LDS: #2 Si Jail

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Ibu membangunkanku di pagi buta, saat hari masih gelap dan aku masih tidur nyenyak. Ibu pun keluar kamarku, dan selimut yang tadi dilorotkan Ibu aku tarik kembali. Aku pun terlelap lagi.

Ibu datang lagi, membangunkanku untuk yang kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya, aku menarik selimut. Aku masih ingin tidur.

“Andriiii…! Mau sekolah tidak? Ayo cepat bangun!” teriak ibu.

Aku kaget, dan langsung terbangun. Mata aku kucek-kucekkan oleh kedua tangan. Kulihat ibu masih berdiri di depan pintu, tangan kanannya memegang serok untuk memasak.

Ibu langsung menyeretku ke kamar mandi. Awalnya aku menolak dengan enggan, namun setelah serok itu ibu acungkan sambil menatapku tajam, aku pun secara perlahan menuruti kemauan ibu.

Di ruangan tengah, aku melihat ayah sudah berpakaian rapi, dengan celana katun dan kemeja biru tuanya. Setibanya di kamar mandi, aku langsung ditelanjangi oleh Ibu, lalu diguyur pakai air dingin.

Aku berteriak.

“Biar pinter. Mandi pakai air hangat hanya untuk orang-orang malas,” gerutu Ibu.

“Sudah Bu, jangan bentak-bentak kalau sama anak.” bela Ayah.

“Klo gak diajarin sejak kecil, nanti tambah ngelunjak, Pak!” sanggah Ibu.

Aku mulai menangis sesegukan. “Sudah diam. Kayak anak perempuan aja nangis.”

Tangisanku tambah kencang. “Kalau gak diam, nanti diguyur lagi!” ancam ibu. Aku pun terdiam, diam yang dipaksakan.

Setelah selesai diberi sabun oleh ibu, ibu pun menggguyur aku lagi. Aku menangis lagi, namun tangisan kali ini tak dihiraukan.

***

Aku duduk terpaku di dalam kantor. Ibu dan Ayah sedang asyik bicara dengan Kepala Sekolah. Sesekali aku mainkan sepatu baruku yang berwarna hitam, sesekali juga aku gilir-gilirkan topi baruku yang berwarna merah.

Ibu dan Ayah bersalaman dengan Kepala Sekolah, lalu mengajak aku keluar. Di halaman sekolah, banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di depan kelas. Mereka sepertinya ingin menonton bagaimana anaknya duduk di dalam kelas, lalu mulai belajar mengeja atau berhitung.

Lonceng dipukul oleh seseorang yang berkumis tebal. Aku digiring oleh Ibuku supaya segera masuk kelas. Aku ragu-ragu. Anak yang lain dengan girangnya segera memasuki ruangan. Aku masih menahan langkahku. Ibu memaksa-maksa sambil mendorong pundakku.

“Ayo masuk, Nak!” suruh Ibu.

“Asal Ibu juga masuk.” rengekku.

“Ya tidak bisa. Tapi Ibu akan mengawasimu dari luar.”

Aku mengawasi sekeliling. Ternyata tidak hanya aku yang takut masuk kelas. Dua anak di sebelah sana juga menggeleng-gelengkan kepala saat hendak disuruh masuk.

Tak lama kemudian Ibu Guru datang. “Kenapa masih di luar, Dek? Ayo masuk!” kata Ibu Guru itu sambil meraih tanganku.

Aku pun perlahan berjalan, mengikuti Ibu Guru itu. Dua anak yang tadinya geleng-geleng kepala pun sekarang jadi mau masuk kelas, karena bujukkan Ibu Guru ini.

Setibanya di dalam kelas, baris pertama, kedua dan ketiga sudah penuh. Aku bersama dua anak yang telat masuk kelas, langsung disuruh untuk menempati baris ke empat atau paling belakang. Dan setelah duduk di barisan paling belakang, ternyata dengan leluasa aku bisa mengawasi apa saja yang akan terjadi di dalam kelas ini.

