Hati-hati, Kecanduan Membaca Buku itu Berbahaya!

mengapa buku itu berbahaya
Ilustrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Membaca buku jadi menakutkan bagi, semisal, pemerintah yang gemar berdusta. Di bawah kekuasaan Orde Baru, ketika negara hobi melakukan pembodohan, membaca buku bisa dianggap tindakan subversif. Mengancam stabilitas nasional. Membahayakan keselamatan nusa dan bangsa.

Orde baru, juga Orde Lama pimpinan Soekarno, pernah mengeluarkan kebijakan pelarangan terhadap peredaran buku. Kedua rezim itu memang terkesan lebay untuk hal ini. Anda bisa saja ditangkap di tempat saat terlihat membawa atau membaca buku Hoakiau di Indonesia atau novel tetralogi buru karangan Pramoedya.

Dulu, menenteng buku di pinggir jalan bisa dicap teroris oleh negara. Orde baru menjadi-jadi. Buku disamakan dengan molotov, dianggap bisa meledak kapan saja. Kaki-kaki negara sepertinya memang malas baca buku. Mereka bikin pembaca terlihat seperti anak nakal yang membangkang terhadap bapak tertinggi, Supreme Father, Soeharto. Membaca pun akhirnya dilakukan dengan cara yang sunyi, sembunyi. Kucing-kucingan di dalam kamar terkunci, di gunung yang cukup tinggi, atau di gedung-gedung tua tak berpenghuni.

Membaca itu risikonya lumayan tinggi. Kita diajak keluar dari zona nyaman dan belajar untuk tak mengeluh pada batas. Keterbatasan tak pernah jadi penghalang. Laku membaca jadi penting dan mendesak, sebab dimaknai sebagai penolakan menjadi bodoh.

Kebiasaan membaca digaungkan agar semua orang tak mudah ditipu rezim. Kekuasaan kadang tak betul-betul suka pada rakyat yang cerdas. Lain soal kalau anda mau tunduk pada lentiknya telunjuk negara. Kekuasaan tak suka dikritik. Sebab, kekuasaan bisa jadi terancam, tak mudah diamankan. Maka buku-buku tak sesuai dengan ideologi pemerintah dibredel, beberapa lagi dibumi-hanguskan.

Hari ini, meski masih ditemukan beberapa, peristiwa kejahatan terhadap buku dan pembaca tersisa nostalgia. Kita tentu tak ingin kembali di masa-masa absurd dan menjengkelkan itu. Ketakutan pada hal-hal terkait buku, kita sadari, tampak lebih mirip iseng dan kekanak-kanakan –jika tak ingin dibilang konyol. Namun, dari fragmen hidup bangsa yang terluka itulah, meminjam tuturan Yudi Latif, “kehendak untuk mengenang –betapapun perihnya ingatan itu- adalah jalan menuju pencerahan akan masa depan”.

Buku, lewat kekuatan kata-kata, berada pada kedahsyatannya mendobrak kesadaran. Beberapa buku mampu menyalakan kembali api intelektual yang sebelumnya tak membakar karena dipaksa padam. Di titik itu, laku membaca bisa menjadi begitu revolusioner. Maka, tak salah jika Nirwan Arsuka dalam pidato kebudayaannya di MIWF tahun 2016 bertajuk “Berbagi Rasa Merdeka”, mengatakan: “Meskipun tidak ada bab khusus tentang pengaruh tindak membaca pada revolusi, namun kita bisa dengan mudah menarik kesimpulan bahwa laku membacalah yang mengubah makhluk pra-manusia menjadi manusia, mengikat serakan menjadi bangsa, mengangkat naluri bertahan hidup naik menjadi peradaban,”.

Kemajuan sebuah peradaban merupakan penanda bagi diagungkannya ilmu pengetahuan. Peradaban tak dibangun lewat hajatan pembunuhan massal atau genosida. Juga pelarangan atau pembakaran terhadap buku-buku berlabel tertentu. Setidaknya bagi saya, peradaban itu tumpukan buku. Sebuah perpustakaan besar yang memeluk pengetahuan tanpa pandang bulu.

