Ikhwan, Dulur dan Perekat Solidaritas

ibn alghifarie

SAVANA- “Hari sudah malam, Ukh! Sholat witir dan lansung tidur. Jangan lupa berdoa agar mimpi indah,” chat seorang ikhwan kepada seorang akhwat.

Akhwat itu membalas, “Jazakallah Akhi, Akhi juga, yaaah…” (uhibbukum fillah, 2009)

-*I*-

“Assalamualaikum Ukhti,” sapa sang Ikhwan.

“Wa’alikumsalam, Akhi,” balas sang Akhwat.

“Subhanallah Ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti Azwar, bla bla bla bla…” puji Ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no… Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut. Si Ikhwan bertanya apakah si Akhwat sudah punya calon, lantas si Akhwat menjawab, “Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan Akhi kelak.”

Sang Ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji si Akhwat, “Subhanallah, sangat beruntung Ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.” (voice of al-islam, 10/10/2010)

-*II*-

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata-kata Ikhwan, Akhwat, Ana, Anta, Antum, Antuna, Akhi, Ukhti. Apalagi yang kuliah di Perguruan Tinggi Islam, seperti di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, acap kali kita dengar panggilan ini dilakukan aktivis intra kampus, seperti Lembaga Dekwah Mahasiswa (LBM) dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ). Pun pada pegiat ekstra kampus, seperti Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis), Himpunan Mahasiswi Persatuan Persis (Himi Persis), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Lembaga Studi Politik Islam (LSPI).

Bila kita meruju ke dalam bahasa Arab, Ikhwan berarti saudara laki-lakiku dalam bentuk jamak, Akhwat berarti saudari perempuanku dalam bentuk jamak, Ana (saya), Anta (kamu), Akhi (saudara laki-lakiku dalam bentuk tunggal), Ukhti (saudari perempuanku dalam bentuk tunggal), Antum (kalian untuk laki-laki) dan Antunna (kalian utnuk perempuan).

Melampui Simbol

Rasanya patut kita membaca hasil penelitian Martin van Bruinessen asal Belanda, khusus tentang sebutan ikhwan ini. Dalam penelitianya, di perkampungan miskin di Bandung, ia sempat mengamati bagaimana berbagai aliran agama mempunyai fungsi psikologis positif yang sangat nyata. Baik tarekat maupun sekte, memenuhi kebutuhan akan komunitas dan memberi perlindungan sosial dan psikologis pada anggotanya, sehingga mereka tidak terisolir lagi.

Penganut aliran-aliran ini nyata telah mampu mempertahankan harga diri dan nilai-nilai moral dari pada orang lain. Juga berbagai tarekat dan aliran lain, para anggota saling memanggil ikwan dan itu bukan sebutan simbol saja; mereka memang sering bertindak sebagai saudara sesama anggota.

Pergaulan dan komunikasi antar para ikhwan tidak terbatas pada waktu sembahyang atau dzikir saja; mereka sering mengunjungi di rumah dan saling menolong pekerjaan, misalnya mencari pekerjaan. Di dalam aliran-aliran ini, terdapat kontrol sosial yang kuat dan didorong kepada konformisme, tetapi juga saling sistem tolong menolong yang menjamin keamanan yang dibutuhkan.

Walaupun lingkungan mereka dinggap penuh bahaya, maksiat dan penipuan, tapi kepada sistem ihkwan mereka bisa dipercaya; di bawah perlindungan tarekat mereka merasa aman dari ancaman dan tantangan yang mereka alami di dunia sekitar. (Martin van Bruinesses, 1988:55-60 dan lihat Hasil penelitian Duit, Jodoh, Dukun; Remarks on Cultural change Among Poor Migrants to Bandung)

Untuk kalangan mahasiswa, terutama yang berasal dari kota kecil atau desa, hidup di sebuah lingkungan kota yang serba baru dan aneh bagi mereka, kelompok studi agama-agama memberikan perlindungan dan keamanan, tempat mereka bisa merasa at home. Apalagi bila kelompok ini bisa memberikan mereka sebuah kerangka analisis masyarakat sekitar, dan keyakinan mereka sebetulnya sebuah minoritas yang lebih baik, murni-suci, mempunyai misi menyebarkan kemurnian-kesuciannya.

Perasaan minder yang sering dialami mendapat kompensasi dari keluarga baru mereka. Beberapa gerakan agama di kampus dapat dilihat sebagai gejala konflik budaya: “Islam yang konsisten” melawan “sekulerisme yang bebas nilai” yang tak lepas dari perbedaan status sosial-ekonomi.

Tidak mengherankan kalau di kalangan pemuda dan mahasiswa terjadi gerakan sempalan bersifat messionaris-revolusioner yang ingin merambah tatanan masyarakat atau negara (kasus Jamaah Imran), tapi itu tidak berarti semua anggota punya aspirasi revolusioner. (Jurnal ulumul Quran, Volume III No 1 Th 1992: 25-26)

Perekat Solidaritas

Melihat eratnya solidaritas di kalangan mereka, sungguh membenarkan apa yang diagungkan Durkheim terkait kehadiran agama sebagai perekat solidaritas sosial. Bagi Durkheim, sejatinya fungsi ini yang harus dimainkan agama, karena bisa menjebatani ketegangan dan menghasilkan solidaritas sosial, menjaga kelangsungan masyarakat ketika dihadapkan pada tantangan yang mengancam kelangsungan kehidupan, baik dari suku lain, orang-orang yang menyimpang, pemberontak dari suku sendiri, maupun bencana alam. (Peter Connolly [ed], 2002:271)

Meskipun ada yang tidak sepakat dengan panggilan itu, seperti yang diutarakan Rifki, aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung, ia menuturkan, “Ya tidak usah bangga dengan cara dipanggil ikhwan, akhwat, antum, karena kita hidup bukan di Negeri Arab, tetapi di Bandung,” komentarnya. “Kalau pun mau dan kita harus bangga memanggil saudaranya dengan sebutan dulur, karena kita hidup di lingkungan Sunda,” pungkasnya.

 

Tuliskan Komentarmu !