Falsafah Iman dalam Islam; antara Keraguan dan Kepastian

Ilustrator from www.kurungbuka.com

SAVANA- Kita semua tahu bahwa dalam Islam ada sesuatu yang dinamai dengan rukun iman, tetapi boleh jadi ada di antara kita yang tidak mengetahui substansi dari apa yang dinamai dengan rukum iman tersebut. Rukun bisa bermakna macam-macam, damai juga bisa bermakna rukun, tetapi bukan itu yang dimaksud dengan rukun. Kesatuan dan persatuan, juga berarti rukun, kita sering berkata rukun dengan tetangga, tetapi bukan itu juga yang dimaksud.

Rukun dalam konteks rukun iman adalah  bermakna “dasar”. Agama diibaratkan sebagai suatu bagunan atau rumah, setiap rumah harus ada pondasi dan dasarnya, tetapi pondasi saja tidaklah cukup. Ia memerlukan tiang-tiang, ia juga memerlukan lantai, atap, dan kamar-kamar. Jadi jangan pernah menduga bahwa Anda telah beriman dengan baik, kalau hanya sekedar mempercayai dan menjalankan rukun iman itu.

Iman adalah pembenaran hati disusul pembenaran dengan lidah, lalu apa yang diucapkan dan mantap dalam hati itu dilaksanakan bersamaan dengan tuntunan keimanan itu. Iman bukanlah pembenaran akal. Banyak orang boleh jadi mengerti agama, tetapi tidak mantap keimanannya.

Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan menyangkut keimanan. Memang, rukun iman umumnya dipahami berjumlah enam, tapi ternyata bukan itu saja yang harus kita percayai, karena itu ada yang menambahkan selain yang enam itu dan ada juga ulama yang hanya menyebutkan tiga saja, tapi maksudnya tidak banyak berbeda dengan yang keenam itu.

Puncak dari iman adalah penyaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah. Tetapi jangan menduga bahwa hanya itu manifestasi dari keimanan seseorang. Iman menurut Nabi Muhammad s.a.w terdiri dari puluhan cabang, puncaknya adalah syahadat: yakni menyaksikan tiada Tuhan selain Allah s.w.t dan yang paling rendah dari manifestasi keimanan seseorang adalah berusaha menghindarkan segala kekotoran, batu, kayu, duri, dan apa yang dapat menjadi bencana kecil atau besar yang terdapat di jalan-jalan raya.

Iman seseorang dapat bertambah juga dapat berkurang, karena itu iman bertingkat-tingkat. Awalnya merupakan pengetahuan yang dasari oleh rasa takut, lalu menjadi harapan, lalu hadir kekaguman, disusul dengan keyakinan penuh, kemudian cinta yang ditandai dengan hubungan harmonis, dan puncaknya adalah leburnya hati dan pikiran. Iman adalah ketundukan hati pada kebenaran, ketulusan lidah dalam pembenaran, dan kepatuhan anggota tubuh dalam ketaatan. Kalau itu sudah terjadi maka seluruh potensi akan digunakan untuk yang baik, benar, dan indah.

Di samping iman, ada sesuatu yang sangat dibutuhkan yang akan menunjang keimanan seseorang, yakni ilmu. Ilmu bersumber dari akal, sementara iman bersumber dari hati. Ilmu mempercepat kita semua untuk sampai pada tujuan yang ingin dikehendaki dan iman menunjukan arah dari apa yang ingin kita tuju. Ilmu menyesuaikan kita dengan lingkungan sekitar kita, sedangkan iman menyesuaikan dengan jati diri kita. Ilmu adalah revolusi eksternal, sedangkan iman adala revolusi internal. Tanpa ilmu dan iman, kita akan binasa dan celaka.

Iman dan Keraguan

Secara garis besar, iman biasa diterjemahkan dengan percaya, tetapi apa itu percaya? Dari segi bahasa, percaya berarti pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga, begitulah yang dikatakan oleh ulama. Memang, apa yang diimani seringkali tidak diketahui, bahkan para pakar berkata bahwa iman menyangkut sesuatu yang tidak terjangkau oleh nalar, kalau sudah terjangkau maka ia sudah tidak lagi dinamai iman.

Betapapun iman adalah pembenaran dalam hati, apakah seseorang yang beriman, lalu baru dinamai beriman kalau ia telah mengamalkan apa yang diperintahkan oleh agama? Para ulama berbeda pendapat, ada yang menjawab iya ada juga yang tidak. Yang mengatakan tidak berpendapat bahwa iman itu berdiri sendiri, sementara kesempurnaannya apabila seseorang telah mengamalkan tuntunan-tuntunan agama.

Iman, khususnya pada tahap-tahap awal, selalu disertai dengan tanda tanya. Para pakar mengibaratkan bahwa orang yang beriman bagaikan berada di tengah lautan, nun jauh di sana dilihatnya pulau yang ingin dituju, tetapi dalam perjalanan itu dia mengalami ombak dan gelombang, sehingga timbul tanda tanya dalam hatinya, apakah dapat sampai di pulau harapan yang ingin dituju itu?

Begitu juga dengan seseorang yang sedang memadu cinta, selalu ada tanda tanya dalam hatinya, sebelum mereka mengikat dengan ikatan pernikahan yang suci. Di tahap-tahap awal, iman selalu didahului oleh semacam keraguan, jangan pernah khawatir dengan keragu-raguan itu.

Dulu sahabat-sahabat Nabi, ada yang berkata kepadanya, “Wahai Nabi, kami mendapati di dalam hati kami, pertanyaan-pertanyaan yang kami tidak sanggup untuk mengutarakannya kepada kamu, kami khawatir mengutarakannya kepadamu”, lalu Nabi bertanya, “Apakah kamu telah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan hatimu?”, kata sahabat, “Benar wahai Nabi”, lalu Nabi bersabda, “Itulah substansi iman, yakni pada tahap-tahap awal keimanan”.

Bahkan dalam Alquran, ada kisah yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim pun sebelum mencapai puncak keimanan dan keyakinan, beliau pernah bertanya-tanya pada Tuhan, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati”, Allah s.w.t lalu bertanya, “Apakah kamu belum percaya”, jawab Nabi Ibrahim, “Aku sudah percaya, tetapi saya bertanya supaya semakin mantap hati saya”. Demikianlah, ada semacam keraguan dalam hati Ibrahim, sehingga dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad bersabda, “Kita lebih wajar ragu dibanding dengan Nabi Ibrahim.

Kiranya, Allah s.w.t memberi kebebasan kepada hati nurari kita, untuk bertanya-tanya. Itu juga sebabnya sebagian ilmuwan berkata bahwa orang awam seringkali keimanannya lebih kuat daripada para ulama dan cendekiawan, yakni pada tahap-tahap awal keimana mereka. Karena dengan pengetahuannya, para ulama bertanya-tanya sehingga memerlukan sebuah jawaban yang pasti.

Bila seseorang mengalami keraguan itu, ia hendaknya berusaha untuk mencari jawaban-jawaban yang memuaskan hatinya, sehingga pada akhirnya nanti ia akan mencapai puncak keimanan, lalu sampailah ia pada puncak keimanan yang dinamai dengan “yakin”. Karena itu, sekali lagi, sekian banyak ulama dan pakar, pada awal-awal keimanannya, mereka mengajukan aneka tanda tanya dan akhirnya mereka menemukan jawaban yang pasti, hingga mencapai puncak keimanan yang paripurna.

Tuliskan Komentarmu !