Lewat perantara aksara, pengetahuan ihwal apa pun diikat. Erat. Sangat erat. Membaca bikin nalar lebih tajam. Pikiran dipahat agar menjadi lebih logis dan kritis.  Membaca sanggup menerbangkan imajinasi sampai pada batas-batas terjauh kemampuan berfikir manusia. Pembaca tak jarang dibuat kaget saat menemukan kejutan tak terduga di sela-sela sedang khusyu membaca. Selain itu, yang juga cukup berbahaya, membaca juga menumbuhkan empati dan solidaritas. Mengukuhkan pembaca sebagai seorang makhluk sosial.

Kita bisa ingat bagaimana kisah perubahan sikap laki-laki bernama Laut dalam novel gubahan Leila S. Chudori berjudul Laut Bercerita (2017). Setelah membaca beberapa karya Pramoedya, Laut tersentak. Ia jadi aneh sendiri tatkala tak melakukan apa-apa ditengah gejolak politik rezim otoriter Orde Baru. Laut pun bergabung dengan organisasi pergerakan. Berpamrih melawan ketidakadilan sosial, ia ‘turun ke bawah’ mengorganisir perlawanan masyarakat di beberapa desa.

Nasib memang bukan urusan manusia. Meski pada akhirnya mujur tak berpihak pada nyawanya. Kegemaran membaca, membawa jarak antara hidup dan kematian terasa hanya beberapa depa. Membaca memberi ruh pada aktivisme, yang kemudian harus membuatnya menerima risiko hilang selama-lamanya dari dunia. Dari kisah Laut, kita bisa belajar banyak ihwal pergumulan seorang anak manusia dengan buku-buku yang menjadikannya peka sebagai manusia merdeka.

Dengan kebiasaan membaca buku-buku filsafat, sastra dan pemikiran, pengetahuan manusia mampu menjelma senjata. Sesuatu yang, oleh Subcomandante Marcos, digunakan bukan untuk menyerang seseorang atau kelompok, tapi untuk melindungi dan memerdekakan diri dari maraknya pembodohan massal di sebuah republik licik. Juga sebagai benteng dari perilaku culas para penipu berdalih politisi penyelamat negeri.

Berjarak ribuan kilometer dari mukim Subcomandante Marcos di Meksiko, pengarsip yang berumah di selatan Yoygyakarta, Muhidin M. Dahlan, dalam esai “Menjadi Pembaca” di buku Para Penggila Buku: Seratus Catatan Di Balik Buku (2009), mengimajinasikan praktik membaca sebagai amalan penyangga kebudayaan. Muhidin bilang: “Membaca adalah sebuah proaktif, bukan reaktif. Membaca adalah sebuah aktivitas budaya yang baik. Dan di mana pun budaya yang baik selalu membawa pada pencerahan”.

Membaca amsal lampion, menggulung tuntas tikar kegelapan, menghamparkan permadani yang terang benderang.

Kendati demikian, membaca itu tetap saja berbahaya. Membaca memang tak membuat kaya raya, alih-alih malah memiskinkan. “Buku-buku tak pernah pengertian pada nasib dompet. Buku-buku tak peduli, ia menuntut beli”, ujar salah seorang kawan saya bernama Udji. Kecuali anda ingin meniru Gilkey si miskin yang nekat. Dalam buku The Man Who Loved Book Too Much (2010), Gilkey memilih jalan mencuri. Kegilaan terhadap buku dan tingginya gairah terhadap laku membaca susah betul dibendung. Metode subtitusi hasrat ala psikoanalisis Sigmund Freud tak mempan untuk urusan buku.

Pengalaman melahap bacaan terasa begitu mendebarkan. Ia mampu mengancam, meneror, dan menakutkan bagi hal-hal yang absolut, mutlak, totaliter, mapan. Seperti saat pergi ke toko buku dan menemukan buku keren yang sudah lama ingin sekali anda baca, padahal duit hanya tersisa untuk perencanaan makan selama dua hari. Apa boleh bikin, anehnya, buku menyihir pembaca untuk ikhlas dirampok terang-terangan menyerahkan seluruh persedian duit pada penjual buku.

Sedang dua hari ke depan hanya bisa berpuasa, merenungi nasib yang hampir sia-sia.

Baca Juga: Kemuliaan Ilmu Terletak pada Nilai Guna, Bukan Nilai Tukar

Tuliskan Komentarmu !