Digital Vigilantisme: Media Sosial dan Narasi Perpecahan

Ilustrator by: bincangsyariah.com

SAVANA- Data We Are Social sampai Januari 2020 mencatat bahwa internet active users di dunia mencapai angka 4,5 milyar jiwa dengan jumlah social media active users sekitar 3,5 milyar. Dengan total jumlah tersebut, menunjukkan bahwa pengguna aktif media sosial di dunia mencapai setengah populasi penduduk dunia. Data ini menjadi rujukan bagi kita dalam menangkap potensi artificial life dalam kehidupan keseharian masyarakat dunia. Artifisial mengandaikan sebuah peradaban manusia yang dibangun melalui kecanggihan teknologi dan termediasi dengan adanya perangkat digital.

Media sosial menjadi perangkat populer yang dekat dengan keseharian manusia, terutama generasi muda. Banyak aktivitas manusia yang mulai tersubstitusi ke dalam media sosial. Dari mulai aktivitas pada level individual, komunal sampai dengan level institusional. Dari mulai aktivitas privat yang kadang-kadang dipublikasikan, sampai dengan aktivitas publik yang berkaitan dengan khalayak ramai.

Misalnya, aktivitas privat pada saat pengguna mencurahkan apa yang dialaminya dalam kehidupan pribadinya dalam bentuk postingan di media sosial. Sementara ketika dia memposting sesuatu yang berhubungan dengan “personalitas” maka menjadi milik publik dan siapa pun berhak tahu. Aktivitas publik misalnya, trend siaran “live streaming” di media sosial yang bisa dilakukan oleh siapa pun, menunjukkan adanya substitusi pola siaran publik yang tidak lagi mengandalkan jaringan televisi berlembaga.

Tingkat intimasi pengguna media sosial di Indonesia dalam satu hari rata-rata menghabiskan waktu sampai 3 jam 15 menit. Dengan angka rata-rata tersebut memungkinkan berbagai aktivitas dilaksanakan, termasuk berbagai obrolan bisa disampaikan. Pada posisi ini, media sosial sebagai bagian dari media massa yang memiliki penetrasi yang besar di kalangan masyarakat Indonesia berimplikasi terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam hal ini, John Hartley (2004) menyatakan bahwa media massa menjadi industri konten yang dipandang memiliki daya magis tinggi untuk merebut audiens dalam jumlah besar.

Bullying dan Main Hakim Sendiri

Penggunaan media sosial tidak hanya berdampak positif dalam kehidupan kebangsaan, termasuk juga berpotensi secara negatif. Fenomena cyber bullying yang sering terjadi di Indonesia menunjukkan fakta bahwa penggunaan media sosial dapat memperlebar jurang sosial dalam proses interaksional masyarakat Indonesia. Bahkan tidak sedikit, tindakan cyber bullying yang mengarah pada intimidasi dan tindakan main hakim sendiri atau pelabelan.

Fenomena main hakim sendiri yang dilakukan oleh netizen di ruang-ruang virtual media sosial menunjukkan adanya tindakan digital vigilantisme. Istilah ini pertama kali sampaikan oleh Daniel Trottier (2016) dalam sebuah jurnal yang berjudul “Digital Vigilantism as Weaponisation of Visibility”. Dalam pandangannya, vigilantisme digital adalah sebuah tindakan main hakim sendiri atas berbagai kejadian atau peristiwa yang menimpa seseorang di ruang publik media sosial. Fenomena ini terjadi pada saat adanya upaya persekusi terhadap seseorang yang (belum tentu) melanggar hukum, kemudian ramai-ramai netizen melabeli dan menghakimi melalui kekuatan media sosial.

Tindakan vigilantisme digital di negara kita mudah kita temukan dalam beberapa kasus. Vigilantisme digital ini biasanya diterima oleh publik figur yang memiliki kelompok pendukung fanatis (followers) sekaligus kelompok penentang atau pembenci (haters). Dalam kerangka ini, media sosial mewujud menjadi ruang virtual tempat melepaskan sampah (hoax dan hatespeech) digital dengan tendensi tertentu. Polarisasi kelompok pendukung dan penentang menjadikan fenomena vigilantisme digital berkecambah dalam berbagai dimensi kehidupan kebangsaan.

Narasi Perpecahan

Media sosial memproduksi konten yang mempergilirkan wacana dalam berbagai dimensi dan ruang kehidupan masyarakat Indonesia. Sifat dasar ini dimiliki oleh media massa sebagai saluran komunikasi dan informasi manusia. Achmad (2001) menyatakan bahwa media massa (media sosial) memberikan alternatif dalam pertarungan wacana, termasuk wacana-wacan sensitif dalam bingkai kehidupan kebangsaan.

Sejak satu dekade terakhir, budaya layar Indonesia diramaikan dengan berbagai kontestasi kepemimpinan yang mempolarisasi masyarakat Indonesia menjadi dua kubu yang saling beroposisi. Kelompok pendukung dan kelompok penentang masih eksis dan melakukan gerakan politik sebagai buntut dari dinamika kontestasi kepemimpinan nasional.

Isu-isu politik, minoritas, sensitivitas keberagamaan dan intoleransi memenuhi perangkat layar dan mewujud menjadi narasi-narasi yang berorientasi pada perpecahan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang komunikasi intersubjektif dan tidak monolitik, dibingkai secara terbuka dan tidak netral untuk melakukan tindakan vigilantisme, menjustifikasi hitam-putih, kita-mereka. Bahkan istilah buzzer seolah sengaja diciptakan dan dirawat untuk menjaga agar ruang keharmonisan tidak terbentuk di antara masyarakat Indonesia.

Dalam lalu lintas media sosial baik di facebook dengan total pengguna (50,7%), Instagram (17,8%), Youtube (15,1%), Twitter (1,7%) dan Linkedin (0,3%) diramaikan dengan berbagai narasi-narasi perpecahan yang mempertontonkan perdebatan yang tidak berlandaskan akal sehat. Ada kecenderungan bahwa perilaku-perilaku pengguna media sosial dalam kerangka vigilantisme digital memungkinkan terjadinya intervensi kehidupan pribadi, sehingga etos main hakim sendiri menjadi kultur intoleran yang tidak disadari oleh sebagian besar pengguna media sosial.

Media sosial seolah menjadi ruang balas dendam, public domain untuk mengeluarkan segala kekesalan, kekecewaan, hinaan, cacian dan makian terhadap orang lain. Seolah kekerasan dan intoleransilah yang menjadi warisan bagi generasi selanjutnya, sebab, ruang digital adalah jejak masa depan dari budaya layar kita hari ini.

Menjawab tantangan di atas, sudah sepantasnya kita kembalikan nalar kita pada porsi yang seharusnya. Penguatan budaya literasi media digital adalah pilihan untuk melawan narasi-narasi kontraproduktif yang meramaikan budaya layar (culture screen) kita. Mari kita isi perangkat layar kita dengan narasi-narasi positif yang mendamaikan dan menguatkan persatuan kebangsaan.

Tuliskan Komentarmu !