LDS: #10 Masa Peralihan

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Enak yah jadi lo, Dri, semua orang menghormat.”

“Iya. Andai kakek gue juga dulu punya ilmu, pasti ilmunya nurun ke gue.”

“Dri, lo suka dikasih berapa kalau jawaban lo untuk masang benar?”

“Iya, Dri. Kali-kali traktir donk!”

Di atas genting ini, aku masih khusu menatap langit. Kelap kelip cahaya kecil akan berarti jika berada di tengah hamparan kegelapan. Begitulah aku memaknai bintang.

“Dri, kenapa kita gak minta ilmu kebal aja ke kakek lo?”

“Oh iya ya. Kita bisa menguasai kampung ini lho, Dri!”

“Bukan hanya itu, tapi kita juga akan disegani oleh semua preman.”

“Ilmunya susah gak yah?”

“Coba aja dulu. Kalau nggak dicoba, mana kita tau!”

“Kakek lo dapat ilmunya dari mana ya, Dri?”

“Pasti dari ayahnya, atau kakeknya. Ilmu seperti itu tidak akan diberikan kepada sembarang orang.”

“Terus, apa kita akan dikasih ilmunya?”

“Kalau dari kakeknya langsung, sulit. Kita kan akan diajari Andri, iya gak Dri?”

“Dri! Bengong aja dari tadi. Ngomong donk!”

Aku bangkit dari berbaringku menghadap langit, lalu, “Pertama, aku baru diputusin sama Yulia. Kedua, Bapak aku baru di PHK. Ketiga, Ibu aku jadi sering marah-marah tak karuan karena Bapak di PHK. Jadi… aku ngajak kalian ke sini untuk menenangkan, bukan untuk membicarakan kakek! Mengerti?”

Erwin dan Fajar bangkit dari tidurannya.

“Serius loe?”

“Kapan Yulia bilang putusnya? Minta pelet aja ke kakek loe, supaya Yulia mau balikan lagi sama loe.”

Erwin menggitik Fajar.

Malam ini aku diajak Erwin untuk menemui Omnya. Katanya, Omnya punya obat menangkal penderitaan, yang senyata-nyatanya, bukan ilmu entah berantah yang selalu disarankan oleh Fajar.

Setelah tiba ditongkrongan Om Erwin, aku langsung disuguhi segelas air hitam. Sebelum diminum, aku menciumnya. Baunya tidak asing. Dahulu saat aku kelas lima SD, aku sering menemukan botol di saung kakek, dan disekelilingnya banyak kulit kacang; dari tiap botol biasanya selalu ada sisa seperdelapannya, dan dengan penasaran tinggi, aku meminumnya. Awalnya terasa pahit, tapi bikin penasaran; lagi dan lagi. Hingga akhirnya rasa pahit itu hilang, dan pikiran melayang.

“Ayo! Coba, Dri.” ujar Om Erwin.

“Emang itu apaan sih?” tanya Fajar.

“Hanya orang-orang susah yang berhak meminumnya. Yah, seperti kita-kita ini.” ujar teman Om Erwin.

“Aku juga lagi banyak masalah, Om. Di sekolah lagi banyak PR. Di rumah sering dimarahin mamah. Jadi minta juga, yah!” rengek Fajar.

“Kalau gitu kita kehabisan, donk!” ujar teman Om Erwin.

“Ya udah, beli lagi. Nih!” kata Om Erwin sambil merogoh sakunya, lalu memberikan uang kepada Erwin.

Saat diperjalanan, Fajar mengoceh. “Baik juga Om kamu, Win. Lain kali, sering-sering yah main ke sini!”

“Dri, gimana kalau uang ini kita belikan mie ayam aja. Gue laper.” ujar Erwin.

“Iya, sama gue juga. Lagian minuman tadi pahit banget, pasti yang murahan.”

“Namanya juga orang susah, Dri!”

“Lho, lho… kok gitu?” timpal Fajar seperti tak setuju. Tapi kami tak peduli.

***

Aku adalah cucu kesayangan kakek. Sejak kecil, aku sering bermain dengan kakek, dibawa ke mana pun kakek pergi. Alasannya sederhana, karena waktu itu katanya aku adalah cucunya yang pertama.

