Kucing-Kucingku Malang

kucingku malang.

SAVANA- Suatu sore menjelang maghrib, ketika aku hendak pulang ke rumah, seseorang yang tidak kukenal mencegatku dan berkata bahwa kekasihku tidak lama lagi akan pergi. Dia pasti bicara ngawur karena saat itu aku sedang tidak memiliki seorang kekasih pun. Lagi pula mengapa tiba-tiba dia mencampuri urusan hidupku? Hanya orang gila saja yang tiba-tiba bicara begitu seolah-olah dia tahu apa yang akan terjadi dalam hidupmu.

Aku terus berjalan, tidak menghiraukan perkataannya, berpikir untuk segera tiba di rumah, lalu mandi, dan beristirahat setelah seharian lelah bekerja. Orang itu memiliki pandangan mata tajam, pakaiannya lusuh dan usang seakan tidak pernah diganti.

Setahun berlalu. Aku bertemu seorang perempuan bernama Lisa dan menikah dengannya. Aku pun teringat kembali perkataan orang itu, ketika pada suatu hari setelah tahun kedua pernikahan kami, Lisa benar-benar pergi meninggalkanku, menjauh dari kehidupanku.

***

Di sampingku kini terbaring seekor kucing berbulu hitam dengan belang putih di bagian perutnya. Seekor kucing yang manis dan jinak. Dia datang pada suatu sore ketika aku baru menempati rumah yang kutinggali bersama istriku, Lisa. Aku sangat menyukai seekor kucing, begitu juga Lisa. Namun aku selalu melarang Lisa memelihara seekor kucing, meskipun aku tahu Lisa sangat ingin memelihara seekor kucing dan bersikeras agar aku mengizinkannya. Hingga seekor kucing datang padanya, begitu jinak, membuat Lisa melonjak kegirangan. Lisa membopongnya dan mengelusnya lembut seraya membawanya ke hadapanku.

“Kucing yang manis, bukan?” tanya Lisa mengalihkan perhatianku dari buku yang sedang kubaca. Lisa membelai mesra kucing itu, membuat matanya terpejam keenakan, dan suara napasnya terdengar lebih keras.

“Dari mana kau dapat kucing itu, Lisa?” balasku spontan. “Bukankah aku sudah berkali-kali peringatkan kalau sebaiknya kita tak usah memelihara kucing di rumah ini? Kenapa kali ini kau membawanya ke hadapanku?”

“Baiklah,” kata Lisa cemberut. Tangannya masih membelai mesra kucing itu, membuatku merasa agak cemburu. “Bagaimana kalau kita taruhan saja, Mas? Begini, sekarang aku akan melepaskan lagi kucing ini, kalau dia kembali lagi ke sini, kau tidak boleh menolaknya, Mas.”

“Lisa, tidak bisa begitu!”

“Kenapa, Mas? Kenapa tidak bisa?”

Lisa pergi, merasa jengkel dan melepaskan kucing itu yang mengeong dan melangkah pelan entah ke mana. Saat Lisa lewat di depanku, dia nyelonong saja, masuk ke kamar mandi. Kemudian terdengar suara air keran mengucur keluar.

Kupikir Lisa sedang mandi. Dia bersiap-siap akan pergi bersamaku ke pantai, tempat dulu kami bertemu, kemudian tiga bulan setelahnya kami menikah, meski setelah dua tahun berlalu, Lisa belum juga mengandung. Bukan karena mandul atau apa, tetapi karena Lisa masih belum ingin memiliki bayi dan kupikir tak sepantasnya aku memaksanya, sebab toh aku sependapat dengannya.

Sebagai gantinya, Lisa mendesakku agar kami memelihara seekor kucing, satu-satunya binatang kesayangannya selain anjing. Dia tahu kami tidak boleh memelihara anjing, mengingat tetangga kami Muslim, bisa jadi akan cukup mengganggu mereka seandainya kami memelihara anjing di rumah.

Lisa keluar dari kamar mandi dengan handuk menutupi tubuhnya. Ketika dia lewat di sampingku, sebelum masuk ke kamarnya, dia berkata sinis, “Anjing tidak mungkin. Masa kucing tetap tidak boleh, sih? Kan lucu!”

Aku tidak menanggapinya. Sejenak aku menoleh padanya yang tetap terlihat cantik meski wajahnya sedang sinis, kemudian beralih pada buku bacaanku.

Dari dalam kamar, kudengar Lisa berkata, “Hei, jadi ke pantai kan? Apa kau tidak mandi, Mas?”

“Aku sudah mandi, Lisa.”

“Kapan? Seharian ini aku belum lihat kau mandi.”

“Kemarin. Memangnya kau ingin lihat aku mandi ya?”

Lisa diam. Akhir-akhir ini Lisa memang begitu. Agak cerewet kalau tahu aku jarang mandi.

“Apa kau mau aku mandikan kayak anak kecil?” tanya Lisa, tiba-tiba sudah berdiri di depanku.

