Ketika Membaca Buku Terasa Seperti Menonton Film

doc pribadi

SAVANA- “Berbeda dengan para cerpenis umumnya di Indonesia, Dony Iswara memilih menyajikan cerita pendek layaknya potongan fragmen film pendek yang muram, senyap, dan  menggantung”. Itulah sepotong kalimat dari sinopsis di sampul belakang buku Seekor Anjing Ditabrak Honda Astrea Dini Hari Tadi. Buku tersebut merupakan buku kumpulan cerita pendek yang berjumlah 16 cerita. Judul buku tersebut berasal dari salah satu judul cerita pendek yang ada di dalamnya.

Sesuai dengan tulisan di sampul belakangnya, cerita-cerita pendek yang ditulis Dony Iswara terasa sangat muram, senyap, dan menggantung. Bahkan meski pada awal cerita narasi dan deskripsinya dirasa sama sekali tidak mencermikan kesan tersebut.

Salah satu ceritanya berjudul Kotak Perkakas. Pada awal cerita, dikenalkan Lucy, seorang perempuan yang dideskripsikan cantik dan modis, sedang mengendarai mobil sambil merokok. Lucy pergi ketika suaminya sedang bekerja, dan cerita tersebut menceritakan perjalanan Lucy pulang ke rumah.

Di perjalanan, Lucy sudah berencana bahwa ketika sampai di rumah, ia akan mengangkat jemuran yang tadi tidak sempat diangkat, membuat teh chamomile, dan duduk di teras untuk menikmati senja. Namun tiba-tiba, mobil yang dikendarainya tak bergerak. Setelah dicek, ternyata ban bagian depan bocor. Situasi sedang sepi saat itu sehingga tidak ada yang bisa dimintai tolong.

Lucy pun mengambil kotak perkakas yang terdapat di bagasi mobilnya. Merasa bahwa alat di dalam kotak perkakas tersebut tidak membantu, Lucy sadar jika ia membutuhkan perkakas lainnya, yaitu dongkrak. Ia kembali membuka bagasinya untuk mengambil dongkrak. Kemudian dituliskan “Dia memindah-mindahkan beberapa barang yang berada di dalam bagasi untuk menemukan dongkrak yang dibutuhkannya. Dia bahkan mengangkat kaki suaminya yang sedang terkulai tak berdaya, berharap dongkrak yang dicarinya tertindih di bawah kaki suaminya”.

Seperti itulah cara Dony Iswara memberi tahu arah cerita kepada pembaca. Pada cerita Kotak Perkakas, akhirnya diketahui bahwa di mobil tersebut Lucy tidak sendirian. Melainkan bersama dengan mayat suaminya yang diletakkan di bagasi. Cerita berlanjut dan diketahuilah bahwa tadi Lucy pergi ke kantor suaminya, yang ternyata kosong. Lucy malah menemukan suaminya dengan perempuan lain di sebuah hotel. Lucy murka dan membunuh suami serta perempuan tersebut. Kurang lebih seperti itu jugalah kemuraman di cerita-cerita lainnya.

Dari keenam belas cerita, terdapat satu cerita yang menjadi favorit saya, yaitu cerita pertama yang berjudul Perspektif. Perspektif menceritakan Bari, seorang karyawan yang merasa diikuti oleh seorang perempuan. Bari selalu melihat perempuan tersebut di mana pun ia berada. Di warung rames, tempat futsal, supermarket, bus, di seluruh tempat yang ia datangi.

Bari merasa perempuan tersebut sengaja mengikutinya karena menyukainya. Lama-kelamaan, Bari pun mulai menyukai perempuan itu juga. Setelah itu, font tulisan berubah menjadi italic. Ternyata font italic tersebut untuk mewakili cerita dari perspektif Winda, perempuan yang selalu bertemu dengan Bari.

Winda diceritakan sedang berdiri menunggu di sebuah apartemen, entah apartemen siapa. Kemudian ada seorang lelaki yang datang ke apartemen tersebut dan menghampiri Winda. Winda menampar lelaki itu dan membentaknya. Winda marah karena lelaki itu selalu mengikutinya ke mana pun. Winda mengancam akan melaporkan lelaki itu ke polisi. Setelahnya, Winda pulang dan menangis.

Font tulisan kembali normal seperti awal. Sudut pandang cerita kembali pada Bari. Diceritakan Bari sedang berjalan menuju apartemennya, dan melihat Winda. Dari situ diketahui bahwa lelaki yang ditemui Winda tadi adalah Bari. Kemudian dialog yang tadi ada pada perspektif Winda diulang kembali.

Namun ada yang aneh setelah adegan Winda menampar dan membentak Bari. Bukannya merasa bingung atau tersinggung, Bari justru merasa bahwa tadi Winda menyatakan perasaannya sukanya pada Bari. Cerita Perspektif pun selesai sampai di situ. Memberikan kebebasan pada pembaca untuk menafsirkan ceritanya sesuai pikiran masing-masing.

Setelah membaca beberapa cerita pendek di dalamnya, saya tidak berani lagi menebak-nebak bagaimana akhirnya, karena setiap cerita berujung pada plot twist. Saya memilih untuk menjadi pembaca yang tidak tahu apa-apa dan mengikuti permainan penulisnya.

Membaca cerita-cerita pendek di buku Seekor Anjing Ditabrak Honda Astrea Dini Hari Tadi rasanya seperti menonton sebuah film. Ketika membaca kata demi katanya, terbayang adegan demi adegan para tokoh. Ditambah lagi dengan pendeskripsian yang amat detail.

Misalnya pada cerita berjudul Tanah Kosong di Belakang Rumah Kami. Sang tokoh sedang bersiap untuk pergi. Dony Iswara benar-benar menuliskan apa saja yang dimasukkan sang tokoh ke dalam tasnya. Mulai dari senter, radio, dua kaleng leci awetan, hingga empat helai plastik kosong.

Gerak-gerik dari tokoh cerita juga dideskripsikan secara detail sehingga membuat gambaran tentang adegannya semakin kuat. Karena itu, perlu kiranya membaca sendiri buku Seekor Anjing Ditabrak Honda Astrea Dini Hari Tadi untuk merasakan sensasi membaca buku yang seperti menonton film.

Tuliskan Komentarmu !