LDS: #17 Metamorfosis (Akhir untuk Sebuah Awal)

SAVANA- Aku sudah mulai berani keluar rumah temanku yang berada di Cirengit. Aku juga sudah mulai akrab dengan ibunya, Bi Mumun, juga adiknya, Gita. Tentu mereka tak tau kalau aku ini seorang buronan. Yang mereka tau, aku sedang ingin belajar mengaji, dan dengan begitu mereka tak keberatan selama kapan pun aku tinggal.

Warung yang sering aku kunjungi adalah warung yang dekat pos ronda, sekitar 50 meter dari rumah Bi Mumun. Di sana aku tak hanya jajan, tapi juga sering berbincang dengan warga sekitar. Warung itu setiap saat hampir selalu ramai, selain karena tempatnya yang nyaman untuk nongkrong, juga karena penjaganya yang cantik.

Baru-baru ini aku tau namanya Wulandari. Kata Bi Mumun, ia juga pintar mengaji. Ia sering mengisi ceramah di pengajian-pengajian. Pokoknya kalau ceritanya keluar dari mulut Bi Mumun, pasti yang baik-baik.

Awalnya Gita begitu menyenangkan. Ia selalu mendengar dengan baik jika aku bercerita. Kadang ia tak mau belajar gara-gara ingin segera mendengar cerita dariku. Tapi lama-kelamaan ngelunjak juga, setelah ia tau kalau aku belum bisa mengaji dan salat.

“Udah tua kok belum bisa ngaji dan salat? Kalah dong sama Gita! Gita gak mau dengerin cerita a Ab lagi!” Semenjak itu, Gita menjadi orang yang paling menyebalkan di rumah itu, dikit-dikit ngeledek belum bisa ngaji dan salat.

Aku sudah mulai ikut pengajian, walau dengan catatan: menghilangkan rasa malu. Tapi ada juga hal yang cukup aku rindukan, yaitu aku bisa melihat dandanan tercantik Wulandari. Aku pun sudah mengenal beberapa pemuda, dan mulai menjalin komunikasi.

Saat para pemuda itu hendak mengaji dan masak-masak lagi di pinggir rumah Bi Mumun, aku diundang dengan cukup spesial. Waktu itu aku sedang berbaring di kamar, dan beberapa pemuda itu datang mengetuk pintu.

“Mau sampai kapan terus menyendiri di kamar? Bisa-bisa kau mati di kamar itu juga,” komentar Bi Mumun setelah aku menolak ajakan para pemuda itu, dan dengan menghilakan rasa malu lagi, aku mengikuti kegiatan mereka.

Berada di tengah-tengah pemuda itu, aku seperti alien yang baru dilempar ke muka bumi: hanya sebongkah makhluk asing. Tapi aku sangat suka saat acara masak-masak dan makan-makan, karena hanya pada saat itu aku baru bisa ketawa bersama. Aku mulai ditanya banyak hal, dan aku memilih untuk bungkam. Aku takut mereka tak mau melihatku lagi.

***

Di bawah lampu bohlam, di atas keramik, Gita mulai mengajari aku membaca iqra. Aku mengikuti apa yang ia ucapkan. Sering aku dimarahi olehnya, “bukan gitu a Ab bacanya, tapi, ‘tsa.” Aku mengulang, “sa”. “Ihhh… ‘tsa”. “sa”. Gita ngambek, gak mau mengajari aku lagi.

Saat hendak tidur, aku ingat kembali teman-temanku. Dulu, aku menjalani hidup dengan pikiran yang sederhana; bagaimana hari itu aku bisa makan, ‘minum’ dan selamat dari hajaran masa. Kami semua tau bahwa kelak, kami akan besar; kelak, kami harus bekerja dan berpenghasilan. Tapi kami semua enggan untuk menghadapi masa-masa sulit, yakni saat melawan diri sendiri.

Aku menjadi sering ikut pengajian, bahkan pengajian-pengajian yang diselenggarakan di luar kampung Bi Mumun sekali pun. Bi Mumun memang aktivis pengajian, jadi ia juga tau jadwal-jadwal di luar kampungnya.

Hingga sekali waktu aku bertemu dengan ustad yang bernama Taufik Ginanjar, dan ia membuat aku semakin terenyuh.

***

Saat aku sedang makan bersama Gita dan Bi Mumun, temanku itu berbisik, “Kata ibumu, kamu sudah bebas dari kejaran polisi, jadi kamu sudah bisa pulang besok.”

“Apa? Jadi selama ini a Ab dikejar-kejar sama polisi?”

“Sudah diam Gita. Yang ini jangan diceritakan kepada teman-temanmu.”

“Tapi yang ini bisa menjadi viral, Kak!”

“Lebih baik kamu ceritakan kalau ada seorang pemuda yang masih mau belajar mengaji.”

“Yang itu teman-teman Gita sudah pada tau, Kak.”

“Ya tinggal ditambah lagi ceritanya, kalau pemuda itu sudah hampir bisa mengaji.”

Gita cemberut.

