Dilarang Mengkhayal di Kampus

dilarang mengkhayal
Ilustrasi: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- “Kau tau, yang dibutuhkan manusia selain makan adalah mimpi?” bisik Dedi Semprul kepada Muna di sela-sela waktu kuliah.

“Tidak.” jawab Muna singkat sambil melengos tak acuh.

Muna adalah orang ke seratus yang ditanyai Dedi Semprul begitu, dan tiap orang yang ditanyainya hampir memiliki jawaban yang seragam; kalau bukan “Tidak”, ya “Buat apa mikirin begitu? Itu tidak akan ditanya sama malaikat.” Mereka menjawab itu sambil pergi.

Dedi Semprul hampir kehilangan otaknya. Berhadapan dengan sesama mahasiswa saja sudah hampir membuatnya sinting, apalagi sok-sokan mau urus negara? Dedi Semplur berjalan gontai di lorong kampus. Ia melihat teman mahasiswa yang lainnya sedang berbagi cerita dengan ceria. Ketika Dedi Semplur lewat di hadapan mereka, mereka melirik Dedi Semplur dengan tatapan iba.

*

Dedi Semplur dikenal sebagai pengkhayal ulung. Di depan kelas, selagi tidak ada dosen, ia bisa bercerita berjam-jam, mengisahkan kembali Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun atau Habiebie dan Ainun dengan gubahan baru yang memesona. Kalau di antara mereka ada yang pernah membaca karangan itu, pasti akan berkomentar, “Ceritanya gak seperti itu, Semprul!” Untungnya, tidak pernah sekali pun komentar itu didapat oleh Dedi Semprul.

Selain suka bercerita tentang cinta yang mau tak mau puncaknya adalah deraian air mata, Dedi Semprul pun suka bercerita tentang revolusi. Baginya, cinta adalah bagian terpenting dari revolusi. Dari kisah-kisah cinta itu, ia selalu menuturkan hikmah. Cinta berkaitan dengan kebahagiaan, maka kalau kita menyerahkan cinta, berarti kita menyerahkan kebahagiaan.

“Si Tuli dan Si Buta bisa hidup bahagia karena cinta yang mereka miliki masing-masing, dan mereka hidup bersama. Maka kalau kita cinta keadilan, cinta kesetaraan, cinta kebijaksanaan, kita harus bisa memperjuangkan dan merebutnya! Lalu menjadikannya menjadi bagian dari hidup kita.” teriak Dedi Semprul sambil mengepalkan tangannya, yang disambut kembali kepalan tangan pendengarnya.

Hembusan cerita itu sampai ke telinga pemegang kebijakan kampus. Awalnya mereka tak begitu mengenal siapa itu Dedi Semprul, karena Dedi Semprul mahasiswa yang teramat biasa selain karena suka berceritanya yang enggak-enggak. Pihak kampus akhirnya membayar intel untuk menggali lebih dalam siapa itu Dedi Semprul, dan ada kosnpirasi apa yang ada di baliknya.

Dari penelusuran selama sebulan, intel itu hanya baru bisa mengumpulkan data-data yang biasa saja. Dedi Semprul anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya berkerja sebagai tukang ojek, sedang ibunya bekerja di pabrik sekaligus jadi penumpang setia suaminya yang tukang ojek itu. Adik Dedi Semprul yang paling kecil baru bisa melapalkan kata ibu dan ayah, sedang yang agak besar baru bisa naik sepeda beroda dua. Setelah peraturan dilarang tidur di kampus diterapkan, Dedi Semprul menjadi makhluk nomaden yang numpang dari indekos satu ke indekos lainnya, atau kalau keadaan menguntungkan, ia masih bisa tidur di kampus dengan syarat membagi rokok dengan Pak Satpam. Dedi Semprul tidak suka membaca, ia lebih suka banyak menonton dan nguping pembicaraan orang, dan dari tontonan dan pendengarannya itu, ia suka membuat cerita. Cerita Romeo dan Juliet adalah cerita favoritnya, walau isi ceritanya lebih diinspirasi dari film-film korea yang sudah ditontonnya; ia mengambil judul itu hanya karena baginya judul itu sudah begitu populer. Dedi Semprul pun dikenal oleh teman-temannya sebagai pencerita roman yang ulung, yang lainnya berpendapat roman picisan.

“Tak ada yang istimewa dari Dedi Semprul.” bisik kawan intel yang satu.

“Ya, tapi buat apa kita dibayar untuk hal yang biasa?” jawab intel yang satuya lagi, yang masih baru.

“Kau harus belajar, kita yang harus membuatnya istimewa.” pungkas intel yang bertopi itu.

*

Di hadapan pemegang kebijakan kampus, intel itu bercerita kalau Dedi Semprul adalah seorang pengkhayal yang berbahaya. Dedi Semprul memengaruhi mahasiswa-mahasiswa lainnya dengan cerita-cerita palsu. Ia menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi, hanya untuk menarik simpati dari pendengarnya. Dedi Semprul adalah pembohong besar. Lebih dari itu, Dedi Semprul adalah konspirasi orang-orang kiri yang ingin menggulingkan kampus, dengan khayalan dan ceritanya.

Pemegang kebijakan kampus puas dengan laporan intel itu. “Karena untuk itu, kau dibayar.” bisiknya, dan membuat dua intel itu tersenyum lebar.

Sekembalinya ke ruangan, intel yang baru bertanya, “Tidakkah tadi agak berlebihan?”

“Ya, agak berlebihan. Tapi kita sudah membantu dia bekerja agar tak terlalu pusing lagi mencari-cari alasan. Kita memang tumbal. Dan untuk itu, kita dibayar. Mengerti?”

*

Keesokan harinya, peraturan baru terpangpang: “Dilarang Mengkhayal di Kampus.” Tak ada yang kaget dengan peraturan baru itu, selain Dedi Semprul. Kebanyakan mahasiswa menyadari, kuliah berarti harus bisa membiasakan dengan kebiasaan-kebiasaan baru, termasuk dengan semua peraturan-peraturan baru yang ada di dalamnya. Mahasiswa yang dikit-dikit suka mengkhayal, tinggal ditinggalkan kebiasaan itu, selesai.

Tapi tidak dengan Dedi Semprul. Mengkhayal baginya menjadi satu-satunya hal yang indah yang masih ia miliki di dunia. Mengkhayal adalah hak prerogatif tiap-tiap manusia. Maka ia pun ingin melawan, tapi tentu harus punya teman.

Dedi Semplur mengajak kawan-kawannya dengan pertanyaan diplomatis, “Kau tau, yang dibutuhkan manusia selain makan adalah mimpi?” Namun pertanyaan itu dijawab tak acuh. Dedi Semprul pun hampir kehilangan otaknya.

***

“Radit, kau lihat otakku ada di mana? Ia hilang tadi pagi.”

“Ratna, Ratna. Apa kau melihat otakku? Tadi terselip di buku, tapi sekarang sudah tidak ada.”

“Angga, otakmu masih ada kan? Boleh aku pinjam. Sebentar saja. Aku agak lupa caranya mencari.”

“Nina, Nina, kau tau yang jualan otak di mana? Sepertinya otakku tidak akan ketemu.”

Semua menatapnya iba. Semua yakin bahwa ia sudah gila.

Saat dia dikerumun teman-temannya, dan katanya mereka sedang menonton pertunjukkan orang gila baru, kekasihnya datang. “Ini tidak lucu. Bubar kalian!” bentak kekasihnya itu, yang bernama Laila.

Namun mereka malah menatap lebih iba kepada kekasihnya. Manusia waras mana yang mau sama orang gila, pikir para penonton itu. Hingga kekasihnya itu tak menggubris lagi mereka, ia hanya paduli pada makhluk yang satu itu, yang sedang kehilangan otaknya.

“Sayang, kau kenapa?” tanya Laila.

“Ada yang mencuri otakku, Laila. Ayahmu. Ayahmu yang mencuri otakku.”

“Tidak mungkin. Bagaimana bisa ayahku mencuri otakmu?”

“Ayahmu tidak suka padaku. Maka ia mencuri otakku. Agar aku gila, lalu kau membenciku.”

“Tapi ayahku salah, sayang. Selama kau hidup, aku akan terus mencintaimu.”

Belum juga Dedi Semprul menuntaskan cerita yang ia beri judul Laila dan Majnun itu, ia sudah digerebeg oleh keamanan kampus. Keamanan kampus itu menjewer kuping Dedi Semprul sambil menyeretnya ke kantor. Semua mahasiswa yang awalnya dengan khusu mendengar cerita itu, langsung pura-pura tak mendengar apa pun, dan acuh terhadap prilaku keamanan kampus kepada Dedi Semprul.

***

“Ini dia pengkhayal picisan yang membuat moral kampus kita jadi ancur.” Lapor keamanan kampus itu.

“Kalau begitu, bereskan!” ucap Pak Rektor, lalu membalikkan kursinya lagi.

Keamanan kampus itu sudah mengerti dengan yang dimaksud ‘bereskan!’. Mereka pun membawa Dedi Semprul menuju satu ruangan yang steril dari dosen dan mahasiswa lain. Ruangan itu kosong, kecuali di tengahnya ada sorot lampu neon, dua kursi dan satu meja yang di atasnya sudah tersedia bidak-bidak catur dengan rapi.

“Silakan duduk, Kamerad! Kalau kau menang, silakan kau bercerita sesukamu terlebih dulu. Tapi kalau kau kalah, maaf, kau harus segera menulis surat wasiat dan daftar utang-utangmu.”

Kaki Dedi Semprul mulai bergetar. Ia boleh mengalahkan tiga ekor anjing sekaligus, membunuh nyamuk semalaman sampai semangkuk; tapi di hadapan bidak-bidak catur, sungguh ia tak berkuasa apa-apa.

“Kamerad, sepertinya kau tegang sekali. Mau kubawakan kopi sama rokok?” tawar petugas keamanan itu.

“Tidak. Terimakasih.” jawab Dedi Semplur kalem, walau hatinya bergetar hebat.

“Kalau begitu, mari kita mulai.”

Keringat mulai bercucuran di dahi Dedi Semprul. Ia mulai kembali mengkhayal.

“Bang, pernah mendengar cerita grand master catur dunia dari Afrika?”

Keamanan kampus pun mulai tergoda. “Bagaimana?” tanyanya.

Dedi Semprul pun menceritakan tentang seorang gadis cilik yang tiap paginya disuruh menemani ayahnya main catur. Mereka main catur dari pagi hingga tengah hari, karena memang pengangguran. Mereka baru berhenti setelah bidak caturnya diubrak-abrik oleh istrinya, ibu si gadis cilik. Tapi mereka tak pernah jera, tiap hari selalu begitu.

Hingga gadis cilik itu beranjak remaja. Ia sangat mahir bermain catur, sampai-sampai orang yang paling jago di kampungnya pun mampu ia kalahkan. Gadis itu pun didorong untuk mengikuti kompetisi.

“Lalu gadis itu bertekad sekuat tenaga untuk memenangkan setiap pertandingan. Gadis itu terus berlatih, dari pagi hingga malam. Gadis itu terus berjuang, berjuang dan berjuang. Hingga akhirnya ia dinobatkan sebagai grand master dunia, begitu?” sela keamanan kampus yang seolah sudah hapal jalan cerita yang akan disuguhkan Dedi Semprul.

“Tidak, Bang. Gadis itu kalah karena tak tahu peraturannya.”

“Gebleg! Terus kenapa judulnya cerita grand master dunia dari Afrika?”

“Gadis yang saya ceritakan tadi bukan dari Afrika, tapi dari Indonesia. Ceritanya belum kelar, Bang!”

Keamanan kampus itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan, mencoba bersabar. “Oke, kita selesaikan ini sekarang.” ucap keamanan kampus itu sambil menyingkirkan bidak-bidak catur di hadapannya. “Kenapa kau suka mengkhayal, Kamerad?”

“Karena aku punya imajinasi, Bang.”

“Tiap orang punya imajinasi tapi tak setiap orang suka mengkhayal. Jangan bermain-main, Kamerad!”

“Apa salahnya mengkhayal, Bang?”

“Kau sudah membohongi setiap orang dengan ceritamu. Apa itu tak cukup? Kau menyulut kemarahan mereka, membuat mereka menangis, menjerit, karena cerita palsumu. Itu juga belum cukup?”

“Itu bukan salah saya, Bang!”

“Terus maumu salah siapa, heh? Salah saya?”

“Ya salah mereka, yang mendengarkan dengan percaya. Sedari awal saya sudah memperingati, ini cerita fiktif, cerita bohongan, bukan khutbah. Kalau mereka percaya, berarti ya mereka yang tolol.”

“Jadi kau kira aku tolol, Kamerad?”

“Iya, jika percaya ceritaku sebagai cerita kenyataan, bukan khayalan.”

“Segera kau tulis di sini wasiatmu, Kamerad! Jangan lupa tulis juga utang-utangmu, agar kau sedikit diringankan di akhirat kelak.” pungkas keamanan kampus itu sambil menyodorkan selembar kertas beserta balpoinnya.

Baca Juga: Perempuan Hujan

Tuliskan Komentarmu !