#4 Dendam dan Putus Asa

legenda dari selatan
Ilutrator: Rizki Agustian (Savana Post)

SAVANA- Sudah seminggu, Aulia benar-benar tidak datang lagi. Dan kenapa pula sampai saat ini saya memikirkannya. Bukankah saya sendiri yang mengharapkannya pergi? Hati manusia memang susah ditebak, hari ini muak, besok bisa rindu. Dan yang perlu saya lakukan hanya sadar diri.

Saya kembali menjalani kehidupan ini dengan hampa, dengan hati yang kosong, seperti waktu itu. Kepergian seseorang memang -sedikit banyaknya- akan mengubah kehidupan kita. Entah ke arah semangat, atau putus asa.

Waktu itu memang sisi terkelam dalam hidup saya. Saya sempat jadi pengganti Izrail sebagai pencabut nyawa. Manusia memang bisa jadi apapun, jadi binatang atau bahkan jadi iblis, hanya karena yang ia namai cinta. Dan kadang, atau mungkin lebih seringnya, kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita sendiri lakukan.

Di tempat ini, tempat orang-orang berdosa yang tertangkap, saya lihat sedikit sekali raut muka penyesalan. Yang paling kentara adalah raut muka balas dendam, dan kita hanya menunggu waktu kapan dendam itu akan dituntaskan.

Seperti waktu itu, saat sisi tergelap manusia hadir, tak ada lagi yang kami takutkan selain hantu. Dan hantu, tidak bisa kita cari selain di hati kami sendiri-sendiri. Ia hadir atas nama orang-orang yang kita bunuh, kita rampas dan kita sakiti. Dan kadangkala saya sendiri yang menjadi hantu itu. Untuk negeri ini.

***

Sebulan lagi saya akan bebas, dan Aulia datang lagi.

“Apa kamu sudah tak punya lagi keluarga, atau teman?” tanya Aulia.

Saya terdiam beberapa saat. “Teman banyak, di terminal. Keluarga juga masih ada, tapi sudah tidak ada yang peduli.”

“Apa enaknya hidup seperti itu?”

Saya terkaget dengan pertanyaan itu, tapi saya mencoba mengendalikan diri. “Paling tidak, bisa membuat orang lain merasa hidupnya lebih mulia dari saya.”

“Dan Kakak merasa jadi pahlawan karena sudah menganggap orang lain merasa hidupnya lebih mulia?”

Saya menunduk, tak bisa menjawab apa-apa.

“Ayo jawab!” bentak Aulia. Tapi saya benar-benar tak bisa menjawab. Saya pun hanya bisa melihat meja yang memisahkan kami berdua.

***

“Saya tanya sekali lagi, apa Kakak sudah merasa jadi pahlawan karena sudah menganggap orang lain hidupnya lebih mulia?” tanya lagi Aulia, dengan sebuah penekanan.

Saya hanya bisa menunduk. Logika macam apa pula yang ditanyakannya. Inginnya saya jawab saja, sudah, jangan urusi lagi hidupku. Tapi saya juga sadar, saya membutuhkannya. Saya butuh teman untuk saling bicara, untuk saling menangis dan tertawa.

“Maaf, saya salah. Saya akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.”

“Kakak takut dosa gak?”

“Saya hanya takut hantu.”

“Ayolah… saya sedang tidak mau becanda.”

Saya menarik napas secara perlahan. Saya sadar, ini akan sulit untuk dijelaskan.

“Apa kamu kira, semua orang yang ada di penjara ini tidak tau mana yang baik dan mana yang buruk? Persoalannya tidak sesederhana itu. Bukan tentang pengetahuan, bukan tentang ketakutan.”

“Terus?”

“Kami tidak tau caranya.”

“Untuk?”

“Untuk terus berjalan di jalan itu.”

“Oya?”

Saya menarik napas lagi, lalu menunduk.

“Berarti mulai dari sekarang mau berubah?” tanya lagi Aulia.

Saya mengangguk pelan. “Diusahakan. Tapi, buat apa kamu lakukan ini?” Tanya saya sambil menatap matanya.

Aulia pun menatap saya. “Tapi Kakak jangan tersinggung, dan jangan mengubah keputusan Kakak tadi.”

Saya mengangguk berat.

“Agar saya bisa cepat lulus. Ini tugas dari dosen. Saya kuliah di jurusan Bimbingan Konseling.” jawab Aulia dengan sedikit ragu.

Saya pun hanya bisa mengangguk lagi. “Berarti setelah saya keluar penjara, tugas kamu selesai?”

“Belum Kak. Saya harus memastikan bahwa Kakak tidak akan menjambret lagi, paling tidak tiga bulan setelah keluar penjara.”

Saya mengangguk lagi. “Kok ada dosen yang setega itu.” Gerutu saya.

“Kalau Kakak sudah keluar penjara, akan saya ceritakan. Dosen yang satu ini memang sangat aneh tugas-tugasnya.”

“Oke…”

“Sampai bertemu lagi besok.”

Saya mengangguk.

Bersambung.

Tuliskan Komentarmu !