Gairah Bangun Sahur Anak Indekos

SAVANA- Berbahagialah bagi anda yang melewati ramadan kali ini dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Saat hendak sahur, anda dibangunkan dengan penuh kasih oleh ibu atau bapak atau adik atau kakak; tak ada bentakkan atau ujaran kebencian dari mulut mereka. Saat hendak berbuka, ibu menyajikan menu spesial, kumplit dengan doa dan senyumannya.

Tentu hal tersebut tak bisa dirasakan oleh anak rantau yang pergi meninggalkan rumahnya hanya untuk secuir ijazah, atau ‘label’ sudah mendapat pekerjaan di kota, atau malah hanya karena ingin meresakan bagaimana rasanya bisa mudik ke kampung halaman. Di atas semua kemalangan tersebut, anak rantau punya gairahnya tersendiri, terutama saat hendak bangun untuk sahur. Berikut beberapa list di antaranya.

Teman Membangunkan Sahur dengan Brutal

Bagi anak rantau yang tinggal di indekos ramai-ramai dengan teman sejawatnya, tentu banyak cara dan trik agar temannya bisa bangun untuk melaksanakan sahur bersama. Cara dan trik membangunkan sahur itu dari yang terhalus hingga terjahil, dari yang wajar hingga bajingan.

Bagi teman yang baru kenal seminggu dua minggu, atau sebulan dua bulan, tentu akan membangunkan dengan cara yang halus –membangunkanmu dengan menggoyang-goyangkan bahumu, atau berteriak dari kejauhan-, dan jika jahil pun, paling hanya berani melorotkan selimutmu agar kau kedinginan, atau memain-mainkan jarinya di telapak kakimu agar kau kegelian.

Pemandangan akan berbeda jika kau sudah saling mengakrabi lebih dari satu tahun. Jika perkawaan sudah semakin erat, kau harus siap terima hal yang paling bajingan dari temanmu; bukan lagi saling menghormati, tapi lebih suka saling menjahili.

Cara membangunkan sahur bagi teman yang sudah begitu akrab, cara terhalus dengan cara memukul benda apa pun di dekat telingamu, dan kalau lagi kumat, benda itu dilempar hingga menimbulkan suara bising yang bisa terdengar hingga satu RT. Tentu ada cara yang lebih bajingan lagi, yakni dengan melumuri hidungmu dengan balsem.

Tapi tentu hal itu lebih baik, daripada kamu atau temanmu tak dibangunkan sama sekali dan pada siang harinya hanya melongo saja seperti orang cacingan karena tak sahur. Dan kejadian di atas bisa menimpamu, atau malah apa yang kamu lakukan, tergantung siapa yang lebih dulu bangun.

Dibangunkan Hanya oleh Alarm HP

Bagi anak rantau yang indekosnya sendiri, tentu andalan agar ia bisa bangun pada waktu sahur hanyalah alarm handphone. Bagi yang tidak jomlo, okelah bisa juga telpon dari kekasih; tapi intinya sama: suara bunyi dari handphone.

Karena tingkat kepekaan kita terhadap suara berbeda, tantu ada yang tidak hanya cukup sekali alarm langsung bangun, tapi harus berulang-ulang. Kita bisa memasangnya tiga kali, lima kali, atau bahkan sebelas kali (hitungan ganjil ya… Biar apa? Biar disukai Tuhan). Biasanya alarm itu dipasang berselang lima menit.

Tentu dengan cara ini pun tak bisa dijamin sepenuhnya berhasil. Selain karena ada mitos: alarm dihidupkan hanya untuk dimatikan, tapi ada kalanya di saat-saat tertentu, kita benar-benar tidak bisa bangun hanya karena alarm handphone, yang pada puncaknya, alarm yang kita pasang malah membisingkan tetangga kita, dan akhirnya tetangga itu menggedor-gedor indekos kita sampai kita terbangun.

Itu jika tetanggamu peduli dan sudi membangunkanmu, nah kalau tidak?

Santai saja, bukankah anak rantau, atau dengan kata lain orang sedang safar (bepergian), boleh meninggalkan shaum dengan catatan harus diganti di hari lain? Nah, nah, kau pintar sekali.

Namun yang mesti kau camkan, itu hutang yang mesti kau bayar. Yakin, kamu sanggup membayarnya? Pikir-pikirlah dulu, atau mungkin lebih baik kau tak keluar indekos seharian dan harus seperti orang cacingan.

Tentu masih banyak lagi, tapi karena saya sedang malas untuk melanjutkan, segitu aja dulu. Jika kamu mengalaminya, atau malah tak setuju, atau ingin menambahkan, silakan tuliskan di kolom komentar.

 

Tuliskan Komentarmu !