LDS: #3 Tambah Jail

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Menginjak kelas lima, kami bertiga masih duduk paling belakang, begitu pun yang lainnya; duduk seperti petama kali masuk kelas. Aku pun selalu dipanggil paling awal setelah Amel. Mungkin ini kutukan nama dengan awalan huruf A yang dilanjutkan dengan huruf N.

Saat Pak Mukhsin tidak masuk kelas, kami bertiga main tebak-tebakan, dan yang kalah, diberi tantangan. Guru tak masuk kelas memang selalu menyenangkan. Tebak-tebakkan kali ini tentu berbeda dengan tebak-tebakkan sewaktu kelas 3. Kali ini kami menyodorkan jari, lalu melafalkan abjad dari a sampai z, dan nama abjad yang disebut terakhir sebagai inisial untuk menyebutkan nama negara, buah-buahan, nama binatang, nama kota, hingga nama guru.

Sekali waktu Erwin pernah kalah, dan hukumannya mendekam di toilet sekolah kami selama jam istirahat berlangsung. Begitulah, tak ada hukuman yang ringan.

Sekarang kami sepakat untuk menyebutkan nama guru, dan baru sadarlah aku bahwa nama guru terlalu sedikit untuk permainan semacam ini.

Kami pun menyodorkan tangan di atas meja, lalu Erwin melafalakan abjad.

“a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, q. Ayo, nama guru yang berawal dari huruf q?”

Aku berpikir tujuh keliling. Mata aku pejamkan sambil mengabsen satu persatu nama guru.

“Wah, tidak ada. Tuh lihat daftar guru di depan. Tidak ada, kan?” ujar Fajar.

“Sialan.” bisikku dalam hati.

“Ayo kita mulai lagi.”

Tangan kami sodorkan kembali.

“a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l. Ayo dari huruf l?”

“Bu Leni.” teriak Fajar.

“Pak Lalan.” teriak Erwin.

Aku perhatikan daftar nama guru di depan, dan tak ada lagi yang diawali oleh huruf l.

“Andri kalah.” teriak Erwin.

“Tidak bisa. Bu Leni itu awalan hurufnya adalah B. Dan Pak Lalan, awalan hurufnya adalah P. Maka, jawaban saya: Leni!”

“Lalan.” timpal Fajar.

Erwin bengong. Ia baru menyadari kalau dirinyalah yang sebenarnya kalah.

“Hukumannya adalaahhh, nyanyi di depan kelas.” Dengan semangat aku memberi hukuman.

“Jangan itu dong, malu.”

“Ya sudah, keliling lapangan sebanyak 10 kali.” Fajar memberi inisiatif lain.

“Jangan kebanyakan dong, cape.”

“Ayo tinggal pilih. Nyanyi di depan kelas atau lari sepuluh keliling?”

Erwin bengon, sungguh bukan pilihan yang mudah.

Perlahan Erwin garuk-garuk kepala. Ia menatap sekeliling; suasana kelas sedang ramai lancar. Ia pun mulai melangkah ke depan; perlahan, tapi pasti.

Ketika sudah berada di depan kelas, sejadi-jadinya ia berteriak.

“Seluruh kota, merupakan tempat bermain yang asyik….” Semua yang ada di kelas pun langsung menatap ke depan dengan heran.

“Oh senang nya. Aku senang sekali.” Setelah selesai itu, Erwin langsung kembali lagi.

“Ayo, mulai lagi.” ajak Erwin dengan nada ingin membalas dendam.

“Sekarang menyebutkan nama orang tua.” seru Fajar.

Aku bengong. Tak habis pikir, permainan ini pun menjadi semakin menegangkan, seperti mempertaruhkan kehormatan.

“Siap.” balas Erwin.

Aku pasrah saja, karena kalau membantah pun, pasti akan dikira takut, lalu dipanggil pengecut.

Tangan kami sodorkan kembali.

