Ghazwul Fikri; Sebuah Upaya Melawan Musuh Tak Terlihat

sumber gambar: annursolo.com

 Siapa yang tak pernah mendengar kisah tentang penciptaan manusia pertama dan Iblis yang membangkang dari perintah Tuhannya? Dua kubu ini berdiri di tempat yang berseberangan, Adam a.s sebagai manusia pertama yang Allah ciptakan dan ditempatkan di surga, sedangkan Iblis yang membangkang dihukumi sesat dan tinggal abadi di dalam neraka.

Sang Iblis yang tidak menerima hukuman tersebut mengibarkan bendera perang terhadap manusia, lalu berjanji akan menyesatkan manusia hingga hari kiamat tiba.

Penciptaan Adam a.s sebagai manusia pertama ini sekaligus menjadi sejarah awal mula munculnya ghazwul fikri. Ghazwul fikri atau perang pemikiran ini dilakukan pertama kali oleh Iblis untuk mengeluarkan Adam a.s beserta Hawa dari surga. Iblis menyerang ke dalam pikiran manusia agar menganggap baik sesuatu yang sebenarnya salah. Begitulah tipu muslihat yang diupayakan oleh Iblis kepada manusia.

Berbeda dengan perang fisik, perang pemikiran ini merupakan bentuk serangan dengan menggunakan senjata akal yang dilakukan musuh Islam untuk menghancurkan pemikiran, merusak akhlak dan kepribadian serta menumbangkan aqidah umat Islam. Pelurunya adalah argumen, sedangkan pemenangnya tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa, tetapi banyaknya pendukung. Bentuk ini merupakan serangan yang sangat halus dan berbahaya.

Ghazwul fikri ini tak hanya dikerahkan di dalam pendidikan saja, melainkan juga diupayakan lewat media massa dan sosial budaya yang mereka kuasai dengan memutarbalikkan informasi, menyebarkan berita kebohongan serta tulisan-tulisan yang mengelabui masyarakat, sedangkan masyarakat yang masih awam akan mempercayainya sebagai sebuah pemberitaan yang layak diketahui.

Begitupula halnya dengan produk perfilman yang merusak mental dan akal anak bangsa lewat tayangan-tayangan yang bersifat hedonis dan pornografi. Tayangan yang dikonsumsi hampir tiap hari ini berhasil membentuk karakter, wordlview dan peradaban yang dikehendaki si pembuatnya.

Lebih kronis lagi, perang pemikiran ini masuk hingga ke dalam tubuh Islam, mendekontruksi syariat Islam, menghalang-halangi umat Islam dari mempelajari al-Qur’an atau dibiarkan mempelajari tapi dipalingkan dari makna yang sesungguhnya.

Upaya yang kedua ini yang lebih membahayakan, karena akan memunculkan pemikiran-pemikiran nyeleneh dari para pelajar Islam yang telah dibius oleh virus liberalism, sekularism dan pluralism sampai faham hermeneutik yang dijadikan sebagai metode penafsiran al-Qur’an secara bebas. Maka tak heran jika banyak orang yang tinggi pendidikannya namun tinggi pula kadar kebingungannya, karena tidak memiliki arah tujuan yang jelas.

Sejarah mencatat, bahwa musuh-musuh syari’ah ini digolongkan menjadi empat fase, yakni (1) masa Rasulullah SAW, di fase ini ada kaum musyrik, ahli kitab dan kaum munafik, mereka hanya menolak syari’at saja; (2) di masa khalifah ditambah dengan kaum Zindiq dan kaum Bathiniyyah, dimana pada masa ini mereka mulai berani menambah penafsiran aneh pada al-Qur’an dan menambah syari’at; (3) masa penjajahan dunia Islam, fase ini ditambah dengan munculnya kaum kolonial dan orientalis, di masa ini mereka mulai mebuat metode-metode baru dalam syari’at, dan (4) Pasca penjajahan, pada masa ini musuh Islam ditambah dengan adanya kaum sekular, liberal dan plural.

Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini, maka perlu bagi kita untuk membentengi diri dari setiap kerusakan yang akan menggerus agama kita, serta serius mendidik jiwa menjadi seorang Muslim yang terpelajar dan kritis dalam menerima sebuah bentuk pemikiran yang belum pasti keabsahannya.

Sebab, dalam perang pemikiran ini, senjata yang digunakan untuk melawan musuh, tentu saja bukan alat persenjataan yang biasa digunakan dalam perang fisik, bukan pula dengan emosi, melainkan dengan iman dan pikiran yang jernih. Dan kedua hal ini yang perlu diikhtiarkan dan dirawat dengan mengembalikan fitrah dan kesucian Islam serta mendidik umat agar giat belajar, sebab tidak ada solusi lain dalam menghadapi perang pemikiran ini selain belajar, belajar dan belajar.

Belajar tentang ‘Ilmu yang benar, yaitu al-‘ilmu yang menghantarkan kita pada al-‘Alim; Allah SWT. Sebagai penutup mari cermati kalam Allah SWT yang syahdu ini:

Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.” (QS. Al-An’am : 112-113). Allahu a’lam □

Tuliskan Komentarmu !