Kata orang-orang sekampung, kakek adalah orang pintar. Makanya banyak orang kampung yang mendatangi rumah kakek; hanya untuk bercerita atau meminta bantuan. Ketika orang-orang kampung bertanya kepada kakek, aku sering berada dalam pangkuannya, hingga aku dikultuskan sebagai pewaris keilmuan kakek.

Katanya, saat kecil aku sering juga ditanya nomor untuk masang togel. Dan ajaibnya, katanya jawaban dari mulutku selalu benar, dan kalau pun salah, hanya sedikit saja melesetnya. Aku tak ingat betul, tapi ingin ketawa juga saat mendengar ceritanya sekarang-sekarang ini.

***

Sudah hampir sebulan ini, ibu selalu murang-maring di rumah. Ayah hanya diam saja, dan sesekali kalau tertekan, ayah selalu bilang, “cari kerja sekarang susah Bu!” Kedua orang tuaku nyaris tak punya apa-apa lagi, uang jajanku pun sudah ditanggung oleh kakek.

Walau sekarang matahari sudah merekah dari arah timur, tapi aku masih belum punya kekuatan untuk bangkit. Lagian, untuk apa bangun, bila yang kusaksikan hanya pertengkaran dan pertengkaran?

“Andriiiii…! Bagus… Bagus… jam segini masih tidur. Terus aja tidur, sampai kiamat!”

Aku menyingsingkan selimut, tapi mata terus saja terpejam.

“Bapaknya sama aja… ngopiii terus, kerjanya tidak.”

Bapak batuk-batuk.

“Kenapa gak sekalian aja jual rumah ini, biar kita jadi gelandangan!” ibu tambah naik pitam, mungkin lagi M.

“Bu… kalau bicara jaga dikit kenapa. Gak enak didengar sama tetangga.”

“Pedulia apa kita sama tetangga? Biar… biar mereka tau kelakuan bapak!”

“Bu!” ayah membentak, tapi tak meneruskan ucapannya.

“Apa? Apa? Kita besok mau makan apa? Mau ngutang lagi? Maluuu… Pak!”

Prannggg…! “Ibu bisa diam tidak?”

“Oh oh, sudah berani sekarang pecahkan gelas? Pecahkan aja semuanya, biar ramai!” gerak langkah ibu seperti menuju dapur.

Prannggg…! Prannggg…! Prannggg…!

“Ada apa ini ribut-ribut?” terdengar seseorang dari luar.

“Perang dunia ke seratus tujuh puluh satu.” Teriakku dari kamar walau masih agak teler.

“Oh oh, sudah bangun yah?” tanya Ibu sambil menghampiriku ke kamar. “Kenapa itu matanya? Oh oh, mabuk lagi? Sudah punya banyak uang yah sekarang? Sudah bisa kerja? Coba ibu lihat matanya. Bagus yah…”

“Hehe. Ibu cantik kalau sedang marah.”

“Oh ohhh, sudah pintar merayu yah sekarang.” Blugg..! pantatku digebug.

“Hahaha”

“Ohhh enaakk..? Mau lagi?” Bluuggg…!

“Hahaha”

Bluuggg…!

“Ibu! Sudah!” teriak ayah. Mungkin ayah belum merasakan bagaimana enaknya pantat dicium tangan ibu.

***

Setelah istirahat, Agung cs tak masuk lagi kelas. Memang ini bukan untuk pertama kalinya; ia dan kawanannya sering pulang duluan lewat tembok belakang. Tapi kali ini disertai desas-desus yang menggegerkan. Konon, kawanan Agung bersiap untuk menyerang kawanan Topan. Agung cs diajak Mamang untuk masuk geng motor Gerdut (Gerombolan dari Utara), sedang Topan bergabung dengan geng motor Pertim (Perwira dari Timur).

“Pokoknya Gerdut dan Pertim itu musuhan, jadinya sering berantem.” ujar Wawan, penyebar desas-desus itu.

Semestinya sekarang pelajaran Bu Siti, pelajaran Sejarah. Namun katanya ia tak bisa hadir, dan memberikan tugas mencatat. Para wanita mencatat, sedang para lelaki khusu mendengarkan cerita Wawan di belakang.

