Lapar dan Kegigihan yang Tinggi

Judul : Lapar (Hunger)
Penulis : Knut Hamsun
Penerbit : Buku Obor Indonesia
Cetakan : Kedua, Juli 2013
Tebal : xxii + 284 hlm

SAVANA- Ada satu narasi bahwa, urusan perut teramat memengaruhi kondisi kesadaran seseorang atas tindakan yang dilakukannya. Sebagaimana kita ketahui bersama, ekonomi menjadi motif paling sering dijadikan latar belakang bagi seseorang melakukan tindak kejahatan. Dan bila dirunut terus, ekonomi pun menemukan salah satu akarnya: perut manusia.

Barangkali kita akrab dengan frasa dari pantun kuno, “Kenyang perut, senanglah hati.” Itu menunjukkan, terisi atau tidaknya perut manusia, bagaimana pun akan memengaruhi suasana hati kita. Ikhwal persoalan ini pun, tergambarkan dalam novel karangan penulis Norwegia ini.

Lapar adalah judul dari novel kesekian Knut Hansum. Novel ini menemukan muasalnya tatkala si penulis sedang dalam perjalanan dari New York ke Kopenhagen melalui Kristiania (Sekarang Oslo). Di atas kapal Thingvalla, konon, draft novel ini ditulisnya sepanjang perjalanan, lalu sesampainya di ibukota Denmark itu, ia menyewa kamar yang murah, kemudian sepanjang waktu lanjut menuliskannya, tanpa peduli makan, mandi, dan segala-galanya.

Oleh sebab itu, napas manusia yang tak memedulikan hidup dan terkesan tak terurus dalam novelnya ini, si tokoh “aku” itu, terasa dekat, sebab dari penjabaran bagaimana kisahnya ditulis, itu seperti merekam sebagain sisi kehidupan penulis dalam karir kepengarangannya.

Bila menariknya ke masa kini, perkara yang ada di novel ini tetap terasa dekat, terutama bagi mereka yang menyukai dunia tulis-menulis, dan memang menginginkan diri untuk menjadi penulis. Barangkali itu pula yang membuat penulis kita, Eka Kurniawan, teramat mengagumi karya ini, dan dengan yakin menempatkannya sebagai karya penting dalam memotivasi dirinya untuk terus menulis, seperti yang diceritakan dalam salah satu postingan di blog pribadinya itu.

Mengenai kisah novel ini sendiri, Lapar karya Knut Hamsum adalah serangkaian kegigihan pemuda, yang tak ditunjukkan ia dari kelas sosial mana, asal-usulnya, bahkan namanya. Sepanjang kisah kita hanya mengenalnya sebagai “Aku”.

Si “Aku” ini pun bisa dibilang pengangguran, ia pernah beberapa kali melamar pekerjaan, tetapi memperoleh penolakan, sehingga kehidupannya dekat dengan kemiskinan dan rasa lapar. Ia juga tak memiliki sanak saudara satu pun. Ia sendirian, sebatang kara. Namun, setengah mati ia menyukai menulis, dan menjadi penulis pulalah keinginannya sejak lama.

Setiap hari ia menulis, kendati perutnya tengah tersiksa, bahkan di tempat yang tak mengenal rasa nyaman, seperti pelabuhan yang sama sekali tak memberi rasa tenang di kotanya itu. Demikian gigihnya ia, bahkan sampai beberapa kali tulisannya ditolak oleh redaksi tempat ia mengirimkan karyanya, tapi obsesinya itu tak pernah padam. Sambil menelan rasa kecewanya, si tokoh “aku” ini akan pulang, untuk kemudian menuliskan cerita yang lain.

Dalam kehidupannya yang kerap terlunta-lunta di kota Kristiania, sepanjang satu musim gugur, walaupun semangatnya acap berkobar-kobar, tetapi ia tetap menunjukkan kalau ia sebenarnya manusia biasa. Tokoh ini menjadi terasa dekat, sebab di dalam perjuangannya itu, ia pun tak jarang mengeluh dan mengutuki Tuhan akan nasibnya yang melarat itu. Hal serupa bahkan ia manifestasikan dalam tindakan tak terpuji seperti merebut kue-kue dagangan seorang nenek, menipu seorang pelayan toko, bahkan hampir menggadai selimut pinjaman mahasiswa theologia, kenalannya.

Dan tindakan-tindakan gila tersebut, adalah disebabkan oleh rasa lapar yang menyiksa itu. Demikianlah, rasa lapar menjadi begitu akrab dengan tokoh kita ini. Ia menjadi penggerak serentetan peristiwa yang berkelindan dalam hidupnya. Lebih jauh lagi, seperti dikatakan dalam pengantar buku, bahwa apa yang terjadi dengan si tokoh ini bukan saja menimpa salah satu pemuda kota Kristiania ini. Hingga kini, barangkali bagi yang tengah atau telah melewati jalan panjang kepenulisan, mereka pun merasakan hal serupa yang dialami si tokoh “aku”.

Sebut saja ketika menunggu balasan redaksi berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, atau menderita kelaparan tak terperi berhari-hari, kehilangan naskah, merobek-robek naskah yang dianggap tak sesuai dengan keinginan, sampai mengalami kebahagian tiada tergambarkan ketika naskah tersebut diterima. Itu semua hampir pernah dirasakan semua penulis, tidak hanya oleh tokoh kita ini.

Lalu pada tingkatan paling ekstrem, serupa tokoh di buku, adalah mungkin tak memedulikan hal apa pun selain hanya menulis, menulis, dan menulis. Saat-saat seperti itu, menulis bak kebutuhan yang wajib dipenuhi, keberadaanya sepenting seseorang memang perlu menarik napas.

Namun, kebuntuan tentu saja tak mungkin terhindari. Dalam novelnya, Knut Hamsun pun menderakan ihwal ini tak berbilang sekali waktu. Ia menempatkan saat-saat hampir depresi tokohnya, tersebab tiada ide yang dapat dituangkan dalam kertas naskahnya. Hal tersebut diperparah, lagi-lagi oleh kondisi perutnya yang tak mendukung, ditambah ketika induk semangnya memutuskan untuk mengusirnya.

Tingkatan ekstrem lainnya, adalah ketika si tokoh-tokoh sampai merasa perlu mendatangi pedagang daging, dan dengan dalih ingin diberikan untuk anjingnya, ia meminta sepotong tulang. Tentu, yang ia incar dalam potongan tulang tersebut ialah sisa-sisa daging yang masih menempel di sisinya.

Ia memakan daging tersebut, tetapi alih-alih memperoleh kelegaan, tubuhnya justru kian tersiksa sebab perutnya menolak makanan tersebut, dan ia muntah-muntah dengan hebatnya. Namun, di tengah kesusahannya itu, ia tak berhenti menulis. Kegigihannya memang luar biasa. Dan ketika itu ia dalam proyek nashkah drama yang berlatar Abad Pertengahan-nya.

Sisi lain yang menarik, tokoh “aku” ini, kendati tengah dalam kesusahan yang membuatnya menderita, tetapi kepeduliannya terhadap orang di sekitarnya bisa dibilang terlampau baik. Sebut saja misalnya, ketika berhasil merebut kue-kue dari pedagang nenek tua, ia sempat-sempatnya menyisihkannya untuk seorang anak yang dilihatnya di dekat indekosnya.

Anak tersebut seorang tunawisma, dan di mata tokoh “aku”, teramat menyedihkan. Atau, di kesempatan lain, ketika kantongnya menipis, dan hanya menyisakan beberapa krone (mata uang Norwegia) sisa honor artikelnya, ia dengan sukarela memberinya pada seorang pengemis pria. Padahal dirinya pun tengah dalam kondisi kelaparan.

Namun pada akhirnya, kendati ia memiliki kegigihan yang teramat tinggi dalam mengejar mimpinya itu, angin lain menghinggapi di hari paling terpuruknya, sehingga ia mesti melupakan sejanak mimpinya, dan memilih untuk berlayar serta bekerja sebagai kelasi.

Begitulah, perjalanan tokoh “aku” ini. Selain isi dalam buku ini yang dapat terasa dekat, teknik yang dipakai penulis pun mendapat apresiasi yang baik. Sebab novel ini menjadi salahsatu pelopor dari pendalaman tokoh “aku” dengan kesadaran, penjabaran psikologis, dan penjiwaan yang dalam. Itu kemudian menjadi rujukan dari perjalanan seberagam penulis di belahan bumi lain.

Pada akhirnya, karya ini menjadi satu karya terpenting dalam hidup si penulis. Oleh karenanya, tidak berlebihan bila buku ini menjadi karya yang wajib dibaca bagi siapa pun, terutama yang menyukai dunia tulis-menulis. Rekaman jejak tokoh “aku” sedemikian menarik untuk diikuti, sebab ia menyangkut perjuangan, termasuk di dalamnya menyikapi kesendirian, dan seperti yang sering tertulis tadi, kegigihan yang teramat tinggi.

Tuliskan Komentarmu !