Laki-Laki Tidak Menangis, Hanya Pria yang Melakukannya

arti tangisan lelaki
Ilustrator: Rizki Agustian

One of the most beautiful things in this world is seeing a man crying for righteous reason” –Esty Dyah Imaniar.

SAVANA- Sory saya nggak begitu jago bikin quote. Hehe. Tapi serius lho, menurutku, salah satu pemandangan paling indah di dunia ini adalah lelaki yang menangis karena alasan yang benar.

Emang ada alasan yang ngga benar buat menangis? Kalau ngomongin reason (alasan), menurutku nggak ada. Tapi kalau sebatas cause (sebab), bisa jadi ada hal-hal yang bagi kebanyakan orang nggak worth to cry (layak untuk menangis). Duh, gimana sih jelasinnya. Intinya, sebenarnya nggak ada alasan buruk buat menangis, bahkan ketika penyebabnya tampak begitu receh.

Misal nih, seorang lelaki menangis karena laptopnya hilang. Buat beberapa orang, mungkin dia dianggap cengeng, “gitu aja nangis, nggak laki banget!” Ya, soalnya orang-orang itu cuma bisa melihat sebab (cause) si cowok nangis, yaitu kehilangan laptop yang kesannya material banget. Mereka nggak bisa melihat alasan (reason) air mata itu mengalir, yaitu kehilangan hal-hal nonmaterial di dalam laptop itu.

Padahal itu baru soal laptop yang (apalagi kalau mahal) buat beberapa orang worth to cry. Apakabar sama lelaki yang menangis waktu nonton film, apalagi drama Korea? Wih bisa dipastikan doi auto-dilabelin bencong sama teman-temannya. Seolah ketika lelaki menangis karena melihat penderitaan orang lain seperti itu, dia langsung kehilangan kelelakiannya.

Wiiih, sejak kapan menangis jadi atribusi non-lelaki? Yhaa, sejak society told us (masyarakat memberitahu kami).

Coba diinget-inget, atau diamati lah di sekitar kita, sejak bayi sampe balita, menangis adalah sesuatu yang netral secara gender. Jumlah tangisan anak lelaki atau perempuan sama, dan dilakukan secara alamiah ketika perlu. Tapi pas puber dan konsep-konsep sosial seperti “laki tuh begini, perempuan tuh begitu” mulai dicekoki ke anak-anak, para lelaki mulai ragu, gengsi, bahkan benci untuk menangis.

Iya sih, secara biologis ada alasan-alasan yang menyebabkan perempuan lebih mudah menangis dan lelaki bisa lebih “menahan” tangisan. Tapi dalam kultur masyarakat kita, stereotip sosial tetap jadi koentji utama kenapa lelaki tidak bisa dengan nyaman menangis.

Sebab, ‘konon katanya’ lelaki itu nggak boleh menangis. Apalagi cuma karena nonton sesuatu yang nggak ada hubungannya sama hidup dia. Padahal mah kalau kata Psikolog, manusia (mau itu perempuan atau laki-laki) yang mudah tersentuh ketika melihat kesedihan orang lain, nggak menunjukkan kalau dia itu feminim apalagi bencong. Dia cuma dianugerahi empati yang cukup besar sebagai manusia.

“Ah elah, tapi itu kan cuma fileem. Lebay banget deh ngomongin empati segala!”

Lha ya emang aturan mainnya begitu. Kemampuan empati manusia memang bisa dan akan semakin terasah kalau sering terpapar kesedihan atau penderitaan orang lain, meskipun cuma via gambar (ini ada risetnya, bisa banget dibaca di bukuku *ehm promo).

Bagi manusia-manusia yang kamu sebut berhati lembek itu, menonton berita-berita bencana alam dan kecelakaan belakangan ini akan membuat mereka auto-nangis. Meskipun mereka bukan siapa-siapanya korban, kenal juga enggak, bahkan secara jarak bisa jadi sangat jauh.

Kalau mau dipikir lebih serius lagi, menangis adalah dasar moralitas dan produk budaya ekslusif manusia. Ini bukan kataku, tapi kata Michael Trimble, profesor Inggris di Institute of Neurology London. Soalnya hanya manusia lah makhluk hidup yang bisa menangis karena alasan emosional (psikis) dan ngga cuma fisiologis.

Makanya, kata Pak Trimble ini, tangisan emosional baiknya terhubung dengan konsep kesadaran diri dan pola pikir. Misalnya nih, hanya dengan kesadaran kemanusiaan universal lah seseorang bisa nangis melihat berita kecelakaan pesawat. Meskipun nggak punya hubungan apa pun, cuma nonton di televisi, tapi mereka bisa merasakan kesusahan, penderitaan, kesedihan dan kehilangan orang lain.

Sayangnya kebanyakan kita, terutama lelaki, masih takut buat menangis. Padahal mah kalau mau menangis ya menangis aja, seremeh apa pun alasannya. Justru mestinya takut kalau udah nggak bisa nangis saking batunya hati kita.

Oh ya sebenarnya pengen banget ngebahas kalau Rasulullah pun sering menangis di depan umum, di depan teman-teman lelakinya, tanpa harus merasa gengsi apalagi disebut banci. Atau tentang sahabat Nabi favoritku, Umar bin Khattab, yang disebut-sebut sebagai Singa Padang Pasir saking gaharnya beliu, tapi juga nggak gengsian buat nangis di depan umum. Tapi pasti manteman udah sering membaca itu. Nah, tinggal kalian-kalian para so called masculine men (disebut pria maskulin) jaman now, mau meneladani lelaki-lekaki kece itu atau enggak?

Oh ya, btw, tangisan lelaki bisa jadi penentu kualitas peradaban lho. Aku lupa baca di mana, tapi dulu sebelum umat muslim diserang (zaman kekhalifahan siapa juga aku lupa, hiks), mata-mata lawan mengecek kualitas negara itu dari tangisan lelakinya.

Pas pertama kali survei, ketemu anak kecil nangis. Waktu ditanya kenapa menangis, katanya “Akutu sedih nggak diizinkan ikut perang.” Akhirnya mata-mata itu balik jiper duluan sama si bocil. Nah pas doi kembali lagi beberapa waktu kemudian, ketemu lah dengan pemuda yang lagi nangis. Waktu ditanya kenapa, katanya “akutu sedih habis ditinggal cewek.” Nah, langsung deh si mata-mata nangis bareng, eh maksudnya kirim kabar ke bosnya buat nyerang negara itu.

Apakah ini berarti menangisi perempuan adalah termasuk tangisan nggak bermutu seorang lelaki? Ya diliat dulu sih konteksnya. Lha wong Rasulullah s.a.w yang kualitas keimanan dan kemanusiannya nggak perlu dipertanyakan aja masih perlu menangis, sampai dihibur “Piknik ke Langit” lho waktu ditinggal perempuan favoritnya. Apalagi kalian kalian, ya kan?

Jadi, nggak usah sok gengsi anti nangis-nangis club gitu deh cuma biar dibilang laki. Nggak usah manja juga. Kalau emang belum punya bahu buat bersandar, ya setidaknya kan masih ada sajadah untuk bersujud. 🙂

Tuliskan Komentarmu !