Esok paginya aku hendak pulang. Bagaimana pun, aku berada di negeri orang, dan akan selalu ada hasrat untuk pulang. Saat itu Bi Mumun berkata “rumah ini sudah menjadi rumahmu, jadi sering-seringlah bermain ke sini. Lagian, Wulandari pun masih menunggu jodohnya.” Kalau aku tak malu karena sudah berkemas, aku akan membatalkan untuk segera pulang, dan tinggal beberapa hari lagi di sini.

***

“Be, kita membutuhkan kau di sini. Kalau kau pergi, siapa yang akan memimpin Tanjung Sari? Siapa yang akan disegani lagi di kampung kita?” rengek Fajar.

Kata Erwin, Iki, Ijay dan satu anggota baru masih mendekam di penjara. Katanya keluarga mereka tak punya cukup biaya untuk menebus mereka, maka mereka dibiarkan saja bermain-main dengan para sipir.

“Kita tak bisa selamanya hidup seperti ini.” jawabku.

“Tapi tidak sekarang. Kita masih terlalu muda untuk memikirkan masa depan.”

“Aku takut keburu mati, Jar.”

Semua yang ada di basecamp itu menatapku heran. Sejak kapan aku sadar akan kematian? Ya, sejak aku bertemu dengan sepasang mata itu.

“Orang yang berani melepaskan nyawa seseorang, adalah orang terbrengsek yang terlahir di muka bumi ini,” timpal Fajar.

“Dan kita tidak bisa menghindar sepenuhnya dari orang-orang brengsek itu.”

Semua menatapku lagi.

“Entah apa komentar Sandi Abah jika ia mendengar ini semua.”

Sesaat, aku tertegum. “Kita bukan Gerdut, Pertim, atau pun Pasbar. Kita harus punya jalan sendiri. Kita ini Legenda dari Selatan. Semoga kalian tak mengkhianati pertemanan kita, walau aku memilih jalan lain.”

“Ini hukum dunia jalanan, Be!”

***

Rumah terasa makin sempit. Aku harus berbagi kamar dengan adikku, Widi. Kadang aku yang harus mengalah dengan tidur di sofa, kadang juga aku tidur di pos ronda.

Lama aku meninggalkan rumah. Aku merasa banyak perubahan. Ibu sudah jarang marah-marah lagi, atau nyaris tidak pernah. Bapak sudah mendapat pekerjaan baru, walau dengan gaji yang tak besar.

Semenjak kejadian Kamasan itu, aku sudah tak bekerja di pabrik lagi, dan itu membuat aku kehilangan penghasilan. Di rumah, aku mulai kerja serabutan, dari mulai mengojek, dagang kue, hingga coba-coba ngebecak. Apa pun pekerjaan yang bisa mendatangkan uang, aku kerjakan.

Kalau sudah punya uang cukup, aku pergi ke kampung Bi Mumun, mengejar pengajian. Aku diajak untuk masuk pengajian-pengajian yang diadakan oleh salah satu partai islam, dan aku pun masuk.

Di rumah ustad Taufik Ginanjar, aku mulai belajar membaca Quran dan salat. Tak hanya itu, ia pun memperkenalkanku pada teman-temannya, dan mengajariku bersama-sama. Aku menjadi punya banyak teman, dan tanpa sungkan, mereka membimbingku, dan aku diperlakukan sebagai bagian dari mereka, bukan orang asing.

Lama sekali agar aku bisa mengaji dan menghafal bacaan-bacaan salat. Lama sekali agar aku bisa beradaptasi dengan mereka. Ini memang dunia baruku, dan saat hendak memasuki dunia baru, selalu tak mudah.

***

Kerja serabutan tak tentu penghasilannya, dan aku harus rela jika seharian aku tak mendapatkan apa-apa selain rasa kesal. Mau pulang pun rasanya enggan.

Aku duduk-duduk di pos ronda, walau hari sudah menjelang malam. Untuk mengganjal perut, aku ngutang dulu ke warung Ceu Wati. Dan saat di sana aku bertemu Erwin.

“Be, ada Sandi Abah di basecamp. Ia menanyakan kamu.”

Aku terperangah sejenak. “Oke, nanti aku ke sana.”

“Mau minum gak? Kalau mau, belinya aku tambahin.”

“Emmm, boleh.”

Kami pun berpisah.

Sekitar jam 9 malam aku pergi ke basecamp. Bagaimana pun keadaannya, mereka tetap teman-temanku, mereka tetap bagian dari hidupku.

Setelah beberapa lama basa-basi menanyakan kabar, Sandi Abah langsung bertanya, “Be, katanya kamu mau insaf, yah?”

Aku ambil botol bir, lalu aku teguk. Semua tarpana melihatku.

“Loh kok, orang insaf masih mau minum?” komentar Toke.

“Tadinya aku senang kalau salah seseorang di antara kita ada yang mau insaf. Jadi, kalau nanti aku mau nyusul insaf juga, tinggal belajar sama dia,” komentar Sandi Abah.

Ah, kalian pikir, untuk berubah semudah itu. Tentu tidak mudah, tapi bukan kah mau masuk anggota geng juga tidak mudah? Dan kenapa untuk hal semacam itu aku bisa dengan senang hati melakukannya?

Selesai…

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Ab di Masa Depan

 

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.