Kepada Siapa Kuharus Mengadu, Selain pada Buku?

Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Lulus dari sebuah universitas swasta di Medan, Sumatera Utara, Marfen tak lantas bekerja di kota. Ia malah pilih pulang kampung, ke Air Haji, Sumatera Barat. Meski pun sebelumnya ada datang tawaran dari seniornya untuk kerja jadi wartawan di sebuah media online.

Di kampungnya, ia sepenuhnya ingin mewujudkan cita-cita semasa kuliahnya. Ia ingin terlibat langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa dengan caranya sendiri. Marfen semasa kuliah punya hobi baca novel. Pulang ke kampung Marfen bawa serta koleksi novelnya yang berjumlah 300-an buku; kumpulan cerpen dan puisi 100-an, serta buku lain berhubungan dengan sejarah dan budaya sekitar 50-an.

Ada sebuah kedai kosong di depan rumahnya. Di sanalah Marfen membuat rak-rak dan susun buku secara rapi. Buka perpustakaan kecil-kecilan. Meminjamkan buku-buku kepada remaja dan dewasa desa dengan cara menyewakan. Sebuah SMA tak jauh dari rumahnya jadi nilai plus usahanya itu.

Sudah dua tahun berjalan usaha Marfen. Menggeliat. Alhamdulillah, dapat menutup biaya harian. Makan Marfen sudah tak bergantung lagi dengan orangtua. Marfen yang membelikan Ibu beras dan lauk pauk. Rokok dan kopi Marfen juga berasal dari uang menyewakan buku. Juga, biaya paket gawai. Malahan Marfen bisa menambah koleksi bukunya. Itu berupa buku yang ia beli sendiri ke Padang dan donasi sejumlah teman semasa kuliahnya dulu.

Namun, sayang, kondisi itu tak diberangi dengan bidang lain. Bidang lain itu, adalah kegiatan Marfen menulis puisi dan cerpen. Sudah dua tahun Marfen menulis puisi dan cerpen. Namun, hanya sekali tulisannya dimuat koran-sebuah koran lokal di Padang.

Menunggu kabar pemuatan puisi dan cerpen yang tak berpihak. Rasa sepi pun sering datang menusuk sumsum. Sunyi yang tak karuan. Bosan. Marfen sering melamun jadinya. Lamunan itu dari satu peristiwa melompat ke peristiwa lain.

Lamunan itu seperti sejuknya angin di pantai. Sampai, selalu, menuju kepada Anggun. Segala yang indah-indah semasa ia kuliah dulu. Kebersamaannya dengan Anggun lebih tiga tahun. Perempuan Melayu yang bersedia jadi pacarnya karena membaca puisi-puisi yang ia sebarkan ke sesama teman kampus secara stensilan. Ia berpuisi maksudnya dulu menghindari gaya hidup hedonis. Jarang pergi ke kafe, bahagia sekali hari-hari Marfen bersama Anggun. Boleh dibilang, tak pernah mereka cek-cok.

“Apa rencanamu setelah lulus nanti Marfen?” kata Anggun pada siang yang terik di kampus, di pengunjung semester 7.

Berat Marfen menjawabnya. Sebab menyangkut sebuah cita-cita langka di kalangan mahasiswa. Kebanyakan mahasiswa ingin kerja di perusahaan besar atau jadi PNS setelah lulus.

Karena perempuan itu terus saja menggodanya -menyikutkan lengan kepadanya- seakan mengatakan ayo jawab cepat, Marfen akhirnya berkata jujur.

“Aku ingin pulang kampung,” jawabnya.

Ia pandang sekeliling. Ia lalu mendehem seakan menertawakan ucapan barusan. Tapi Anggun sudah percaya. Ya, perempuan itu selalu percaya kepada Marfen walau satu kata saja yang diucapkannya.

“Pulang kampung,” kata Anggun kaget. “Kamu pulang kampung sehabis kuliah?”

“Iya, Anggun.”

“Jauh-jauh kamu kuliah ke Medan cuma bercita-cita untuk pulang kampung,” kata Anggun sambil tertawa. Bahkan, terbahak.

“Tapi kalau boleh tahu apa pekerjaanmu di kampung ntar. Jadi pegawai kantor camat? Atau mencalonkan diri jadi kepala desa?” katanya lagi.

“Tidak, Anggun. Aku ingin membuka perpustakaan. Aku punya koleksi buku.”

Astagfirullah Marfen. Sebelum lulus, aku mau kamu pikir ulang rencanamu itu.”

Pada akhirnya, toh, mereka berpisah. Anggun memilih hidup di Medan dan bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Sementara Marfen, pulang kampung.

***

Kini nyatalah bagi Marfen begitu menyisaksanya perpisahan. Begitu kejamnya jarak yang memisahkan. Rindu. Memang sering rindu membalut hatinya. Andai dulu mau menerima tawaran seorang senior untuk kerja sebagai wartawan, tentulah Marfen sekarang masih di Medan. Terpenting, masih bersama Anggun.

Malam-malam Marfen sering terjaga dengan pikiran terus-menerus kepada Anggun. Mimpi-mimpi kacau dan mimpi-mimpi tentang perempuan itu sudah campur aduk. Memang ia masih simpan nomor Anggun, tapi tak pernah meneleponnya. Sikap enggan dan keras kepala lah yang menyebabkan itu. Di facebook ia sering stalking. Terakhir chat, Anggun jujur menyebut bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan teman kantor tapi hanya iseng.

