Kemuliaan Ilmu Terletak Pada Nilai Guna, Bukan Nilai Tukar

kemuliaan ilmu

SAVANA- Pada satu pagi usai salat subuh, salah satu orang yang saya kagumi dalam semesta ilmu pengetahuan, meminta saya untuk memijat punggungnya. Di tengah-tengah saat memijat saya bertanya, mengapa beliau memilih hidup biasa-biasa saja, jauh dari kemewahan? Padahal saya paham betul, kalau saja beliau mau, mobil dan rumah mewah sangat mudah didapatkannya.

“Kamu tahu orang macam apa yang memiliki pengaruh dan namanya dikenang sejarah?” beliau malah balik tanya.

“Tak tahu.”

“Ulama dan pemimpin revolusi.”

Saya hening sejenak. Saya berpikir, boleh jadi beliau memilih hidup biasa-biasa saja sebab yang diimpikan olehnya bukanlah kemewahan, akan tetapi kesejahteraan orang banyak. Dan jika melihat eksistensi dari negara hari ini sebagai ujung tombak kesejahteraan bangsa, belumlah dibilang menjalankan fungsinya dengan baik. Benar apa yang diucapkan Bung Karno bahwa revolusi belum selesai. Bangsa ini masih membutuhkan tokoh-tokoh revolusioner.

Apa beliau bermimpi menjadi seorang ulama atau tokoh revolusi? Entahlah, yang jelas saat itu beliau tengah mengisi materi dalam Sekolah Agraria yang diprakarsai oleh Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Materi-materi yang digagas dan dipropagandakannya adalah mendidik kesadaran kolektif generasi muda untuk peduli terhadap sumber daya alam yang berdaulat dan menentang segala pengrusakan sumber daya dan kelestarian alam.

Ilmu atau ilmu pengetahuan (science) berada dalam resonansi dan cakupan gelombang dari ayat pertama yang disampaikan kepada Nabi Agung. Ayat tersebut diawali dengan satu kata kunci, yakni iqra’; bacalah. Membaca segala apa yang tampak sebagai fenomena atau peristiwa menjadi jalan untuk mengasilkan ilmu pengetahuan. Bagaimana bisa ilmu pengetahuan itu dihasilkan jika tanpa melalui proses pembacaan?

Hal mana pembacaan bukan sekadar membaca. Ia merupakan proses kognisi, psikologis, dan fisis-indrawi. Otak mencerap segala apa yang dicerap oleh pancaindra. Apa yang masuk melalui pancaindra tersebut akan menjadi data yang masuk ke memori otak. Kemudian, hanya orang-orang yang waras secara psikologis yang bisa melakukan proses tersebut hingga menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan; conciousness-man.

Mengapa ilmu dan orang berilmu itu mulia?

Selain aspek ontologis dan epistemologis, hal yang paling krusial dalam ‘mendekatkan jarak’ kepada ilmu adalah aspek aksiologis. Ilmu menjadi mulia sebab ia memiliki nilai guna (use values). Nilai guna ilmu berada pada jajak fungsinya sebagai obor bagi kabut gelap yang menyelimuti kesadaran manusia. Maka dalam tradisi didik-mendidik di dunia sekolah dikenal istilah ‘menerangkan’.

Persoalannya kemudian, dalam konteks Indonesia, apakah orang yang didaulat sebagai cawan bagi ilmu (ulama) telah memosisikan ilmu seturut nilai gunanya, yakni untuk memberi penerangan kepada ‘yang tengah dirundung gelap’?

Menerawang keber-ulama-an di Indonesia, saya tidak bisa menyebutkan siapa-siapa yang betul-betul ulama. Saya juga tidak memiliki radar pandang mumpuni untuk mendeteksi kesepakatan kolektif (das man) manusia Indonesia dari Sabang hingga Merauke mengenai kesahihan seorang ulama. Atau minimalnya, jawaban seragam manusia Indonesia ketika ditanya “siapa saja ulama yang ada di Indonesia?”, saya tak lampau paham.

Akan tetapi, jika sedikit mengintip persinggungan status ulama dengan hajat besar pilpres 2019 kelak, dapatlah dilacak bahwa ada beberapa orang yang, mungkin, disepakati oleh seluruh manusia Indonesia sebagai ulama.

Telah diketahui oleh umum bahwa ada dua pasangan capres dan cawapres, nomor urut satu kubu petahana dan dua kubu oposisi. Sialnya, kedua-duanya membawa status ulama. Seturut nilai gunanya, ilmu yang kemudian istilah bagi sang empunya adalah al-‘aalim atau al-‘ulama (ulama) apakah diposisikan sebagai penerang bagi kegelapan?

Dari balik kabut gelap dalam akal dan nurani saya, saya curiga, jangan-jangan ilmu bukan diposisikan sebagai ilmu yang bernilai guna. Akan tetapi, ilmu yang bernilai tukar.

Semoga kecurigaan saya keliru. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Meretas Pertolongan Allah

Tuliskan Komentarmu !