“Emang gimana awalnya bisa musuhan begitu?” tanya Rendi.

“Ya katanya dari balapan. Saling senggol, terus saling menyalahkan.”

“Tau gak peristiwa Dago Menangis?” tanya Septian.

“Peristiwa Dago Berdarah, mungkin?” sanggah Wawan.

“Kalau peristiwa Dago Berdarah, itu perang antara Gerdut dan LDS (Legenda dari Selatan), tapi kalau istilah Dago Menangis, itu perang antara Gerdut dan Pertim.”

“Wah? Kapan?”

“Lima tahun lalu. Kalau peristiwa Dago Berdarah kan tiga tahun lalu. Intinya, Gerdut dan Pertim sudah lama musuhan. Sekarang sudah tidak perlu ada masalah, kalau kedua geng itu bertemu, langsung hajar!”

“Tapi kan Maman dan Agung menyerang Topannya direncanakan, bukan ketemu di jalan?”

“Kalau soal serang menyerang, biasanya itu soal daerah kekuasaan.”

“Loe tau darimana?”

“Kakak gue anggota LDS.”

***

Sepulang dari sekolah, aku, Rendi dan Ijonk ke tempat latihan dengan berjalan kaki. Aku melintasi lagi rel kereta, yang dulu biasa aku lalui bersama Yulia. Aku jadi ingat kembali saat kami lari-lari karena takut dikejar Maman, atau saat Yulia memakai pita warna biru langit dan dengan bibirnya yang imut, ia tersenyum. Kejadian itu memang sudah teramat jauh, karena aku tak bisa mengulanginya lagi.

Saat hendak melewati SMP Pasundan, banyak anak-anak yang berseragam SMP dan SMA berkumpul di luar.

“Dri, apa ini yang namanya perang?” bisik Ijonk.

“Mana aku tau! Tapi dari pada kena batunya, lebih baik kita cari jalan lain.

“Tapi Dri, tadi aku lihat Yulia lewat sini.” kata Rendi.

“Yang bener Ren?”

“Iya. Aku tau betul rambutnya.”

Aku terdiam sejenak. Kulirik Ijonk, dengan maksud meminta pendapatnya.

“Gue tau loe masih cinta sama Yulia. Sekarang loe buktiin ke dia, bahwa loe masih peduli. Terobos komplotan itu! Hajar bila ada yang coba-coba mengganggu! Loe kan sudah belajar gulat.”

“Jadi, aku sendirian yang harus menerobos mereka?”

“Kita bagi-bagi tugas. Loe berusaha untuk menjaga Yulia, gue jaga Rendi. Rendi kan gak bisa gulat, iya gak Ren?”

“Iya…”

“Okee… kalian tunggu di tempat latihan!”

Aku berlari menuju kerumunan anak-anak SMP dan SMA itu. Seperti terlihat dikejauhan, mereka sedang unjuk kekuatan. Ada yang saling melempar batu, ada yang mengayun-ayunkan tongkat, ada juga yang memutar-mutarkan bekas rante motor.

Aku berhenti sejenak, memerhatikan seorang demi seorang dari mereka. Tak ada satu pun yang kukenal, dan tentu tak ada seorang pun wanita. Lalu, ke mana perginya Yulia?

“Hei..! Loe anak mana?” teriak seseorang dari mereka sambil mendekat.

“Aku anaknya Bi Eem.” jawabku singkat.

“Loe jangan becanda!”

“Bang, lihat gak anak perempuan yang pakai seragam SMP, rambutnya segini, terus pakai pita warna biru langit. Kulitnya putih, pokoknya cantik lah Bang. Katanya tadi lewat sini.”

Si Abang SMA itu mengingat-ingat.

“Loe siapanya?”

“Emmhhh… mantannya sih, Bang.”

“Klo gue gak liat, loe mau apa?”

“Gak mau apa-apa, nanya doang. Makasih udah dijawab juga.”

“Tapi loe bukan anak Pasbar (Pasukan dari Barat), kan?”

“Bu.. bukan, Bang! Suer.”

