lain, dan kalau pun aku harus memanjat benteng, entah apa yang harus aku jelaskan kepada Yulia. Aku pun pura-pura tegar dan tak dirundung kecemasan.

Saat hendak berpapasan dengan Maman, ia pun melangkah maju untuk menghalangi langkahku.

“Bentar yah, ada urusan dulu dengan Andri.” ucap Maman kepada Yulia. Yulia mengangguk heran.

Aku pun digiring menuju warung yang agak tersembunyi, lalu kawan-kawannya yang lain mengawasi.

“Mana setorannya?”

Aku pun mengeluarkan uang seribu dari saku celanaku.

“Nah, gitu dong!” ucapnya memuakkan.

Aku pun menghampiri Yulia lagi yang sedang menunggu, lalu pulang bersamanya lagi dengan berjalan kaki.

***

Jika dibutuhkan alasan mengapa aku masih senang jika pergi ke sekolah, jawabannya hanya karena akan bertemu dengan Yulia.

Sebenarnya aku diberi uang jajan 1500 oleh ibu. 500 untuk berangkat naik delman atau angkot, 500 lagi untuk jajan di sekolah, dan 500 lagi untuk pulang. Namun cita-cita ibu direnggut oleh kakak senior yang bernama Maman. Tiap sekolah aku harus menyetor 1000 kepadanya, katanya untuk keamanan. Aku sempat melawan, dan ketika itu aku hambir habis dihajar kawan-kawannya. Kalaulah ada Fajar dan Erwin, mungkin akan lain ceritanya.

Sekarang aku pun harus rela tiap berangkat dan pulang dengan berjalan kaki. Kalau aku berangkat naik delman atau angkot, di sekolah aku tak bisa jajan sama sekali. Tapi sekarang aku mulai menikmatinya, berkat Yulia.

“Kenapa tiap pulang sekolah, kamu selalu ditemui oleh Maman?” tanya Yulia pada suatu pagi yang cerah.

“Emmm. Emm. Biasalah ada urusan.”

“Urusan apa?”

“Emmm. Emm. Aku ikut arisan. Kamu mau ikutan juga?”

Yulia sejenak berhanti, memandangiku dengan penuh heran. “Orang-orang seperti kalian? Mengadakan arisan? Kenapa tidak nabung saja di sekolah?”

“Memangnya ibu-ibu saja yang boleh mengadakan arisan? Kalau nabung di sekolah, ribet, diambilnya hanya bisa di akhir tahun. Kalau arisan kan bebas.”

“Kata siapa arisan uangnya boleh diambil kapan saja?”

Aku terdiam sejenak. “Emm, pokoknya, aturan kita-kita mah, uangnya boleh diambil kapan saja.”

Yulia pun tidak bertanya lagi, namun di dalam wajahnya masih menyimpan gurat keheranan.

***

Semester satu telah usai, dan aku menjadi salah satu anak yang patut dibanggakan. Ibuku menangis haru, mungkin setengah tidak percaya, sedang ayah menatapku bangga. Aku pun menghampiri mereka dengan langkah percaya diri.

“Bukan hasil nyontek, kan?” tanya ibu.

Aku hanya tersenyum masam, sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan canggung. Setelah itu aku berjanji, paling tidak dalam ujian, aku tidak akan mencontek lagi.

Di seberang sana, sang juara pertama menatapku dengan senyum simpulnya yang manis. Aku baru menyadari bahwa ia ternyata begitu cantik. Kubalas tatapan itu dengan senyuman kembali, senyuman rasa terimakasih. Tak bisa kupungkiri, bahwa berkat bantuannya lah aku bisa sampai juara tiga.

Rendi datang menghampiriku. Ia berpesan agar aku selalu sebangku dengannya. Mungkin ia baru menyadari, kalau aku punya kecerdasan yang patut untuk dicontek juga.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dan Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !