Laki-laki yang Ingin Bertemu Peri Gigi dalam Mimpi

peri gigi
Iluslator: Rizki Agustian

SAVANA- Dokter gigi itu menyuruhnya agar lekas pulang. Sebelum seseorang melihat apa yang ia genggam, anak laki-laki itu pun langsung bergegas mengayuh sepeda menuju rumah secepat yang ia bisa.

Belakangan memang banyak sekali orang mencari gigi susu. Bahkan, dalam berita koran minggu lalu, diberitakan seorang ayah nekat mencabut paksa gigi susu milik  anaknya yang tengah tertidur pulas, demi keinginannya untuk bertemu Peri Gigi.

Semua ini barangkali bermula dari kisah sang dokter gigi. Ia pernah sekali bermimpi bertemu dengan seorang Peri Gigi. Dalam mimpinya, Peri itu terlihat sangat cantik, melebihi kecantikan istri siapa pun di dunia ini. Senyumannya begitu nikmat dipandang sebab gigi-giginya yang putih berkilauan.

Dokter itu berkencan dengan salah satu Peri Gigi. Menyusuri taman yang entah di mana tempatnya. Semua nampak asing baginya. Ia melihat sungai-sungai yang mengaliri susu, pohon-pohon berbuah gigi dan lampu-lampu taman yang berbentuk seperti sikat gigi, lengkap dengan pastanya. Mungkin itulah yang dimaksud dunia peri gigi, tempat tinggal semua perempuan cantik yang rajin menggosok gigi.

Sayang, belum sempat jauh menyusuri taman dan berkenalan dengan peri-peri yang lain, dokter itu dikejutkan oleh suara ketukan pintu ruangannya. Seorang pasien datang hendak memasang pagar pada gigi anaknya yang gingsul. Tetapi, dokter itu melarangnya dan malah menyuruh mencabut sebagian gigi yang tak beraturan itu.

“Cabut saja beberapa, setelah itu bawalah tidur bersama,” ucap dokter gigi itu pada seorang anak yang datang bersama ayahnya.

Dokter meyakini apa yang telah ia mimpikan tadi pagi. Ia ingat betul pesan terakhir Peri Gigi sebelum ia terbangun dari mimpi, “Datanglah sesuka hati kemari, bawa gigi-gigi susu itu tidur bersama. Niscaya aku akan datang menghampiri.”

Pesan itu seolah menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan antara manusia dan peri. Seperti sebuah pilihan yang mestinya menguntungkan seseorang. Lantas sepanjang pasien yang berdatangan, ia selalu menceritakan pengalamannya bertemu Peri Gigi. Tak jarang, satu dua orang datang kembali menceritakan kisahnya sendiri.

Seusia anak laki-laki itu pergi, dokter gigi itu yakin bahwa peri gigi memang ada, tetapi tak jelas keberadaannya. Keterbatasan informasi mengenai hal ini pun tak membuat pupus keyakinan kebiasaan menanggalkan gigi, seperti melempar gigi bagian bawah yang lepas ke atas genteng paling tinggi, dan menguburnya jika yang copot gigi bagian atas. Konon, sewaktu-sewaktu bidadari yang sedang kebetulan lewat akan menemukannya dan menggantikan gigi-gigi itu dengan yang baru dan lebih besar.

Kini, anak laki-laki itu pulang dengan menggenggam gigi susu terakhir miliknya. Setelah beberapa hari yang lalu gigi itu membuatnya sakit. Ia pulang dengan sangat ceria setelah mendengar kisah lain tentang Peri Gigi. Peri-peri cantik yang selalu digambarkan dengan senyum manis di wajah itu seolah telah jenuh menunggu kedatangannya pulang ke rumah.

Anak laki-laki itu membayangkan akan bertemu dengan Peri Gigi, dan akan ada pengalaman yang membuatnya mantap menuju fase remaja, meninggalkan semua gigi susu yang gampang patah itu dengan cerita kisah pertemuannya dengan Peri Gigi.

Anak laki-laki itu sedikit menyesal sebab baru mendengar kesaksian Dokter Gigi itu. Kenapa tak jauh-jauh dulu ia mendengarnya, pada saat gigi susu pertama yang tanggal? Ia ingat betul bagaimana pisang molen yang dimakannya itu bekerja mematahkan gigi susu pertamanya, mengucurkan darah dan membuatnya terlihat seperti vampir di  serial kartun televisi.

Anak laki-laki itu bisa menceritaka ulang kisah pada teman-temannya di sekolah tentang Peri Gigi yang akan menjadi kekasihnya semalam saja. Hal yang ingin ia lakukan adalah menghabiskan waktu berduaan bersama Peri Gigi. Bagi kedua orang tuanya, itu tak jadi masalah. Ayah dan ibunya tak perlu cemas untuk melihat anaknya berduaan bersama peri. Toh, itu juga peri, tak pernah nyata di bumi. Hanya imajinasi, pikirnya.

Maka malam ini, untuk kesekian kalinya anak laki-laki itu tak lagi membuat lubang dan memendam giginya di halaman rumah. Tak ada perlakuan seperti itu lagi pada gigi susu ke 20 miliknya, sebab ia hendak bertemu Peri Gigi.

Sebelum anak laki-laki itu terbaring di tempat tidurnya, ia tak lupa membasuh wajah dan kedua tangan setelah selesai menggosokkan sikat di giginya. Ia melihat bayangan wajah tampan yang memantul di cermin. Senyuman manis yang tak satu pun perempuan akan menolaknya. Ia berani bertaruh, saat Peri Gigi itu datang dalam mimpinya, maka tak hanya satu peri saja yang menemaninya. Mungkin dua atau tiga, atau mungkin lebih dari apa yang ia duga.

Anak laki-laki itu merasakan udara keluar masuk begitu bebas lewat mulutnya, lubang bekas gigi depan yang tanggal tak acuh buatnya kurang percaya diri. Semua temannya pun telah mengakui, bahwa tak ada satu pun anak laki-laki yang memiliki senyuman seindah miliknya. Meski kini terdapat  jendela di mulutnya.

Ia terlelap setelah menyembunyikan giginya di balik bantal seperti apa yang dikatakan dokter, lalu melafalkan doa paling mujarab untuk bermimpi indah. Dua orang Peri Gigi akan datang menghampiri mimpinya, taksir anak laki-laki itu.

Esoknya, di hari libur sekolah, ia terbangun dan sadar tak menemukan apa-apa dalam tidurnya. Semua terlihat gelap. Seperti halnya ruangan tanpa cahaya. Anak laki-laki itu sedikit kecewa, sebab tak memimpikan apa-apa dalam tidurnya. Ia pun menduga-duga sebab ketidakberuntungannya bertemu Peri Gigi. Mungkin mereka tak sedang lewat dalam tidurnya untuk sekadar mampir dan meilhat gigi susu terakhir. Peri Gigi tak pernah ingkar janji, pikirnya. Ia mengenal sosoknya dari cerita ke cerita. Tak mungkin mereka tak datang dalam mimpi.

Tetapi, setelah segala umpatan ia ucapkan di pagi hari, anak laki-laki itu mengecek kembali gigi susu miliknya, berharap tak ada yang salah dari tata letak yang mungkin penyebab dari kegagalan itu. Namun tak ada sebuah gigi di sana. Barangkali semalam terjatuh dan berada di kolong ranjang. Anak laki-laki itu pun beranjak mencari ke kolong ranjang miliknya. Ia tak ingin kehilangan gigi susu ke 20 itu sebelum sempat bertemu dengan seorang Peri Gigi.

Dicarinya lagi gigi itu di antara sudut-sudut ranjang. Pada selimut, guling dan bantal itu dikoyaknya satu persatu. Kamarnya berantakan. Usahanya sia-sia setelah tak ditemukannya gigi susu terakhir itu.

Anak laki-laki itu mendadak menjelma seperti perempuan yang habis kehilangan boneka kesayangannya. Hatinya tak setangguh sewaktu dokter mencabut giginya. Pagi yang cerah mendadak mendung di dalam kamar. Ia menangis dan menyesal sebab ia telah berjanji akan kembali pada Sang Dokter Gigi untuk berbagi cerita Peri Gigi yang ia miliki.

Anak laki-laki itu tak tahu harus berkata apa ketika sewaktu-waktu bertemu dengan dokter gigi. Tak mungkin ia berkata bila gigi susu terakhirnya telah hilang entah ke mana, padahal dokter itu sempat berpesan untuk menyimpannya hati-hati. Sehari itu, anak laki-laki itu tak banyak bicara pada orang tuanya. Seharian berada di kamar, mengurung diri seolah waktu tahu apa yang telah terjadi.

Tak ingin berlarut-larut dalam penyesalan, maka ia putuskan menulis sebuah pesan untuk Peri Gigi. Dalam secarik kertas itu, ditulisnya permintaan maaf atas apa yang telah terjadi, ia bahkan menyebut dirinya si ceroboh dan ingkar janji sebab telah menghilangkan gigi terakhirnya. Tak banyak yang bisa ia tulis. Hanya permintaan maaf yang diperuntukkan Peri Gigi serta sedikit keinginannya agar mau datang dalam mimpi. Ia pun berharap giginya segera tumbuh lagi, setelah tak melakukan apa-apa sebelumnya.

Surat itu di simpannya dalam bawah bantal lagi. Tetapi kali ini ia tak banyak berharap apa yang akan terjadi. Mustahil seorang peri sempat membaca keinginan seorang anak yang tak ia ketahui, apalagi mengabulkan keinginannya bertemu dalam mimpi.

Hingga pada akhirnya, malam itu juga ia bertemu Peri Gigi dalam mimpi. Seperti kisah sebelumnya, pakaian mereka serba putih. Anak laki-laki itu hampir tak bisa membedakan mana peri dan bidadari, yang ia ingat peri selalu mempunyai sayap kecil dipunggungnya. Entah di mana letaknya.

Peri itu duduk di sebuah kursi di taman. Ia bahkan tak menyangka bahwa sedang menyusuri taman. Melewati jalan setapak yang dipenuhi gigi sebagai gantinya kerikil. Mungkin anak laki-laki itu sedang terpukau melihat sungai yang mengaliri susu, hingga tak sadar ia tengah berada di dunia peri. Anak laki-laki itu menghampirinya, punggung indah bersayap kecil.

Ia pun tak ingin buru-buru mengganggu peri itu. Hanya dia yang terlihat tak melakukan apa-apa ketimbang peri yang lainnya. Peri-peri itu sibuk menanam gigi baru pada mulut anak-anak yang tertidur pulas. Anak laki-laki itu menepuk pundak Peri Gigi yang sedari tadi menyembunyikan kecantikannya. Tak lama sepotong wajah mendarat di matanya dan  “Haaahhh! ”

Anak laki-laki itu terbangun dini hari. Detak jantungnya berguncang cepat sekali. Separuh perjalanan mimpi bertemu peri terpaksa terhenti. Ia kalang kabut, setelah menemukan iblis menjelma peri. Tak ada senyum manis seperti kata dokter gigi. Hanya wajah seram yang dibalut pakaian serba putih. Ia tak lagi mau bermimpi, melanjutkan tidur pun tak berani. Entah sesuatu apa yang ia rasa sedang menjaga malamnya. Tetapi diam-diam tubuhnya lemas dan matanya terpejam tak lama setelah ucapan itu keluar dari mulutnya.

***

Pagi-pagi sekali, ibunya menemukan secarik kertas dan sebuah gigi di kamar anaknya yang sedang tertidur pulas. Ia mengambil dan membaca pesan dalam kertas itu. Sekurangnya begini isinya:

Lihat bagaimana potongan gigi terakhir itu. Anak laki-laki itu tak lagi bisa melihatku. Imajinasinya jorok seperti potongan gigi itu. Maka tak usah berharap bertemu. Sedang sebagian kisah dokter itu, ia pun sama halnya dengan anak itu. *tertanda Peri Gigi.

Ibu tak mengerti maksud pesan itu. Tak lama anak laki-laki itu bangun dan merengek meminta peluk ibunya. Menjelang siang mereka pergi ke dokter gigi lagi. Anak laki-laki itu meminta ganti rugi.

Baca Juga: Peremuan Hujan

Tuliskan Komentarmu !