LDS: #15 Kecamuk Perang dan Kematian

kecamuk perang dan kematian
Ilustrator: Rizki Agustian

April 2007

SAVANA- Perang mulai berkecamuk kembali. Beberapa markas diserang oleh orang yang tak dikenal. Beberapa orang menduga, kalau yang menyerang merupakan anggota baru. Tapi, apakah benar orang baru bisa menyerang dengan rapi dan menebas sekeji itu? Ternyata tak hanya dipihak kami, dipihak lawan pun banyak yang menjadi korban. Bandung Selatan dirundung api hitam.

Aku, Erwin, Fajar, Toke, Ijay, Iki dan empat orang anggota baru berjaga 24 jam. Kami tak ingin kecolongan. Kami tak rela jika tergores sejengkal pun oleh orang-orang yang tak punya persoalan dengan kami.

Dari kabar yang kami terima, penyerangan biasanya dilakukan dini hari, saat dunia masih terlelap dan senyap; namun tak mengenal tanggal, bisa terjadi hari apa saja.

Kami berjaga silih bergantian. Dan saat-saat seperti ini, kami memerlukan lebih banyak amunisi. Tentu tidak akan berjalan lancar, jika kami menjaga tanpa ada hidangan. Siangnya Erwin, Fajar dan Volenk pergi ke rumah Pak RT. Mereka bilang kalau seminggu ke depan mereka akan meronda, atau secara tidak langsung meminta dana.

Pak RT dan beberapa warga yang lain memberikan sumbangan, walau mereka agak heran, kenapa baru kali ini meminta dana. Keberadaan kami katanya menjaga kampung ini dari maling, tapi jujur saja, dulu kami tak niat sedikit pun untuk meronda. Kami hanya melakukan apa yang kami mau, dan baru sekarang-sekarang inilah kami merasa perlu bantuan dana.

Aku, Erwin, Fajar, Toke dan Ijay tidur lebih awal dari biasanya, karena jam 2 dini hari nanti harus bangun, berjaga, lalu paginya sekitar jam 6 harus berangkat kerja. Aku, Erwin dan Fajar sudah bekerja di pabrik, sedang Toke dan Ijay harus pergi ke terminal. Sedang Iki dan para anggota baru, biasanya mereka hampir tak tidur semalaman. Iki siangnya bisa tidur, karena ia memang belum bekerja, sedang para anggota baru, katanya mereka bisa tidur di sekolah.

“Bos, bos, bangun, ada orang yang mencurigakan.”

Aku yang tak begitu nyenyak tidur, langsung terbangun. “Ada apa?”

“Sekitar setengah jam yang lalu, kami mendengar suara motor bergemuruh di jalan raya sana, lalu seperti berhenti dan suara itu lenyap. Tadi ada dua orang yang datang kemari, lalu mereka meminta jagung bakar. Iki memberikan, lalu mereka ngobrol yang aneh-aneh.”

“Aneh gimana?”

“Awalnya mereka tanya-tanya soal tanah. Apakah di sini ada tanah yang mau dijual tidak. Lalu mereka menanyakan tempat apa ini. Dan si Iki yang anak Mamih itu, menjawab kalau ini basecampnya Legenda dari Selatan. Lalu mereka pamit.”

“Serius loe?” tanya Fajar yang sudah terbangun dan mendengarkan cerita Volenk.

“Serius, tanya saja ke anak yang lain.”

“Kapan mereka pamitnya?”

“Beberapa menit yang lalu.”

Aku pun berdiri. Erwin, Toke dan Ijay pun terbangun. Kami semua berkumpul di luar. Sesaat aku menatap langit, bintang bertaburan di sana. Di sebelah barat terlihat sangat gelap, di atas hamparan sawah. Di sebelah utara terlihat kelap-kelip lampu, itu kampung kami. Di sebelah selatan berjajar lampu-lampu jalan yang lalu terhalang oleh beberapa bangunan besar. Setelah kutanyakan, katanya sekarang jam 01:44. Sekilas terlihat semua berwajah waswas.

“Mungkin beberapa menit lagi, kita akan dikepung, lalu dihajar.” ucapku memulai. Semua menyimak. “Kalau kita ingin selamat, hanya ada satu jalan: pulang ke rumah masing-masing, lalu tidur.”

Semua langsung menatapku heran. “Kita bukan pecundang, kita bukan pengecut. Ini strategi. Pejantan yang sesungguhnya adalah yang tau siapa lawannya, dan mau berhadap-hadapan. Kita bukan lari, tapi pulang. Mengerti?”

“Be, serius loe mau pulang?” tanya Erwin.

“Emmm, aku nginep di rumah kamu, yah!”

“Tapi kalau markas kita di acak-acak, gimana?”

“Ya kita tinggal bereskan lagi.”

“Aku setuju.” tambah Erwin. “Daripada kita melawan orang-orang yang tidak kita kenal, yang entah dari mana, yang entah punya urusannya apa, lebih baik kita diserang sebatalion Gerdut, yang sudah jelas permusuhannya.”

“Ayo semua bergerak!”

Kami pun membawa barang-barang yang sekiranya berharga, lalu pergi melewati jalan sawah, sambil menunduk-nunduk.

***

Berita duka datang sore ini, saat aku pulang dari pabrik. Kami berkumpul di basecamp yang masih berantakan, mungkin karena preman semalam. Semua motor sudah dinyalakan, bersiap-siap untuk pergi, melayat teman yang tewas karena pertempuran semalam, di Arjasari sana.

Sandi Abah dan Isep Martin ada di sana, karena sudah menjadi Panglima Bandung Selatan, tapi entah kenapa, mereka tak bisa menghadang para pemberontak itu. Dan lebih hebatnya lagi, orang-orang tak dikenal itu menyerang markas besar kami di Bandung Selatan.

Kami meliuk-liuk di antara motor dan mobil, di jalanan Banjaran menuju Arjasari. Tak segan-segan kami menyalakan klakson sambil berteriak minggir kepada siapa pun, kecuali kepada ibu-ibu. Percayalah, lolongan mata ibu-ibu lebih menyeramkan ketimbang makian preman bertato naga.

Kami memasuki jalanan Arjasari. Jalan berkelok-kelok dengan sedikit menanjak. Namun bukan kami namanya kalau mengendarai sepeda motor di bawah kecepatan 60 KM perjam. Sesekali lobang besar mengagetkan kami, hingga motor kami hampir terjungkal. Namun bukan kami namanya kalau kami merasa kapok, lalu menyerah.

Setibanya di markas besar, kami hampir kesulitan mencari tempat parkir. Hampir semua kawan-kawan kami datang lebih awal, dan mereka mengikuti segala pernak-pernik menghormati orang yang sudah mati. Aku mencari tempat Sandi Abah dan Isep Martin berdiri. Setelah dapat,  aku menghampiri mereka.

“Bagaimana kejadiannya?” tanyaku.

“Ia dan Bambang pergi untuk membeli minum. Tapi saat hendak kembali, segerombolan orang yang tak dikenal menghadang mereka, lalu menghajar mereka. Sampai habis. Bambang pun sekarang sedang sekarat di rumah sakit.” Jawab Sandi Abah. “Katanya, merkasmu juga mau diserang?”

“Iya, tadi malam. Tapi kami tak mau melawan. Kami membiarkan mereka mengacak-acak markas kami.”

“Kematian mengintai kita.” ucap Isep Martin.

“Dan kita harus siap meghadapinya.” tambah Sandi Abah.

“Tapi kita belum menikah, belum mengecap nikmatnya dunia.” rengekku.

“Untuk mati, kita tak membutuhkan syarat nikah.”

Kami semua terdiam, suasana terasa sangat hening.

Mati satu, tumbuh seribu; begitu kira-kira pepatahnya. Semua yang berkumpul di sini, merasakan kepedihan yang teramat dalam, dan semua menuntut balas. Balas adalah cara kita menghargai satu nyawa; balas adalah cara menusia merasa puas.

Setelah melayat ke rumah duka, kami berkumpul di lapangan bola; lapangan tempat kami melatih pisik, melatih mental. Dulu, selama tiga hari, aku ditempa di sini.

Kang Kuple mengambil komando. Ia berdiri di tengah-tengah kami, lalu berteriak, sampai uratnya mau putus.

“KITA TELAH KEHILANGAN ANGGOTA TERBAIK KITA. ANGGOTA TERBAIK KITA, DIHAJAR SAMPAI TAK BERNYAWA. KITA TELAH KEHILANGAN SEPARUH JIWA KITA, KEHORMATAN KITA, KEKUATAN KITA. KITA HARUS MENUMPAHKAN KEPEDIHAN KITA DI JALANAN. KITA HARUS TERIAKKAN ‘BANDUNG SELATANG SEDANG BERDUKA’. ‘BANDUNG SELATANG SEDANG TERLUKA’. AYO TERIAKKAN!”

“BANDUNG SELATAN SEDANG BERDUKA. BANDUNG SELATAN SEDANG TERLUKA.”

“BANDUNG SELATAN SEDANG BERDUKA. BANDUNG SELATAN SEDANG TERLUKA.”

***

Malam sedang menuju pertengahannya. Suara motor menderu-deru di bawah langit Arjasari. Entah ada seribu atau lima ratus motor, yang pasti aku tak kuasa menghitungnya. Kami yang berasal dari Tanjung Sari, disuruh untuk kompoi di barisan kedua, setalah para leluhur dari Bandung Selatan yang mengisi barisan pertama. Seperti kata Kang Kuple, kami akan menumpahkan kepedihan kita di jalanan, untuk meghormati arwah yang sudah lenyap di muka bumi ini.

Kang Kuple mengambil komando, kami pun berjalan, namun perlahan. Kami meresapi tiap jengkalnya ban yang menggelinding di atas aspal, kami menghayati tiap hembusan angin yang tertabur di sepanjang jalan. Bau aspal dan knalpot bising, seakan sudah menjadi bagian dari jiwa kami, yang saling menyapa dan saling merasakan kepedihan.

Kang Kuple melaju agak kencang saat hedak memasuki Alun-Alun Banjaran. Jalanan mulai terang dan lenggang. Saat ada segerombolan pemuda yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, sambil minum dan main gampe, Kang Kuple berhenti, dan entah ada setan alas dari mana, Kang Kuple berteriak “Seraaang!”. Para pemuda yang gak punya pekerjaan itu pun lari terbirit-birit. Kami pun melaju kembali.

Aku membutuhkan lawan yang setimpal. Aku tak suka para pemuda yang hanya punya banyak gaya, yang jika diajak duel, langsung minta ampun. Lagian, bisa-bisanya Kang Kuple mau menyerang pemuda picisan semacam itu. Kita bukan gerombolan Gerdut yang bisanya cuma keroyokan.

Di pertigaan Kamasan, Kang Kuple berhenti kembali. Ia turun dari motor, lalu lari seperti mengejar sesuatu. Setetah agak mendekat, aku baru menyadari kalau di seberang jalan sana, dekat toko yang masih buka, ada segerombolan pemuda yang memakai jaket Gerdut. Aku ikut turun, ingin menumpahkan segala kekesalan.

Aku mencari lawan yang seimbang, yang akan membuat pertempuran semakin mengasyikan. Satu pukulan mendarat di rahang pemuda yang bertumbuh gembul. Ia pun hendak memukul wajahku. Aku mengelak, tapi tanpa disangka-sangka kakinya melayang, dan jatuh di dadaku. Aku terhuyung ke belakang. Aku cukup puas dengan tendangannya.

Aku kembali menyerang. Kali ini lebih cepat dan keras. Beberapa kali ia menahan, beberpa kali ia kena pukulan, dan beberapa kali juga ia dapat menyerang balik. Selama ia dapat berdiri, maka selama itu pula ia dapat menahan dan membuat serangan, maka aku menelipak kakinya, hingga ia terjatuh. Saat ia terjatuh, maka dengan bebas aku memukul pipinya, rahangnya, hingga pelipisnya. Setelah aku puas, aku membiarkan ia lari.

Mencabut nyawa orang semacam itu, tidak akan mampu membalaskan kepedihan kami. Mereka bukan pelakunya, dan untuk membuat pertempuran dengan mereka, kami tak perlu alasan; mereka musuh kami sejak aku lahir, dan kami bertempur hanya untuk bersenang-senang. Hanya orang gila yang tega mencabut nyawa seseorang.

Aku mundur ke belakang, lalu melihat sekitar. Kukira hanya dua baris motor yang paling depan saja yang turun dan ikut bertarung, ternyata semua ingin menumpahkan kekesalannya.  Mereka benar-benar sedang marah, dan ingin disaksikan oleh semua orang yang ada di hadapannya.

“Kita harus pergi, mereka benar-benar tak bisa dihentikan.” teriak Sandi Abah.

“Kita harus menghentikan mereka dulu.”

“Hanya polisi yang bisa menghentikan mereka.”

“Kita teriakkan saja polisi.”

Kami pun berlari menuju motor kami masing-masing sambil meneriakkan, “Polisiii! Polisiii! Polisiii!”

Setelah motor kami menyala, dari kejauhan, polisi benar-benar datang.

***

Di teras belakang ini, aku menggigil kedinginan. Bukan, cuaca di sini tak begitu dingin, tapi aku tetap menggigil. Sesekali aku menengok ke teras depan, takut ada orang yang datang. Aku menggigil lagi. Aku menggigil ketakutan.

Aku tak percaya hantu. Sering aku keluar tengah malam, melewati semak belukar dan pohon beringin, dan selama itu aku tak pernah melihat hantu. Tapi saat berada teras belakang rumahku ini, seakan ada seseorang sedang memerhatikanku dari pojok gelap itu, di balik tanaman hias. Seolah ada sepasang mata yang sedang melihatku. Aku menggigil lagi, menunduk-nunduk, meminta ampun. Ia terus menatapku, mengawasiku, seolah minta ampunku tak cukup.

Ia menatapku lagi, membawa ingatanku pada kejadian barusan. Orang yang tidak tau apa-apa, dipecahkan kaca rumahnya, lalu dihajar jika melawan. Orang yang sedang nyenyak-nyenyaknya tertidur, digebrak pintunya, dicorat-coret dinding rumahnya. Pemuda yang sedang bekerja menjaga toko, disulut kemarahannya dengan manjarah dagangannya, lalu dihajar karena melawan. Sepasang muda-mudi yang habis kencang, dicegat di tengah jalan, pemudanya dihajar hingga babak belur, pemudinya diusap-usap. Yang lebih mengerikannya lagi, pemuda yang sedang kongkow, dihajar sampai nyawanya hampir lepas; memang mereka musuh kami, tapi mereka yang hampir habis itu, apa benar-benar terlibat dengan kepedihan kami?

“Bukaaan. Bukan aku yang melakukannya….” aku menggeram. Aku jenggut rambutku sendiri, seolah ada tangan lain yang menggerakkannya. Sepasang mata itu terus menatapku tajam.

Aku menggigil lebih hebat. Aku mulai kepikiran untuk lari. Tapi setelah menatap teras depan, seolah di luar sana seperti ada hantu yang lebih menakutkan lagi. Aku merasa, sepasang mata ini akan terus mengikuti ke mana pun aku pergi.

Aku menyerah. Aku tak akan melawan. Aku berbaring di teras belakang rumah. Aku sudah pasrah jika sepasang mata itu keluar dan memangsaku. Aku sudah sangat lemas, sudah kalah dengan ketakutanku sendiri, dan puncak penderitaan manusia adalah ketidaksadarannya. Setelah itu, aku tak tau apa yang terjadi pada diriku.

Bersambung…

***

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, anggap saja itu sebagai kebetulan yang disengaja.

Cerita “Legenda dari Selatan” ini Insyaallah akan berlanjut tiap hari minggu, doakan saja kelancarannya jika kalian suka.

Tuliskan Komentarmu !