Kota Para Binatang

kota para binatang
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Sebelum peristiwa mencengangkan itu datang, kota ini baik-baik saja. Bahkan bisa dikatakan sangat tentram dan damai. Langit tampak cerah dan domba-domba berkejaran di sana. Padang sabana yang berwarna biru muda dengan gembala dan domba yang ramah bagi manusia di bawahnya. Pertanda bahwa hari akan baik-baik saja, tak akan turun hujan. Setidaknya manusia tak perlu merasa repot karena harus menyiapkan payung atau pun jas hujan, juga mantel untuk menghangatkan tubuh.

Di halte, seorang laki-laki duduk termangu menunggu kedatangan bus antar kota -dengan mengenakan kaos berkerah dengan gambar buaya kecil di dada kirinya, juga celana jin dibalut dengan sepatu hitam. Ia merasa bahwa kota ini terlalu nyaman untuknya. Hal yang nyaman tak akan membuat seseorang berkembang. Nyaman juga berarti jalan di tempat. Tak bergerak. Perlu hal baru agar kehidupan manusia selalu berkembang. Begitulah makrifat kehidupan.

“Kau sungguh akan meninggalkan tempat, ah bukan, kota ini?” tanya seorang wanita bergincu merah muda. Dengan buih di ujung matanya, ia seolah tak percaya dengan apa yang telah diputuskan teman masa kecilnya itu. Sebab tak ada masalah berarti yang terjadi sebelumnya.

“Tentu saja,” jawabnya dengan enteng, seolah tak berpikir lagi untuk keputusannya. Namun matanya menatap tajam. Seolah meyakinkan lawan bicaranya.

Percakapan itu terjadi di sebuah cafe. Ketika keduanya bersua yang tak lain untuk mengucapkan salam perpisahan. Sebelumnya mereka telah membuat janji. Bertemu untuk yang terakhir kali sebelum entah kapan akan bertemu selanjutnya. Ah, tidak, tak tepat jika dikatakan sebagai pertemuan yang terakhir. Sebab pertemuan adalah sebuah puzzle, semakin lama dipikirkan, semakin cepat pula kita menyusun dan merayakan hasilnya.

“Bukankah di sini sudah menyediakan semua kebutuhan dan segala kenyamanan untukmu?” Lagi-lagi ketidakyakinan itu dipertanyakan kembali. Sebab, mustahil rasanya jika sebuah perpisahan dilakukan tiba-tiba. Pergi tak terelakan karena hal yang sama sekali tak masalah yang muncul.

Lelaki yang mengenakan kaos berkerah dengan gambar buaya kecil di dada kirinya itu melempar senyum untuk yang terakhir kali pada seorang yang telah dianggapnya sebagai bagian dari dirinya. Lantas meninggalkannya sendirian. Benar-benar sendirian. Meninggalkannya di kota ini. Tanpa kehadirannya. Tanpa sebuah pelukan. Hingga akhirnya ia sampai di halte tempatnya sekarang.

Di dekat halte, dua becak terpakir menghadap jalan raya. Seorang pengayuh becak tidur di kursi becak. Tubuhnya melingkar, tampak seperti seorang bayi yang kesepian. Memeluk dirinya sendiri. Lelaki di halte itu mengamatinya dengan seksama, dan mengantarnya pada kehidupan yang mencengangkan. Bahwa di kota yang riuh ini, masih banyak manusia yang kesepian. Terlebih mereka yang kesepian pada hatinya. Ia tahu benar bahwa suatu hal dilakukan dengan niat, tak lain untuk menyenangkan dirinya dan juga yang ia senangkan.

Lelaki itu memikirkan kesepian tukang becak itu. Ia melemparkan diri ke tempat antah-berantah agar sampai pada pikiran tukan becak. Dan tentu saja ketemu. Sebuah jalan yang diambil oleh tukang becak, yakni tak lain untuk membahagiakan orang yang berada di rumah. Orang yang disayanginya. Segala hal dilakukan, termasuk menyelami kesunyian dunia. Kesunyian yang sewaktu-waktu menggulung dalam pusaran kekosongan diri. Lelaki itu tahu, bahwa pengorbanan diperlukan meskipun harus menempuh jalan sunyi itu.

Pandangannya dialihkan ke sorot lampu lalu lintas. Berubah saban beberapa detik sekali. Serupa antrean, akan bergiliran menunjukkan diri. Dalam kepadatan lalu lintas yang tak seberapa, lampu itu berfungsi sesuai tugasnya. Tak membedakan sepi atau padatnya jalanan, akan tetap antre sesuai urutannya.

Namun, jalanan yang sebelumnya dibilang normal itu tiba-tiba sepi. Seketika jalanan kosong tak ada lalu lalang kendaraan, juga manusia yang melintas. Lalu matanya kembali menatap ke arah dua becak, masih dengan posisi sama. Tak ada perubahan berarti. Tapi jalanan sungguh berbeda. Sepi serupa tak ada kehidupan.

Seekor burung hinggap di atas halte, lalu berkicau. Dari suaranya terdengar kicauan burung perkutut. Lelaki itu melihatnya, burung sebesar genggaman anak-anak dengan bulu berwarna kecoklatan dihiasi aksen bergaris hitam. Burung yang dipercaya membawa kabar entah baik atau buruk. Disusul oleh beberapa burung lainnya berjajar di atas halte pada bentangan kabel listrik. Mereka sedang mengadu nyawa di jaringan listrik itu. Namun di sisi lain, mereka juga sedang mengirimkan kabar.

“Apa yang mereka lakukan?” tanya lelaki itu pada dirinya sendiri. Merenung dan menatap lekat burung-burung itu. Gumaman itu seakan menancapkan belati pada dirinya sendiri. Seketika pikirannya berubah kacau.

Ketika matanya beralih, muncul dua rusa berjalan dengan khusyuk. Berjalan sejajar serupa sepasang manusia yang kasmaran. Tingginya kira-kira sedada lelaki itu. Berbulu kecoklatan dengan tanduk yang berbeda motif. Rusa yang berada lebih dekat dengan lelaki itu bertanduk panjang dan bercabang. Dengan tiga cabang di tanduk kiri dan empat cabang di tanduk kanan. Serupa patahan ranting kering. Sementara rusa yang lain tak memiliki tanduk. Hanya benjolan hitam yang tak bisa disebut sebagai tanduk.

Hal itu menandakan bahwa ia yang berjenis kelamin laki-laki akan melindungi perempuan dari godaan laki-laki lain. Terlebih ketika ia adalah rusa, sebab setia adalah pekerjaan yang sulit. Rusa melambangkan kecerdikan manusia. Kesetiaan mengekor di belakangnya.

Serupa merpati yang tiba-tiba datang dan bertengger di tanduk rusa itu. Dua merpati. Seekor dengan lingkaran hitam serupa cincin di leher dan lainnya berwarna putih polos. Hanya mata dan paruh yang merah. Tapi dengan refleks rusa tak bertanduk menyeruduk dengan lembut kepala rusa di sisinya. Mengisyaratkan sedang mengusir sepasang merpati itu. Seperti seorang perempuan yang peka akan laki-laki. Tapi nahasnya, laki-laki tak menyadarinya. Malah dianggap menggangu.

Di belakang mereka disusul seekor singa dan segerombol jerapah. Tak ada rasa lapar bagi singa. Entah mengapa, sore itu, tak ada aungan. Singa tak bersuara dan tak berbuat banyak. Apa ia sedang melaksanakan puasa? Pikir lelaki yang mengenakan kaos berkerah dengan gambar buaya kecil di dada kirinya itu.

Sebuah puasa dan memimpikan kesunyian bagi binatang bukan hal yang lumrah. Mungkin hanya ular yang melakukannya. Setelah memangsa dan perutnya mengembang, ular-ular akan melaksanakan puasa yang cukup lama dan menempuh jalan sunyi di tengah hiruk pikuk kehidupan.

“Apa yang Tuan lakukan di sini?” tanya seorang lelaki. Ia pun kaget bukan kepalang. Bahkan saking kagetnya, tubuhnya terdorong ke arah belakang.

“Anda siapa?” lelaki itu balik bertanya.

“Aku penggembala seluruh hewan-hewan yang ada di hadapanmu ini,” jawab lelaki bertopi caping. Dengan mengenakan pakaian terbuat dari daun lontar. Seperti yang dapat kau bayangkan. Seseorang yang belum mengenal peradaban. Mengenakan pakaian sederhana yang diperoleh dari alam, “masih banyak yang segera menyusul.” Tiba-tiba gerombolan kera mengerumuni halte. Salah satu di antara gerombolan itu menempatkan diri di pundak lelaki bertopi caping.

Serombongan hewan muncul dari arah keluarnya singa dan jerapah. Kura-kura tua dari atau ia lebih mengenal dengan nama bulus. Puluhan burung merak berjalan berjajar serupa manusia yang sedang memamerkan busana. Angsa-angsa berbulu putih dengan anak-anaknya yang berwarna kekuningan. Seekor kijang dan juga hewan lain, seluruhnya seperti sedang melakukan migrasi. Kota berubah menjadi padang sabana. Tak bisa terelakan.

Bagaimana mungkin− pikir lelaki yang mengenakan kaos berkerah dengan gambar buaya kecil di dada kirinya itu− hewan-hewan buas itu digembalakan hingga sampai di tengah kota. Lelaki itu melompat ke punggung kuda dan mulai meninggalkan lelaki yang tengah berpikir keras itu sendirian. Benar-benar sendirian. Hanya suara-suara binatang yang menemaninya.

“Jika kau meninggalkan tempat ini, maka kamilah yang akan menetap di kota ini. Sebab, bagi kami, kota ini tak lain adalah rumah yang tepat untuk pulang.”

Lalu, plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu dari tangannya sendiri. Seekor cicak terlempar dari wajahnya. Meninggalkan ekor yang bergeleparan. Ia mengucek matanya. Sebuah bunga tidur mekar di kepalanya. Begitu rindang dan berkembang biak. Tiba-tiba pikirannya melayang pada perempuan masa kecil yang ia temui untuk terakhir kali di sebuah kafe. Lelaki itu mengurungkan diri meninggalkan kota dan bergegas menemuinya kembali.

Baca Juga: Penjaga Perpustakaan

Tuliskan Komentarmu !