LDS: #1 Awal Mula

Legenda dari selatan
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

Bandung, 1987.

Pada hari senin, jam sembilan malam, ada seorang manusia yang menangis untuk pertama kalinya di rumah sakit Nambo. Bayi itu ditimang-timang oleh ayahnya, yang lalu di telinga kanannya dibisikkan suara azan. Kelahiran baru yang langsung disambut oleh keluarganya, juga dunia.

Seminggu setelah kelahirannya, rambut si bayi dicukur, lalu dipanjatkan segala macam doa. Sebagaimana lumrahnya orang tua, mereka pun berharap si bayi kelak menjadi orang baik, yang dapat memberi mangfaat pada manusia lain. Setelah selesai memanjatkan doa dalam Bahasa Arab –yang sebenarnya mereka sendiri pun tak begitu paham artinya, hanya yakin semua doa untuk kebaikan-, mereka pun melanjutkannya dengan acara makan-makan.

Saat itu juga diumumkan, kalau si bayi diberi nama Andri Rusmawan. Nama adalah doa, maka si ayah memberi sedikit penerangan di balik nama itu. Andri berati anak baik, Rus berarti kaya, dan Mawan berarti dermawan. Jadi keseluruhan nama itu artinya: anak baik yang kaya dan dermawan. Tak jelas memang darimana akar kata dari nama itu, tapi yang penting, yang mendengarkannya percaya.

Semua tetangga yang mendengar nama itu pun manggut-manggut, lalu membayangkan jika kelak, saat si bayi sudah dewasa, akan menjadi orang baik yang kaya dan dermawan, seperti penerangan orang tuanya.

Menginjak usia sebulan, hampir tiap malam Andri menangis. Ayahnya mengira kalau Andri mulai diganggu setan. Ia pun langsung memanggil kakeknya yang sudah kesohor dapat mengusir setan. Namun ibu Andri menyangkal, dan berprasangka kalau Andri hanya pipis saja.

Dibukalah celana Andri oleh ibunya, namun nyatanya Andri tidak pipis, juga berak. Ibunya langsung menyangka kalau Andri ingin disusui saja. Digendonglah Andri oleh ibunya, dengan rencana akan disusui. Namun Andri tetap saja menolak, malah tangisannya semakin kencang. Ayah Andri semakin yakin, kalau Andri diganggu setan.

Malam sudah lewat pertengahannya, namun Andri tak juga berhenti menangis. Kakeknya mulai membakar kemenyan di sudut ruangan, sambil komat-kamit membacakan mantra. Setelah selesai membacakan mantra, Andri tak juga berhenti menangis. Kakeknya membacakan lagi mantra, hingga tiga putaran. Andri masih menangis. Kakeknya membacakan lagi, hingga ia menyerah, yang lalu menyimpulkan, “Andri tidak mau apa-apa, dan juga tidak diganggu setan. Ia hanya sedang ingin menangis saja.”

***

Andri tumbuh sebagai anak yang lucu dan imut, hingga tak jarang para tetangga mencubit-cubit pipi dan hidungnya. Bukannya pipi itu menjadi tembem dan hidungnya itu yang menjadi mancung, malah yang terjadi sebaliknya; pipi Andri mengempot dan hidung Andri pun mengecil.

Keajaiban lainnya, Andri kecil sempat dipanggil Enjum. Entah siapa yang mengawali, tapi panggilan itu sempat ngetrend di kampung Tanjung Sari. Tetangga-tetangga yang baru pulang dari pasar, tak segang-segang untuk menyapa Andri yang sedang bermain di halaman rumah; “Hai Enjum? Sudah makan apa hari ini?” Andri pun berlari ke dalam rumah; ketakutan.

Panggilan Enjum hanya berlaku sesaat saja, dari Andri sudah bisa melafalkan kata “ibu” sampai  ia tau bagaimana caranya menyusut ingusnya sendiri. Setelah itu, ia dipanggil sebagai Andri kembali.

Sekali waktu, disaat Andri sudah bisa kecing sendiri walau masih dipandu, Andri diajak ke pasar Banjaran oleh ibunya. Ibunya berhenti di tukang perabotan yang menggelar dagangannya di selasar pasar.

Ibu Andri memilah dan memilih piring yang dipajang di atas terpal. Setelah mendapat piring yang sesuai keinginannya, dengan harga yang cocok pula, uang dari dompet Ibu Andri berikan kepada Andri yang selanjutnya untuk diberikan kembali kepada si Mang tukang dagang. Setelah si Mang tukang dagang itu menerima uang itu, maka ia pun memberikan kembaliannya, namun malah langsung kepada ibu Andri.

