Kisah Babil dan Desa Kelahiran

Kisah babil dan desa kelahiran
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Hembusan udara sore tadi seolah memaksa saya untuk kembali mengingat kisah Babil, Istana yang menjulang tinggi yang menembus kerumunan awan di langit. Begitu indah Istana Babil, pagar yang terbuat dari perak, lantai balkonnya dari zamrud, tak lupa air terjun yang menghiasi pada tiap taman di Babil. Cantik nian. Terbayang, penghuni Babil pastilah merasakan kebahagiaan juga kesenangan yang tiada tara.

Namun ternyata, semua itu hanya sekedar bayangan yang tersirat pada diri saja. Faktanya, tiada kebahagiaan juga kesenangan yang bisa ditemui pada Babil. Tiap orang di Babil, mereka selalu menampakkan wajah dan hembusan nafas yang seolah memberi sinyal penderitaan. Gemerlap kekayaan dan kenyamanan hanyalah suatu kefanaan saja.

Babil telah dihuni oleh manusia-manusia yang diliputi sifat sombong, takabur, juga serakah. Keserakahan telah merejalela di tanah Babil. Miris. Manusia berlomba membangun istana menembus langit tanpa pernah menyadari waktu dan sesama. Kaum miskin makin miskin, yang kaya makin jaya.

Akibat kelalaian dan sifat melampaui batas, Babil pun diratakan dengan tanah. Firman Allah telah dititahkan, sebuah takdir meski dijatuhkan, kiamat pun berkelemut di istana Babil. Istana lebur dengan tanah dalam sekejap. Para raja, ratu dan punggawa Babil terhisap bumi. Penduduk, ada yang selamat dan ada juga yang tidak.

Bagi penduduk yang selamat, mereka senantiasa menyesali hidupnya. Mereka terkutuk oleh Tuhan menjadi tuli dan bisu, entahlah suatu kata menjadi asing. Semua tercerai-berai, satu keluarga terpisah, ibu-bapak-anak mereka terpisahkan. Innalillahi, ini kutukan bagi Babil.

Melihat tanah yang sedang dipijak, saya teringat bahwa desa kelahiranku kini bernasib sama. Orang berlomba mendirikan istana yang megah untuk kepuasan dunianya. Orang-orang telah dikuasai keserakahan. Syahwat akan cinta uang telah tampak, mungkin ini prasangka. Orang satu dengan orang lain sudah malas membantu dan memikirkan sesama.

Pedesaan yang kini wujudnya menjadi perkotaan. Pesawahan ditimpa dengan perumahan, toko, bahkan mall-mall. Kemacetan sampai lah pada kampung yang sedang dipijaki ini, kampung Ciganitri.

Kebahagiaan memang diterima oleh kaum borjuis, lain halnya dengan proletar macam saya dan seorang peternak meri (bebek), kami terpaksa menjual meri-merinya karena lahan yang telah dimakan oleh ‘si kuning melayang’ (beko). Kami kebingungan mencari nafkah penggantinya.

Saya tidak bisa membayangkan kisah desa kelahiran di masa depan, dua bulan, satu bulan atau 3 minggu ke depan. Mungkin saya akan merasakan melonjaknya harga beras dari yang biasanya, atau mungkin menjadi asing di negeri pribumi. Entah. Selain dari itu, mungkin desa kelahiranku akan dikunjungi air kiriman dari istana yang dibangun itu. Istana yang lebih tinggi bangunannya dari bilik-bilik rumah warga.

“Keparat, Bajingan!” rasanya tidak sopan bila sampai keluar dari mulut saya untuk orang yang tega memperlakukan desa yang asri menjadi macam negeri Babil, karena memang orangtua saya tidak mengajarkan saya seperti itu. Yang saya harapkan mudah-mudahan orang yang dengan tega mengubah desa yang asri menjadi macam Babil diberi umur panjang, agar merasakan indahnya hidup.

Tapi di atas semua kesembrawutan ini, saya tetap ingin berdoa: Mudah-mudahan desa kelahiran tidak bernasib sama dengan Babil. Robbij’al hadza baladan aminan (Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa).

Saya teringat dosen saya pernah mengatakan bahwa adanya Qishah (kisah-kisah terdahulu) supaya kita bisa memetik ibrah atau pelajaran.  Mudah-mudahan kita semua termasuk kaum yang pandai memetik ibrah.

Tuliskan Komentarmu !