Gelagat Hari Pertama Ramadhan

SAVANA- Hari pertama selalu menjadi istimewa. Istimewanya mungkin karena kita dihadapkan pada ritus yang baru, kegiatan baru, dan pekerjaan lainnya yang serba baru. Yang baru, memang selalu mampu memberi ruang untuk menyimpan perhatian.

Namun yang kita anggap baru itu, tak sepenuhnya benar-benar baru. Kita sebenarnya mengulang kembali apa-apa yang terjadi di tahun lalu. Kita sebenarnya sudah bertemu, mungkin bahkan sempat bosan dan kesal.

Karena ingatan manusia terbatas, nyaris yang sudah lama itu hilang entah ke mana. Kita pun bergelagat bahwa tahun ini benar-benar baru adanya, walau sejatinya dahulu sempat merasakan bagaimana atmosfirnya. Mengingat adalah cara manusia kembali pada masalalu, dan mengenang adalah cara manusia menghadirkannya.

Lepas dari itu semua, lagi-lagi manusia tak mau terjebak dalam ingatan. Manusia kadang benar-benar lupa terhadap apa yang sudah diresahkannya sendiri. Dulu, kian tergambar kesyahduan ramadhan dengan ritus yang dipadatkan. Setelah lewat, lupa tak kepalang. Lalu ingat kembali saat berhadapan.

Di hari pertama ramandhan, kita tau bedanya antara bulan ramandhan dan bukan. Kita terus dijejali informasi keberkahan dan melipat gandanya pahala. Islam besar karena umatnya membesarkan. Lepas dari ria dan gelagat yang berlebihan, yang terpokok, ternyata Islam memang besar dan indah, jika umatnya menyeruakkan hal yang sanada.

Di hari pertama berbuka, kita mengerti arti seteguk air dan sesuap nasi. Kita seolah orang yang paling mengerti tentang haus dan lapar. Lapar yang kadang dapat membuat pikiran berantakkan. Haus yang kadang dapat membuat hati resah dan gelisah. Tapi mengapa kadang kita terpesona oleh faedah kesehatan, jika faedah ‘menahan’ dan slogan ‘indah pada waktunya’ dapat dirasakan? Manusia memang tak bisa lepas dari hal-hal duniawi.

Kita bolehlah memoles diri, mempercantik gelagat, tapi jangan sampai menampilkan yang tak ada. Jangan sampai kita berakhir dengan ritus-ritus duniawi, dan entah apa itu esensi. Manusia memang tak bisa dilepaskan dengan hal-hal yang dapat ditampilkan di muka, di tempat manusai lain dapat memandang. Tapi kita jangan sampai terpuaskan oleh napsu yang hanya ingin dapat ‘tepuk tangan’.

Tentu kita semua mempunyai ketakutan yang sama, yaitu takut kalau sebenarnya bukan keimanan kita yang bertambah kuat, tapi malah kesombongan kita. Takut kalau yang besar itu adalah mulut kita, bukan hati kita. Takut kalau yang dipadatkan itu ritusnya, bukan faedahnya.

Takut kalau terlalu banyak ketakutan itu, malah membuat ketakutan baru, bukannya membuat manusia tambah khusu. Takut karena kian banyak orang yang menyebar ketakutan tentang: akan diterima kah ibadah kita, atau hanya isapan jempol belaka? Kita semua takut, kalau gelagat kita hari ini, hanya berakhir di sini saja, di dunia.

Takut memang sesuatu yang wajar, tapi jangan berlebihan juga; sepertinya halnya berbuka. Berbangga sesuatu yang wajar pula, dan yang berlebihan yang dicela.

Tak hanya sekedar punya ketakutan, tak hanya sekedar punya gelisah; tapi juga harus punya jalan untuk mengatasinya. Karena jalan manusia yang membuatnya, maka ciptakan lah jalan dengan gayamu sendiri; jangan maunya dikasih tau mulu!

Gimana shaum hari pertamamu, Lurr…? Hati-hati, nanti setan epic comebeck.

Tuliskan Komentarmu !