Empati kepada Dhuafa itu Menyembuhkan dan Menyehatkan Psikis

Ilustrator by Ciricara.com

Banyak ayat Al-Quran menjelaskan sifat-sifat negatif psikis manusia. Dan selalu, dilanjutan ayatnya Allah berikan solusi bagaimana agar manusia itu bisa keluar dari sifat sifat tersebut. Jika kita perhatikan lebih seksama, lanjutan ayat Qurannya pasti menyuruh seseorang itu agar berempati kepada mereka yang dhuafa. Diantaranya;

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ, وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ, كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ  وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ , وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَمًّا, وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (Q.S. Al-Fajr: 15-20)

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tidaklah kau lihat orang yang mendustakan agama?

Yaitu mereka yang membiarkan anak-anak yatim (terlantar) dan tidak peduli (memberi) makan orang miskin”. (QS Al-Maun; 1-3).

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا . إِلَّا الْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ . وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ . لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ  مَعْلُومٌ

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (dawam). Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (Q.S. Al-Maarij:19-25)

Atau ayat lainnya yang senada dengan itu, bisa kita lihat dalam surah Ad-Dhuha (yang sebelumnya sudah dibahas, tentang cara mengurai dan penyembuhan depresi lewat surah tersebut).

Dhuafa adalah mereka yang mengalami kondisi lemah finansial, keterpurukan, terbatasi untuk bisa mencukupi kebutuhannya sendiri.

Rasulullah SAW berwasiat agar kita senantiasa bersahabat baik dengan mereka yang dhuafa. Jika kita lihat lagi, benar sekali sikap yang demikian itu. Sebagai manusia, saat kita memiliki obsesi besar untuk menggapai mimpi-mimpi tak jarang terjebak pada sikap egoisme. Kita lebih mementingkan diri sendiri, kita lebih fokus pada diri kita sendiri.

Egoisme jika terus terusan menggerakan perilaku dan pikiran seseorang, hanya akan membuat dirinya menderita. Ia akan mengalami tekanan demi tekanan dalam pikirannya. Dirundung berbagai kecemasan dan ketakutan, padahal uang ada, jabatan ada, semuanya serba ada. Namun semuanya seakan tak cukup dan tak mampu meredam kecemasan yang seringkali menyergap pikirannya.

Benarlah apa yang disampaikan Al-Quran dan apa yang disampaikan oleh baginda Nabi SAW, menolong orang dhuafa adalah solusinya. Apa huhungannya memberi bantuan, pertolongan dan bersikap empati kepada dhuafa dengan kebahagiaan seseorang? Bukankah secara matematis, justru uang kita berkurang, tenaga bahkan pikiran kita juga ikut dikeluarkan.

Saat seseorang bersahabat baik dengan dhuafa, ia mampu mengurai keegoisan dirinya sendiri. Keegoisan-lah salah satu faktor besar dalam pemicu tekanan (stress). Saat berempati dengan kaum dhuafa, keegoisan tergantikan dengan ketenangan. Kebahagiaan justru muncul saat kita memberi dengan sepenuh hati. Ketenangan justru muncul saat kita menunaikan perintah Allah untuk menolong sesama. Inilah sunnatullahnya. Empati kepada kaum dhuafa adalah kebutuhan kita selaku manusia.

Jika kita lihat-lihat lagi, ajaran Islam ini sungguh sangat memukau. Tatanan kehidupan manusia yang beradab luhur bisa tercipta. Orang yang diberi kelebihan, mampu berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Dipastikan, masalah masalah sosial bisa ditekan, bahkan bisa nyaris hilang. Dan hal ini benar benar terjadi ketika dulu masa kekhalifahan Islam, misalnya pada masa Khulafau Rasyidin.

Hal berikutnya setelah kita empati kepada dhuafa, yang terjadi adalah kelembutan hati. Kita akan tersadarkan bahwa hidup kita tak seberat beban yang mereka pikul selama ini. Sampai sampai hati nuraninya bergetar dan tak mampu menahan betapa Allah ternyata selama ini memberi kebaikan yang banyak untuk diri kita.

Bersahabat baik dengan dhuafa, mampu menjadi wasilah dimana pertolongan Allah sampai pada diri kita. Doa-doa mereka sampai ke Arsy-nya Allah.

Sebab itu, mulailah dari hari ini kita buat kebiasaan baru. Dimana kita akan terus berempati dan bersahabat dengan mereka yang dhuafa. Berikan hak-hak mereka, pasti Allah tolong urusan urusan kita. Pasti Allah sehatkan mental mental negatif yang ada pada diri kita.

Tuliskan Komentarmu !