“a, b, c, d, e, f, g, h, i, j. Dari huruf J.”

“Jajang.” teriak Fajar.

“Jendral Tito.” terikku.

“Salah, tidak bisa.” kilah Fajar.

“Junaedi.” jawab Erwin.

“Harusnya bisa.” kilahku.

“Mulai sekarang peraturannya gak bisa.”

“Kok peraturannya tidak dimusyawarahkan dulu?”

“Pokoknya gak bisa. Titik.”

Aku menunduk; berpikir keras lagi.

“1, 2, 3, 4, “

“Jaki.” jawabku.

“Salah, itu pakai z, Zaki.” kilah Erwin.

Aku menunduk lagi, berpikir keras lagi.

“1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,”

Aku pasrah, tak berpikir lagi.

“8, 9, sepuluuhhh.” teriak Erwin yang kegirangan.

“Oke, untuk hukumannya…” ujar Fajar.

“Bentar Jar, sini dulu.” bisik Erwin.

Mereka berdua pun bisik-bisik, seperti sedang merencanakan sesuatu. Aku mulai mencium bau balas dendam, yang sebenar-benarnya.

Mereka berdua pun duduk di sebelahku, lalu Fajar berbisik, “Hukumannya adalah, kau harus mencium Leni. Tidak ada pilihan lain.”

Ini adalah hukuman tergila yang baru aku temui. Aku membantah, namun mereka mengancam tidak akan bermain lagi denganku, dan mengatai aku pengecut. Akan kubuktikan bahwa aku tak sepengecut itu!

Aku langsung berdiri, menghampiri tempat duduk Leni yang berada di depan meja guru. Secepat kilat dengan mata terpejam, aku menaruhkan bibirku dipipinya. Kudengar beberapa orang menjerit, termasuk Leni. Aku pun langsung lari keluar, menuju toilet.

Di toilet aku duduk dengan dada gemetar. Walau toilet ini baunya minta ampun, tapi aku sangat enggan untuk keluar. Sepertinya, aku akan berada di toilet ini sampai orang lain sudah pulang.

Berselang beberapa lama, aku mendengar keributan dari luar.

“Andriii…”

Terdengar langkah kaki yang mendekat. Pintu aku kuncikan lebih rapat. Kudengar pintu toilet sebelah dibuka, dan mereka tak menemui apa-apa selain gayung dan ember. Lalu kudengar suara langkah kaki mendekat, lalu terdiam saat tepat berada di depan pintu toilet di sebelahnya lagi.

Dor dor dor. “Andrii, kamu di dalam?” Dari suaranya seperti Ibu Susi.

Dor dor dor. “Ayo jawab ibu.”

Aku mulai memerhatikan sekeliling. Kuperhatikan ventilasi cahaya. Tidak, tidak mungkin aku kabur tapi harus memecahkan kaca terlebih dulu. Kuperhatikan ventilasi udara. Aku mulai naik ke atas bak. Sekali lagi aku perhatikan. Melalui ventalasi udara memang tak akan membantu jika aku ingin kabur, tapi bisa untuk bersembunyi kembali. Saat hendak memanjat, aku baru sadar, bahwa aku terlalu pendek untuk bisa sampai ke atas.

Kudengar beberapa langkah kaki mendekat lagi, lalu dengan ganas mengancam.

“Andrie, ayo keluar! Kalau tidak, pintu ini akan didobrak, dan kamu harus mengganti kerugiannya. Kamu pun akan dilaporkan kepada orang tuamu jika masih bersembunyi.”

Entah kenapa, setelah ada ancaman itu, aku langsung mules, dan ingin buang air besar. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengeluarkan apa yang ingin aku keluarkan.

Dorrr dorrr dorrrr. “Andriii, ayo keluar!”

“Bentar Pak, belum selesai.” kali ini aku berani menjawab.

“Ngapain saja dari tadi?”

“Nunggu mules Pak, baru mules barusan.”

“Alasan saja! Ayo cepat keluar!”

“Betul, Pak.” Aku pun dengan kekuatan penuh mengeluarkan ampas dari perut, hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Tentu dengan niat ingin terdengar oleh yang menunggu di luar. Setelah itu, yang di luar pun diam.

Setelah dirasa cukup, aku pun hendak bersih-bersih, dan ketika itulah aku baru sadar kalau tak ada air di dalam bak.

“Pak, boleh ambilkan air Pak? Di sini airnya kosong.”

“Buka dulu pintunya. Jangan banyak alasan.”

Masih dengan melorotkan celana, aku pun membuka pintu. Aku malu-malu bersembunyi di balik pintu. Pak Miftah menyelidiki tiap senti yang ada di dalam toilet, termasuk ampas kotoran yang baru saja aku keluarkan dan bak yang kosong.

“Tunggu sebentar.” ujar Pak Miftah, lalu berlalu.

Bu Susi sepertinya pensaran. Ia pun melihat apa-apa yang ada di dalam toilet.

“Ihhh, jijik.” ujar Bu Susi, lalu pergi. Begitu pun dengan yang lain.

Pak Miftah kembali dengan membawa air satu ember. “Ayo cebok dulu.” ujarnya sambil terus mengawasi.

“Jangan diliatin, Pak. Malu.”

Pak Miftah pun membalikkan badan, tapi masih berdiri di ambang pintu bagian dalam. Sepertinya, supaya aku tak bisa menutup dan mengunci pintu kembali.

Setelah semua selesai, aku langsung digiring oleh Pak Miftah menuju kantor.

“Ada apa Pak, kok saya dibawa ke kantor?”

“Nanti di kantor dijelaskannya.”

Setibanya di kantor, ada Leni yang sedang menangis. Matanya merah sembab.

“Ayo jelaskan, kenapa kamu mencium Leni?” tanya Pak Miftah.

“Saya suka sama Leni, Pak.” jawabku sambil menunduk. Kakiku pun mulai gemetar.

“Terus, kalau suka, harus mencium. Begitu?”

“Tidak, Pak.”

“Ya terus kenapa kamu mencium Leni?”

“Karena saya ingin, Pak.”

“Apa semua keinginan harus dilakukan?”

“Tidak, Pak.”

“Iya kenapa kamu berani mencium Leni?” bentak Pak Miftah lagi.

“Hukum saja saya, Pak. Jangan ditanya alasan.”

“Kamu harus tau, kenapa Bapak menghukum kamu, mengerti!”

“Iya Pak. Saya salah. Maaf.”

“Sudah berapa kali kamu salah, lalu minta maaf, lalu mengulanginya lagi?”

“Tidak Pak, baru kali ini saya mencium Leni. Betul Pak. Tanya saja sama Leninya.”

“Maksud Bapak, kamu mengulangi melanggar aturannya!”

Aku terdiam sejenak, lalu menimpali lagi dengan suara rendah. ”Tapi diaturannya tidak tertulis dilarang mencium perempuan, Pak.”

“Hei, kalau semua aturan kehidupan ini ditulis di papan, tak akan cukup! Aturan ini ada di dalam dirimu, juga di setiap manusia. Kalau dalam hidupmu tidak ingin ada aturan, lebih baik kau jadi hewan. Kalau kau jadi hewan, kau boleh bebuat sekehendak hatimu.”

Aku menunduk pasrah. Di hadapan Pak Miftah, Leni, Kepala Sekolah dan guru-guru yang lainnya, aku berjanji tak akan mengulangi perbuatan itu lagi. Bukan hanya kepada Leni, tapi kepada semua wanita yang ada di seluruh bumi.

Sebagai hukumannya, aku harus mengisi bak toilet sekolah sampai penuh selama tiga hari. Di hari ke dua dan ke tiga, Erwin dan Fajar membantu aku mengisi bak. Saat itu Erwin baru menjelaskan bahwa maksud aku disuruh mencium Leni karena ia ingin membalas dendam. Aku tak tau maksudnya, tapi yang pasti ia memang tipikal pembalas dendam yang urakan.

***

Hari ini, hampir semua orang bersedih hati, kecuali aku, Erwin dan Fajar. Semua murid kelas 6 sedang manghafal lagu sebelum dipentaskan. Yang lain menyanyi dengan nada sendu, sedang kami bertiga menyanyi sambil cekikikan. Sesekali Dahlia dan Leni melirik, seolah mensiratkan bahwa perbuatan kami tidak indah. Dan ketika itu, kami langsung pura-pura diam.

Menuju siang, halaman sekolah semakin ramai dan sesak. Para pedagang mainan dengan penuh ambisi memburu mangsanya bahkan sampai nangkring di depan kelas. Alasannya jelas, supaya murid-murid kelas 1 sampai 4 melirik, lalu mereka meronta-ronta kepada orang tuanya supaya dibelikan mainan yang mereka sodorkan. Dan ketika itu, para orang tua tak punya jurus jitu untuk menangkalnya; menangkal, berarti membuat kekacauan.

Dari kelas satu sampai kelas empat, aku memang kesohor yang paling keras tangisannya ketika ingin dibelikan mainan. Makanya, aku sudah tau betul watak seperti itu.

Anak-anak kelas satu sudah mulai naik panggung. Mereka sudah didandani bak penari ulung. Aku, Erwin dan Fajar sudah sangat bosan untuk menontong mereka, makanya, kami keluar, ingin mencari es serot.

“Dri, kau akan melanjutkan sekolah di mana?” tanya Fajar.

“Di mana saja, yang penting SMP Negeri.”

“Kalau kamu?” tanya Erwin kepada Fajar.

“Ya, sama.”

“Kalau begitu, aku juga sama deh.” jawab Erwin walau sebenarnya tak ada yang bertanya.

Setibanya di tukang es serot, kami mencetak sejarah baru. Kebiasaannya yang membeli cuman satu atau dua orang, lalu yang lainnya minta-minta. Tapi kini, setiap dari kami memesan satu. Kami pun saling pandang, lalu Erwin nyeletuk, “Ini untuk salam perpisahan kita kepada tukang es serot, juga kepada SD Tanjung Sari.”

Entah setan alas mana yang merasukinya, hingga Erwin mampu berkata seperti itu.

Yang naik panggung kini sudah sampai kelas empat. Bu Lisna memanggil-manggil untuk segera persiapan kelas enam. Kami pun berkumpul di belakang panggung, mendengar arahan, dan segala tektek-bengeknya.

Setelah anak-anak kelas lima turun panggung, seorang demi seorang di antara kami naik ke atas panggung. Walau namaku diawali dari huruf a, tapi kali ini aku berada di barisan kedua ujung sebelah kiri. Di depanku ada Natasha, di sebelah kiriku ada Rahmat, dan di sebelah kananku ada Fajar. Sepertinya para guru mempertimbangkan dengan masak jika aku berada di barisan pertama.

Kami menyanyikan tiga lagu, dan kalian tak usah mendengarnya.

Setelah itu kami dibagi rapor untuk yang terakhir kalinya. Walaupun isi rapornya tak begitu memuaskan kedua orang tuaku, tapi mereka tak pernah komentar.

***

Aku, Fajar dan Erwin mendaftar ke SMP Negeri. Namun katanya nemnya kurang. Kami pun tak bisa diterima. Akhirnya orang tua kami memilihkan jalan kami masing-masing. Aku didaftarkan ke SMP Handayani 1 oleh Ibu, sedang Fajar dan Erwin didaftarkan ke SMP Yupi. Kami pun diterima di SMP alternatif ini, dan dengan begitu, aku terpisah dengan kedua sahabatku.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dan Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !