Ketika Sikap Kritis Mahasiswa Mulai Padam

mahasiswa harus kritis
Sumber gambar: zilbest.com

SAVANA- Saya senang melihat dan memerhatikan tingkah manusia dari waktu ke waktu, atau dari tempat ke tempat. Bukan tanpa sebab, tapi di sana saya melihat dan selalu membuat pertanyaan yang saya renungi dan saya coba telisik; apa yang membuat manusia berubah?

Ketika saya memutuskan untuk jadi ‘mahasiswa lagi’, resikonya adalah harus siap dengan perubahan iklim pergerakan mahasiswa hari ini. Harus siap dengan corak atau pun karakter mahasiswa yang berbeda dengan beberapa tahun silam. Dan saya selalu meyakini bahwa perubahan itu tidak serta merta, tapi juga didukung oleh lingkungan, sosio, ekonomi dan politik. Zeitgeist, demikian saya yakini. Jiwa zaman, semangat zaman yang ikut membentuk prilaku manusia.

Saya meyakini, saat kita mendaftar di salah satu perguruan tinggi, artinya kita sadar akan menjadi mahsiswa, yang posisi, peran dan karakternya berbeda dengan siswa. Menjadi mahasiswa jangan dimaknai sebagai ajang untuk menuju kenaikan status sosial. Jika hanya dimaknai sebatas kebanggaan semata, sedangkan kita abai terhadap peran dan karakter seorang mahasiswa, bukankah itu adalah cacian yang menghinakan?

Ada deklarasi secara tersirat saat kita menjadi mahasiswa, bahwa sejak kita mendaftar dan diterima di sebuah perguruan tinggi, maka mulai detik itu kita harus mengubah pola pikir, menambah jam terbang untuk membaca, mulai mengisi waktu luang dengan berdiskusi dan mulai mengasah kepekaan dan memperhalus perasaan.

Karakter yang harus mulai dibentuk oleh seorang mahasiswa adalah jiwa muda, semangat muda yang harus digelorakan, sebab usia 17 sampai 40 tahun adalah masa yang seharusnya produktif. Karakter selanjutnya adalah kreatif, progresif, dan benar-benar terdidik oleh disiplin ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan. Karakter-karakter ini harus dimunculkan, sebab peran dan tanggung jawab besar yang dipikul oleh seorang mahasiswa.

Perbedaan anak muda dan orang tua adalah, anak muda selalu maju ke depan apapun tantangannya, bagaiamana pun jalannya. Jika kemudian jalan itu salah, ia akan menjadikannya sebagai catatan, atau peringatan bahwa dikemudian hari, dia bisa mengkoreksinya. Orang tua saat akan melangkah, ia akan mempertimbangkan banyak hal, oleh karena itu jika dibandingkan kecepatnnya, tentu yang bergerak duluan adalah anak muda. Tentu ada bijaknya juga saat mempertimbangkan banyak hal. Yang keliru adalah terlalu banyak pertimbangan hingga membuat diri menjadi statis.

Tentunya masalah kehidupan dan masalah bangsa ini tidak akan ada habisnya, dan tugas mahasiswa untuk ikut serta dalam merumuskan dan memperbaiki. Dibutuhkan seni dalam menyikapinya, dan ini tidak lepas dari kreatifitas seorang mahasiswa.

Kreatif saja memang belum cukup, tapi juga harus menghadirkan progresifitas. Beban ini memang tidak mudah, tidak adil rasanya jika beban itu hanya ditangguhkan pada mahasiswa. Jika memandang secara emosional, memang benar, ini tidak adil. Tapi ingat, kita pun harus sadar, bahka kita kita anak muda. Mahasiswa adalah para pelanjut yang dititipi kepercayaan oleh kebanyakan masyarakat, sebab kita “sudah naik level” dalam pendidikan. Kita adalah Agent of iron stock yang dipercaya oleh masyarakat.

Oleh karena itu, adalah cacian yang menghinakan saat kita berbangga dan berleha- leha saat menjadi seorang menjadi mahasiswa, dan kita tidak sadar dengan peran dan tanggung jawab kita yang sesungguhnya, disaat masyarakat menaruh kepercayaan yang besar.

Hari ini, saya mulai mendapati gejala amnesia besar-besaran dari kalangan mahasiswa. Menjadi mahasiswa hanya sekadar mengikuti arus, konon katanya, “biarkan saja. Kita hidup mengalir bagikan air aja.”

Iya, jika air itu bermuara di samudera tentu bahagia, tapi bagaimana jika bermuara di comberan? Hidup bagai air bukan yang Tuhan kita inginkan. Bukankah sudah jelas dalm firmannya: “Sesunguhnya Allah s.w.t tidak akan mengubah suatu kaum sehingga kaum itu merubah dirinya.” Mengalir bagai air tidak lebih seperti bentuk keputusasaan.

Saya mencoba menelusuri, di manakah ‘syaraf’ yang bermasalah ini, sehingga menyebabkan mahasiswa amnesia? Saya baru mengira, adalah putusnya pengkaderan dan impotensinya organisasi mahasiswa internal dan eksternal. Organisasi internal seperti BEM juga memiliki tanggung jawab terhadap adik-adik mahasiswanya untuk selalu konsisten mengingatkan dan menyadarkan tentang peran dan tanggung jawabnya.

O iya, sepertinya ada yang lebih penting juga selain BEM, yaitu dosen. Kan sebelum jadi dosen, dulunya jadi mahsiswa dulu, maka bantulah edukasi si mahasiswa ini selain mengedukasi disiplin ilmu pengetahuan, tapi juga sesekali tampar lah betapa krusialnya peran dan tanggung jawab si mahsiswa ini.

Tuliskan Komentarmu !