Dan pagi ini, Marfen bermaksud berhenti menulis puisi dan cerpen. Evaluasinya sudah mantap. Ia memang tak berbakat di bidang puisi ataupun cerpen. Burung-burung pipit yang terbang kian ke mari di samping tokonya di antara ranting bunga-bunga, yang ia tengok lewat jendela toko, sudah tak lagi menggugah rasa keindahan dalam jiwanya. Langit begitu cerah.

Ia bermalasan-malasan saja di kursi kayu di dalam perpustakaan. Namun tiba-tiba, dadanya berdenyut cepat. Nadinya mengaliri darah begitu kencang. Ketika seorang perempuan datang. Perempuan itu bernama Dinda Nisa. Dipanggil Dinda. Salah seorang perempuan yang rutin meminjam buku di perpustakaan. Ia datang dengan maksud kembalikan novel yang dipinjam seminggu lalu.

Uda Mefen. Ini buku yang aku pinjam,” katanya sembari mengeluarkan sebuah novel pop dari tasnya.

Segera Marfen berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Dinda.

“Sudah selesai membacanya. Cepat benar,” katanya.

“Cepat bagaimana pula Uda Marfen,” kata Dinda sambil sedikit memanja. “Lambat malah itu.”

Bila Marfen tidak dapat mendustai hatinya, Marfen sudah bilang, bahwa ia suka dengan kata-kata Dinda barusan. Bahkan seluruh kata-katanya. Apalagi bila perempuan itu berkata sambil memanja, melambung angan Merfen ke langit nan biru.

“Ya, sudah,” kata Marfen. “Sini,” ia mengambil buku itu dari genggaman tangan Dinda. Segera ke meja. Membuka sebuah buku. Memberi kode di sana, tepat kepada judul buku yang dipinjam. Kode betul, alias sudah dikembalikan.

“Berapa aku harus membayar Uda Marfen,” kata perempuan itu.

Sedikit gugup Marfen, akhirnya ia berkata:”Ndak perlulah dibayar.”

Maksud Marfen memperlihatkan kebaikannya.

Ndak dibayar bagaimana pula. Sudah lama aku meminjam. Tahu-tahu ndak dibayar. Rugi nanti Uda Marfen,” kata Dinda

Sungguh, kata-kata yang terakhir itulah yang membuat hati Marfen nyalang. Niatnya untuk berhenti menulis puisi dan cerpen segera berguguran. Ia lihat ke depan, ke jalan yang sekali-kali kendaraan lalu-lalang, timbul inspirasi di kepalanya untuk membuat sekedar sebaris puisi. Dan, di samping toko, burung-burung pipit masih terbang kian ke mari di antara ranting bunga-bunga.

“Bayar sepuluh ribu sajalah,” kata Marfen. Ia memandang wajah ayu perempuan itu.

“Sepuluh ribu bagaimana. Tiga hari sepuluh ribu juga. Ini seminggu Uda Marfen,” kata Dinda, begitu lembut. Ia keluarkan uang empat puluh ribu dari dompetnya. Langsung meletakkannya di meja.

Melihat tingkah-laku perempuan itu, cara berjalannya, cara ia meletakkan uangnya, sungguh Marfen terpesona.

Tiba-tiba timbul sikap beraninya untuk bertanya sesuatu yang sangat pribadi. Sesuatu yang ia simpan dan tutup rapat di hatinya selama ini.

“Apa Dinda sudah punya pacar?” katanya.

Dan Dinda pun tertawa.

“Pacar pula kata Uda. Besok aku mau ke Padang. Kuliah dulu. Baru memikirkan pacar. Nampaknya Uda Marfen masih memikirkan yang jauh.”

Marfen kaget. Kok bisa tahu. Benar, kata hati Marfen. Tapi yang jauh itu berusaha aku lupakan. Sekarang aku mau yang di depan mata.

“Jujur sama hati Uda. Kalau Uda masih terkenang dengan dia. Turut dia ke sana. Jangan hanya memikirkannya, Uda. Galau nanti. Kapan perlu Uda tinggal di sana lagi,” belum sempat Marfen berkata, perempuan itu sudah pula membuka selimut hatinya.

Percakapan itu berakhir setelah Dinda menerima sebuah panggilan di hp-nya. Tersita oleh sebuah janji, ia pun harus buru-buru pergi.

Percakapan itu sungguh tak berpihak pada Marfen. Dinda mengatakan, ia mau kuliah dulu. Tidak mau pacaran. Sudah tamat baru memikirakan pacar. Kalau perlu langsung nikah.

Dan Marfen hanya bisa menghela napas. Harus rela melepas.

***

Sementara perempuan itu sudah sepuluh menit berlalu dari perpustakaan, Marfen membuka gawainya.

Ia ingin berpaling ke masa lampau. Ia ingin mengulang semuanya. Rindu. Ia ingin mengulang sayang.

Ia baca profil Anggun. Sudah bertunangan! Cepat sekali berubah sebuah profil. Seminggu lalu masih dalam status pacaran. Pacar yang disebutkan Anggun untuk iseng saja itu. Status terakhirnya, sudah mau foto prewedding saja. Lihat foto-foto Anggun dengan seorang laki-laki, tiba-tiba tulang-belulang Marfen terasa ngilu. Perih.

Lemas dan remuk. Marfen menghirup udara yang tiba-tiba terasa begitu pengap. Ia tekukkan kepalanya ke meja. Galau melanda sejadi-jadinya.

Tuliskan Komentarmu !

lahir pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Cerpennya sudah dimuat di Singgalang, Haluan, dan Rakyat Sumbar, dan takanta.id. Sekarang tinggal di Air Haji, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.