LDS: #14 Polemik Masa SMA

legenda dari selatan
Ilustrator: Rizki Agustian

Agustus 2004.

SAVANA- Sebelumnya, tidak ada kejadian aneh di sekolah. Aku hanya datang, belajar, istirahat, belajar lagi atau kadang tidur, lalu pulang dengan tenang dan santai. Tapi kali ini berbeda. Saat aku hendak pulang, ada seseorang yang mengenali wajahku. Awalnya orang itu duduk santai di depan warteg, tapi setelah melihatku dan aku pun melihatnya. Ia berdiri, mengamat-amati wajahku, lalu teriak sambil mengacungkan telunjuknya ke arah mukaku “Cungur! Loe sekolah di sekitaran sini?”

Aku berlari sekencang mungkin. Ia mengejarku dari belakang. Aku takut dituduh maling jika berlari di jalanan ramai yang membuat para warga ikut mengejarku, aku pun berbelok ke arah sawah. Aku berlari makin kencang, mungkin karena sejak kecil aku sudah terbiasa berlari di pematang sawah. Setibanya di pohon nangka aku sudah tak mendengar teriakkan dari belakang. Aku pun berhenti, lalu menengok ke belakang. Di kejauhan sana, orang tadi sudah tak mengejar. Ia hanya mengacungkan jari tengahnya, lalu kembali lagi.

Aku ngos-ngosan. Aku pun pulang dengan berjalan santai, sambil sesekali menengok ke belakang, ditakutkan orang itu mengejar kembali.

Keeseokan harinya aku mulai waspada. Aku berangkat sekolah bukan lewat jalan raya, tapi lewat belakang. Di sekolah pun aku tak banyak bikin ulah, hanya diam duduk di kelas, atau sesekali pergi ke toilet.

Saat hendak pulang, aku pun tak lewat gerbang depan, tapi lewat belakang. Di belakang sekolah, aku melewati lorong-lorong sunyi, yang tak banyak dilalui orang, lalu tembus ke pesawahan.

Saat berjalan di pematang sawah, aku tersentak. Dari sebelah kanan sana, yang dekat dengan jalan raya, segerombolan orang sedang menanti-nanti. Mereka membawa senjata; kayu balok, golok dan samurai.

“Cungur! Jangan lari!”

Justru karena betakkannya itu, aku malah lari pontang-panting. Mereka pun menyerbu. Dengan delikkan mata ke sebelah kanan dan kiri –karena takut terkepung, aku melihat mereka mengejar sambil mengacung-acungkan senjatanya. Dasar pecundang! Beraninya main keroyokkan.

Aku berlari ke arah utara, karena hanya dengan ke sebelah sana sawah akan terus terhampar. Aku terus berlari, hingga dikagetkan oleh sungai yang melintang di depan sana. Berhenti berarti mati, aku pun terus berlari, dan tanpa banyak pertimbangan, aku meloncat. Sungai itu lebarnya sekitar 2 meter. Dan saat meloncat itu, aku merasa melayang. Air yang mengalir di bawahku, sejenak mengalir lambat, menyaksikan ada seorang manusia yang sedang terbang di atasnya. Hingga akhirnya… Bukk! Kakiku kurang sejengkal lagi untuk meraih pematang sawah di depan.

Aku pun tersungkur. Dengan refleks, tangan menahan agar tak terjadi benturan antara perut dan pematang sawah. Secepat kilat, tangan yang awalnya untuk menahan benturan itu, aku gunakan untuk berdiri kembali. Seolah tak merasakan sakit apa-apa, aku berlari lagi, dengan sepatu dan celana yang setengahnya basah karena tercebur ke sungai.

Sungai itu tak menghalangi para bajingan yang mengejarku. Mereka malah sengaja melompat dulu ke sungai, lalu mendarat lagi, mengejar lagi. Aku hampir kehabisan akal, lalu kuputuskan untuk berlari ke arah timur, yang dipenghujung sawah ini, langsung mengarah ke kampungku.

Aku berlari segila-gilanya, tanpa mengenal rasa lelah dan lambat.

Setelah sekian lama, aku mulai mengenali sawah yang aku injak, sawah yang ada dalam memoriku sejak kecil. Di depan sana, aku akan melintasi sungai yang suka dipakai berenang saat aku masih kecil, dan saat itu kakek mengajariku agar tak tenggelam di air.

Aku pun berlari agak menyamping ke arah selatan, karena di arah sana sungai tak terlalu lebar. Aku pun melompat dengan selamat, lalu agak tersungkur ke depan karena kaki tak sekuat semula. Aku berlari ke arah timur lagi, mengarah ke pos ronda dan warung kopi.

Aku hampir kehabisan napas, aku tak kuat berlari kencan lagi, hanya berjalan dengan gontai. Aku mulai melihat jalan dan pos ronda, tak ada siapa-siapa di sana. Aku melirik ke belakang, para pecundang itu hanya berdiri saja di seberang sungai, mungkin sudah menyerah.

Saat aku telah sampai batas akhir area pesawahan, aku pun naik ke area kebun pisang yang menanjak, yang langsung menghadap jalan raya desa. Seperempat tanjakkan telah aku lewati, dan saat itu kakiku langsung terasa lingbung. Kakiku tak kuat lagi menahan berat tubuhku, dan saat itu aku pun terjatuh.

Saat itu aku baru menyaadari, bahwa di balik semak-semak sebelah utara dan selatan, ada segerombolan orang yang sedang bersembunyi. Aku memaksakan untuk membalikkan tubuhku, agar tau apa yang dilakukan oleh para pecundang itu. Mereka masih saja melongo di sebereng sungai sana, jumlahnya sekitar 18 orang. Mereka pun seperti berunding, mungkin sedang mendiskusikan untuk terus mengejarku yang sudah terjatuh dan hampir kehaisan napas, atau pulang saja sebagimana para pecundang positif.

Karena aku tau teman-temanku -dan mungkin juga warga di sini, sedang sembunyi di balik kebun, aku memberanikan diri untuk mengacungkan jari tengahku. Salah seorang di antara mereka melihatnya, dan geram. Ia pun melaporkan kepada yang lainnya, dan naik pitamlah mereka. Mereka pun menyeberang sungai sambil mengacung-acungkan kayu, golok dan samurainya.

Aku langsung was-was. Apa benar mereka yang sembunyi di balik semak itu teman-temanku? Atau mereka hanya bocah ingusan yang sedang main petak umpet? Untuk berlari, aku sudah kehabisan tenaga. Jangankan lari, untuk berdiri saja rasanya tak mampu. Aku pun berbaring, menengadah ke langit. Jika aku harus mati hari ini, aku sudah pasrah menerimanya. Mata mulai aku pejamkan, napas mulai aku nikmati yang mungkin tak akan lama lagi aku miliki.

Gerombolan bajingan itu terdengar semakin mendekat. Dan saat aku meresapi itu, aku seakan mendapat kekuatan lagi untuk berlari. Mata langsung aku buka dan bersiap untuk berdiri, lalu berlari. Tapi saat itu juga aku mendengar teriakkan: “Seraaang!” Berhamburan lah segala jenis manusia dari balik semak-semak itu. Mereka mengacung-acungkan golok, parang dan samurai.

Aku pun berbaring lagi, memejamkan mata lagi. Kuresapi tiap-tiap napas yang keluar dari hidungku. Apa tiap-tiap pertolongan selalu datang disaat napas terasa diujung?

***

Malam itu, saat aku tiduran di basecamp, aku dicari oleh kedua orang tuaku. Tumben memang, entah ada angin apa. Saat kutemui, mereka memegang-megang pipiku, tanganku, hingga betisku. Orang tua memang selalu begitu, norak.

