LDS: #13 Tempat Persembunyian

SAVANA- Roti sudah habis sore tadi, jadi malam ini kami makan mie mentah. Walau ada api yang menyala, tapi kami lupa bawa panci dan mangkuk, jadi kami harus puas dengan mie renyah yang keasinan karena tak tersiram air panas.

Ijay mulai kedinginan. Ia dekatkan tubuhnya pada bara api. Begitu pun dengan Toke dan Isep Martin. Aku, Fajar dan Erwin sudah terbiasa dengan air dan dingin. Walau kami pun merasa dingin, tapi tak separah mereka.

“Andai kita bawa panci, pasti bisa nyeduh kopi.”

“Kita kan sedang melarikan diri, bukan sedang tamasya.”

Malam ini kami hampir tak bisa tidur. Ijay dan Toke terus menggeram karena rasa dingin, sedang Isep Martin berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggeram, walau terlihat wajahnya begitu pucat. Mungkin ia sedang menjaga reputasinya sebagai bos.

Kayu bakar sudah habis. Menebang pohon teh yang ada di sekitaran saung sama gilanya dengan merokok memakai ranting pohon; akan sia-sia karena tidak akan menyala. Sedang kalau mencari ranting-rangting kering ke tengah-tengah kebun teh, sama menakutkannya dengan berdiri seorang diri di tengah-tengah ribuan masa Gerdut. Fajar dan Erwin pun kehabisan pekerjaan, karena tak ada lagi ranting yang harus dikupas kulitnya yang basah karena hujan.

Bara api yang menyala tinggal sedikit. Ijay dan Toke semakin merapatkan tubuhnya ke tengah-tengah bara api. Kalaulah mereka sempat ke Banten, mungkin mereka akan berbaring di atas bara api.

Isep Martin masih duduk sambil memeluk lututnya. Aku tak tau ia sudah tidur atau terus berusaha melawan rasa dingin. Yang pasti, tubuhnya terus bergetar.

Bara api yang tinggal sedikit itu telah lenyap. Yang tersisa hanya abu yang sudah tidak memberikan lagi rasa panas. Ijey dan Toke semakin menggeram dengan hebat. Aku, Fajar dan Erwin pun mulai bergetar. Rasa dingin, memang lawan yang sulit untuk ditaklukkan.

Erwin berdiri, lalu membuka bajunya. Ini pertunjukkan tergila yang pernah aku lihat.

“Be, Jar! Buka baju kalian.”

Aku melongo, begitu pun dengan Fajar.

“Cepaaat! Mau hidup tidak?”

Teriakkan Erwin yang terakhir menyentakkan dadaku. Aku dan Fajar pun langsung berdiri, lalu membuka baju.

“Copot juga baju mereka!” perintah Erwin.

Entah ada setan dari mana, aku dan Fajar pun menuruti permintaan Erwin. Saat aku membuka baju Ijay, ternyata ia menggigil tanpa sadar.

“Be, bukankah saat-saat seperti ini kita lebih baik tidak sadar? Bertapa beruntungnya mereka.” ucap Fajar.

Aku tak menjawab, atau lebih tepatnya karena memang tak bisa menjawab. Ucapan Fajar seperti ada benar-benarnya. Penderitaan terhebat adalah ketika kita tidak sadar menghadapinya, entah bagaimana.

Saat Erwin membuka baju Isep Martin, ternyata si Bos juga dalam keadaan tidak sadar, atau setengah sadar.

“Setelah ini apa?” tanya Fajar.

“Kita baringkan mereka berjajar. Lalu setelah itu, kita tindih dari atas.”

“Gue masih normal, Win.” keluh Fajar.

“Gue juga.” Aku menguatkan.

Erwin seperti kebingungan. “Begini, coba kalian peluk diri kalian sendiri.” Aku dan Fajar pun menurut. “Gimana?”

“Ya gini, kan?”

“Maksudnya, rasanya gimana?”

“Gak ada rasanya, hanya sedikit hangat. Emang loe ngerasain apa?”

“Iya, yang hangat itu jika kulit bertemu dengan kulit lagi, selebihnya, tetap dingin. Mengerti?”

“Iya, mengerti.”

“Ya sekarang jangan bengong saja, tiduri mereka!”

Aku dan Fajar saling pandang.

“Mereka tidak sadar bukan berarti mereka beruntung, tapi karena mereka tak kuat lagi menahan derita. Apa kalian tega?” tambah Erwin.

“Apa tidak ada cara lain?”

“Ada. Kita gendong mereka ke bawah, lalu minta pertolongan warga. Kalau takut sama warga, kita gendong mereka ke pemandian air panas. Gimana?”

Aku dan Fajar saling pandang lagi, menyadari alternatif itu lebih menyusahkan lagi. Erwin langsung berbaring di atas tubuh Isep Martin. Erwin menggosok-gosok tangan Isep, lalu punggungnya. Aku dan Fajar masih bengong sambil memeluk tubuh kami sendiri.

Ijay langsung seperti sesak. Aku dan Fajar terkaget. Napasnya terpenggal-penggal. Seperti orang gila baru, aku pun langsung memeluk tubuh Ijay, lalu memeragakan apa yang Erwin lakukan kepada Isep Martin.

Aku melakukan itu hingga aku sendiri terlelap tidur.

***

Tubuh mulai terasa gerah, padahal aku sedang berenang di kolam pemandian air dingin. Yulia terus menciprat-cipratkan air ke arah mukaku, lalu meluncur berenang ke arah pojok sana. Aku mulai mengejar, ingin membalas dendam. Tapi air terasa semakin memanas, padahal kami tidak berenang dipemandian air panas. Aku terus mengejar Yulia, hingga ia tak bisa lari lagi ke mana-mana; ia terperangkap di pojok. Saat aku hendak mencipratkan air ke arah mukanya, aku tersentak, “Cungur! Loe telah apain gue?” aku terperanjat bangun. Matahari telah menyorot tubuh kami yang sedang terbaring di saung. Keringat bercucuran di tubuhku maupun tubuh Ijay.

Semua pun terbangun. Isep Martin, Ijay dan Toke mulai menintrogasi kami.

“Tega kalian! Teman sendiri, kalian sikat juga.”

“Pantas saja kalian tak suka main perempuan, karena nyatanya suka sama laki-laki. Kalian lebih bejat dari anak-anak Gerdut!”

Erwin menarik napas dalam-dalam, lalu dikeluarkan secara perlahan. Aku dan Fajar melongo saja karena mati kutu.

***

Siang ini kami makan mie mentah lagi yang diremukkan. Isep Martin meminta air kepada Ijay, dan yang tersisa tinggal setengah botol lagi. Kami pun saling pandang, tapi Isep langsung meneguk air itu setengahnya. Kini air tersisa tinggal seperempat botol.

Kami mengecek tas kami masing-masing, siapa tau masih ada air botol yang tersisa. Tapi nyatanya sudah habis tadi malam. Kami pun membagi seperempat botol itu untuk kami berlima.

“Kita di sini mau sampai kapan?” Toke mulai angkat suara.

“Sampai keadaan benar-banar aman.” jawab Isep Martin.

“Aku sudah gak kuat. Makanan dan minuman pun sudah habis.”

“Kalau soal itu, kita bagi-bagi tugas. Ada yang ke bawah mencari makanan, ada yang mencari minuman, ada juga yang mencari bir. Sepakat?”

Kami saling pandang, lalu dengan serentak menggeleng.

“Lalu kalian maunya apa?” tanya Isep Martin geram.

“Kita kembali ke rumah. Kalau pun harus sembunyi, bukan di tempat yang seperti ini.”

“Iya Bos. Rasanya di sini dengan di penjara lebih enak di penjara. Paling tidak di sana kita tidak akan kelaparan dan kedinginan. Kalau kedinginan, tidak akan sampai tak sadar.”

“Kalian tau apa soal penjara? Salah satu di antara kalian sempat ada yang dipenjara?” bentak Isep Martin. “Orang-orang macam kita ini, kalau ketangkep, bakal disiksa! Jika kalian mampus pun di sana, tidak akan jadi perkara, toh kita-kita ini dianggap orang paling bejat.”

Kami semua menunduk.

“Begini aja Bos.” Erwin mulai angkat bicara. “Kita turun dari sini, lalu mencari tempat persembunyian lain, yang lebih menyenangkan.”

“Di mana?” tanya Isep Martin.

“Di daerah Puntang. Aku punya kenalan di sana.”

“Asalkan dia bukan geng motor mana pun.”

“Bisa dipastikan kalau dia bukan anggota geng motor mana pun.”

Waktu itu juga, kami pun turun. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan beberapa pemetik teh, dan mereka menatap kami heran. Walau begitu, tetap saja mereka menyapa kami.

Setibanya di depan mesjid, motor masih terparkir seperti semula kami menempatkannya. Isep Martin, Ijay, Toke dan Fajar mengambil motor, sedang aku dan Erwin menunggu di pinggir jalan. Aku perhatikan sekeliling, dan saat itu aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memerhatikan kami di depan warung sana. Tatapan orang itu aku balas, lalu aku tambahkan senyum. Orang yang tadinya mengawasi kami pun menunduk.

Aku memberitau kepada Erwin bahwa ada seorang perempuan yang sedang mengawasiku. Erwin pun menatap orang itu, lalu terkaget. “Loh, kok dia ada di sini?”

“Mungkin emang orang sini.”

“Terus, waktu itu? Kita kan pertama kali melihatnya sedang ada di kampung kita.”

“Mingkin emang dia punya saudara di sana.”

“Kok, bisa kebetulan gini yah!”

“Bukan kebetulan, tapi ini yang dinamakan jodoh.”

“Kalau mau cari jodoh, harus sambil ngaca kali. Tak lihat apa kalau dia pakai kerudung begitu panjangnya!”

“Kalian mau ikut tidak? Bengong saja!” bentak Isep Martin.

Aku dan Erwin pun segera menghampiri mereka, lalu pergi ke Puntang, menuju kenalan Erwin.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !