LDS: #11 Selepas Latihan di Atas Bukit Arjasari

lds
Ilustator

Agustus, 2003.

SAVANA- Hari ini aku benar-benar sudah merasa menjadi seorang lelaki. Bukan pengecut yang selalu mengumpat diketiak ibu, atau pecundang yang selalu lari tunggal langgang karena takut mati. Aku sudah menjadi lelaki seutuhnya.

3 hari sudah aku jalani masa-masa tersulit dalam hidup; ditendang, dipukul, direndam. 3 hari itu pula yang menyebabkanku tak takut pada siapa pun, termasuk pada Tuhan. Aku diciptakan untuk menjadi penguasa jalanan.

Suara motor menderu di atas bukit Arjasari. Tanpa lampu, tanpa rem, dan tanpa ketakutan. Kami akan meluncur menuju persinggahan kami masing-masing, karena di sinilah rumah kami sekarang. Di sinilah tempat kami hendak pergi dan pulang.

Dari  bukit Arjasari sampai Banjaran, kami meluncur berrombongan. Kang Bewok yang menjadi komando. Di belakang, para senior tak henti-hentinya menyalakan klanson. Ada yang menarik gas sekencang-kencangnya sembari menarik kupling, para junior di barisan tengah hanya teriak-teriak, karena baru hanya itu yang bisa kami lakukan.

Jalanan dari Arjasari menuju Banjaran menurun sambil berkelok. Lengah sedikit, masuk jurang, atau paling ringan tersungkur di kebun warga. Percayalah, menjalankan motor tanpa lampu dan rem akan menambah daya konsentrasi sampai tiga kali lipat, karena kalau tidak begitu, kami bisa celaka.

Sesampainya di Banjaran, kami berpencar. Ada yang ke arah utara menuju Dayeuhkolot, ada yang ke arah timur menuju Soreang, ada juga yang ke arah selatan menuju Pangalengan. Kami adalah penguasa jalanan, yang lain hanya numpang.

Kami yang berasal dari Tanjung Sari –salah satu kampung yang ada di Banjaran, berkumpul dahulu di suatu tempat yang biasa kami jadikan tempat nongkrong.

***

Sepulang sekolah, saat matahari sedang terik-teriknya, aku, Ijay, Erwin, Iki, Toke dan Fajar mendapat kabar dari Sandi Abah dan Isep Martin, kalau markas teman kami yang ada di Soreang diserang segerombolan Gerdut. 5 teman kami terluka parah, sedang 6 lainnya luka ringan. Disebut luka ringan karena ia masih bisa berdiri, walau wajah dan tubuhnya sudah tak bisa dikenali; sedang yang disebut luka parah, mau berkedip saja harus dibantu dengan ditiup kelopak matanya.

Isep Martin melaporkan kalau penyerangan itu dilakukan secara tiba-tiba. Dan tindakan yang tidak terpujinya, Gerdut menyerang dengan jumlah 40 orang lebih, sedang yang diserangnya hanya berjumlah 11 orang. Kami masih bisa bersyukur, karena tak ada yang mati dalam tragedi ini.

Tentu dendam ini harus segera diselesaikan. Kami tak rela teman kami diperlakukan sedemikinan buruknya.

Saat malam tiba, kami menyusun strategi. Sandi Abah melaporkan bahwa tak ada yang akan membantu, karena tiap-tiap daerah punya tugasnya masing-masing yang belum diselesaikan. Kami mulai kebingungan, bagaimana bisa melakukan serangan balik dengan jumlah yang lebih sedikit, kami hanya 8 orang?

Di kantor ini, Sandi Abah langsung mengambil sikap. Katanya, tak ada yang mesti ditakutkan, karena kita lah penguasa jelanan, berapa pun jumlah kita. Sandi Abah mengusulkan untuk menyerang di malam senin, karena waktu itu biasanya mereka suka berpencar. Kami menyepakati, dan itu artinya tinggal 3 hari lagi. Sandi Abah mengingatkan, “jangan sampai kita masuk kuburan kita sendiri. Teruslah berlatih!”

Aku, Fajar, Erwin, Toke dan Ijay pergi ke tepi sungai yang rimbun oleh pohon bambu yang dulu biasa kami jadikan tempat latihan. Di sana, kami berlatih sampai petang. Sewaktu SMP, kami berlatih hanya dengan tangan kosong, sekarang, kami berlatih menggunakan senjata. Kami pulang saat matahari sudah terbenam.

“Bagaimana, sudah siap?” teriak Isep Martin.

“Siap!” serentak kami menjawab.

“Hidup dan mati kalain, ada di tangan kalian masing-masing. Jaga diri baik-baik, jangan sampai lengah sekedip pun! Kita akan melakukan balas dendam, jangan sampai malah kita yang mampus. Mengerti?”

“Mengerti!”

“Luka teman kita adalah luka kita bersama. Jangan sampai di sini kita enak-enakkan mabuk, tapi teman kita di luar sana diserang habis-habisan. Kita harus menebus luka teman kita. Kita harus membalaskannya. Paham?”

“Paham”

“Begini strateginya …” lalu Isep Martin membuka peta yang sudah kumal.

***

Kami berangkat menggunakan 4 motor. Iki, Ajay, Fajar dan Toke mengendarai, sedang aku, Erwin, Isep Martin dan Sandi Abah duduk dibelakang sambil membawa pentungan. Kami berputar-putar di daerah Kabupaten Bandung.