Ibu Guru tadi menyuruh kami untuk seorang-seorang maju ke depan, lalu memperkenalkan nama beserta alamat. Barisan pertama hampir seluruhnya perempuan, hanya satu orang saja lelakinya. Seorang-seorang mereka pun maju ke depan.

“Perkenalkan nama saya Linda Asmara Dewi, suka dipanggil Ida atau Dewi. Alamat saya di Jalan Cangkuang depan toko baju. Nama Ibu saya adalah Siti Maryam, suka dipanggil Iyam. Nama ayah saya adalah Muhamad Ridwan, suka dipanggil Iwan. Cita-cita saya adalah menjadi guru, seperti Ibu Mega.” Linda pun melirik Ibu Mega, lalu Ibu Mega bertepuk tangan.

Seluruh kelas pun ramai bertepuk tangan, kecuali kami bertiga yang duduk paling belakang. Yang bernama Linda itu pun duduk kembali, lalu disambung oleh yang di sebelahnya, lalu disambung lagi, disambung lagi, hingga sampai lah pada giliran barisan yang paling belakang.

Yang pertama maju adalah anak yang berada di sebelah kananku. Dengan agak gemetar, ia memaksakan untuk tetap melangkah.

“Emmhh, nama saya. Emmhh, nama saya adalah Erwin. Emmhh, alamat saya. Emmhh, alamat saya di belakang sawah. Emmhh, nama ibu. Emmhh, nama ibu saya adalah Maemunah. Emmhh, nama ayah. Emmhh, nama ayah saya adalah Kusmawan.” Tanpa disuruh, anak itu pun langsung berlari lagi ke tempat duduknya. Khusus untuknya, tak ada tepuk tangan.

“Ayo, selanjutnya.” kata Ibu Guru sambil menatapku.

Aku melihat ke jendela. Aku memerhatikan setiap wajah yang memandang. Setelah beberapa saat, aku tak melihat Ibu dan Ayah.

“Ayo, Nak. Jangan malu-malu.”

Aku pun perlahan maju ke depan. Kutatap semua anak yang sedang memandangku. Aku ingin mengucap namuku Andri, tapi dadaku sesak, bibirku beku. Kakiku jadi gemetar.

“Siapa namamu, Nak?” tanya Bu Guru.

“An… Andri, Bu.”

“Rumah Andri di mana?”

“Diiiid diiiiiatas tanah, Bu.”

“Nama Ibu?”

“Na… Nani Windani, Bu!”

“Nama Ayah?”

“De… Dedi Mulyadi, Bu!”

***

Mulai sejak itu, aku dipaksa untuk terus bangun pagi. Tiap pagi, aku diguyur ibu. Tapi tidak disertai lagi dengan tangisan, aku sudah cukup lelah untuk menangis.

Aku berangkat sekolah tiap jam 06.00. Tiap pagi ibu sibuk mendandaniku sambil menyiapkan sarapan untuk ayah. Untuk bekalku, ibu tak pernah lupa menyimpannya di dalam tas. Tiap sekolah aku dikasih uang jajan sebesar Rp. 250,-. Cukup untuk membeli es serot, atau mie duo dengan patungan bersama Erwin dan Fajar. Keadaan seperti itu berlaku hingga aku kelas 3, atau saat aku sudah mulai bisa pelajaran matematika, dengan catatan tak melebihi bilangan 10.

Pagi ini Ibu Citra tak masuk kelas. Aku tak tau apa yang terjadi kepadanya, tapi yang pasti ada raut muka yang gembira saat Ibu Citra tak bisa masuk. Dia adalah Fajar dan Erwin, dua sahabatku yang sampai kini masih bingun kenapa 2 ditambah 2 bisa menjadi 4, bukan 22 atau 2² (kuadrat).

legenda dari selatan

Untuk mengisi kekosongan karena Ibu Citra tidak bisa masuk, seperti biasa, aku, Fajar dan Erwin akan main tebak-tebakkan.

