Desa dan Ironi Revolusi Industri 4.0

revolusi industri 4.o
foto: Dok. Pribadi

SAVANA-Perubahan yang tak dipersiapkan hanya akan memicu konflik”

Ada salah satu tugas akhir yang fenomenal dari seorang mahasiswa sebelum mendapat gelar sarjananya, yakni sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian. Maka hari ini saya tengah menjalani step akhir dari Tri Dharma tersebut, yakni pengabdian dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dalam tugas ini mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan persoalan di suatu daerah dengan instrumen penilaian baku yang ditata sedemikian rupa oleh pihak kampus untuk menentukan lulus atau tidaknya mahasiswa tersebut dalam proses pengabdian.

Karena pernah membaca teori Ferdinand Tonnies tentang Gemmeinschaft (masyarakat tradisional), maka saya punya harapan besar ketika akan melakukan KKN tersebut, setidaknya warga akan sangat bahagia kedatangan kami, dan beberapa program yang kami canangkan akan banyak dibantu oleh masyarakat desa.

Kata Parsons, karakteristik masyarakat pedesaan berperasaan kasih sayang, memiliki kesetiaan tinggi dan sering bermesraan perlahan namun pasti mulai hilang dari karakteristik masyarakat di  desa tersebut.

Namun ternyata apa yang diharapkan tidak sepenuhnya sesuai,  karena konon desa ini ada dalam dalam proses transisi atau secara sederhana bisa disebut ‘nanggung’. Nanggung karena jika disebut pedesaan, nampak tidak demikian adanya, karena rata-rata masyarakat sudah banyak menggunakan gadget untuk berkomunikasi.

Selain itu, etika-etika pedesaan yang sudah banyak hilang dari desa tersebut, seperti ramah, sopan, dan santun. Untuk disebut perkotaan pun nampak tidak juga demikian adanya, karena masih banyak lahan kosong yang ditanami sayur mayur oleh para petani.

Nampaknya, desa yang dulu digadang-gadang sebagai tempat me-refresh otak dan fisik orang kota tak lagi demikian adanya di desa tersebut. Anak-anak pedesaan yang dulu bermain petak umpat, gatrik, bancakan, layangan mulai tersisihkan oleh permainan modern dalam gadget seperti game Mobile Legend, PUBG, Get Rich dll.

Para ahli kini beranggapan bahwa hal tersebut salah satunya disebabkan oleh gelombang besar bernama Revolusi Industri 4.0 atau sering juga disebut dengan era disrupsi. Era baru ini menggeser secara paksa tatanan sosial, politik, ekonomi dan budaya yang sebelumnya berkembang dan diubah oleh era yang serba digital.

Kegiatan sosial seperti mengirim undangan yang biasanya dikirim dengan mengetuk pintu rumah satu per satu kini hilang dengan cukup memfotokan undangan tersebut lalu mengirimkan lewat media sosial terkenal, yaitu WhatsApp. Tawa anak-anak yang terdengar saat bermain pepeletokan (alat permainan khas sunda yang terbuat dari bambu) misalnya, mulai tergantikan dengan teriakan-teriakan kasar emosional karena hero-nya Zilong terkalahkan oleh musuhnya Miya dalam permainan Mobile Legend.

Kemudian dalam kegiatan ekonomi, meminjam penelitian dari McKinsey yang dilakukan pada Tahun 2016, bahwa dalam lima tahun ke depan, 52,6 juta jenis pekerjaan akan mengalami pergeseran bahkan akan hilang dari muka bumi. Jika mengacu pada penelitian tersebut, masyarakat desa tersebut yang rata-rata berprofesi sebagai kuli bangunan tentunya akan ikut terancam.

Orang-orang yang tak siap dengan perubahaan besar-besaran yang mendadak ini tentunya akan merasa sangat terancam dan pada akhirnya akan memunculkan konflik. Seperti halnya yang dialami oleh tukang ojek pangkalan yang pendapatannya kian hari kian turun tergerus oleh ojek online yang lebih murah dan lebih mudah untuk diakses. Ujung-ujungnya banyak tukang ojek pangkalan memblokir jalan-jalan agar tidak dapat diakses oleh para supir ojek online. Jika tetap menerobos maka tak jarang banyak supir ojek online yang babak belur dipukuli.

Belum lagi kedepannya akan terjadi Revolusi Industri 5.0 yang segala sesuatunya akan digerakkan oleh robot, maka persaingan selanjutnya bukan lagi dengan manusia tapi dengan robot-robot ciptaan manusia.

Dari sini benar apa yang diungkapkan Rhenald Kasali dalam bukunya Disruption bahwa “Tak ada yang tak bisa diubah sebelum dihadapi, motivasi saja tidak cukup”, ini mendorong kita agar dapat mempersiapkan diri untuk gelombang-gelombang perubahan yang tak diduga-duga. Karena perubahan yang tak dipersiapkan hanya akan memicu konflik. Wallahu a’lam.

Tuliskan Komentarmu !