Setelah lima putaran, kami tak menemukan gerombolan yang memakai jaket Gerdut. Kami berhenti di perempatan. Sandi Abah melihat-lihat sekitar. Sebentar duduk, sebentar berdiri lagi sambil memerhatikan lampu yang dipasang di pinggir jalan. Sandi Abah naik motor lagi, lalu mengintruksikan sesutau kepada Toke. Toke pun tancap gas, yang lalu diikuti oleh Iki, Ajay dan Fajar.

Sekitar 50 meter dari sebuah warung yang remang-remang, Toke berhenti. Di warung itu terlihat banyak pemuda yang sedang main kartu sambil merokok dan minum. Di belakang pemuda itu banyak gadis yang berparas cantik dan seksi.

“Sep, Be, Win, ikut denganku. Yang lain tunggu di sini. Jangan pergi sebelum kami kembali.” Kami pun mengangguk, lalu menuruti intruksi Sandi Abah.

Setelah tiba di depan warung itu, Sandi menyapa mereka. “Apa betul ini markasnya Gerdut?”

“Iya! Ada apa?” jawab salah seorang dari mereka yang sedang main kartu.

“Nggak ada apa-apa. Kami cuma mau … MENGHAJAR KALIAN SAJA!”

Sandi Abah pun langsung melompat dan mengarahkan pentungan kepada salah seorang dari mereka. Bukk…! Pentungan Sandi Abah mengenai punggung salah seorang pemuda yang sedang mabuk berat. Saat salah seorang yang lain di antara mereka hendak meninju Sandi, dari belakang Isep melompat sambil mengarahkan pentungannya kepada orang itu. Bukk…!

Aku dan Toke tentu tak mau hanya jadi penonton saja. Aku dan Toke pun mengarahkan pentungan kepada orang yang lain. Para gadis cantik itu menjerit, hanya menjerit. Tak ada ampun, kami terus memukuli keempat pemuda tadi. Tangannya sudah tak kuat lagi menahan lajunya pentungan, mereka pun membaiarkan punggungnya terus dipukuli. Aku cukup puas. Ini hiburan yang tak akan tergantikan.

Tak berselang lama, pemuda lain baru bermunculan dari dalam markas. Mereka hanya mengenakan kolor saja, sedang matanya merah. Mereka langsung memungut barang apa pun yang ada didekatnya untuk dijadikan senjata. Pertarungan akan berjalan lebih seru.

Kami yang sudah latihan berhari-hari, tentu sudah agak lihai menggunakan pentungan. Kami yang sudah dididik di atas bukit Arjasari, tentu sudah tak merasakan ketakutan lagi. Kami terus menghajar seorang demi seorang di antara mereka, dengan suka ria.

Yang datang dari balik markas ternyata tidak ada habis-habisnya. Sudah lima orang yang sudah aku pukuli hingga mereka tak mampu melawan lagi. Untuk orang yang ke enam, aku mulai kelelahan juga. Aku sduah kehilangan gairah. Untuk segera menyelesaikannya, aku babat saja kepalanya dengan dua kali pukulan. Ia pun langsung kehilangan tujuannya.

“Cabut sekarang!” Intruksi Sandi Abah.

Kami pun berlari menuju teman kami yang sedang menunggu. Di belakang ada yang mengejar sambil mengibas-ngibaskan pedang. Ada juga yang mengambil batu, lalu melemparkannya ke arah kami. Batu itu hanya mengenai motor yang dikendarai oleh Iki, yang lalu Iki tancap gas sebelum kami datang. “Tunngu Cungur!” teriak Erwin yang seharusnya semotor dengan Iki.

Sandi Abah langsung melompat ke motor yang dikendarai Toke. Aku dan Erwin loncat ke motor yang dikendarai oleh Fajar. Isep Martin loncat ke motor yang kendarai oleh Ijay. Kami pun meluncur ke arah Kopo. Setibanya di Katapang, Toke membelokkan motornya ke arah kanan, menuju gang kacil. Fajar dan Ijay mengikuti.

Jalanan kini berubah gelap, dan di depan kami terhampar pesawahan. Sesekali aku melirik ke ke balakang, takut ada yang mengikuti. Sesudah dipastikan aman, kami pun mengendarai motor dengan pelan.

“Si Iki kaburnya ke mana?” tanya Erwin.

“Tidak tau. Paling langsung pulang ke rumahnya, lalu ngumpet di ketiak ibunya.”

“Lha jangan gitu. Dia kan sudah dididik habis-habisan.”

“Klo dasarnya penakut, tetap saja penakut.”

***

Setibanya di markas, Iki masih belum datang. Kami mulai resah.

“Repot juga ngedidik tu anak.” ucap Isep Martin.

“Kan sudah saya bilang, mending gak usah bawa Iki.” timpal Toke.

“Tapi kalau sudah marah, ia benar-benar tak mengenal ampun.” jawab Sandi Abah.

“Tapi sulit sekali membuat ia marah. Kita hanya sering membuat dia takut.”

Kami pun terus menunggu kedatangan Iki, hingga pagi.

“Apa tidak sebaiknya kita cari saja?” usul Erwin.

“Mau cari ke mana?” tanya Isep Martin.

“Ke rumahnya. Siapa tau ia sedang nyenyak tidur.”

“Ayo” timpal Sandi Abah.

Setiba di rumahnya, benar saja, motor yang dikendarai Iki tadi malam sedang terparkir di depan rumahnya. Sandi Abah mengintruksikan Toke agar balik kanan. “Apa gak sebaiknya kita masuk dulu? Kita bikin perhitungan dengan dia.”

“Nanti saja kalau dia ke markas.” Jawab Sandi Abah singkat. Kami pun kembali lagi ke markas.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !