Emansipasi, Kartini dan Kekuatan Perempuan

SAVANA- Peringatan tentang hari Kartini sudah hampir habis, dan seperti biasa, adanya ‘hari memperingati’ karena manusia suka lupa, dan kini kita tinggal melupakannya untuk diingati lagi tahun berikutnya.

Tentu bukan tanpa alasan jika perempuan-perempuan masa kini menjadikan hari Kartini hanya sebagai simbol semata, karena toh mereka sudah hampir mendominasi di setiap lini. Kita sering mendengar kata “the power of Emak-Emak”, atau “wanita selalu benar dan lelaki selalu salah”. Apa itu artinya jika bukan karena perempuan sudah menguasai hampir 2/3 dunia –harusnya kan bagian perempuan setengah dari bagian laki-laki.

Perempuan-perempuan masa kini tentu bukan perempuan pada masa Kartini lagi. Perempuan masa kini adalah mereka yang selalu jadi juara kelas (dominasi dalam ilmu pengetahuan), yang paling eksis tampil di televisi, instragram atau media sosial lainnya (dominasi dalam bidang hiburan), dan jangan lupa juga penyumbang buruh terbanyak, entah di tingkat nasional (pegawai pabrik) atau ditingkat internasional (jadi TKW). Kaum lelakinya ngapain aja? Ya ngepoin mereka, sambil mengklik like atau love.

Fenomena macam ini di tangan orang-orang kreatif bisa jadi tontonan yang mengasyikkan: sinetron Dunia Terbalik. Kita bisa menyaksikannya di ruang keluarga, lalu menertawakan Idoy yang memaknai kalimat secara kata per kata (sepenggal, potongan), atau menertawakan Mak Suha yang marah-marah kepada Aceng yang genit, atau menggerutu kesal kepada Dadang yang norak tapi kelewat sombong. Kini seolah bukan soal lagi bila lelaki jadi Bapak Rumah Tangga sedang perempuan banting tulang cari rezeki. Apa ini arti dari emansipasi? Ya belum tentu juga.

Kartini lahir dari golongan bangsawan, dan karena kebangsawanannya ia memilik akses untuk lebih banyak membaca buku (walau keinginan untuk melanjutkan pendidikan formalnya ke Belanda dicekal). Sejak saat itu dengan pertanyaan retoris, ia curhat kepada teman surat-menyuratnya, kenapa perempuan bla bla bla dan bla bla bla? Kenapa anak-anak petani bla bla bla dan bla bla bla (Panggil Aku Kartini Saja, 1992)

Yang dipermasalahkan oleh Kartini tentu bukan hanya soal gender semata. Ia lebih tak simpati jika dirinya dilarang bermain dengan perempuan-perempuan anak petani. Makanya Pramoedya memberi judul bukunya “Panggil Aku Kartini Saja”, enggak usah pakai Raden Ajeng (R.A), menandakan yang mesti disetarakan itu bukan gendernya, tapi kadudukan manusia satu dengan yang lainnya.

Sepertinya Kartini juga tau, walau tanpa disetarakan gendernya, perempuan juga mempunyai kekuatan-kekuatan yang unik bahkan menyerupai magis, yang tentunya tak dimiliki oleh laki-laki. Silakan kalian isi sendiri dan mulai mengamati kekuatan-kekuatan magis apa saja yang dimilik oleh perempuan. Boleh tatapannya, boleh juga ucapan “terserah”-nya.

Ada dua kemungkinan ketika emansipasi sampai saat ini masih digaungkan; pertama, karena ia tak percaya jika perempuan mempunyai kekuatan-kekuatan unik dan masih menganggap bahwa laki-laki adalah manusia unggul yang mesti disaingi; kedua, karena masih ada laki-laki yang menganggap bahwa perempuan sebagai objek pemuas hasrat belaka yang tak mesti dipatuhi kehormatan-kehormatannya. Kedua kemungkinan tersebut masih berlaku hingga saat ini, atau bahkan mungkin sampai kapan pun.

Tentang maraknya buruh-buruh perempuan yang bekerja di pabrik atau jadi TKW, itu semata karena hidup tak sepenuhnya pilihan, bukan semata karena emansipasi. Kalau hidup sepenuhnya pilihan, tentu berdiam diri di rumah -atau jika keluar pun hanya untuk jalan-jalan-, akan lebih dipilih dibanding harus bekerja di sebuah pabrik atau jadi TKW. Sekali lagi, karena hidup tak sepenuhnya soal pilihan –seperti pidato Puthut Ea di Kampung Buku Yogya-, terkadang kita pun harus melakukan hal-hal yang diluar kehendak kita sendiri.

Sekarang, lupakan lagi soal ini, karena kita akan diingatkan lagi tahun berikutnya.

Tuliskan Komentarmu !