“Ya sudah cepat sana pergi, daripada habis dihajar teman-teman gue.”

“Tapi Bang, aku harus lewat situ! Bisa diumumin ke temen-temennya Abang, kalau aku bukan anak Pasbar?”

“Lama-lama loe ngelunjak juga yah! Usaha sendiri! Sudah untung gak geu hajar juga.”

Dengan keberanian penuh, aku berusaha untuk menerobos pertempuran itu. “Jangan lari, bego!” Setelah beberapa langkah berlari, aku mendengar teriakan si Abang. Aku baru menyadari kalau aku lari, berarti aku disangka berdosa, dan kini ada empat anak SMA yang mengejarku.

Aku berusaha untuk berlari sekencang-kencangnya. Tapi lama kelamaan yang mengejar di belakang seperti makin mendekat. Aku berbelok ke bekas terminal yang cukup luas, lalu di sana aku berbalik ke belakang. Aku sudah belajar gulat, dan sekarang tinggal mempraktikkannya.

Aku terengah-engah. Dada kembang kempis. Keempat anak SMA pun sama. Setelah aku pasang kuda-kuda, keempat anak SMA itu mulai saling lirik. Kupandangi satu persatu wajah mereka. Mereka pun memandangku dengan tajam.

“Gue bukan anak Pasber,” ucapku, berharap dengan ucapan itu bisa menyelamatkanku.

“Peduli setan.” jawab salah seorang dari mereka sambil berlari hendak menerjangku.

“Kalau merasa jantan, satu lawan satu,” ucapku lagi.

“Jangan banyak cingcong!” secara serentak mereka pun menyerang.

Yang satu memukul, aku tangkis. Yang lain menendang, aku berkelit. Tangkis lagi, berkelit lagi. Tangkis lagi, berkelit lagi. Sesekali aku melakukan serangan balik. Hingga aku benar-benar terpojok. Tanganku pun sudah cukup sakit jika harus terus menangkis.

Beberapa pukulan serangan balikku sempat mengenai wajah mereka. Beberapa tendanganku sempat mengenai paha mereka. Tapi empat lawan satu bukan perkara mudah. Dalam latihan pun, aku paling menghadapi dua orang. Setelah tangan dirasa sudah lemah untuk menangkis, tanganku pun hanya kugunakan untuk melindungi kepala. Saat itu, berbagai pukulan dan tendangan mulai menghujam tubuhku, bahkan telingaku.

Mereka baru berhenti setelah ada yang meneriaki. Mereka pun lari entah ke mana. Aku tak merasakan apa-apa lagi, selain lemas.

***

Di ujung dusun, di bawah pohon randu dekat dengan saung kakek, aku berbincang dengan Erwin dan Fajar.

“Coba loe ikutin saran gue Dri, minta ke kakek loe ilmu kebal, pasti tidak akan begini,” saran Fajar.

“Klo beneran kakekku punya ilmu itu Jar, tanpa diminta pun, pasti kakekku bakal ngasih.”

“Jadi kakek loe cuma punya ilmu togel doang?”

“Yaaa… mungkin.”

“Jadi orang yang nyerang loe itu anak-anak Gerdut?” tanya Erwin.

“Tapi hari itu juga, anak-anak Gerdut nyerang Pertim.”

“Gerdut memang ada di mana-mana, aggotanya sangat banyak. Tapi ya gitu, mereka selalu kalah kalau satu lawan satu. Mereka sukanya keroyokan.”

“Apa ada dalam peraturan jalanan, kalau bertarung itu harus satu lawan satu?”

“Tidak ada sih. Tapi kita tidak ada apa-apanya kalau tidak ada orang lain.”

“Eh eh, itu siapa tuh? Kaya baru lihat.” ujar Fajar sambil menunjuk seorang wanita.

“Yang mana?” Erwin penasaran.

“Itu…! Wanita yang pakai kerudung biru.”

“Iya, baru lihat yah!”

“Caktik yah?”

“Iya.”

“Kalian tuh cocoknya sama tomat busuk. Kalau wanita seperti itu, cocoknya sama aku.”

“Ah, gila loe Dri.”

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !