LDS: #16 Titik Balik

Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Aku terbangun saat aku sudah berada di atas kasur yang empuk. Begitu hangatnya, begitu nyamannya. Aku sudah lupa kapan terakhir aku terbaring di atas kasur di sebuah kamar yang dilengkapi oleh selimut. Aku sudah sangat terbiasa tidur di basecamp dengan alas karpet bau apek.

Ibuku masuk sambil membawakan segelas air dan semangkuk bubur. Seperti anak kecil, aku dipandu ia makan. Awalnya aku menolak, karena aku merasa aku sudah besar, tapi Ibu memaksa, katanya orang yang sedang sakit harus diperlakukan seperti itu. Aku baru tau, karena di jalanan tak pernah ada acara semacam itu.

Setelah aku kenyang, Citra masuk. Citra adalah adikku. Umurnya mungkin baru 15, tapi cerewetnya minta ampun. Saat aku masih terkulai lemas, Citra teriak-teriak di kamar. Sepertinya ia ingin menceritakan sesuatu kepadaku, tapi nada suaranya itu, seperti orang ngajak berantem.

“Ibu tau gak, a Ab ini aku temukan di teras belakang seperti orang sedang kesurupan. Tubuhnya gemetar, korokkannya lantang. Awalnya aku sangka dia orang gila. Tapi setelah ditendang dan terbalik, eh ternyata itu a Ab.” Cerita gadis itu kepada ibunya, dan diakhiri tawa yang menyakitkan bagiku. Kalau sedang tidak ada Ibu, ingin sekali aku menjitak kepalanya.

Ibuku menyimak hanya dengan mengerlingkan mata, seperti Citra sudah ratusan kali menceritakan itu. Sepertinya kali ini ia bercerita karena ingin didengar olehku, dan tiap ada orang baru, ia akan begitu senangnya menceritakan itu kembali. Ia memang ahli mengarang, dan dalam tiap karangannya, selalu dilebih-lebihkan.

***

Setelah ibu keluar, aku mulai teringat kejadian tadi malam. Aku gemetar. Menghajar orang bukan perkara baru bagiku, tapi entah kenapa kali ini aku merasakan ada hal yang lain; aku jadi merasa ketakutan.

Dulu, ketika aku bisa menghajar orang, aku bangga. Paling tidak, tidak akan ada lagi orang yang berani macam-macam kepadaku; tidak ada orang yang berani malak lagi, atau mengatai aku pengecut. Aku sudah terbiasa dengan semua kekejaman ini, dengan semua pertempuran di jalanan.

Tapi mengapa kali ini ada sepasang mata yang menatapku tajam? Hanya sepasang mata, tanpa wajah. Dan lingkaran bola matanya itu, kadang berubah menjadi warna merah. Merah darah.

Selimut aku tarik, lalu aku menggigil di dalamnya. Sepasang mata itu memang sudah tak ada di hadapanku, tapi ia ada di ingatanku, dipikiranku. Semakin kulawan, semakin tampak. Aku kehilangan kesadaranku.

***

Jalanan sudah mulai lenggang dari kendaraan. Bila pagi tiba atau menjelang sore, biasanya di sini amat padat. Pedagang kaki lima menjajakan barang dagangannya kepada buruh pabrik yang hendak masuk atau baru pulang. Supir yang sudah kehilangan rasa sabarnya, menekan klakson sampai puas, seolah dengan begitu macet akan segera terurai. Pengendara motor terus merangsak ke depan, memangfaatkan tiap celah yang ada, termasuk jika ada momentum untuk menutup jalan sebelah kanan. Tapi kali ini, di waktu sepertiga malam, jalanan ini benar-benar lenggang; hanya fijar lampu yang terus setia berada di pinggir-pinggir, siang atau malam.

Aku membawa golok panjang, golok yang katanya biasa dipakai untuk menyembelih hewan kurban. Isep Martin menyuruhku untuk berdiri di belakang pohon katapang, dan harus keluar ketika sudah diberi Aba-Aba olehnya.

Di ujung jalan sana, aku melihat sekilas lampu merah berkedip. Lalu kudengar deru sepeda motor yang hendak lewat. Isep Martin keluar dari balik jongko yang sudah kosong. Di seberang sana, Sandi Abah menggeleng. Isep Martin pun kembali lagi ke tempat persembunyiannya. Dua motor melewat begitu saja, lalu hening kembali.

Setelah sekian lama, di ujung jalan sana, kulihat lampu hijau berkedip. Lalu kudengar lagi laju sepeda motor. Isep Martin keluar dari jongko, begitu pun dengan Erwin yang bersembunyi di jongko sebelah kanan. Lalu kedunya bersiap menyalakan motor yang tadinya tertutup terpal. Setelah menderu, kedua motor yang tanpa lampu itu pun siap dihadangkan.

Satu motor dari arah berlawanan datang. Supirnya memakai rompi berwarna hijau, penumpangnya ibu-ibu bertubuh besar. Di bagian depan si supir, berumpak berbagai macam sayuran, sedang penumpangnya pun menenteng dua kantong plastik besar.

Motor yang dikendarai Isep Martin dihadangkan di tengah jalan. Motor yang sepertinya pulang dari pasar itu berhenti, lalu sekonyong-konyong motor yang dikendarai Erwin menderu dari belakang mereka, dan melibas leher si ibu dan si tukang ojek. Dua kepala melayang di udara, lalu jatuh di depan Isep Martin. Kami semua terpana, seolah sedang menyaksikan pertunjukkan sulap.

Erwin tertawa terbahak-bahak; tertawa bangga. Pedang yang dipegang oleh tangan kanannya, diacung-acungkan, dan saat itu aku tak melihat satu tetes pun darah.

Setelah Erwin puas dengan tawanya, ia megerlingkan matanya ke samping. Tukang ojek dan si ibu tak juga ambruk, mereka tetap tegak, hanya tanpa kepala dan helm. Setelah lama diperhatikan, tak ada satu bercak pun darah di rompi hijaunya, maupun di aspal tempat kepalanya tergeletak.

Tanpa ada intruksi, aku langsung kalang-kAbut, hendak berlari sekencang-kencangnya. Namun semua terasa berat, dan kaki seolah ada yang menahan. Semua tenaga aku kerahkan, namun tetap percuma. Aku masih tempat kejadian yang sama, hanya bergeser sekitar sepuluh langkah kecil. Tapi aku terus berusaha untuk lari, dan disampingku ada sepasang mata yang bagian putihnya berwarna merah darah.

Aku terbangun. Kutatap langit-langit kamarku. Kuatur napas yang terasa sesak. Keringat membanjiri hampir seluruh tubuhku. Setelah itu, aku tak bisa tidur lagi, hingga pagi.

***

Pagi-pagi sekali, Erwin datang. Ia disuruh langsung masuk ke kamarku oleh ibu. Erwin melaporkan, kalau polisi sedang mencari orang-orang bengal yang membuat kerusuhan tadi malam. Ia pun berencana untuk bersembunyi kembali di rumah temannya, di daerah Puntang. Aku diajak, namun aku menolak. Aku hanya ingin bersembunyi seorang diri, bersembunyi dengan sunyi.

Setelah matahari mulai menyingsing, aku mulai memikirkan di mana aku harus bersembunyi. Aku ingat punya kawan baik di daerah Cirengit. Dan sepertinya ia akan bersedia jika aku menginap beberapa hari di rumahnya.

***

Di sini aku orang asing, orang yang tak dikenal, dan yang pantas aku dapatkan adalah kesendirian. Sempat beberapakali aku nongkrong di depan rumah, banyak pemuda maupun pemudi yang lewat, ada beberapa di antaranya melihatku lalu berlalu begitu saja, namun ada juga yang dengan ramah menyapa. Di sini, aku kehilangan teman-temanku, juga kehidupanku.

Sekali waktu sehabis magrib, temanku itu kedatangan banyak tamu. Mereka pemuda yang sebaya dengaku, walau ada beberapa yang kelihatan sedikit lebih tua. Awalnya mereka mengaji, lalu diskusi. Selepas isya mereka masak-masak, lalu makan bersama dengan alas daun pisang. Aku memerhatikan dari balik jendela kamar.

Minggu berikutnya mereka berkumpul kembali. Aku menyimak dari teras depan sambil memandangi bintang yang baru keluar. Salah seorang dari mereka ada yang melihatku, lalu mengajakku untuk berkumpul bersama. Dengan segan, aku menolak.

Saat terbaring di kasur, aku merindukan teman-temanku. Aku juga rindu suasana malam di basecamp; ada kartu gaple dan remi, ada botol minuman, ada yang tertawa ngakak, ada juga yang marah-marah tak jelas. Semuanya terasa indah, termasuk saat aku dikejar-kejar di sawah. Tapi di sini, aku melihat ada kehidupan yang lain, yang belum pernah aku jalani.

Aku tatap langit-langit kamar. Aku ingat ucapan Sandi Abah sekali waktu, “Suatu saat, kita akan menikah dan harus hidup normal.” Apa kehidupan yang sedang kujalani ini tidak normal?

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !