Intuisi Berujung Kenestapaan

atheis

SAVANA- Novel Atheis karya Achdiat K Mihardjo ini merupakan karya sastra klasik yang tak lekang oleh zaman. Terbukti bahwa novel ini telah dicetak sebanyak 33 kali dari tahun pertama diterbitkan, yakni pada tahun 1949.

Kisah bermula dari seorang pemuda bernama Hasan. Beliau merupakan seorang alim dan dikenal sebagai orang yang taat beribadah, karena Hasan terlahir dari orang tua pengikut tarekat, teguh iman, serta taat beribadah. Namun di balik itu semua, Hasan memiliki sifat ragu-ragu dalam meyakini sesuatu.

Agaknya, menjalin kasih serta cinta merupakan fase dalam sebagian episode kehidupan manusia. Dalam prosesnya, terkadang ada luka, kecewa juga terpaan gelombang badai. Banyak yang berhasil melaluinya serta ada pula yang kandas lalu terpuruk dalam luka nestapa.

Dalam novel ini, dikisahkan Hasan mengalami kehancuran hati juga frustasi akibat Rukmini, kekasihnya yang dijodohkan oleh orang tuanya dengan saudagar kaya. Tapi keterpurukan itu haruslah dimusnahkan, hingga ia pun mengikuti aliran tarekat untuk menghilangkan bayangan Rukmini dari hidupnya. Hingga lahirlah sosok Hasan yang semakin teguh imannya serta semakin taat akan ibadah.

Tetapi, kehidupannya berubah saat Hasan menjumpai kawan lamanya, Rusli dan adik Rusli, Kartini. Rusli merupakan seorang pemuda terpelajar. Beliau banyak belajar persoalan politik, bergaul dengan orang-orang pergerakan internasional, macam-macam aliran serta ideologi politik dipelajarinya dengan sungguh-sungguh, terutama ideologi Marxisme. Sedangkan Kartini merupakan janda berparas cantik, wanita penentang Kapitalisme yang berideologi tegas dan radikal.

Sejak perjumpaan itu, Hasan menaruh hati pada Kartini yang memiliki karakter yang hampir sama dengan Rukmini. Karena menaruh hati, Hasan pun bergaul dengan kawan-kawan Kartini.

Awalnya, Hasan memiliki tekad untuk menyadarkan Rusli dan Kartini dengan memberikan wejangan-wejangan agama. Akan tetapi keadaan berbalik, pemikiran-pemikiran yang dilontarkan Rusli yang amat luar biasa malah terpatri pada pikiran Hasan. Memang, awalnya Hasan tidak terpengaruh. Hingga tibalah saat di mana Hasan dipertemukan dengan Anwar, seorang atheis.

Pengetahuan Anwar akan Tuhan begitu luas. Sejak saat itulah pemahaman Hasan tentang agama berubah. Ia mulai skeptis akan adanya Tuhan, tersesatlah ia dari agama, pergaulannya semakin bebas.

Hasan kemudian menikahi Kartini, atas dasar suka dengan suka. Tetapi sayang, pernikahan mereka tidak diakui secara Islam karena memang tidak sesuai syariat. Itulah yang membuat orang tua Hasan kecewa. Pun, pernikahan mereka ternyata tidak bahagia, kehidupan mereka berantakan. Prasangka-prasangka negatif bahwa Kartini telah berselingkuh dengan Anwar pun mengiringi Hasan tiap saat. Hingga akhirnya perceraian pun hadir.

Keterpurukan akan hidup, telah menyadarkan Hasan kembali tentang agama. Beliau menyesal dan merasa berdosa. Akhirnya Hasan kembali pada kampung halamannya dan ingin meminta pengampunan pada ayahnya.

Saat ditemui oleh Hasan, ternyata ayahnya sedang sakit keras dan enggan memaafkan Hasan hingga ajal menjemputnya. Hasan hanya menyesali diri dan merasa bahwa semua itu terjadi karena ulah Anwar. Hasan dendam pada Anwar dan berniat untuk membunuh Anwar. Diiringi api amarah dan kebencian, Hasan pun mencari Anwar walau pada waktu itu situasi sedang tidak aman. Belum sempat membunuh Anwar, Hasan malah tertembak peluru, ia jatuh dan bersimbah darah. Sebelum ajal menjemput, sempatlah Hasan mengingat Allah dan menyebut asma-Nya.

Ibarat membangun sebuah rumah, novel ini telah memiliki pondasi yang sangat baik. Ide cerita yang menarik membahas akan keyakinan dan keagamaan serta mengandung amanat yang sangat dalam bahwa pada akhirnya, ketidakpercayaan akan Tuhan akan mengantarkan diri pada kehancuran dan selama hidup pun akan diiringi rasa prasangka negatif, curiga, serta rasa berkoarnya amarah kebencian serta kedendaman. Penggambaran suasana dan karakter tokoh yang detail dapat mengantarkan pembaca berempati (merasakan) apa yang sedang terjadi. Pembuatan ilustrasi gambar pun membuat cerita semakin nyata dan memudahkan pembaca untuk membayangkan. Bagusnya, penyisipan gambar ilustrasinya hanya dituangkan beberapa gambar saja, sehingga tetap membangun imajinasi pembaca novel tersebut.

Ilustrasi cover kurang dapat dipahami serta kertas cetakan yang masih buram mungkin itu salah satu kekurangan dari novel ini.

Novel ini mengulas pembahasan yang menarik, menyisipkan ibrah yang amat luar biasa bagi insan di dunia. Penyajiannya pun berbeda dengan novel lainnya, yakni kisahnya diawali dengan akhir riwayat hidup tokoh utama. Menurut saya, novel ini adalah novel yang menarik untuk dijadikan bahan bacaan.

Judul buku       : Atheis

Penulis             : Achdiat K Mihardjo

Penerbit          : Balai Pustaka

Tahun terbit    : 2009 (cetakan ulang)

Tebal buku      : 250 halaman: 20,5 cm

Tuliskan Komentarmu !