Andri melihat ada sesuatu yang janggal. Kalau uang itu diberikan oleh Andri, maka kembaliannya pun harus mampir dulu di tangan Andri. Andri pun marah. Ibu Andri mencoba untuk mengulangi, dengan memberikan kembalian uang itu kepada Mang tukang dagang. Namun Andri kadung marah, dan tak ada jalan lain selain menuruti keinginan Andri selanjutnya.

Andri menginginkan si Mang tukang dagang itu ditampar oleh ibunya. Ibu Andri tentu menolak. Andri pun tambah berang, hingga ia guling-guling di jalan pasar yang becek dan bau. Mang tukang dagang menatap ibu Andri dengan iba, maka disuruhlah ibu Andri untuk menuruti kemauan Andri tersebut.

Dengan segan, dengan penuh perasaan dan menganggap keinginan bocah ingusan selalu di atas segalanya, Ibu Andri menampar si Mang tukang dagang itu dengan perlahan. Andri menjerit lagi, guling-guling lagi, menginginkan tamparan yang lebih keras. Ibu Andri menarik napas dalam-dalam, pasrah dengan keadaan. Mang tukang dagang pun mempersilakan pipinya untuk ditampar lebih keras lagi.

***

Menginjak usia yang ke lima, Andri suka sekali nongkrong di depan rumah; memakai kaca mata hitam, celana pendek dan kaos singlet. Tiap ada gadis yang lewat, Andri selalu bersiul, agar kekerenan dan sedikit kegantengannya dilirik, lalu dihargai.

Tak jarang para gadis itu pun terpukau, lalu mendekat hanya untuk mencubit pipinya yang sudah mulai kempot, atau mencomot hidungnya yang tak lagi mancung. Itu ketika perasaan Andri sedang baik, namun ketika perasaannya sedang jelek, ia selalu melempar siapa saja yang lewat dengan mainannya. Setelah lemparannya kena sasaran, Andri langsung bersembunyi ke dalam rumah.

Di satu pagi yang cerah, Andri menemukan botol minuman di dekat rumahnya. Dengan penasaran yang tinggi, Andri mengambil botol tersebut yang lalu dicium-cium baunya, diamat-amati gambarnya. Entah ada dorongan apa, Andri meminum airnya, yang lalu dimuntahkannya lagi. Andri merasa kalau minuman tersebut agak kecut dan berbeda dengan minuman yang biasa dibuatkan oleh ibunya, alias tak ada manis-manisnya.

Beberapa hari berikutnya Andri mendapati lagi botol yang serupa, kali ini di dekat saung kakeknya ketika ia hendak main di sawah. Andri sudah hafal bahwa rasanya tak sedap, tapi karena menganggap barangkali yang ini rasanya manis -terebih karena Andri pun sering melihat para pemuda sering meneguknya, maka Andri pun meminumnya lagi. Tapi lagi-lagi Andri memuntahkannya.

Hal tersebut tidak terjadi di kali ketiga.

Tiap sabtu malam para pemuda kampung Tanjung Sari yang menjomlo biasa mendatangi saung kakek Andri yang berada di tengah sawah, lalu minum-minum di sana. Mereka punya slogan: “mending lier ku arak daripada lier ku awewe”, dan mereka selalu menyisakan beberapa teguk. Tapi ada juga botol yang ditinggalkan dalam keadaan penuh, tapi warnanya sudah menjadi bening kekuningan. Tentu Andri harus berhati-hati dengan ranjau tersebut, karena itu air kencing mereka yang dimasukkan ke dalam botol.

Hari itu Andri sengaja datang ke saung kakeknya untuk mencari-cari sisa para pemuda jomlo itu. Andri mendapati beberapa botol, dan beberapa di antaranya terisi penuh. Andri sadar diri, hingga ia ambil tiga botol yang tinggal beberapa teguk lagi tiap botolnya. Setelah menandaskan satu botol, kepala Andri mulai merasai pusing, tapi tidak sampai berjalan sempoyongan. Setelah menandaskan botol yang ke dua, kepala Andri mulai merasai pusing, tapi tidak sampai berjalan sempoyongan. Setelah menandaskan botol yang ke tiga, kepala Andri mulai merasai pusing, tapi tidak sampai berjalan sempoyongan. Itu karena Andri sedang duduk, tidak sedang berjalan.

Tapi tunggu dulu, ketika Andri berjalan saat hendak pulang pun, Andri benar-benar tidak sempoyongan.

Perkenalkan, inilah sang Legenda dari Selatan.

***

Datanglah satu waktu ketika Andri dapat berbicara dengan hatinya sendiri, ketika ia bisa menilai mana yang menyenangkan dan mana yang menakutkan, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Ia pun seakan menjadi pusat perhatian dari lingkungannya, tingkahnya seakan menjadi petanda zamannya.

Bersambung…

 

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dan Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !