Ironi dalam Komedi

ilustrator by: mojokstore.com

Judul : 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis : Sabda Armandio
Cetakan : Cetakan Kelima, November 2019 (kover baru)
Hal : 228 Halaman
Penerbit : Buku Mojok

SAVANA- Kita mengenal karya-karya cerita detektif dari penulis sesanter Sir Arthur Conan Doyle atau Agatha Christie. Buku-buku mereka menghadirkan langskap kota yang mencekam, suatu misteri pembunuhan, liatnya si detektif mengurai kasus, dan ketegangan yang dibawa dari awal cerita sampai kasus terpecahkan secara perlahan.

Di dalamnya bertebaran penjelasan ilmiah macam-macam, pengungkapan yang mengedepankan logika, dan pancingan pembaca untuk menebak A begini-begini, tetapi ternyata bukan begitu, dan klimaksnya kita menahan napas tegang, lalu dikejutkan dengan plot twist atau twist ending sialan yang menyentak diri kita dengan telak.

Benar, cerita detektif dan plot twist adalah dua intensitas yang sukar dipisahkan. Namun, beberapa dekade kemudian, penjelasan di atas coba dipatahkan oleh hadirnya novel berlabel Sebuah Cerita Detektif berjudul: 24 Jam Bersama Gaspar.

Adalah Sabda Armandio, penulis yang menelurkan novel keduanya sebagai cerita detektif. Ia meramu petualang seorang lelaki usia 35 tahun bernama Gaspar dalam novel 24 Jam Bersama Gaspar. Dan tak sebagaimana cerita detektif pada umumnya, novel ini bergerak dengan lesatan yang melenceng jauh dari biasanya.

Dalam pengisahan Gaspar bersama tiga perempuan dan dua laki-laki—yakni Nik, Afif, dan Bu Tati serta Nyet dan Yadi—serta sebuah sepeda motor bernama Cortazar yang berniat merampok toko Wan Ali demi sebuah kotak hitam, penulis menuturkannya dalam kontruksi tak lazim dan tendensi bahasa yang satir, blak-blakan, jenaka, dan jail. Alih-alih memusingkan akan teori yang memainkan logika khas novel detektif, cerita Gaspar ini justru ringan dan menyenangkan.

Seperti nukilan ketika Gaspar kali pertama bertemu dengan Njet ini: Tahukah kau bagaimana Tuhan menciptakan hidungnya? Barangkali begini: suatu hari Tuhan makan jambu air di depan periuk berisi adonan Jethtro (Njet maksudnya) dan karena rasanya tidak enak, ia meleparkannya ke dalam tempayan; pemandangan jambu air setengah tenggelam itu menginspirasi Tuhan: “Hm, boleh juga nih dibuat model hidung,” maka jadilah hidung.

Itu belum seberapa, masih banyak bertebaran narasi konyol yang menyertai sang narator dalam mengenalkan tokoh-tokohnya. Lebih jauh lagi, bukan berarti novel ini sama sekali tidak berbobot. Dalam jalinan kisahnya, sebenarnya ada beberapa hal yang dibawa dari keadaan di dunia nyata, yang dipadu-padankan dengan humor khas Gaspar. Sebab tokoh utama sendiri, adalah representasi dari anak korban broken home yang kehidupannya tentu tak baik-baik saja.

Di usianya yang ke-35, dia menganggur dan masih melajang. Ia telah menyesap kesendirian sejak usia remaja, dikarenakan orang tuanya yang bercerai sewaktu Gaspar belum lagi lulus sekolah. Dan di usia yang ke-16 ia telah berhadapan dengan kebebasan, yang sayangnya, ia mengakui: … yang ternyata sepi dan menakutkan (Hal 165).

Ia bahkan sempat menjadi pecandu Kokain, cukup lama, dan ketika ia mencoba berhenti, ia mendapati penerimaan dari masyarakat dan melayangkan protesnya dengan: Kebanyakan orang hanya berpikir bahwa pemadat adalah pemadat adalah pemadat. Mereka banyak omong tanpa menawarkan bantuan. Dan saat kami ingin pergi dari benda sialan ini, mereka melihat mayat hidup yang tak banyak gunanya. Maka, tak ada pilihan selain kembali lagi (Hal 169).

Dan mula yang mengenalkan Gaspar kepada dunia detektif adalah dari buku berjudul Tak Ada Misteri di Rumah Kosong karangan penulis Arthur Harahap yang namanya sampai membuat: Goenawan Mohammad dalam sesi wawancaranya bersama Soleh Solihun untuk majalah Playboy menyebut nama Arthur Harahap berkali-kali seperti menyebut nama orang suci (Hal 120).

Buku ini menemani hari-hari Gaspar ketika masa persidangan orang tuanya dulu. Sementara itu, buku ini sendiri diberikan oleh supir orang tuanya, Babaji, yang turut menanamkan dalam benak Gaspar bahwa detektif tidak harus selalu menegakkan kebenaran atau berurusan dengan hal-hal besar atau menghakimi penjahat; detektif hanya pencari informasi, pengulik rahasia. Waktu pun melesat dan ia mengamalkannya setelah mengetahui rahasia dari kotak hitam milik Wan Ali.

Lima orang rekan yang ia rekrut dari latar belakang berbeda demi misi perampokkan itu barangkali tak pernah menduga maksud lain dari misi mereka selain fakta yang digebor-geborkan bahwa kotak hitam itu menyimpan keberuntungan yang membuat siapa pun pemiliknya menjadi kaya. Mereka turut berpartisapasi dalam aksi gila itu tentu bukan tanpa alasan.

Bu Tati, diajak sebab ia menyimpan dendam dengan Wan Ali; Yadi, diajak sebab ia jatuh miskin dan istrinya mengancam minta cerai bila ekonomi tak membaik; Afif, diajak setelah sebelumnya mereka bertemu di satu bar dan perempuan itu tertantang untuk turut serta; dan Kik serta Njet yang berpacaran, diajak sebab mereka teman Gaspar. Tidak ada yang menyangka, ternyata misi tersebut tak hanya demi kamahsyuran dan keistimewaan kota hitam tersebut.

Ini mungkin menjadi titik yang menyinggung satu kondisi di masyarakat beberapa tahun silam, bahwa ada kegetiran perempuan di dalam buku ini, yakni pernikahan dini gadis yang belum lagi mengalami menstruasi. Adalah putri Wan Ali, Kirana, anak semata wayang pemilik toko emas yang hendak dirampok Gaspas bersama rekan-rekannya itu. Dengan tega, Wan Ali melepas anaknya untuk menikah dengan teman bisnis yang usianya tak lagi muda.

Dan yang lebih menyedihkan, Gaspar tahu benar kehidupan dari perempuan itu sebab ia menjadi tetangganya ketika masih tinggal di rumah orang tuanya dulu. Bahkan, ialah yang dimintai tolong oleh Kirana pada suatu ketika: “Kirana datang kepadaku satu bulan setelah dia menikah. Dia bahkan membuka roknya di depanku, dia bertanya vaginanya terus mengeluarkan darah dan nanah.” (Hal 205)

Atas hal tersebut, jelaslah kemudian dia merampok toko Wan Ali bukan hanya sebab kotak hitam yang diagung-agungkan itu. Ada hal lain. Kotak lain yang ungu warnanya. Dan rahasia yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh Bu Tati sendiri, yang menjadi kakak ipar Wan Ali.

Ini cerita deteftif yang tak biasa, tentu saja. Sebab di sela rangkaian cerita dari sudut pandang Gaspar, disertai pula rekaman interogasi polisi kepada Bu Tati perihal perampokan itu. Kabar baiknya, bukannya menjadi hal lain, keberadaannya justru menjadi penambal atas bagian yang bolong dalam cerita. Dengan kekuatan humor yang tak kalah tinggi, percakapan si polisi dengan Bu Tati bersisian menutup celah, atau penjelas dari beberapa fragmen yang terlewat di tubuh cerita.

24 Jam Bersama Gaspar jelas menjadi angin segar dalam kasusastraan kita. Sebab bila ditilik dari jebolan yang sama—mengingat novel ini menjadi satu yang direkomendasikan juri lomba novel Dewan Kesenian Jakarta 2016, novel ini memiliki sesuatu yang baru. Pengisahaan yang ringan. Dan dialog yang kuat dan tak terkesan sia-sia, keberadaan mereka hampir selalu mengandung arti, baik kejenakaan terhadap hidup maupun lanturan sok berteori tetapi sialnya kita amini kebenarannya.

Namun, barangkali yang menjadi kekurangan adalah kurangnya penggalian isi cerita yang sejujurnya, masih bisa dikembangkan sehingga tidak menjadi cerita sependek yang dihasilkan. Ada bagian dari tokoh yang kurang dalam disentuh. Kemunculan tokoh yang kelewat tiba-tiba dan perginya yang tak kalah cepatnya. Dan gambar anjing liar di kover yang sesungguhnya tak penting-penting amat itu.

Tuliskan Komentarmu !