Aku menoleh dan kulihat dia telah siap, mengenakan kaos biru muda kesukaannya bertuliskan BE WILD AND FREE yang kubelikan dan celana jeans biru, lengkap dengan sepatu Nike dan kaos kaki yang juga berwarna biru. Sejak aku mengenalnya, Lisa mengaku kalau biru muda adalah warna favoritnya, yang juga merupakan warna favoritku.

“Kau tahu Lisa, sebelum aku bertemu kamu, aku sudah bisa mandi sendiri.”

Lisa tersenyum. Tangannya meraih buku di tanganku dan menutupnya, lalu menaruh buku itu di meja. “Baca bukunya nanti lagi ya, Mas. Kita kan mau ke pantai, melihat senja.”

Aku bangkit, berjalan ke kamar dan mengambil jaket untuk bersiap pergi bersamanya.

“Rasanya aneh,” ujar Lisa melihat jaket yang kukenakan. “Setiap kali kita pergi, pasti jaket itu kau pakai, Mas. Jangan-jangan kau lebih sayang jaket itu daripada aku, Mas.”

“Ah, Lisa. Jangan ngaco begitu.”

***

Kami tiba di pantai. Tiba-tiba cuaca jadi mendung. Awan menghitam. Sementara itu kerumunan para pengunjung di pantai masih begitu ramai.

Lisa berkata, “Wah, di pantai begini enaknya minum kelapa muda ya, Mas.”

“Kau mau?” tanyaku, sedangkan aku sendiri masih ingin bermain air laut.

“Ya,” katanya, tersenyum. “Beli yuk, kita istirahat!”

“Baru saja kita sampai.”

“Ya sudah, main-main dulu sana sepuasnya. Rasanya, aku mau pergi…” balas Lisa lirih.

Sedang asyik bermain air laut, tiba-tiba hujan turun tanpa kompromi lagi. Orang-orang gaduh berlarian mencari tempat untuk berteduh. Warung-warung di pantai pun perlahan jadi penuh. Aku teringat Lisa, kemudian bergegas mencarinya.

***

“Mama, aku takut kucing. Kotorannya bau. Aku tidak tahan, Mama.”

“Jangan dekat-dekat sama kucing, Nak. Bukan cuma baunya, tapi juga bulunya. Mama takut kau sakit karena bulunya masuk ke hidungmu, lalu menempel di paru-parumu.”

Noni benar. Setelah kurang lebih setahun kepergian Lisa, aku didesak-desak orang tuaku untuk menikah lagi, dan jadilah aku menikah dengan Noni hingga kami dikaruniai seorang anak. Untuk mengenang Lisa, sengaja aku memelihara kucing di rumah, tetapi ternyata Noni dan anakku tidak menyukainya. Bahkan berkali-kali Noni memintaku untuk menjualnya.

“Kucing-kucing itu sudah lebih dulu ada di rumah ini, Noni. Aku tidak akan pernah menjualnya.”

Begitulah aku pun bersikeras agar kucing itu tetap tinggal di rumah kami. Namun, pada suatu hari aku terkejut bukan main melihat seekor kucingku mati. Mulutnya penuh busa, seperti diracun. Kemarin saja jelas-jelas mereka sehat-sehat semua.

Aku pun mencari Noni dan berkata dengan sedih, “Seekor kucingku mati.”

“Kalau mati tinggal dikuburlah,” balas Noni tanpa nada dan raut wajah sedih atau apa.

Aku hendak memarahinya, tetapi rasanya tidak baik. Lagi pula, toh aku sedang berkabung atas kematian kucingku. Kemudian, benar, aku mengubur sendiri kucingku yang mati itu.

Dua hari berikutnya, kucingku yang lain lagi-lagi mati dengan leher terputus.

Melihat bangkai binatang tak berdosa itu telah kaku di depanku, aku berteriak keras, “Noni! Kucingku mati lagi. Siapa yang membunuhnya? Apa kau tahu?”

Tak ada jawaban. Noni pasti mendengar suaraku, tetapi dia enggan bersuara. Sudah pasti itu karena kebenciannya pada kucing. Aku ingin marah dan menggamparnya, tetapi aku tak tega.

Aku mulai curiga, ada seorang pembunuh di rumahku. Sebisa mungkin aku akan mengawasi kucing-kucingku yang lain agar mereka selamat, sehat-sehat, dan tetap hidup. Kucing adalah binatang yang lembut, maka sudah sepantasnya mereka diperlakukan dengan lembut, bukan sebaliknya. Sebenarnya manusia juga lembut, meski terkadang sifat lembutnya tertutup jelaga hitam yang tebal.

Suatu malam berikutnya, tepat tengah malam, ketika lampu-lampu rumah telah dimatikan dan seharusnya semua orang di rumah sedang terlelap, aku berjalan dengan penuh hati-hati, mirip seorang pencuri, dan tampaklah pemandangan itu. Adegan pembunuhan.

“Ya Tuhaaan, Noniii… apa yang kau lakukan dengan kucing-kucingku?” teriakku antara marah dan sedih.

Baca Juga: Perempuan Hujan

Tuliskan Komentarmu !