Generasi Milenial Rasa Generasi X

Generasi Y, atau kita lebih suka menyebutnya dengan Generasi Milenial, adalah kita-kita yang lahir pada Tahun 1980 sampai 1997, dan orang-orang yang lahir setelahnya disebut dengan Generasi Z. Pembagian generasi, menurut sosiolog terkemuka Karl Mannheim, karena manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama, terlebih jika melewati sosiosejarah yang sama (selengkapnya bisa dibaca ulasan-ulasannya dengan klik di sini).

Menanggapi tulisan sebelumnya yang dimuat oleh Savana Post pada Rabu, 18 April 2018, tentang Smartphone dan Ilusi Kepintarannya –sebuah pembelaan-, saya menjadi sedikit tergugah untuk membahas arti Generasi Milenial bagi yang papa kuota. Sebelumnya, mari kita lihat menurut Wikipedia apa yang menjadi karakteristik Generasi Milenial. Antum sudah tau, kan? Hah, belum? Terus kuota Antum dipakai apa saja? Astagfirullah… kalau mau main Mobile Legend ajak-ajak.

Singkatnya, Generasi Milenial itu ditandai dengan keakrabannya dengan komukasi, media, dan teknologi digital.  Artinyanya, pola pikir dan tingkah laku Generasi Milenial lebih dipengaruhi oleh apa yang ia lihat di dunia digital, tinimbang pepatah pacarnya orang tuanya sendiri. Ini tidak lantas membuat si Generasi Milenial menjadi pembangkang, karena apa yang ia serap sangat tergantung dengan apa yang ia buka.

Tentu akan sangat berbeda antara orang yang suka membaca pepatah Tere Liye di akun facebooknya, dengan orang yang suka membaca pepatah Ridwan Rustandi di akun Instagramnya (Iya, Pimred teranyar Savana Post yang masih jomlo itu), atau antara pengikut Junro Ginting dengan pengikut Iqbal Aji Daryono. Ke ranah politik dikit, ada kaum Cebong dan ada kaum Kampret.

Lalu, bagaimana bila ada seseorang yang terlahir antara Tahun 1980 sampai 1997, tetapi tidak akrab dengan komunikasi media digital, masih sah kah ia dimasukkan ke dalam Generasi Milenial? Atau kita masukkan saja ke dalam Generasi X, dan ia harus rela dibilang Oppa-Oppa yang berumur 38 tahun? Duh, sabar ya Lur…

Karena ilmu sosiologi bukan kitab suci yang mutlak, maka sah-sah saja bila kita memberikan definisi lain, atau sekedar memberikan karekteristik atau arti yang berbeda mengenai Generasi Milenial. Daripada kita menyebut mereka (yang papa kuota) sebagai Oppa-Oppa tua, kan?

Konon katanya (menurut ulasan di malesbanget.com), karena Generasi Milenial akrab berselancar di dunia maya, maka akan menimbulkan sikap percaya diri dan toleransi yang tinggi. Hal itu disebabkan karena ia sangat akrab dihadapkan dengan segala perbedaan. Saya misalnya yang bersuku Sunda -lewat dunia maya-, maka saya bisa berteman dengan siapa saja, termasuk dengan mereka yang secara geografis jauh dan secara adab kesopanan (moral) sangat berbeda. Harusnya (secara teori), ketika saya bertemu langsung dengan mereka, saya harus lebih bisa toleran, karena paling tidak saya sudah mengenal adat mereka di dunia maya.

Namun apabila ada yang mengaku Generasi Milenial tapi enggan bertoleran (masih menganggap picik kepada orang-orang yang di luar sukunya), ini yang mesti kita sebut Generasi X, dengan kata lain Oppa-Oppa tua.

Sebaliknya, jika ada orang yang belum diberi kemampuan secara leluasa untuk berselancar di dunia maya, tapi ia terus memperbarui pengetahuannya tentang dunia lewat buku, dan secara mental ia bisa menerima perbedaan (tidak memandang picik siapa pun, suku apapun dan golongan apapun), maka secara esensial ia sudah memenuhi sifat Generasi Milenial.

Namun yang mesti kita perhatikan, Generasi Z sudah mulai dewasa, dan sebentar lagi mereka yang akan mengambil alih dunia. Generasi Z sudah bukan lagi terpengaruh oleh dunia digital, tapi lebih kepada ketergantungan. Cita-cita Generasi Z bukan lagi ingin menjadi dokter, guru, polisi, atau pemain band, tetapi ingin menjadi atlet Mobile Legend.

Nanti Antum jangan sakit hati bila ada yang bilang, “Generasi Milenial minggir, Generasi Z mau lewat!”. Pertanyaannya, bila Generasi Z masih pada papa kuota, masih kah mereka bisa melakukan ‘pembelaan’? Jika Generasi Milenial saja sudah menganggap kuota adalah kunci, maka bagi Generasi Z mungkin akan menganggap kuota adalah kehidupan itu sendiri.

Gimana, sudah isi kuota kah hari ini?

Tuliskan Komentarmu !