Kematian Seorang Muadzin

kematian seorang muadzin
Ilustrator: Rizki Agustian

SAVANA- Sebagaimana seperti biasanya, empat puluh menit menjelang waktu masuknya salat subuh, Kang Muslim telah berada di Masjid Al Barokah. Ia akan membersihkan lantai-lantai, kamar mandi dan halaman yang ada di Masjid, kemudian menjadi petugas muazin untuk memberitahukan bahwa waktu salat subuh telah tiba. Untuk menunggu kedatangan para jemaah, sehabis azan biasanya Kang Muslim membaca puji-pujian baik berupa syi’ir maupun selawat kepada nabi. Itu rutin dilakukan sebelum imam memberikan tanda untuk ikamah.

Kang Muslim barangkali merupakan representasi dari minoritas warga pemeluk agama yang taat di desa Mbulu. Memang demikian, tidak bisa ditampik kalau membicarakan semua warga masyarakat di desa tersebut. Desa itu kerap kali diidentikkan dengan daerah yang terkenal dengan dunia jahatnya. Daerah kejam. Menakutkan. Banyak pemuda yang memilih hidup bebas tanpa aturan. Bekerja ala kadarnya. Pendapatan yang dihasilkan hanya pas-pasan.

Di malam hari banyak sekali warga yang menaruhkan uangnya dengan permainan judi. Mulai dari remi hingga bandhar othok. Tak sedikit juga yang memilih jalan dalam menghabiskan uang untuk madon. Disinyalir, banyak juga dari warga masyarakat yang memberanikan diri dengan memanfaatkan kesempatan untuk mencuri barang-barang orang lain di desa tetangga. Memilih pekerjaan menjadi pencuri. Bahkan ada yang menjadi tukang palak.

Sebenarnya pemerintah setempat telah bekerja sama dengan pihak kepolisian dan para pemuka agama untuk melakukan rehabilitasi atas maraknya penyakit masyarakat itu. Berkali-kali dilakukan dan dengan menggunakan berbagai macam cara, namun masih kandas juga. Barangkali benar, sebagaimana pernah diutarakan oleh Kang Muslim saat berbincang denganku beberapa waktu yang lalu. Fenomena tersebut kalau ditarik pada akar historisnya, menurut pemaparan dari Kang Muslim, adalah akibat dari kutukan.

Dulu, beberapa tahun silam, di desa tersebut hiduplah seorang Lurah yang hidupnya senang bermewah-mewahan, glamour, dan sepanjang hidupnya memiliki istri berjumlah tujuh orang. Itu pun belum termasuk dengan istri simpanannya. Istri pertama hingga istri keempat dari Lurah tersebut sebenarnya sudah saling menerima dan berkomitmen satu sama lain untuk menjalankan sebuah kekeluargaan yang harmonis, serta menerima keadilan yang diberikan oleh Lurah tersebut. Semuanya berubah ketika Lurah tersebut memutuskan untuk menambah istri hingga berjumlah tiga.

Empat istri pertama sudah mengingatkan kepadanya, apakah nantinya ia bisa berbuat adil kepada semua istrinya. Dan sebenarnya keempat-empatnya tidak pernah sekalipun merestui Lurah tersebut menikah lagi. Namun, Lurah itu sangat begitu keras kepala. Bahkan, ia mengancam empat istrinya itu dengan tidak akan memberikan nafkah maupun harta kekayaannya jika tidak mau menerima keputusannya. Siapa tidak menganggap nestapa akan hal tersebut.

Dalam keberjalanannya, di banyak waktu, empat istri dari Lurah tersebut sering meninggalkan rumah tak kurang tiga kali dalam seminggu. Tujuannya adalah berkunjung ke sebuah tempat yang bernama Banyuripan. Tempat yang diyakini oleh warga masyarakat sebagai tempat bersinggahnya para danyang atau sesepuh yang menjaga desa di sana. Di akhir cerita Kang Muslim, disebutkan bahwa setelah melewati beberapa kali kunjungan, akhirnya salah satu dari keempat istri Lurah tersebut mendapatkan mimpi. Mimpi itu adalah di beberapa masa ke depan, desa Mbulu akan menghadapi wabah di mana banyak terjadi kejahatan sosial dan penyakit masyarakat di warganya.

***

Kang Muslim acap kali menemukan titik keputusasaan dalam menjalankan hidup di desa itu. Ia jugalah yang pada akhirnya harus ikut menanggung dosa berupa kutukan itu. Padahal sama sekali, ia tidak pernah memiliki niatan buruk dalam menjalani hidup, namun tetap saja mendapatkan dampak yang terjadi dari kutukan tersebut. Ini membuktikan bahwasannya kutukan itu bisa jadi tidak melulu maupun menuju pada yang buruk-buruk saja. Namun melainkan bisa juga kepada mereka yang baik juga. Kebaikan dan keburukan semakin menjadi tidak jelas. Entahlah.

Yang lebih ditakutkan lagi oleh Kang Muslim adalah terkait rumah ibadah yang dahulu kala sebelum kutukan itu terjadi, ramai sekali diisi oleh warga masyarakat sekitar untuk menjalankan ibadah, namun kini tampak begitu sepi. Hanya tinggal beberapa gelintir orang saja yang istikamah menjalankan ibadah di Masjid. Itu pun mayoritas adalah warga masyarakat yang telah memasuki usia lanjut. Kang Muslim adalah satu-satunya anak muda yang hingga kini mau terus mengurusi Masjid itu. Menaruh keperdulian tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Semuanya dilakukan dengan ikhlas.

***

Semburat cahaya kuning keemas-emasan yang banyak orang menyebutnya sebagai senja masih nampak di langit-langit pada sore itu. Kang Muslim mulai bersiap diri dan kemudian bergegas berangkat ke Masjid. Ia biasa jalan kaki untuk menuju rumah ibadah yang jaraknya kurah lebih adalah seribu meter tersebut. Di perjalanan, biasanya ia akan sering menjumpai para pemuda yang asyik nongkrong di warung kopi sembari main judi. Ada juga yang membawa pasangan, walau pun sebenarnya belum terikat secara resmi. Bau nylekit dan menyengat yang dihadirkan dari bir maupun ciu tak ketinggalan.

Adakalanya dari mereka yang kehilangan kendali, tiba-tiba akan mengamuk orang yang dianggapnya asing mau pun belum dikenal. Orang yang menurut mereka bukan kawan sepermainan mau pun sepergaulan. Banyak kejadian pernah dihadapi oleh Kang Muslim, salah satunya dia pernah dikeroyok oleh beberapa pemuda yang hilang kesadaran akibat mabuk berat. Tapi Kang Muslim selalu bersyukur sampai sejauh ini masih diberikan keselamatan.

“Slim, hati-hati kalau lewat di depan warungnya Bu Siti! Rombongan bajingan-bajingan itu pada minum ciu semua.” ucap salah seorang warga.

“Iya, Mbah, Matur suwun.” tanggap Kang Muslim.

Kang Muslim terus melanjutkan perjalanannya menuju Masjid. Ia sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap apa pun ancaman yang ada di hadapannya. Prinsip hidup yang terus ia pegang adalah jangan takut kepada makhluk, tetapi takutlah kepada Yang Menciptakan makhluk. Selain itu, dengan berbagai wabah kejahatan yang terjadi di desanya, ia tetap menaruh satu hal, bahwasannya sedikit kebaikan yang dilakukan bisa jadi akan mengubah banyaknya keburukan yang terjadi.

***

“Hei, Asu! Punya uang apa tidak? Sini setorkan kepadaku!” suara lantang itu ternyata tertuju kepada Kang Muslim.

Kang muslim tidak bergeming. Ia sama sekali tidak merespon atas ucapan yang keluar dari mulut salah seorang pemuda yang sedang mabuk berat itu. Ia tetap melanjutkan perjalanan. Meski pun demikian, berbagai umpatan mau pun cacian terus saja dilayakngkan kepada Kang Muslim. Asu. Bajingan. Keparat. Sok Suci. Ustaz gadungan. Itu semua hanya beberapa saja yang didengar oleh Kang Muslim. Mulut dan hati Kang Muslim justru terlihat menggumamkan bacaan dzikir dan selawat kepada nabi

Namun, tidak ada yang menyangka sebelumnya. Tiba-tiba di belakang Kang Muslim nampak sosok pemuda yang juga sedang mabuk berat sambil membawa parang. Pemuda tersebut mengikuti dan mengejar di belakang Kang Muslim. Kang Muslim yang tak tahu keberadaan pemuda itu terus saja berjalan dengan cukup kencang dan pasti. Terlebih beberapa menit ke depan, azan salat magrib harus segera ia kumandangkan

Nasib nahas harus diterima oleh Kang Muslim. Ia ditebas pada bagian lehernya tanpa ampun. Seketika, badannya tak berkutik. Jatuh dan terkapar. Darahnya berkucuran dengan begitu kencang dan deras. Darah segar. Darahnya anak muda. Darahnya anak yang terus berpegang teguh pada pendiriannya. Darah anak muda yang masih setia mau merawat satu-satunya rumah ibadah yang ada di desanya.

Sayang, belum sampai dia mengumandangkan azan untuk menandakan waktu salat magrib, ia harus menerima takdir, ajal telah menjemputnya. Seketika, langit-langit kelihatan kelam. Sudah tak ada lagi sisa-sisa cahaya di langit. Senja telah tenggelam dan berganti dengan hadirnya gelapnya malam. Kang Muslim pun ikut juga tenggelam menuju tempat dan kedudukan mulia yang dijanjikan oleh Sang Khaliq. Entah, siapa yang akan mengumandangkan azan lagi untuk waktu magrib ini mau pun waktu-waktu salat yang lain setelah Kang Muslim tenggelam untuk selama-lamanya.

Tuliskan Komentarmu !