Survei sebelumnya menunjukkan kalau Vina ada kesamaan dengan Linda, yaitu sama-sama putih. Ane, Noni, Cici, Santi dan Lina sama-sama krem. Sedang Gita, biru langit. Yang masih rahasia adalah Dahlia, Fitri dan Yayu.

Di bangku paling belakang kami bertiga mulai berunding. Akhirnya disepakati kalau Erwin memilih warna putih, Fajar memilih warna krem dan aku memilih warna hitam. Aku percaya kalau kehidupan ini seperti roda yang berputar, akan ada gilirannya untuk aku megecap kemenangan.

Seperti biasa, hukumannya adalah menghapus bor tiap kali pelajaran usai. Walau terdengar sepele, tapi percayalah, untuk kami itu pekerjaan yang teramat berat. Di sini kami ditempa untuk mulai berani tampil ke depan, walau hanya untuk menghapus bor. Bukan itu sih, tapi ketika menghapus bor, bakal ada orang di belakang yang terpingkal-pingkal menertawakan.

Setelah ada kesepakatan, sekarang giliran kami untuk membuktikannya.

Penyerut pensil aku pinjam dari Agus, lalu aku letakkan di sepatuku. Fajar memantau keadaan kelas. Erwin memerhatikan perkembangan penyerut pensil di sepatuku. Aku pun bergegas di ke bangku Dahlia.

“Lia, aku dan kamu tinggian siapa?” tanyaku.

“Ya aku lah.” jawab Lia.

“Semalam aku udah makan kacang panjang, sepertinya sekarang aku yang lebih tinggi.”

“Masa?”

Dahlia pun berdiri, lalu mengukur siapa di antara kami yang lebih tinggi.

“Tetep kok, tinggian aku.”

“Kok, bisa yah?”

“Kalau mau tinggi, makannya bukan kacang panjang, tapi yang banyak proteinnya.”

“Kacang panjang juga ada proteinnya.”

“Iya, tapi harus banyak olahraga juga.”

Tak disangka, Lina bangkit dari tempat duduknya dan melintasi kami berdua.

“Lia, di sepatunya Andri ada cermin tuh!”

Dahlia pun melihat ke bawah. Sepatu kukibaskan supaya penyerut pensil itu enyah dari sepatuku, tapi tetap saja terdengar sesuatu yang terlempar. Lia melihat sesuatu yang terlempar itu, dan itu penyerut pensil yang ada cerminnya. Lalu, Pllaakkkk, aku digampar Dahlia.

Kecerobohan Fajar dalam memantau keadaan telah menyeretku ke ruang Kepala Sekolah, dan kelalaian Erwin dalam mengamati penyerut pensil itu menjadikan permainan sekarang tak dimenangkan oleh siapa-siapa. Sudah digampar, menghadap Kepala Sekolah, tak ada pemenangnya pula!

Sekarang aku membeli es serot dengan tatapan nanar, tatapan yang tak mengharapkan kehidupan ini ada.

Sekembalinya ke kelas, Erwin dan Fajar sedang mengobrol asyik. Aku tau, mereka pasti akan meminta es serot ini. Maka es serot ini aku ludahi saja di depan mereka, lalu aku aduk-aduk, lalu aku minum kembali dengan menggunakan sedotan. Mereka berdua pun tampak jijik, dan pastinya enggan untuk meminta. Aku duduk saja menghadap ke depan, seolah di kelas ini hanya ada aku seorang.

“Dri, kau harus membalas dendam kepada Lina, karena Lina yang memberitau Lia.” bisik Erwin. Aku diam saja, tak menggubris.

“Tapi jangan sekarang-sekarang. Kau sudah sangat sering dipanggil Kepala Sekolah sejak kelas 3 ini.” ujar Fajar memberi masukkan.

“Iya. Yang pasti, tunggu saat yang tepat.” tambah Erwin.

Es serot yang ada di tangan pun aku bantingkan ke lantai. Mereka berdua kaget, lalu saling pandang. Aku berani begitu karena yang tersisa dari es serot itu tinggal es batunya saja yang dingin dan tawar, tak ada manis-manisnya.

 

Bersambung…

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dan Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !