Kurban dalam Kacamata Sosial

idulkurban
sumber gambar: kabarsalmanitb.com

SAVANA- Sejarah telah mencatat bagaimana Ibrahim a.s demi keyakinannya pada mimpi, siap menyembelih Ismail a.s, anaknya. Ismail a.s pun, demi kepatuhannya kepada orang tua, berdasarkan keyakinannya juga, tak keberatan untuk disembelih ayahnya.

Contoh-contoh dalam sejarah memang selalu “terkesan mengenaskan”. Sepenggal hidup yang tak lazim terjadi. Dari Adam a.s ‘diusir’ dari surga ke bumi, hingga kini, 10 Dzulhijjah, selalu hadir pola hidup yang tak kenal batas logika. Sejarah sudah semestinya bisa mendewasakan hidup manusia.

Namun manusia tak hentinya terus mencari. Pencarian manusia nampaknya tak akan pernah mengenal batas final, karena semakin manusia mencari, semakin banyak juga diksi yang akan ia jumpai. Tak hanya banyak, tapi sering juga saling mengecam, dan memang tak ada yang lebih baik dari itu, agar mencari tak kehilangan esensinya, dan tetap menjadi fitrah manusia.

Setiap tahunnya, umat manusia seakan diperintahkan  untuk terus mengingat sejarah, yaitu ketika Ibrahim a.s diperintah untuk menyembelih anaknya, Ismail a.s. Tak ada sejarah yang terulang, maka manusia pun selalu memaknai sejarah dari sisi yang berbeda.

Ada sisi lain yang menarik untuk ditelisik. Saat Idulkurban, hampir setiap kalangan bisa mencicipi daging, yang bila menggunakan kantong sendiri, tak terbeli. Kata “berbagi” menjadi begitu indah dan menjanjikan.

Di daerah pelosok, Idulkurban kadang terlihat sepi. Rezeki yang kadang selalu memihak pada orang yang sama, memaksa para petani desa tak bersuara banyak saat idulkurban. Saat ada yang hendak berkurban pun, harus puas dengan satu ekor kambing yang akan dibagikan untuk satu kampung. Tak masalah kebagian satu tusuk sate, karena yang digaris-bawahinya adalah kata berbagi.

Sebenarnya, berbagi adalah hal yang sangat lazim terjadi di pedesaan. Maka, berbagi menjadi hal yang lumrah dan bukan sesuatu yang “wah”. Hitungan soal besar dan kecil, tak masalah, karena manusia punya kemampuan yang berbeda-beda.

Para petani desa suka berbagi hasil panennya kepada para tetangga, jagung, mentimun, kacang tanah, singkong, hingga biji nangka yang sudah direbus.

Jika berbagi sudah menjadi hal yang tak lazim, maka berbagi menjadi sesuatu yang “wah”, dan bisa saja begitu diagungkan. Hingga akhirnya akan menimbulkan kesan “dibesar-besarkan”.

Tjokroaminoto sempat menulis dalam buku Sosialisme dalam Islam, bahwa  Islam sudah merancang kehidupan yang ideal untuk umat manusia, itupun jika manusianya tak terlalu naif dan menampik. Idulkurban hanyalah menjadi contoh bagaimana rasanya hidup dengan berbagi.

Yang lebih heroik, Ismail a.s dengan ketundukkan dan ketabahannya, bersedia mengurbankan dirinya sendiri, bukan sesuatu yang di luar diri.

Jika  saat Idulkurban merasa senang karena sudah berbagi, kenapa di lain hari lupa?

Tuliskan Komentarmu !