Kenapa PKI Harus Ditolak, Pak? Kenapa?

ciri-ciri pki
sumber gambar: nertalnews.com

SAVANA- Dulu, saya mafhumi pemerintah bisa sangar kepada PKI dan simpatisannya. Itu kan cuman balas dendam saja, karena jenderal-jenderal tercintanya meninggal dengan cara tak wajar di Lubang Buaya. Kalau sekarang, balas dendam soal apalagi? Apa soal kalah keren? Ah, tak mungkin sampai segitunya.

Maaf yah Pak, dulu saya sempat salah sangka. Dulu saya kira PKI itu anak kandung Pemerintah. Eh, nyatanya anak tiri yang tak tau diri. Tapi, Pak, masa sih harus ditendang terus biar dia ngerti? Kan kasihan juga. Kali-kali pakai cara halus, Pak, biar merasakan indahnya dicintai.

Gini Pak, soal alasan saya anggap PKI itu sebagai anak Bapak, karena dalam slogan demokrasi negara kita, saya temukan istilah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Itu kan PKI banget, Pak. Sebelas duabelas dengan ajaran Tan Malaka, “segala sesuatu itu dari benda, oleh benda, dan untuk benda”.

Andai dulu, yang dipakai itu istilah dari H.O.S Tjokroaminoto, “segala sesuatu itu dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah”, saya akan langsung mengira bahwa PKI itu emang anak haram. Atau karena sekarang lagi trendnya Pancasila, kita gunakan saja ideologi negara itu, yang berarti “segala sesuatu itu dari Tuhan yang Esa, oleh Tuhan yang Esa, dan untuk Tuhan yang Esa”, intinya bakal sama Pak, bahwa PKI emang anak haram.

Tapi bisa gak yah Pak, kalau demokrasi kita seperti itu? Soalnya saya sering merasa, kalau Bapak-Bapak di pemerintahan seperti fobia gitu terhadap kata Tuhan, apalagi kalau disinggung “aturan-aturan” dari Tuhan; ditertawakan seperti ada lucunya gitu.

Kalau Bapak mau tetap konsisten dengan slogan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”, maka jangan nafikan kalau PKI sebagai anak Bapak, kan arah perjuangannya hampir sama dengan yang Bapak cita kan. Arogannya saja mungkin yang sedikit berbeda.

Tadi pagi saya sedikit membaca tulisan Taufiq Ismail yang ditulisnya sekitaran Tahun 1995. Ia bercerita tentang teman-temannya yang mengaku PKI dan ateis. Taufiq sendiri kan jebolan HMI. Duh, Pak, gaduh sangat komentarnya. Tapi Pak, katanya, ada juga lho yang mengaku PKI tapi masih suka sembahyang, yang mengaku ateis juga katanya ada yang cuman buat gaya-gayaan. Intinya, PKI itu keren untuk pencitraan, tapi ideologinya gak harus paten. Jadi, Pak, jangan terlalu baper bila palu arit sekarang lagi laku dipasaran, itu ciri manusia yang ingin kelihatan keren. Soal ideologinya, coba Bapak tanya sendiri lah.

Soal buku yang dibakar, dari aspek mana pun, saya tak setuju, Pak. Sekarang coba Bapak nulis barang selembar atau dua lembar. Terus tulisan Bapak itu bagikan, bukan untuk dibaca, tapi untuk dibakar. Teriris hati saya Pak, walau cuman selembar dua lembar. Apalagi ini berbuku-buku. Kalau semua buku harus dijamin benar semua, Pak, siapa yang berani jamin? Manusia di dunia kan hanya untuk berusaha, bukan untuk menghinakan.

Jadi Pak, jangan terlalu menghinakan PKI. Bagaimana pun, dulu saya sempat anggap dia sebagai anak Bapak. Anak kesayangan malah. Ya kecuali kalau Bapak emang bener-bener mau menjadikan PKI sebagai anak haram, coba saja usulan saya itu terima –rakyatnya diganti dengan Tuhan yang Esa. Dengan begitu, PKI dan ateis sah menjadi pemberontak negara, tapi itu juga PKI dan ateisnya yang tulen, bukan yang jadi-jadian.

Kalau Bapak masih plin-plan, mungkin Bapak juga masih ragu terhadap Tuhan yang Esa. Ya kalau begitu, jangan apa-apakan PKI dan ateis. Masa Bapak mau larang-larang orang tapi Bapak sendiri lakuin itu? Masa yang lain gak boleh jahat tapi Bapak sendiri gak apa-apa kalau melakukan kejahatan? Kan bikin geli ya, Pak?

Usul saya yang terakhir, kalau bener-bener Bapak benci PKI dan ateis itu, maka ciptakannya ideologi dan lambang baru yang lebih keren. Kalau Bapak cuman larang-larang, tanpa menciptakan produk baru, bagi saya itu kesia-siaan, Pak. Tapi harus dipikirkan dengan matang juga produk baru itu, jangan sekali hantam langsung bubar.

Pesan terakhir kami, kasihan lho rakyat menderita terus, ketakutan terus, tapi Bapak inginnya senang terus, main hantam terus. Ingat usul saya yang kedua, “segala sesuatu itu dari Tuhan yang Esa, oleh Tuhan yang Esa, dan untuk Tuhan yang Esa”. Jangan nyinyir lho Pak, katanya benci PKI.

Baca Juga: Shaumnya Seorang Komunis

Tuliskan Komentarmu !