Fuluslitik dan Politik Kartel

fuluslitik dan politik kartel
Sumber gambar: metronews.com

SAVANA- Pembacaan bertahap tentang kecenderungan partai politik yang dilakukan oleh Katz dan Mair pada Tahun 1993, 1995, dan 2000, menunjukkan adanya evolusi dalam partai politik, yang mula-mula ideologis (tertentu), lalu bergeser menjadi catchall parties (baca: menyasar semua kategori ideologi).

Keduanya menyodorkan kesimpulan, hanya akan ada satu tipe partai yang akan mampu beradaptasi dengan realitas tersebut, yakni partai kartel. Sayangnya, keduanya tidak menyebutkan apakah itu suatu kemunduran atau kemajuan.

Untuk melihat apa yang dibicarakan Katz dan Mair itu, kita tidak perlu pergi ke Eropa atau Amerika sana, melihat situasi obyektif di Indonesia sendiri juga rasanya sudah lebih dari cukup.

Di sini (Indonesia tercinta), kehidupan politik, corak perpolitikan dan fragmentasi partai politik sebagai yang ditulis Katz dan Mair, sesungguhnya bukanlah realitas baru. Praktik politik di sini bahkan sulit ditemukan di dalam buku-buku teori. Sehingga bila ingin memahami politik Indonesia, tak cukup dengan mengikuti kuliah-kuliah ilmu politik dari para ilmuwan politik, melainkan harus khidmat menyimak opini para pengamat (baik yang berlisensi maupun tidak) dan -sembari mengulum rasa pahit- menyaksikan situasi obyektif masyarakat Indonesia.

Dan -ini yang paling penting-, kalau ada ilmuwan politik hari ini yang mengatakan bahwa di Indonesia masih ada partai politik yang ideologis, maka hampir dapat dipastikan kalau ilmuwan politik tersebut lebih sering tertidur di kelas-kelas, ketimbang tidur di gubuk-gubuk warga miskin atau menginap di hotel-hotel berbintang bersama para elit politik praktis.

Segala tentang politik di Indonesia, begitu menarik minat siapa saja, dari kalangan mana saja. Partai politik tidak hanya memiliki kader dari kalangan warga biasa, tapi juga jauh menjangkau hingga ke kampus-kampus; di sana dibangun pula hubungan kemitraan politik. Tak heran jika kemudian hampir tak ada jarak antara kaum terpelajar dengan politik. Dekat bukan karena ideology, melainkan karena proyek.

Partai politik juga tak hanya berisi elit-elit, tapi juga jauh menjangkau dan dijangkau oleh para oligark. Dari sana terjalin aliansi, namun lagi-lagi sulit untuk menyebutnya sebagai aliansi karena ideologi.

Maka kita tak perlu menunggu musim politik untuk melihat bahwa politik dalam artinya sebagai panglima, juga sekaligus berada dalam puncak pamornya. Puncak yang di atasnya tumbuh tidak hanya hasrat kekuasaan, tapi juga hasrat menguasai secara ekonomi.

Sistem multipartai yang dianut Indonesia memang problematis, sebagaimana corak kepolitikan dan fragmentasi partai politiknya. Dewasa ini, hal-hal problematis itu kian menyeruak.

Terlihat paling tidak satu gulungan persoalan yang mengguncang-guncang apa yang pada umumnya kita rahasiakan, diam-diam kita hidupi, dan kita rawat. Ia adalah “fuluslitik”.

Fuluslitik merupakan sebuah model di mana moralitas derajatnya berada di bawah uang. Kita tak perlu membuka kamus Marxisme untuk mendapatkan penjelasan soal konversi semacam ini. Intinya, mesin politik harus digerakkan dengan uang. Maka ketika konversi itu mulai diberlakukan, hubungan politik berubah menjadi apa yang oleh kapitalisme disebut: profesionalisme kerja.

Tak ada lawan maupun kawan abadi, bukan? Jangan terkejut. Relasi kuasa dari yang paling pucuk (nasional) sampai ke akar (desa), dibangun dalam model relasi semacam ini. Suatu skema khas tipikal parta-partai kartel. Konklusi Katz dan Mair rasanya tak berlebihan.

Di dalam model relasi fuluslitik, yang paling utama sebenarnya bukan gagasan politik, melainkan ongkos. Lihatlah setiap laga Pilkada hingga Pilkades, apalagi Pileg dan Pilpres. Orang-orang membicarakan ongkos politik miliyaran secara terbuka. Hal itu sudah dianggap lazim. Dan bila dijumlahkan dalam satu musim perhelatan politik, ongkos politik itu bisa berkali lipat jumlahnya dari APBN per tahun. Bagi kultur politik kita itu bukan pemborosan.

Tapi bagaimana kita mencelanya jika setiap musim politik tiba ia menyerap tenaga kerja buat jadi mesin politik dengan penghasilan yang menggiurkan? Rakyat miskin juga menerima bermacam-macam sedekah, yang lapar jadi kenyang, yang kenyang makin kenyang.

Konon, menurut salah seorang petinggi Komunis China era Deng, Marx pernah mencoba peruntungan dengan membeli saham. Dengan maksud implisit, dia ingin mengatakan bahwa ideologi butuh modifikasi, sebab ia tak bisa membuat orang kenyang. Maka, sejak era Deng, sosialisme di China merebut dan mendepak posisi kapitalisme; ia tidak lagi berada di sebelah kiri melainkan berada di ekstrim kanan.

Di Indonesia, usaha Bung Karno tak kalah kerasnya; dia gaungkan Pancasila untuk melawan neokolim dan free fight liberalisme. Namun usaha ideologis itu pupus, dan di kemudian hari patah arang. Digantikan fuluslitik.

Hari ini, rakyat dan elit politik sama-sama lapar. Mencari makan di “pasar” politik. Partai politik disulap menjadi pabrik-pabrik. Ideologi perlahan-lahan ditinggalkan. Orang-orang berbondong-bondong menggilai fuluslitik. Kita hidup meringkuk di situ dengan cemas, was-was, dan penuh curiga.

Baca Juga: Politik Warung Kopi

Tuliskan Komentarmu !