Aku lelaki, sudah besar lagi, tak pantas diperlakukan sepeti itu. Ijay dan Toke cekikikan dari arah pojok sana. Mungkin setelah orang tuaku pergi, mereka akan mencaci, “Anak manja!”

Aku tak banyak bicara, hanya menjawab seperlunya saja. Dan darahku agak naik ketika orang tuaku menanyakan hal yang sama, berkali-kali, “Kamu nggak papa kan? Beneran nggak papa?”

Lalu orang tuaku mengajak agar aku tinggal kembali bersama mereka. Aku kaget. Aku merasa selama ini aku belum minggat dari rumahnya. Dalam seminggu, pasti aku mengunjungi rumah orang tuaku itu, walau sejam dua jam; selebihnya ya hanya di basecamp ini dan di rumah kakek.

Ibu berjanji tidak akan galak-galak lagi padaku. Ibu pun bilang kalau ayah akan lebih giat lagi bekerja, agar bisa memberi uang jajan. Aku merasa sudah bukan saatnya aku mendapat kasihan semacam itu. Aku sudah dewasa, sudah saatnya bekerja sendiri.

Malam itu aku memutuskan, aku akan tetap tinggal di basecamp ini. Aku sudah mendapat kehidupan yang aku inginkan; penuh rintangan dan hanya untuk para jagoan. Aku tidak mau dimanja, apalagi dikasihani, walau oleh orang tuaku sendiri.

Ibu dan ayah kembali dengan tangan hampa. Walau begitu, aku sudah membuktikan janji ibu, bahwa ia tidak akan galak-galak lagi padaku. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ibu tidak marah karena aku tak menuruti keinginannya. Sesaat aku terpana.

“Tolol banget sih Loe, dikasih uang jajan kok gak mau!” komentar Isep Martin ketika orang tuaku sudah pergi.

“Lagian kalau tidur di rumah, uueenak banget. Ada kasur empuk, bantal harum, daaan selimut hangat. Loe emang tolol Be.” tambah Toke.

Sandi Abah melangkah mendekati. “Bos mau bilang kalau aku tolol lagi?” tanyaku sebelum diteror.

Sandi Abah hanya tersenyum, lalu duduk ditempat bekas orang tuaku duduk. “Kita semua yang ada di sini memang tolol, dan itu memang pilihan kita masing-masing.” ucap Sandi Abah. Dari sakunya ia keluarkan sebungkus rokok kretek, lalu diambil satu dan disulutnya. “Percayalah, menjadi tolol itu menyenangkan, dan kesenangan hanya diri kita sendirilah yang merasakannya.”

Sandi Abah menghisap rokok kretek itu dalam-dalam, lalu asapnya disemburkan. Isep Martin mendekati, lalu mengambil satu batang. Begitu pun dengan Toke dan Ijay. Aku tak sedikit pun tergoda.

“Akan tiba saatnya untuk kita hidup normal. Menikah, bekerja, lalu punya anak.”

Selesai bicara begitu, kami langsung memandang Sandi Abah.

“Bos mau menikah sekarang?” tanya Isep Martin.

Sandi Abah berbalik memandangi kami. “Tidak, tidak dalam waktu dekat ini. Tapi suatu saat, pasti. Ya kita lihat saja, Kiki, Bopeng, Yanto dan Hanhan. Suatu saat, pasti kita akan seperti mereka. Kita jangan selamanya begini.”

Isep Martin menunduk, menghisap rokoknya dalam-dalam. Ditahan sebentar, lalu disemburkan. “Setelah di sini, kita akan ke mana?” tanyanya sambil memandang Sandi Abah.

Sandi Abah memandang ke jendela, entah sedang melihat apa.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !

Nurdin A. Aziz merupakan anak bungsu bagi ibu kandungnya dan adik terkecil bagi kakak-kakaknya.